Hari ini Sakinah mengantar Ardhen ikut lomba memasak.
“Semangat Sayang, kamu pasti bisa,” ucap Sakinah menyemangati putranya.
Anak-anak dibagi menjadi dua kelompok, yang pertama anak berumur 5-10 tahun. Kedua, anak berumur 11-15 tahun. Rata-rata anak berumur 5-10 tahun hanya bisa memasak telur dengan hiasan, memasak mie dengan hiasan, lalu brownies sederhana, sedangkan anak berumur 11- 15 tahun sudah bisa memasak beberapa hidangan lezat. Ya, mereka anak-anak pilihan, bahkan anak dari para chef.
Ardhen membuat makanan lezat ala Eropa, bernama Kroketten, orang Indonesia mengenalnya sebagai Kroket. Tangannya dengan lincah menumbuk kentang yang dicampur daging cincang, beberapa bumbu ia masukkan, dilumuri tepung roti, kemudian digoreng dalam minyak panas. Ia hias dengan sayur selada, ukiran saus, keju dan mayonaise.
Panitia dan orang lain yang menyaksikan benar-benar terpukau, bagaimana bisa anak kecil berumur 6 tahun sangat mahir dan lincah dalam memasak alah chef profesional. Mereka semua berdecak kagum.
Ia meletakkan makanannya, ia tersenyum, lalu berjalan pelan, terlihat sempoyongan. Sakinah memandangi putranya terus, ia merasa aneh. Lalu, tiba-tiba Ardhen terjatuh.
“Ardhen!” pekik Sakinah.
Panitia dan pengurus acara bergegas menggendong Ardhen, lalu anak laki-laki itu dibawa ke rumah sakit.
_______
Di rumah sakit.
“Dok, bagaimana keadaan putra saya, kenapa dia belum juga sadar?” tanya Sakinah cemas.
“Sebentar lagi akan sadar, Bu, kita tunggu saja,” sahut Dokter.
“Apa ibu sudah tau sebelumnya, jika putra ibu sakit ginjal?” tanya Dokter, ia menjeda bicaranya sebentar, melihat mimik wajah Sakinah terkejut. “Setelah di periksa dan hasil laboratorium menjelaskan kalau ia mengalami ini sudah cukup lama, kini sudah termasuk parah.” lanjut Dokter itu lagi.
“Kita akan melakukan pencucian darah dulu untuk pasien agar merasa lebih baik,” sambungnya kembali.
Sakinah menangis. “Lakukan saja yang paling terbaik untuk putraku, Dok. Aku mohon....” lirihnya.
Setelah berbincang dengan Dokter, ia memegang tangan Ardhen yang di pasang selang impus. Ia menangis.
“Mom,” Ardhen membuka matanya. Sakinah langsung berdiri, menghapus air matanya.
“Sayang, kamu sudah sadar?” tanya Sakinah, Ia langsung menciumi wajah putranya.
“Ya, tentu saja, Mom jangan khawatir, aku hanya kecapekan terlalu kepikiran masalah lomba,”
“Kenapa tak mengatakan apa-apa pada Mom? Sejak kapan kau menahannya?” Sakinah menatap Ardhen dengan deraian airmata.
“Mom, please, don't cry....” lirihnya. “I'm Ok.” Sakinah memeluknya.
“Jangan merahasiakan apapun lagi dari Mom, katakan apapun yang kau rasakan, katakan jika itu sakit,”
“Aku tak mau membuat Mom dan Kakak-kakak ku khawatir, aku sangat menyayangi kalian. Bagaimana mungkin aku menambah beban Mom,”
“Mom bekerja keras untuk kami semua, aku tak ingin menambah repot Mom,” kata Ardhen lembut.
“Mom bekerja untuk kalian, tak ada yang repot untuk kalian, jangan memaksa dewasa sebelum waktunya. Bersikaplah anak-anak, bermanja-manjalah, katakan jika sakit, katakan apapun yang dirasakan.” Ia masih menangis memeluk Ardhen.
“Aku akan bertambah sakit jika Mom menangis, sekarang berhentilah menangis, aku mohon.” ucapnya.
Tak lama, Arhen masuk dengan terburu-buru,
“Adik, kau kenapa? Kenapa bisa pingsan? Apa seseorang mengganggumu? Atau mengganggu Mom yang sedang bersamamu? Katakan padaku, Dik! Aku dan Abang akan membalasnya.” kata Arhen berapi-api.
“Tak ada Kak, aku baik-baik saja. Hanya kelelahan, terlalu kepikiran tentang lomba,” sahut Ardhen tersenyum.
Jimi baru saja sampai belakangan, walaupun Arhen bersama dengannya tadi. Tak lama, Shalsabila dan Arsen juga datang, mereka dari kampung langsung menuju rumah sakit.
“My Handsome, what happen?” (Gantengku apa yang terjadi?) Billa menangkap kedua pipi Arhen. “I'm very worried,” (Aku sangat khawatir)
“Dont worry, Miss. I'm good.” jawabnya tersenyum. Arsen menatap tajam adiknya, mencari celah kebohongan di sana.
Shalsabila menatap Sakinah, mata wanita itu telah sembab karena menangis. Lalu, mengedipkan matanya pada Jimi. Suaminya mengerti, kemudian ia tersenyum. “Wait, Me and Your Mom are going to buy something,”
“Ok!” jawab Arsen.
“Arhen, Arsen jaga Adik, ya. Mom keluar dulu sama Miss.” titip Sakinah.
“Ok, Mom. Kami di sini bersama Daddy, jangan khawatir.” Arhen menjawab dengan tersenyum.
Setelah keluar, Shalsabila menanyakan tentang kabar Ardhen, ia sangat terkejut mengetahui kabar itu.
Sedangkan Ardhen sedang diinterogasi oleh kedua kakak kembarnya, Arhen dan Arsen.
___________
Beberapa bulan Ardhen di rawat, ia rutin melakukan cuci darah tiap bulan, namun sakitnya semakin parah, ia meringis kesakitan setiap buang air kecil, bahkan air s*ninya hampir berwarna merah.
Bagaimana tidak, Ardhen memiliki darah langka, Bahkan Dokter mengusulkan Ardhen harus secepatnya melakukan operasi transplantasi ginjal. Shalsabila dan Arsen mencari pendonor ginjal yang cocok, namun tak ada yang cocok.
“Kenapa My Handsome bisa sakit parah? Selama ini makanannya sehat, tak ada keluhan sama sekali sebelumnya,” Shalsabila bergumam.
“Dokter mengatakan, kemungkinan penyakit ginjal kelainan bawaan ini penyakit riwayat turunan....” tutur Kinah lirih.
“Hah?! Kau harus mengingat siapa yang tidur denganmu? Apa lelaki tua bangka sampai Ardhen dapat penyakit turunan! Apakah tak ada sesuatu yang kau ingat sedikitpun malam itu?” tanya Shalsabila bingung. Ia memijat keningnya.
“Aku rasa dia bukan pria tua bangka, masih muda, badannya juga bagus, aku hanya samar mengingat wajahnya.” sahut Kinah pelan.
“Kinah!” Billa langsung meluruskan duduknya, ia terperanjak. “Bukankah saat itu kau bilang, kau tak ingat sedikitpun? Katakanlah sejujurnya, ini sangat penting untuk keselamatan Ardhen.”
“Aku ragu, apakah itu putra pemilik PT WILZ PLANTGROUPS atau tidak? Itu adalah hal memalukan, jika dia tak mengakuinya.”
“Hilangkan malumu itu Kinah, yang penting keselamatan Ardhen,”
“Aku yakin Ardhen akan mendapatkan ginjal, tak perlu mencaritahu laki-laki yang berbuat buruk seperti itu.”
“Terserah dirimu sajalah,” Billa pasrah.
Arsen terdiam, dari tadi ia sedang mencuri dengar obrolan Shalsabila dengan Kinah. Ia tak menyangka akan mendapatkan informasi yang selama ini di tutupi Ibunya.
Ia masuk ke dalam kamarnya, search nama PT. WILZ PLANTGROUPS, keluarlah dua nama putra pemilik perusahaan itu, Dedrick Ryker Van W dan Abbe Van Andrean Halen.
Arsen menatap dua foto itu, Ardhen sangat mirip dengan Andrean, sedangkan Dedrick sangat mirip dengan Arhen. Ia mencari semua data tentang mereka.
“Aku yakin diantara mereka berdua adalah Ayah kami, tapi siapa? Apakah dia atau dia?” Arsen mengelus dagunya, berpikir.
“Andrean atau Dedrick?”
“Mungkin saja kau, Ayahku,” Ia menandai Dedrick. Lalu, tersenyum.
“Tunggu kedatangan Anak-anak mu, Pa. Jangan sampai terkejut, ya.” gumamnya, Ia mulai mengotak-atik laptopnya.
Ia menyunggingkan senyuman devilnya, ia bermain-main dengan sistem PT. WILZ PLANTGROUPS yang berada di Singapore. “Pantas saja wajah kami seperti ini, rupanya Ayahku orang Singapore.” Ia kembali tersenyum licik.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
ayooo nak beri kejutan utk ayahmu .... mamak mu bingung dgn siapa dia hamil 🤣🤣
2025-03-22
0
Finafina8866
mamak ku malah suruh aku dewasa saat masih kecil 😂😂
2022-02-27
3
perjuangan ✅
iihh sakinah ini,,hilang kan ego mu,tuh anak mu butuh donor,,, bodoh betul
2022-02-02
0