Sakinah menghela nafas. Ia telah kembali ke rumah sakit. Berpikir dan terus berpikir.
“Mom kenapa? Wajahnya cemberut begitu?” tanya Ardhen.
“Mom tak apa-apa, hanya sedikit lelah.” Sakinah membuat alasan.
“Kalau Mom lelah, istirahat aja Mom, mau berbaring disampingku?”
Sakinah berjalan mendekat, naik ke atas ranjang, berbaring disamping Ardhen, kemudian memeluknya.
Arhen dan Arsen mendekat, ia memijit kaki dan kepala Sakinah. “Apa Mom Sakit?” Arhen meraba kening Sakinah sembari memijat kepalanya.
“Tidak, Mom hanya lelah. Ingin tidur.”
“Ya sudah, kalau begitu Mom tidur saja. Biar kami yang jaga Ardhen.” tutur Arhen.
Sakinah mencoba memejamkan matanya, namun tak bisa. Pikirannya masih menerawang.
Tak lama, Ardhen pun bergerak hendak melepaskan tangan Sakinah. “Mau kemana?” tanya Sakinah.
“Mom belum tidur?” tanya Ardhen, Ia menatap Sakinah. “Kirain Mom udah tidur, aku mau buang air kecil.” Perlahan Ardhen duduk.
“Sini, biar Mom bantu.”
“Gak usah Mom, aku bisa sendiri kok.” sergah Ardhen, namun Sakinah tetap mengiringi langkah Ardhen.
“Mom berdiri di luar aja, Adik malu!” ucapnya dengan pipi merah.
“Mom putar wajah ke sana, ok!” jawab Sakinah. Ia memalingkan wajahnya menghadap ke dinding.
Ardhen terdengar meringis saat buang air kecil. Tentu saja itu membuat Sakinah memutar kepala dan tubuhnya menghadap Ardhen. Ia lihat warna kenc*ng anaknya berwarna sangat merah.
“Ardhen!!!”
“Mom! Katanya gak lihat ke sini! Tapi malah lihat ke sini!” sewotnya. Ardhen bergegas menghidupkan shower dan cebok.
Sakinah membantu Ardhen memasangkan celananya, walaupun Ardhen menolak ia tetap membantu. Ardhen tak mau membuat Ibunya kesusahan sekaligus merasa malu.
“Apakah selalu seperti itu air kenc*ngnya? Apa sangat sakit saat mengeluarkannya?” tanya Sakinah khawatir.
“Enggak kok, Mom. Sakitnya cuma sedikit. Ayo, keluar. Toiletnya bau.” ajaknya.
Sakinah dan Ardhen keluar, lalu ia gendong Ardhen untuk naik ke atas ranjang. “Mom, Adik bisa naik sendiri!” Memberontak tidak suka.
“Udah nurut aja,”
“Mom mau di pijit lagi? tanya Arhen saat Sakinah termenung melihat Ardhen.
“Enggak. Kalian lanjut aja belajarnya.” sahut Sakinah.
Kedua anak laki-laki itu pun sibuk membaca buku.
“Apa kalian ingin memiliki Papa?” Sakinah bertanya. Membuat kedua anak laki-laki yang sibuk membaca menoleh padanya, begitupula Ardhen yang tadinya berbaring, kini duduk menghadap Sakinah.
“Apa Mom akhirnya menerima Papa dan memaafkan Papa?” tanya Arhen dan Ardhen serempak dengan semangat.
“Rencana, jika kalian menyetujuinya.”
“Tentu saja, kami sangat menginginkan Papa, Mom.” jawab mereka bahagia. Sedangkan Arsen tampak cuek dan kembali membaca bukunya.
_________________
Keesokan harinya. Hari ini Arhen dan Arsen libur sekolah.
“Mom beli sarapan dulu, ya. Tunggu di dalam.”
“Ok, Mom.”
Sakinah membeli sarapan dan beberapa snack serta minuman untuk putra-putranya. Ia kembali ke kamar inap Ardhen dengan dua kantong kresek penuh.
“Nih, sarapannya. Ayo, makan dulu.”
Sakinah membuka lontong sayur yang ia beli di warung di depan rumah sakit. Ia berikan pada Arhen dan Arsen.
“Sudah, simpan dulu handphonenya. Atau mau mom sita handphonenya?!” Tegur Sakinah.
“Iya, Mom. Abang simpan.” Arsen segera menyimpan handphonenya. Duduk dengan baik dan tertib, seperti mana yang selalu diajarkan Sakinah pada anak-anaknya.
Kemudian Sakinah berjalan ke arah Ardhen, membukakan bubur kacang hijau untuknya. “Adik makan ini dulu, ya. Belum boleh makan yang pedas.” jelas Sakinah.
“Ayo, kita berdo'a dulu. Siapa yang mau pimpin do'a?” tanya Sakinah.
“Abang!” tunjuk Arhen dan Ardhen kompak.
“Ayo, Abang, pimpin do'anya.” pinta Sakinah menatap Arsen.
“Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar. Aamiin.” (Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.)
Setelah membaca do'a, Arsen dan Arhen pun menyuap sarapannya. Begitupula Ardhen sedang disuapi oleh Sakinah.
Setelah mereka sarapan, Sakinah terdengar menelfon seseorang. “Aku setuju.” ucapnya. Lalu bersiap untuk pergi.
“Mom mau pergi keluar dulu ya, Arsen dan Arhen jaga Ardhen, ya.”
“Keluar kemana Mom?” Arsen menatapnya penuh selidik.
“Mom mau ketemu seseorang, perlu.”
Arsen menatapnya tajam, kemudian ia membuka tasnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam tas itu. “Mom pakai ini ya, bross cantik.” Arsen menunjukkan bros hijab yang memiliki permata berwarna biru.
“Aku pasangin, ya, Mom.” pinta Arsen.
Sakinah berjongkok, menyejajarkan badannya setinggi Arsen. Anak laki-laki itu pun memasangkan bros berwarna biru.
“Mom pergi dulu, kalian baik-baik, ya. Kalau ada apa-apa telfon Mom.” pamitnya.
Sakinah berada di restoran sekarang. Ia berdiri di depan pintu masuk menunggu Andrean.
“Kau sudah lama menunggu? Maaf, tadi di jalan macet.”
Mereka pun masuk ke dalam private room.
“Pesan apa?” Andrean berbasa-basi.
“Tidak usah, aku sudah makan, cukup minum saja, anak-anak tidak bisa kutinggal lama.” tutur Sakinah.
“Hm, baiklah. Tadi kau berkata menyetujui menikah denganku bukan?”
“Iya.”
Andrean menyodorkan surat kontrak. “Tanda tanganilah.”
Sakinah hanya sekedar melirik surat itu dengan ekor matanya. Lalu berkata, “Aku tak butuh surat kontrak, jika menikah bukankah kita sudah terikat.”
Andrean tersenyum kecil.
“Aku ingin segera melakukan operasi transplantasi ginjal untuk Ardhen secepatnya, jadi segera lakukan syarat itu. Mari menikah.”
Senyuman Andrean semakin melebar. “Lebih baik tanda tangani dulu.” Andrean tetap menyodorkan surat itu.
“Aku tak pernah menganggap surat ini berarti dan lebih kuat dari surat nikah.” ucapnya seraya tangannya menandatangani surat itu tanpa membacanya terlebih dahulu.
Andrean memicingkan matanya.
“Sekarang aku sudah menandatangani surat ini. Kau sudah puas?” Sakinah memberikan surat itu pada Andrean.
“Kau bahkan tak membacanya, tak takut aku membuat sesuatu yang buruk?”
“Jika kau membuat sesuatu yang buruk, maka kau yang akan malu karena aku akan segera menjadi istrimu.” imbuhnya.
Andrean terkekeh kecil mendengar jawaban itu.
“Aku akan segera masuk agamamu, tunggulah beberapa hari, aku akan menghubungimu kembali.”
“Bagaimana dengan ginjal Ardhen? Kau harus melakukan operasi transplantasi terlebih dahulu.” tegas Sakinah.
Masih terkekeh, “Tadi kau langsung menandatangani surat ini sebelum meminta persyaratan operasi terlebih dahulu.”
“Maksudnya?”
Andrean mendekat, “Sudah ku katakan tunggu beberapa hari, aku akan mengabarimu.” Andrean menyeruput minumannya. Sedangkan Sakinah menatapnya lama. Untuk pertamakalinya ia menatap pria yang bukan mahramnya begitu lama. Bukan karena ia memiliki syahwat, namun karena kesal.
Andrean melirik Sakinah dengan ekor matanya, “Jangan sampai jatuh hati saat memandangku, pernikahan kita hanya kontrak.” ucapnya menyombongkan diri.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
C2nunik987
Andrean klo km nyebelin hbs di getok km ma Arsen liat aja nanti 😡😡😡
2025-03-23
0
perjuangan ✅
arsen blm ketahuan iya,,bhw mrk kbar 3,yg edintik
2022-02-02
0
🎼retha🎶🎵🎶🎵
sadnes!!
2021-12-17
0