Entah apa yang merasuki Audrey, hari ini ia habis-habisan merayu Rangga minta ditraktir makan siang di restoran.
"Kamu kenapa sih?" tanya Rangga sambil menghabiskan makanannya.
"Ya ampun kak, sudah sepuluh kali kakak tanyain itu." Audrey merengut.
"Ahh, iya iya. Habisin gih, kakak banyak kerjaan nih."
Audrey mengunyah sambil membuang muka melihat ke sisi lain tempat makan itu.
"Kak, itu bukannya kak Riswan ya, suaminya kak Riana?" Audrey memukul tangan Rangga pelan.
Rangga mengikuti arah pandangan Audrey, ia terkejut karena yang sedang bersama Riswan adalah wanita lain, bukan Riana.
Rangga mengepalkan tangan.
"Ya ampun, pakai acara suap-suapan lagi." Audrey mendelik. "Kakak merelakan kak Riana untuk laki-laki seperti itu? Sayang banget." Audrey geleng-geleng dan menatap kakak satu-satunya itu dengan wajah sinis.
"Hentikan Audrey, itu masa lalu." Rangga menunduk.
"Ya, masa lalu yang menghiasi masa sekarang. Yuk ah, Audrey malas berlama-lama disini." Ia beranjak pergi setelah menyelesaikan makanannya.
"Drey, tutup mulut kamu ya. Jangan cerita apapun ke Riana." kata Rangga setelah mobil melaju meninggalkan restoran itu.
"Sippp, tenang aja. Aku ikut ke kantor ya."
Rangga hanya mengangguk, pikirannya penuh dengan sosok Riana.
...
"Selamat siang kak Ri." sapa Audrey saat mereka bertemu di depan pintu ruangan Rangga.
"Selamat siang nona. Sedang berkunjung ya." Riana tersenyum ramah. Audrey menjawab dengan anggukan yang enerjik.
"Sudut bibir kakak kenapa?" Audrey bertanya sambil menunjuk sudut bibirnya sendiri.
"Oh, ini. Semalam mati lampu, pas cari lilin tidak sengaja kena sudut pintu rak. Saya lanjut kerja dulu ya." Riana bergegas pergi.
Audrey masuk ke ruangan Rangga dengan wajah penuh tanya.
"Ngobrol apa saja? Kok lama banget?" tegur Rangga.
"Itu, sudut bibir kak Riana kelihatan membiru. Aku makin curiga deh sama kak Riswan."
"Husss!!! Anak kecil dilarang ikut campur urusan keluarga orang." Rangga mengingatkan sambil meneruskan pekerjaannya.
Sejujurnya Rangga pun menaruh curiga, tapi apalah daya, Riana selalu menghindari setiap pertanyaannya.
.
.
.
Riana melirik arlojinya, masih terlalu sore, Riana mendesah cemas. Ia mengemudikan mobil dan berhenti di salah satu rumah dalam kompleks perumahan itu.
Rumah miliknya itu berlantai dua dan tak terlalu besar dengan arsitektur modern. Ia tak langsung turun, hatinya tak ingin masuk, namun kemana lagi ia akan pergi.
Setelah mengumpulkan segenap kekuatan, ia melangkah masuk.
"Selamat sore." Riana memberi salam pada sang suami yang sedang menonton TV di ruang tengah.
"Lama banget, habis tidur sama Rangga? Berapa ronde?" Riswan bertanya tanpa menoleh.
Riana diam, rasanya lelah, ia malas berdebat. Pertanyaan menyakitkan yang selalu dilontarkan Riswan setiap ia pulang kerja.
Dulu saat baru menikah, suaminya tidak seperti itu. Walau Riana tahu kebaikan Riswan hanya pura-pura, tapi Riswan tak pernah menyakitinya sedikitpun. Namun setahun yang lalu, Riswan mulai berubah.
"Hei j*lang, kenapa tidak dijawab?" Riswan berdiri dan mendekati istrinya.
"Aku tak ada hubungan apapun dengan Tuan Rangga. Jika kau berkata seperti itu besok aku akan mengajukan pengunduran diri."
"Kamu mau suruh aku kerja?" Riswan mulai emosi."Kamu ini ya, sudah mandul tidak becus cari uang lagi! Wanita tak berguna!"
Air mata Riana langsung mengalir tanpa henti. Ia memilih pergi naik ke lantai dua menuju kamarnya, meninggalkan Riswan yang masih mencaci maki dirinya.
Di dalam kamar, Riana duduk di lantai meratapi dirinya.
Pernikahan ini bukanlah kehendaknya, orang tuanya terlilit hutang pada Shera, wanita yang begitu terobsesi pada Rangga.
Melalui hutang itu Shera memaksa Riana menikah dengan pria yang sudah ia siapkan. Shera mengatakan pada Rangga bahwa Riswan adalah kekasih gadis itu.
Rangga bukan pria yang mudah mengambil keputusan saat marah, ia bahkan tak percaya begitu saja dengan ucapan Shera.
Namun Riana tak punya pilihan lain, karena Shera bahkan memfitnahnya dengan memperlihatkan foto Riana dan Riswan yang tidur bersama di hotel.
Cara lama yang masih efektif digunakan untuk menjebak lawan.
Sialnya, bukan Rangga yang termakan fitnah, malahan orang tua Riana yang tersulut amarah. Dengan penuh emosi langsung menikahkan Riswan dan Riana.
Riswan tahu bahwa hati Riana sudah dimiliki Rangga, tetapi ia tetap menjalankan peran suami yang baik bagi Riana demi bayaran mahal yang diberi Shera.
Setahun menikah mereka tak kunjung dikaruniai keturunan, bahkan Riswan dipecat dari kantornya karena menggelapkan uang kantor.
Riana tak tahu sampai kapan ia bisa bertahan, pernikahan ini benar-benar tak sehat. Tak ada wanita yang ingin diperlakukan seperti ini.
.
.
.
Audrey berjalan kaki menuju pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari kantor kakaknya. Sore ini ia belum mau pulang, jadi ia memutuskan untuk mencuci mata dulu.
Selama berjalan-jalan di area perbelanjaan itu, ia tak menyadari ada sepasang mata yang terus mengamatinya.
"Audrey, kita bertemu lagi." Audrey yang sedang melihat-lihat jam tangan langsung menghentikan aktifitasnya.
"Oohh, kamu Toni." Audrey menatap dengan lesu, ia merasa terganggu dengan kehadiran pria itu. Audrey memutuskan keluar dari toko dan berencana langsung pulang. "Aku permisi ya."
Audrey buru-buru, namun karena sedang tidak fokus ia bingung dengan arah keluar.
Toni mengejarnya, di depan sebuah toko Brand Internasional ia menarik bahu Audrey. Hal ini berani dilakukannya karena keadaan sekitar cukup sepi.
Lokasi toko-toko brand ternama memang cenderung lengang, karena pembelinya dari kalangan terbatas.
"Tunggu dulu, kamu judes banget sih sama aku." Toni menampilkan senyum menawan.
Audrey bergeser dan menautkan kedua alisnya.
"Seingatku, kita tidak dekat, hanya sebatas kenal. Dan sikapku wajar, karena kau bukan temanku." Audrey menahan emosinya, namun wajahnya tak mampu menutupi rasa ketidak sukaannya akan kehadiran Toni.
Entah kenapa instingnya mengatakan kalau Toni adalah tipe pria yang harus dihindari.
"Baiklah, jangan marah. Ok?" Toni berusaha menjinakkan Audrey dengan cara mengalah terlebih dahulu. "Aku traktir kamu makan ya, anggap sebagai permintaan maaf karena merusak "me time"mu. Bagaimana?"
"Terima kasih, tapi aku belum lapar. Aku permisi dulu ya."
"Tunggu dulu dong cantik," Toni meraih tangan Audrey dan secepat kilat Audrey mengibaskan tangan bergerak mengelak.
Toni terkejut dengan gerakan Audrey, apakah dia bisa bela diri? tanyanya dalm hati.
"Katakan, dan tolong jangan menyentuhku. Aku terburu-buru ingin bertemu seseorang yang spesial bagiku." Audrey berbohong, ia sudah sangat gerah dengan tatapan mata Toni yang penuh kilat gairah.
"Aku minta nomor ponsel kamu ya, please." Toni memelas.
"Audrey, kamu baik-baik saja?" sebuah suara yang akhir-akhir ini selalu terngiang di kepala Audrey.
Tampak Aaron sedang berdiri memandangi Audrey, ia masih mengenakan baju kantor. Kemeja berwarna mint itu digulung sampai di lengan, sedangkan sebuah jas tersampir di tangan kirinya.
Audrey berpikir cepat, kemudian dengan tersenyum ia berjalan menghampiri Aaron. "Kak, kenapa lama sekali?" Audrey memulai sandiwara."Tolong aku" Audrey menggerakkan bibir tanpa bersuara.
Toni yang berada di belakangnya tentu saja tak akan menyadari ini. Aaron tersenyum, ia mengerti maksud gadis itu.
"Maafkan kakak sayang, ada sedikit pekerjaan. Jangan marah ya." Aaron mengusap punca kepala Audrey dengan sayang, tak lupa tatapan penuh cinta memenuhi netranya.
Audrey berdebar, panggilan sayang itu terasa sangat nyata. Darahnya berdesir, hingga membuatnya tersipu malu.
Aaron yang melihat rona wajah Audrey meneguk salivanya dengan susah payah. Ia menahan diri untuk tidak mengecup pipi gadis di hadapannya.
Dadanya mulai berdebar tak karuan, ia mencoba tetap waras dan sadar, ini hanyalah sandiwara.
"Apakah sekarang sudah beres?"
"Tentu. Siapa dia?" tatapan tajam Aaron menghujam Toni.
"Dia kenalanku." jawab Audrey sambil berbalik melihat Toni.
Menyaksikan interaksi Audrey dan Aaron membuat emosinya memuncak. Sialan, makinya. Namun ia memaksa tersenyum.
"Demi lepas dariku kau sampai bersandiwara seperti ini." Toni tersenyum sinis menatap Aaron.
"Sandiwara? Lepas darimu? Kau benar-benar mempunyai nyali besar mendekati gadisku." tangan Aaron bergerak merangkul pinggang Audrey dengan intim. Sedikit menarik tubuh gadis itu agar merapat padanya.
"Aku tak percaya begitu saja. Hal seperti ini sudah sering kulihat. Dan pada akhirnya gadis-gadis itu datang padaku dan meninggalkan kekasih mereka." Toni bangga.
"Kau bangga dengan predikatmu sebagai perebut kekasih orang?" Audrey menatap sinis. "Jangan samakan aku dengan mereka."
Di belakangnya Aaron tersenyum jahat menatap Toni.
"Ayo sayang, kita pergi." Aaron menarik tangan Audrey untuk menjauh. Mereka bergandengan tangan menuju tempat parkir.
"Kak, udah bisa lepas tanganku." Audrey berbisik mengingatkan.
Aaron menoleh padanya dan berhenti. Ia mengganti posisi bergandengan menjadi jabat tangan. "Aaron." katanya.
"Audrey." balas Audrey sambil tersenyum geli.
"Aku mendengar temanmu memanggil tempo hari, dari sana aku tahu namamu." kata Aaron sambil melepas tangan Audrey.
"Ya, aku juga dengar teman kakak memanggil."
Tiba-tiba Aaron merangkul bahu Audrey dan mengajaknya berjalan cepat menuju mobil. Aaron membukakan pintu depan mempersilahkan Audrey masuk. Kemudian ia segera menyusul duduk di belakang kemudi.
"Ada apa kak?" tanya Audrey panik.
"Kekasihmu mengikuti kita." Aaron menggerakkan dagunya ke arah deretan mobil di dekat dinding. "Ia bersembunyi di belakang minivan berwarna hitam itu."
"Toni bukan kekasihku. Kami bertemu di sebuah kafe dan ia mengajak berkenalan tapi aku tak mau. Lalu setelah kita bertemu terakhir kali, tanpa sengaja aku membantunya menangkap pencopet." Audrey berbicara sambil mengerucutkan bibir, ia tampak sebal. "hhhh, aku menyesal telah menolongnya."
Mereka terdiam."Terima kasih kak Aaron mau membantuku." Audrey tersenyum tulus menatap Aaron.
"Sama-sama." Aaron mengulurkan tangan hendak menyentuh punca kepala Audrey, namun dengan cepat Audrey menghindar.
"Eittt!!!Sandiwara sudah selesai." katanya sambil tertawa canggung.
"Aku tak peduli." sahut Aaron cepat dan mengejar kepala Audrey.
Sekali lagi Audrey menghindar, bahkan menahan tangan Aaron. Hingga Aaron terpaksa menggunakan kedua tangannya untuk menangkap kepala Audrey.
Audrey tergelak melihat tingkah Aaron, Aaron pun sama tak dapat menahan tawanya. Mereka seperti anak kecil yang bermain di dalam mobil.
Pada akhirnya Aaron berhasil menangkap kepala Audrey dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan gemas.
Aaron melirik mencari keberadaan si penguntit, ternyata Toni semakin mendekat untuk melihat keadaan di dalam mobil melalui kaca mobil yang tidak terlalu gelap.
"Maaf, Toni masih mengamati." Aaron berbisik dan Audrey hanya mengangguk.
.
.
.
Isi hati Aaron:
Pertemuan yang keempat bisa seakrab ini, apa kau memberiku ijin mendekatimu?
Isi hati Audrey:
Rasanya nyaman dekat dengannya.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments