Akhirnya, Bara melajukan mobilnya ke rumah Zeline. Pikirannya sedang kacau saat ini. Bara melajukan mobilnya dengan cepat hingga dia pun telah sampai depan rumah Zeline.
Bara melihat ada mobil papinya yang terparkir di samping mobilnya. Bara bergegas masuk ke dalam rumah Zeline yang memang pintunya hanya dibiarkan terbuka karena di rumah itu terdengar ramai. Bara melangkah dengan wajahnya yang penuh amarah.
Bara melihat sekumpulan orang-orang yang tengah bahagia menertawakan kegagalan pertunangan dirinya dan Jeny. Di sana ada Jaya, Zeline, Intan dan ketiga anak kembarnya. Mereka bersatu untuk menghancurkan acara pertunangan Bara dari awal paket baju, dekorasi, cincin pertunangan hingga drama Jupiter yang mengumumkan di depan para tamu undangan, semua mereka lakukan dengan baik hingga Jeny membatalkan pertunangannya sendiri dengan Bara.
"Wah, bagus ya kalian malah tertawa dan merayakan pesta kegagalan pertunanganku dengan Jeny. Papi puaskan sekarang, hah!" ucap Bara dengan matanya yang memerah serasa singa yang akan memakan mangsanya.
"Papi sudah peringatkan ke kamu untuk membatalkan pertunangan itu, tapi lihat lah sekarang. Oh ya, besok Papi akan mengadakan pers untuk klarifikasi tentang Jupiter, Mars dan Starla. Kamu harus datang besok karena kamu dan Zeline yang paling mengetahui semua kejadian malam itu," kata Jaya dengan memberitahukan Bara, tapi Bara malah tak mempedulikannya.
Bara menatap semua pasang mata ke arahnya dengan kesal tapi tatapan mata Bara terhenti di Starla yang menurut Bara bisa diajak bicara, lalu Bara mendekati Starla.
"Starla, bukankah sudah Papa katakan bahwa tante Jeny itu baik tapi kenapa kamu ikut-ikutan kakek menggagalkan pertunangan Papa dengan tante Jeny, kenapa ... hah?" ucap Bara bernada tinggi di akhir katanya sembari mengguncang-guncang bahu Starla.
"Hua ... hiks... hiks...!!" Starla mencebik menangis ketakutan menatap Bara.
"Bara, kamu menakuti Starla. Nggak seharusnya kamu memarahi Starla, dia masih kecil," protes Zeline yang tak suka Starla diperlakukan tidak baik pada Bara.
"Kamu yang tidak becus mengurus anak-anak kamu hingga mereka bisa menentangku seperti ini," Bara memaki Zeline dengan sangkaannya.
"Tahu apa kamu tentang kehidupanku mengurus anak-anak? Berhenti menyalahkan aku, ini semua berawal dari kesalahanmu," bantah Zeline.
"Ini semua karena kamu, jika kamu dan anak-anak tidak berada di sini, maka pasti aku sudah bahagia bersama Jeny. Ini semua karena ulah kamu Zeline!!" ujar Bara tiada henti memaki Zeline.
"Bara!!" ucap Jaya.
Plak
Jaya bangkit berdiri dan menampar pipi Bara karena menurut Jaya Bara sudah keterlaluan menghina dan memaki Zeline.
"Papi berani menampar Bara karena wanita ini," ujar Bara memandang Jaya dengan seringai kesalnya.
"Kamu sudah keterlaluan, bagaimana pun juga Zeline yang telah membesarkan ketiga anak-anak kamu, tidak mudah membesarkan anak seorang diri," Jaya sangat marah dan tak terima karena Bara telah memaki-maki Zeline.
"Pergi dari sini ... dan jika kamu masih ingin bersama Jeny maka kamu harus angkat kaki dari rumah Papi," ucap Jaya menegaskan dan mengusir Bara dari sana.
Bara masih menahan emosinya saat itu, karena tidak mungkin Bara akan melawan papinya sendiri. Akhirnya Bara pergi dari rumah Zeline dan mengendarai mobilnya menuju apartemennya. Niat untuk bertemu dengan Jeny saat ini diurungkannya karena percuma, mau mencari Jeny pun tak tahu harus ke mana.
Esok hari, seperti yang telah diucapkan oleh Jaya, dia akan mengklarifikasi tentang kejadian batalnya pertunangan Bara dan sekaligus mengumumkan tentang kejadian beberapa tahun yang lalu antara Zeline dan Bara hingga mempunyai anak yang muncul saat acara pertunangan Bara dan Jeny.
Semua kabar berita pengklarifikasian tersebut telah tersebar secara langsung di stasiun TV dan media sosial online lainnya. Hanya ada Jaya, Zeline dan ketiga anak kembarnya. Keputusan ini sudah diambil oleh Jaya karena bagaimana pun ketiga cucunya itu harus diakuinya sebagai keturunan Adiwangsa.
Jeny merasa dikhianati dan disakiti oleh Bara setelah mendengar langsung pengakuan Zeline yang dia lihat di TV. Hatinya hancur dan benar-benar terluka, lelaki yang selama ini dipercaya dan dicintainya tega menutupi rahasia yang sebesar itu bertahun-tahun.
"Aku benci kamu Bara, aku benci kamu. Selama ini aku selalu setia sama kamu, percaya sama kamu, tapi apa balasan kamu ke aku, kamu hancurin semua impian aku dan kamu sudah mempermalukan aku di depan keluargaku, sahabatku, dan semua orang. Aku benci kamu Baraaa!!" teriak Jeny sambil menangis tak henti dari semalam, meratapi nasibnya. Sedari semalam Jeny pergi ke hotel untuk menenangkan dirinya, tidak ada orang yang tahu kecuali pekerja hotel yang melayani Jeny memesan kamar.
Saat ini pun Jeny tidak membawa ponsel, tapi dengan begitu tidak ada orang-orang yang menanyakan keberadaannya sekarang. Karena dipastikan akan ada banyak wartawan yang ingin mewawancarainya seputar batalnya pertunangan dia hingga malasah Bara yang telah mempunyai anak diluar nikah. Itu membuat Jeny stres.
Tiga hari pun berlalu, Bara mencoba untuk menghubungi Jeny tapi nomor ponsel tidak pernah tersambung sejak hari pertunangannya itu. Bara benar-benar frustasi sekarang hingga dia tidak pernah datang ke kantor sampai sekarang karena merasa malu dengan apa yang sudah terjadi.
Dengan kejadiannya saat ini, Bara meminta Kris untuk mencari Jeny. Bara ingin meminta maaf pada Jeny sekaligus menjelaskan pada Jeny tentang masalah yang telah terjadi di masa lalunya bersama Zeline.
Beberapa jam berlalu di sore hari, akhirnya Kris menemukan keberadaan Jeny. Tidak ingin berlama-lama akhirnya Bara dan Kris menuju hotel kemudian Bara pun langsung menemui Jeny di kamar yang dia sewa.
Ting... ting... ting...
"Jeny, buka pintunya, ini aku Bara. Please Jeny buka, kita perlu bicara Jeny. Aku mohon, aku tahu aku salah tapi tolong beri aku kesempatan untuk bicara sebentar saja," ucap Bara memelas dan memohon pada Jeny untuk dibukakan pintu kamarnya.
Ceklek
"Mau apa lagi kamu Bara, semuanya sudah jelas, aku sudah melihat dan mendengar semuanya di TV. Aku lelah dan aku ingin sendiri, tolong pergilah Bara, aku mohon!" pinta Jeny dengan suara lemahnya bersedih.
Bara memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam kamar Jeny, kemudian Bara berlutut di depan Jeny sembari menggenggam kedua tangan Jeny memohon untuk melanjutkan pertunangannya.
"Jeny, aku memang salah tapi aku mohon, kita harus tetap bertunangan kalau perlu kita menikah saja agar kau percaya bahwa aku mencintai kamu, tolong percaya padaku."
"Lalu bagaimana dengan anak-anakmu, hah? Jujur aku nggak akan pernah menerima anak-anak kamu itu!" pengakuan Jeny pada Bara membuat Bara menjadi bingung.
"Jangan khawatir, anak-anakku biar ibunya yang mengurus mereka," ucap Bara tanpa berpikir.
"Aku tahu, tapi maksudku adalah kau jangan pernah bertemu lagi dengan perempuan itu ataupun anak-anak kamu!" pinta Jeny.
Deg
"I-itu tidak mungkin, Jeny. Anak-anakku itu tanggung jawabku, mana mungkin anak-anakku hidup tanpa ayah," sangkal Bara yang tidak menyetujui permintaan Jeny.
"Terserah kamu, jika kamu ingin kita menikah maka kamu harus meninggalkan anak-anak kamu. Pergilah ... aku ingin sendiri," Jeny memberi pilihan pada Bara yang begitu sulit. Kemudian Jeny mendorong Bara mengusir dari kamarnya.
"Tapi Jeny, aku cinta sama kamu, tolong jangan kasih aku pilihan yang sulit, kumohon!" ucap Bara meminta tapi tidak dipedulikan oleh Jeny hingga pintu kamar itu ditutup kembali oleh Jeny.
"Arghhh ... shittt!!" teriak Bara kesal.
Bara melangkahkan kakinya dengan lambat dan lemah, dia sungguh tidak bisa berpikir sekarang. Setelah beberapa lama di perjalanan, akhirnya telah sampai di kediaman Adiwangsa, Bara pulang dengan penampilannya yang acak-acakan.
"Berani kamu pulang ke rumah ini, lihat lah dirimu ... apakan Jeny mau melanjutkan pertunangan kalian setelah tahu masa lalu kamu yang telah mempunyai anak?" tiba-tiba Jaya bersuara ketika melihat Bara pulang ke rumah, tapi Bara tak peduli dengan ucapan Jaya. Bara tetap melangkah hendak menuju kamarnya.
"Kalau Jeny tidak ingin melanjutkan pertunangan kalian, Papi sudah carikan wanita yang cocok untuk kamu!" kata Jaya yang membuat langkah kaki Bara terhenti.
"Apa maksud Papi?" tanya Bara setenang mungkin.
"Menikahlah dengan Zeline," pinta Jaya.
Deg
"Apa? Hahaha ... apa ini mimpi? Lelucon apa lagi ini. Kenapa kalian selalu memerintahku ini dan itu, aku muak!" tawa Bara seakan Jaya hanya mempermainkannya.
"Tapi Zeline ibu dari anak-anak kamu!" ujar Jaya mengingatkan.
"Aku nggak peduli, Pi. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah menikahi wanita itu. Aku nggak cinta sama Zeline, aku cintanya sama Jeny, Jeny, Jeny dan Jeny!!" teriak Bara mengatakan nama Jeny berulang kali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Marsha Andini Sasmita
😭😭😭😭♥️♥️♥️😆😆😆😆♥️🤦
2022-11-26
0
Marsha Andini Sasmita
😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
2022-11-26
0
Siti Nurjanah
pantas saja si kembar membenci ayahnya
2022-02-25
0