Bara dan Kris pun telah sampai di perusahaan JMS GROUP. Kali ini hanya Bara yang menemui Zeline sedangkan Kris hanya menunggu di depan lobi.
"Ada apa lagi kamu datang ke sini?" tanya Zeline dingin.
"Saya ke sini karena ... ingin menuntut teman kamu yang sudah menjebakku pada malam kejadian di hotel," ucap Bara dengan bingung dan pada akhirnya dengan tenang berbicara pada Zeline
"Tidak perlu, biar aku saja yang menuntutnya karena masalah dia ada padaku. Aku sudah mengumpulkan semua bukti kejahatan Sarah. Dan besok saya akan menyerahkannya pada polisi," ucap Zeline menjelaskan.
"Oh, baguslah kalau begitu," ujar Bara sedikit canggung.
Lama Bara berdiam diri duduk di sofa memandang Zeline. Ada sesuatu yang ingin Bara tanyakan banyak pada Zeline tentang ketiga anak kembarnya itu. Tapi Bara bingung ingin memulainya dari mana. Hingga Zeline sadari kediaman Bara sedari tadi yang hanya diam dan tak banyak bicara. Bara yang biasa menghinanya kini duduk di hadapan Zeline dengan tenang dan bersahabat.
"Apa ada masalah lain lagi yang ingin kau bicarakan?" tanya Zeline bingung dengan melihat Bara yang diam saja.
"Emm ... nggak ada, hanya itu yang ingin saya bahas," Bara bangkit berdiri dan hendak keluar dari ruang kerja Zeline.
"Apa ada Jupiter di sini?" tanya Bara tiba-tiba.
"Dia di rumah," sahut Zeline.
"Apa mereka tidak sekolah? Kenapa selalu ada di rumah?" tanya Bara penasaran.
"Kau ini sebenarnya datang kemari untuk menanyakan tuntutan Sarah atau menanyakan anak-anakku?" tanya Zeline ketus.
"Saya hanya ingin tahu saja. Walaupun mereka cerdas tetap mereka harus bersekolah," ujar Bara beragumen, karena yang Bara tahu Jupiter sering berada di kantor JMS GROUP.
"Kenapa kau begitu peduli pada anak-anakku? Urusan mereka biar menjadi tugasku. Lagian mereka yang meminta untuk home shcooling, kok!" ucap Zeline yang tidak suka mendengar Bara sok peduli pada anak-anaknya.
"Saya hanya kasih saran. Ya sudah, lupakan saja!" ujar Bara dengan kesal dan berlalu pergi meninggalkan Zeline di ruang kerjanya begitu saja.
Keesokan harinya pukul 14.00, Bara yang mengetahui jadwal acara Starla di AWTV, dengan ragu-ragu Bara mendatangi perusahaan miliknya itu hanya untuk melihat Starla. Walaupun dia tidak mengenal baik ketiga anak-anaknya, tapi Bara berusaha untuk menerima keadaan di mana dirinya belum siap untuk menjadi seorang ayah.
Sebelum program acara di mulai, Starla latihan menyanyi terlebih dahulu serta diiringi dengan tariannya di atas panggung. Bara tersenyum melihat Starla yang cantik membawakan lagu yang sangat merdu. Tapi tiba-tiba saja wajah Bara berubah menjadi panik saat salah satu crew berbolak-balik mengecek sound, alhasil kabel yang sangat panjang itu mengenai kaki Starla yang sedang menari kesana kemari.
"Aghhh...!!" teriak Starla.
"Starlaaa!!" teriak Bara memanggil nama Starla dan dengan cepat Bara meraih Starla dalam dekapannya.
Bara yang berada dekat di depan panggung sangat beruntung bisa langsung menyelamatkan putri kecilnya. Bara begitu nyaman dan tenang saat mendekap erat tubuh Starla. Dipandanginya Starla yang imut dan cantik itu setelah dekapan mereka berakhir.
"Kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang terluka?" tanya Bara pada Starla.
"Aku baik-baik saja," ujar Starla.
"Hei kau, kalau kerja itu lihat-lihat. Ada anak kecil yang sedang latihan menyanyi di sini, apa kau mau dia terluka?" Bara memarahi crew yang tadi hampir membuat Starla celaka.
"Ma-maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja, saya akan bekerja lebih hati-hati lagi ke depannya," ujar crew itu dengan sesalnya.
Setelah puas memarahi crew yang hampir melukai Starla, Bara yang masih panik mulai mengecek ujung kepala hingga kaki Starla takut jika ada luka kecil yang terlewatkan.
"Starla, lain kali kamu hati-hati ya, sayang!" pesan Bara ke Starla.
"Iya, terima kasih sudah menolongku," Starla tersenyum dan memeluk Bara erat.
Zeline yang pada hari ini akan melaporkan Sarah pada polisi, semua bukti sudah ada di tangannya. Kali ini Zeline tak akan tinggal diam, karena Sarah lah yang buat Bara selama ini salah paham padanya. Beberapa jam berlalu hingga Zeline di panggil pihak kepolisian untuk mendatangi kantor polisi yang kedua kalinya. Dan akhirnya di tempat itu lah Zeline bertatap muka kembali pada Sarah yang terkejut melihatnya.
"Kau ... Zeline, cih!" ucap Sarah memandang Zeline tak suka.
"Hai Sarah, bagaimana perasaanmu saat kau menjebakku di hotel beberapa tahun lalu? Membuatku dihina habis-habisan oleh teman-teman yang lain, apa kau senang? Aku sudah membantumu, tapi kau jahat padaku. Apa salahku, hah?" desak Zeline meminta jawaban.
"Karena kau adalah wanita yang hanya bisa mengandalkan kecantikanmu untuk menaikkan jabatanmu di hotel, makanya aku melakukan itu, menjebakmu menjadi seorang wanita ******, hahaha...!" jawab Sarah menghina Zeline kembali.
"Cih, kau wanita licik, sarah! Aku tidak akan mengampunimu kali ini, kau harus dihukum sesuai dengan apa yang kau perbuat," kata Zeline dengan menahan amarah kemudian Zeline pergi meninggalkan Sarah keluar dari kantor polisi.
Sebulan berlalu, menjelang hari pertunangan Bara yang akan digelar dua bulan lagi. Sekarang Bara sudah pasrah atas kekalahannya melawan JMS GROUP, karena bagaimana pun Bara tak bisa melawan Zeline dan juga Jupiter. Bara sudah tahu kalau JMS GROUP dijalankan oleh Jupiter yang tak lain adalah anaknya sendiri.
Mau melawan pun percuma dan tak mungkin Bara melakukannya. Semua itu Bara lakukan hanya untuk sang anak yang selama ini tidak pernah dia sayangi. Bara pun juga tak tahu rasanya menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya kelak. Entah kenapa ada rasa takut yang begitu besar jika terjadi sesuatu pada anak-anaknya. Maka dari itu Bara tidak akan mempermasalahkan kekalahan WANGSA GROUP. Bara siap kapan saja bila Jaya Adiwangsa memarahinya habis-habisan.
Pikiran Bara akhir-akhir ini begitu banyak, sehingga dia terkadang tak fokus dengan pekerjaan. Semua impiannya seakan lenyap dari apa yang telah dia idam-idamkan selama ini.
Brak
Tiba-tiba pintu di ruang kerja Bara dibuka paksa oleh seseorang. Seketika Bara terkejut dan ada rasa takut yang menghantuinya serta tubuhnya gemetar hebat.
"Papi ... ka-kapan Papi datang ke Jakarta?" tanya Bara gugup.
Yang datang itu adalah Jaya Adiwangsa, ayah dari Bara. Sengaja Jaya tak memberitahu kedatangannya ke Jakarta untuk memberi pelajaran pada anak semata wanyangnya itu.
Prang
Jaya mendekati meja Bara kemudian mengacak-acak barang yang ada di atas meja kerja Bara termasuk laptopnya.
"Apa yang selama ini kamu kerjakan, hah? Anak tidak tahu malu, bisanya merusak reputasi keluarga, mau dibawa kemana muka Papi jika semua orang tahu," kemarahan Jaya pada Bara tak bisa dibendung lagi.
"Papi, maafkan Bara karena sudah merusak citra perusahaan kita. Bara benar-benar minta maaf. Bara janji akan memperbaikinya," ucap Bara sambil menggenggam tangan Jaya meminta maaf.
Sebenarnya, Bara belum mengetahui apa yang dimaksud oleh papinya itu. Bara berpikir kemarahan Jaya adalah semata-mata karena perusahaannya mengalami penurunan tetapi malah sebaliknya.
"Apa yang bisa diperbaiki lagi? Dengan kau menghamili wanita, apa yang bisa diperbaiki, katakan?" ucap Jaya yang membuat Bara bungkam dan serasa bumi berguncang.
Deg
Bara terdiam menatap Jaya dengan mata yang berkaca-kaca. Entah apa yang akan Bara katakan.
"Pa-papi sudah mengetahui hal itu?" tanya Bara gugup.
"Apa yang tidak aku ketahui tentang kamu, hah? Selama ini Papi mengawasi kamu saat WANGSA GROUP mengalami penurunan," ucap Jaya menjelaskan.
"Maafkan Bara, malam itu Bara dijebak, sungguh Bara berkata jujur, Pi. Tolong maafkan Bara!" Bara memohon maaf pada Jaya dengan bersimpu di depan papinya itu.
"Papi kecewa karena kamu sudah menghancurkan semuanya, reputasi keluarga kita sebagai keturunan Adiwangsa yang bermartabat. Kamu menghamili wanita dan memiliki tiga anak kembar dan bagaimana kamu mempertanggung jawabkannya, hah? Papi nggak akan tinggal diam, Papi harus menyelesaikan urusan wanita itu dan ketiga anaknya."
"Apa yang akan Papi lakukan? Kalau Papi ingin marah, silahkan marah pada Bara dan pukul Bara saja," pinta Bara memohon.
"Kau jangan menghalangi Papi. Awas kalau nanti kau ikut campur urusan Papi, akan Papi hancurkan semua yang berhubungan denganmu, mengerti?" ancam Jaya melangkah keluar dari ruang kerja Bara.
"Papi ... Bara mohon jangan lakukan hal buruk pada Zeline dan anak-anaknya!" teriak Bara memohon saat Jaya berjalan melangkah keluar dari ruangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Marsha Andini Sasmita
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
2022-11-26
0
Marsha Andini Sasmita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2022-11-26
0
See Naa
seru nih thor😍😘
2022-04-29
0