Menagih Janji

Bara tak henti-hentinya menemui Jeny di rumahnya membujuk kembali Jeny untuk menikahinya, tapi lagi-lagi Jeny selalu memberikan pilihan kepada Bara untuk meninggalkan anak-anaknya. Sedangkan Bara punya tanggung jawab yang besar atas ketiga anak kembarnya. Bara tak ingin menelantarkan anak-anaknya lagi seperti dulu.

"Jeny tolong pikirkan lagi, sayang. Mereka anak-anakku, aku janji akan berbuat adil pada kalian. Aku tidak mungkin meninggalkan anak-anakku, bila itu terjadi maka aku akan diusir dari rumah dan aku tidak akan mendapat warisan dari papi. Tolong mengerti lah, sayang!" bujuk Bara meyakini Jeny.

"Kalau begitu kita tinggalkan Jakarta dan kamu minta sama om Jaya untuk memegang WANGSA GROUP di Paris. Aku rela seumur hidupku tinggal di Paris dengan kamu, asal kamu tidak bersama anak-anak kamu, bagaimana?" pinta Jeny yang malah membujuk Bara dengan permintaan yang membuat Bara tambah sulit.

"Apa papi mau menyerahkan WANGSA GROUP di Paris padaku? Sedangkan papi sudah membuang aku dari WANGSA GROUP jika aku masih bersama dengan Jeny," batin Bara semakin bertambah pusing memikirkan masalahnya yang tak kunjung selesai.

"Bara ... Bara ... bagaimana?" tanya Jeny sedikit teriak membangunkan lamunan Bara.

"A-aku tidak menjabat sebagai CEO di WANGSA GROUP lagi jika aku masih berhubungan dengan kamu, Jeny. Aku hanya bisa menjabat CEO di AWTV saja sekarang," jelas Bara sedikit gugup.

"Apa? berarti papi kamu memang nggak menyetujui hubungan kita saat wanita itu datang bersama anak-anak kamu. Lalu untuk apa kamu datang kemari? Hubungan kita berakhir sampai di sini. Pergi kamu, Bara. Pergiiiii...!!" teriak Jeny lantang.

"Apa maksud kamu mutusin hubungan kita? Apa kamu tidak mencintaiku lagi, hah?" tanya Bara kecewa.

"Pergi dari sini, Bara. Pergiiii...!!"

Bara akhirnya pergi dari rumah Jeny. Bara pulang ke rumahnya dan langsung membicarakan hal penting pada Jaya terkait dengan apa yang diminta oleh Jeny. Bara akan berusaha membujuk Jaya dan berharap Jaya akan mengabulkan apa yang Bara inginkan.

"Pi, Bara mau bicara sama Papi," ucap Bara bernada pelan.

"Hemm, ada apa?" tanya Jaya datar sembari menonton TV di ruang tengah.

"Emm ... begini, Pi. Bagaimana jika perusahaan WANGSA GROUP di Paris biar Bara saja yang menjalankannya," ucap Bara ragu dan sedikit ada ketakutan untuk mengatakannya.

"Papi akan mewarisi semua harta Papi ke kamu asal kamu menikahi ibu dari anak-anak kamu, keputusan Papi sudah bulat," Jaya bangkit berdiri dan hendak melangkahkan kakinya.

"Pi, Bara mohon tolong Bara, Bara nggak mau kehilangan Jeny, Bara cinta sama Jeny," Bara menahan langkah Jaya.

"Tinggalkan Jeny, anak-anak kamu lebih membutuhkan kamu dari pada wanita itu. Jika Jeny cinta sama kamu maka dia harus menerima anak-anak kamu sedangkan Jeny malah sebaliknya. Pikirkan baik-baik, Papi lakukan hanya untuk kebahagiaan kamu dan anak-anak kamu," ucap Jaya memberi pengertian pada Bara kemudian melanjutkan langkahnya menjauhi Bara.

Bara mulai berpikir, perkataan papinya sangat masuk akal di sisi lain Bara sangat mencintai Jeny dan hubungan mereka pun begitu lama hingga bertahun-tahun, apa harus memutuskan hubungan itu begitu saja? Bara tak ingin salah mengambil keputusan.

Dilain tempat, Jeny yang sangat pusing memikirkan hubungannya dengan Bara, dia beralih ke tempat yang membuatnya melupakan semua keresahannya dan kebosanannya. Jeny pergi ke Club malam bersama dengan teman dekatnya Vino yang memang sudah lama tertarik pada Jeny. Malam itu, keadaan Jeny sedang kacau dan dia sedang mabuk.

"Aku benci kamu Bara, kamu mengkhianatiku, aku benci kamuuu!!" ucap Jeny memukul-mukul lengan Vino yang mengira Vino itu adalah Bara.

"Ayo kita pulang, Jeny. Kau sudah mabuk seperti ini, mari aku antar pulang," ucap Vino yang menuntun Jeny hingga ke mobilnya.

Dari kejauhan, ada seseorang yang memotret Jeny dan Vino, siapa lagi kalau bukan seorang wartawan yang memang sedang mengincar Jeny. Jeny lupa bahwa dia seorang model yang sedang menjadi perbincangan masyarakat atas batalnya pernikahannya dan Bara, sudah sangat jelas jika banyak wartawan yang mengincar mereka.

Esok paginya, bukan hanya berita di TV tapi juga ada berita di media sosial yang sudah tersebar foto Jeny bersama dengan Vino yang memperlihatkan mereka seperti sepasang kekasih, padahal itu tidak seperti yang dibayangkan oleh orang-orang di luar sana.

Pagi itu pun Jaya sedang menonton TV, dan tidak sengaja melihat ada berita yang bisa dibilang menguntungkannya, berniat untuk menjauhi Bara dan Jeny tetapi hal yang menarik di depannya sudah merasa puas, dengan begitu Jaya bisa memberikan pengertian dan membujuknya lagi pada Bara tentang berita Jeny yang telah tersebar.

"Berita yang menarik," ujar Jaya tersenyum penuh kemenangan.

Jaya pergi ke kamar Bara, Jaya ingin memastikan Bara tahu hal yang menggemparkan tentang Jeny itu. Dengan begitu rencana menjodohkan Bara dengan Zeline akan berjalan sesuai keinginannya.

Ceklek

Jaya memasuki kamar Bara dan di sana Bara terlihat sangat berantakan apalagi kamarnya saat ini, semua bantal berserakan di lantai dan belum lagi barang-barang yang ada di dalam kamar Bara sudah berhamburan di mana-mana. Karena sebelumnya, Bara telah diberi tahu oleh Kris tentang berita itu, mau tidak mau Bara pun telah melihatnya pula. Dia sangat marah pada Jeny dan ingin menemuinya tapi apalah daya, Bara juga mempunyai salah pada Jeny dan percuma saja meminta penjelasan padanya, malah akan menambah masalah.

"Kau sudah lihat berita Jeny, kan? Lalu bagaimana, apa pantas Jeny menjadi ibu tiri bagi anak-anakmu? Setidaknya Zeline tidak pernah melakukan hal bodoh seperti yang dilakukan oleh Jeny. Pikirkan lah ucapan Papi ini Bara!" ucap Jaya memperingatkan dan meyakinkan Bara untuk memilih yang terbaik bagi masa depannya.

Tak ada jawaban dari Bara, akhirnya Jaya pun keluar dari kamar itu dan berharap besar bahwa Bara memberikan keputusan yang baik untuknya.

Dua hari berlalu, Bara masih saja menetap di kamarnya tak pernah keluar dari kamar. Untuk makan saja harus ada pelayan yang membawakan ke kamar. Resah, gelisah, bingung dan rasa malu bercampur menjadi satu. Tak tahu harus memilih yang mana, jika bersama Zeline bagaimana dia harus memulainya sedangkan dia tak mencintai Zeline. Jika memilih Jeny maka dia akan kehilangan segalanya, lagi pula Jeny telah ceroboh memalukan dirinya dengan pergi bersama lelaki lain.

Siang itu, di kediaman Adiwangsa, Mars yang mengunjungi Jaya di rumahnya karena saat ini dia sedang berlibur, berinisiatif untuk menjenguk Bara yang katanya tak pernah keluar kamar hingga dua hari ini. Dari situ Mars ingin melihat Bara lagi, tak peduli sekesal apa Bara saat ini, yang pasti Mars harus menyampaikan sesuatu yang belum sempat dia ucapkan waktu itu. Mars yang melihat Bara duduk di lantai bersandarkan kepala di ranjang.

"Papa, ini Mars. Masih ingat sama Mars, kan? Kita pernah main catur bersama dan waktu itu Papa mengira aku adalah kak Piter padahal sebenarnya aku Mars. Maafin Mars ya, Pa!" ucap Mars menyapa Bara dengan sedikit bercerita.

"Hemm ... ngapain kamu ke sini?" tanya Bara dengan kepalanya yang menunduk malu karena kondisinya yang saat ini sedang berantakan.

"Mars ingin bermain catur lagi dengan Papa, ayo Pa kita bertanding lagi, Papa jangan di kamar terus. Lihat kamar Papa bau dan berantakan, kamar Mars saja bersih walau Mars masih kecil. Ayo Pa kita main catur," bujuk Mars meminta pada Bara dengan sedikit menggoyangkan tangan Bara.

"Lain kali saja, Mars. Papa sedang tidak ingin main, maafin Papa!" sahut Bara lembut.

Sebenarnya niat Mars datang kepada Bara adalah ingin meminta sesuatu pada Bara, sesuatu yang sempat tertunda dulu. Sesuatu yang menjanjikan akan dikabulkannya permintaan Mars jika dia menang melawan Bara bermain catur saat itu. Mars berharap Bara masih mengingat tentang kesepakatan mereka waktu itu.

"Pa, Mars ingin menagih janji pada Papa," ujar Mars.

"Janji?"

"Waktu itu Mars menang bertanding catur melawan Papa, dan sekarang Mars ingin memintanya dari Papa, dan Papa juga janji akan mengabulkannya, bukan?"

"Iya, apa yang Mars inginkan?"

Mars mendekat ke arah Bara dan memeluknya, sontak Bara terkejut dan sedikit malu karena dirinya yang belum mandi saat itu.

"Mars, Papa belum mandi loh," ujar Bara tapi Mars tak mempedulikannya.

"Pa, Mars ingin kita bersama seperti keluarga bahagia yang utuh. Mars minta Papa menikah sama Mama. Mars mohon, Papa harus mengabulkannya. Bukankah janji harus ditepati?" pinta Mars sembari mengungkit-ungkit janji Bara itu.

Deg

Bara tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mencerna perkataan Mars yang sama dengan perkataan Jaya dan Starla. Semua menginginkan Bara untuk menikahi Zeline.

"Zeline ... wanita itu, apakah aku bisa membangun rumah tangga bersama dengannya?" batin Bara bertanya-tanya dalam ragunya.

Terpopuler

Comments

Marsha Andini Sasmita

Marsha Andini Sasmita

😍😍😍😍😍😍🤩🤩🤩🤩🌹🌹🌹

2022-11-27

0

Marsha Andini Sasmita

Marsha Andini Sasmita

👍👍👍👍😍😍😍🤩👍👍👍👍👍

2022-11-27

0

Rizky Sandy

Rizky Sandy

bikin bara menderita dulu lah,,,, z klau bisa zelin jgn mau,,,

2022-06-10

0

lihat semua
Episodes
1 Jebakan Satu Malam
2 Penghinaan dan Bangkitnya Zeline
3 Si Kembar Menjalankan Misi
4 Persaingan Dimulai
5 Bukti Pelaku Sebenarnya
6 Pertemuan sang CEO
7 Kekalahan Bara
8 Tantangan Bermain
9 Hasil Tes DNA
10 Kebenaran Terungkap
11 Tentang si Kembar
12 Akhirnya Ketahuan
13 Kedatangan Jaya
14 Mengajukan Syarat
15 Syarat dari Papi
16 Paket Baju
17 Menggagalkan Pertunangan
18 Permintaan Papi
19 Menagih Janji
20 Pertengkaran Calon Pengantin
21 Pernikahan Terjadi
22 Perintah Bara
23 Menakut-nakuti
24 Pulang Malam
25 Menjadi Pelayanku
26 Merindukanmu
27 Mengawasi
28 Meminta Izin
29 Ikat Rambut
30 Kedatangan Sahabat
31 Seperti Pajangan
32 Kebohongan Bara
33 Pemandangan yang Mengganggu
34 Pergi dari Rumah
35 Rencana Bersaing Kembali
36 Apakah Cemburu?
37 Berikan Dia Padaku
38 Semua Terlihat Kesal
39 Hadiah Kekalahan
40 Masalah pada Jupiter
41 Tuduhan
42 Wangi Parfum
43 Sakit
44 Hacker Menyerang Kembali
45 Melawan sang Hacker
46 Bos Misterius
47 Kejutan Pertama
48 Dia Dalangnya
49 Tanda Merah?
50 Dinner
51 Kau Tidur?
52 Pengakuan Cinta
53 Tawaran Papa
54 Perkelahian Mars
55 Pria di Mall
56 Rasa Penasaran Bara
57 Pembawa Masalah
58 Keberuntungan Zeline
59 Kabar dari Kakek
60 Suatu Kehormatan
61 Kebanggaan Keluarga
62 Kita Semua
63 Pesan Kakek
64 Rahasia si Kembar
65 Menuju Puncak
66 Tropi Penghargaan
67 Pengumuman
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Jebakan Satu Malam
2
Penghinaan dan Bangkitnya Zeline
3
Si Kembar Menjalankan Misi
4
Persaingan Dimulai
5
Bukti Pelaku Sebenarnya
6
Pertemuan sang CEO
7
Kekalahan Bara
8
Tantangan Bermain
9
Hasil Tes DNA
10
Kebenaran Terungkap
11
Tentang si Kembar
12
Akhirnya Ketahuan
13
Kedatangan Jaya
14
Mengajukan Syarat
15
Syarat dari Papi
16
Paket Baju
17
Menggagalkan Pertunangan
18
Permintaan Papi
19
Menagih Janji
20
Pertengkaran Calon Pengantin
21
Pernikahan Terjadi
22
Perintah Bara
23
Menakut-nakuti
24
Pulang Malam
25
Menjadi Pelayanku
26
Merindukanmu
27
Mengawasi
28
Meminta Izin
29
Ikat Rambut
30
Kedatangan Sahabat
31
Seperti Pajangan
32
Kebohongan Bara
33
Pemandangan yang Mengganggu
34
Pergi dari Rumah
35
Rencana Bersaing Kembali
36
Apakah Cemburu?
37
Berikan Dia Padaku
38
Semua Terlihat Kesal
39
Hadiah Kekalahan
40
Masalah pada Jupiter
41
Tuduhan
42
Wangi Parfum
43
Sakit
44
Hacker Menyerang Kembali
45
Melawan sang Hacker
46
Bos Misterius
47
Kejutan Pertama
48
Dia Dalangnya
49
Tanda Merah?
50
Dinner
51
Kau Tidur?
52
Pengakuan Cinta
53
Tawaran Papa
54
Perkelahian Mars
55
Pria di Mall
56
Rasa Penasaran Bara
57
Pembawa Masalah
58
Keberuntungan Zeline
59
Kabar dari Kakek
60
Suatu Kehormatan
61
Kebanggaan Keluarga
62
Kita Semua
63
Pesan Kakek
64
Rahasia si Kembar
65
Menuju Puncak
66
Tropi Penghargaan
67
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!