Pertemuan sang CEO

Siang hari setelah home scooling selesai, Piter mengistirahatkan dirinya bermain game di laptopnya bersama Starla. Mereka bermain begitu asik dan akrab.

"Starla, apa kau punya ide tentang game apa yang keren dan menarik perhatian masyarakat bila aku menciptakan satu aplikasi game nantinya, coba katakan?" tanya Jupiter yang sedang memikirkannya juga.

"Emm ... gimana kalau game perang-perangan saja, Kak?" idenya Starla.

"Yah, itu sih sudah banyak, yang lain dong!"

"Emm ... aku nggak tau Kak, bingung. Starla nggak punya ide kalau soal game, kalau soal menyanyi Starla jagonya, hehe!"

"Yah, payah kamu. Kakak mau menciptakan sebuah game yang keren, bagus dan terkenal di dunia agar semua orang tau dan juga papa akan menyesal sudah menelantarkan kita dan mama," ucap Piter bersemangat kemudian mengubah ekspresinya menjadi kecewa saat mengucapkan kata-kata di akhir kalimatnya.

"Aku jadi kangen sama kak Mars, apa kabarnya ya?"

"Biarkan saja dia, Mars sedang latihan untuk olimpiadenya, kita jangan mengganggunya, kita do'akan Mars agar dia mendapat medali emas untuk mama!"

"Iya, Kak. Starla sayang kalian!!" ucap Starla bersedih lalu mereka saling berpelukan.

Tiba-tiba sang mama dan Intan pun datang saat Piter dan Starla berpelukan, betapa saling menyayanginya mereka berdua. Zeline sangat bangga mempunyai anak-anak yang bisa membuatnya tegar dan kuat.

"Ehem ... du du du kalian lagi apa sih? Kok kalian sedih? Udah dong jangan sedih lagi, sekarang ada tante dan mama di sini," ujar Intan yang memang tinggal bersama Zeline dan anaknya.

"Loh, Mama dan Tante kok udah pulang jam segini? Ini kan masih belum sore?" tanya Jupiter pada Zeline dan Intan.

"Nggak apa-apa hanya ingin pulang saja. Oh ya, sayang Tante ada kabar gembira buat kita semua!"

"Apa itu, Tante?" tanya Piter penasaran.

"CEO dari WANGSA GROUP ingin bertemu dengan kamu yang sudah mengambil rekan-rekan bisnisnya. Sepertinya papa kamu itu marah besar, sayang. Jadi bagaimana kamu akan menanganinya besok di kantor?" jelas Intan kemudian bertanya pada Piter.

"Wow ... usaha Piter nggak sia-sia. Baiklah, Piter sudah menunggu waktu itu tiba. Piter akan buat papa takut sama Piter. Urusan besok biar Piter yang mengurusnya. Tinggal atur jam saja untuk besok!" seru Piter sangat percaya diri dan semangat untuk bertemu dengan sang papa yang belum mengetahuinya.

"Ok, siap Bos Piter, akan saya laksanakan. Ughhh gemesnya sih nih anak!!" ujar Intan sembari mencubit pipi Jupiter dengan gemas.

"Ya sudah, sekarang kalian mandi gih. Mainnya nanti sambung lagi," ucap Zeline memerintah kedua anaknya.

Keesokan harinya, siang hari Bara bersiap-siap akan mendatangi perusahaan JMS GROUP, dia begitu kesal dan sangat tidak sabar untuk menemui CEO dari perusahaan yang sudah lancang mengambil rekan bisnisnya. Bara tak tenang dan rasanya ingin selalu memaki tiap orang yang ada di dekatnya.

"Kris jam berapa kita akan ke perusahaan itu?" tanya Bara sambil mondar-mandir di ruang kerjanya.

"Katanya kapanpun Tuan ke sana pasti pimpinan mereka akan menyambut Tuan dengan hangat. Pintu masuk perusahaan JMS GROUP selalu terbuka untuk anda, Tuan. Itu yang dikatakan oleh sekretaris di sana," ucap Kris menjelaskan.

"Sialan, mereka dengan gampangnya bilang seperti itu? Dia tidak tahu siapa saya? Kalau perlu saya tuntut perusahaan itu karena telah merebut apa yang saya miliki, aghhh!!" teriak Bara kesal.

Bara pun akhirnya bergegas menuju kantor JMS GROUP dengan langkahnya yang angkuh dan amarah yang sedari tadi ditahannya. Kris yang setia mendampinginya, mengikuti Bara dari belakang.

Suasana di JMS GROUP, Jupiter yang sedari tadi telah datang menunggu Bara, sedang duduk di kursi CEO dengan tubuhnya yang munggil begitu imut yang sebentar lagi akan menjalankan misinya untuk Bara.

"Piter, tuan Bara sudah ada di sini sekarang. Mainkan peranmu dengan baik, sayang. Tante akan bantu kamu nanti," kata Intan memberi tahu.

"Ok, Tante. Ini akan menarik!" ucap Jupiter dengan seringai cerdiknya.

Jupiter memutar kursinya berbalik terlebih dahulu sebelum Bara melihatnya. Adegan ini sangat banyak diperankan di film-film sehingga Jupiter pun mengikutinya sembari meniru gaya angkuh sebagai sang pemimpin. Intan yang melihat Jupiter dengan aksinya yang lucu pun tersenyum geli.

Beberapa menit kemudian, Bara pun telah sampai di depan pintu ruangan di mana Jupiter berada. Intan pun mempersilahkan Bara masuk dengan Kris yang berada di sampingnya.

"Silahkan duduk Tuan Bara!" ucap Intan ramah.

"Saya ingin langsung saja, saya tidak suka berbasa-basi di sini," ujar Bara dingin dengan ekspresi wajah datar dan menahan emosinya.

"Tapi Tuan...,"ucap Intan yang belum terselesaikan.

"Tolong bilang ke Bos kamu itu jangan bertele-tele, dan tunjukkan wajahnya. Apa dia pengecut yang bisanya mengambil rekan-rekan bisnis orang!" ucap Bara dengan suaranya yang keras.

"Hei tunjukkan dirimu!!" pinta Bara sedikit teriak.

Dengan senyuman angkuhnya, Jupiter pun memutarkan kursinya tepat di hadapan Bara yang sudah berdiri di depannya.

"Selamat datang di JMS GROUP Tuan Bara yang terhormat!" ucap Jupiter ramah dan santai.

"Hei, apa-apaan ini. Kalian mempermainkan saya? Saya butuh bicara dengan CEO kalian, bukan dengan anak kecil seperti dia!" Bara sangat kesal dengan kemunculan anak kecil di hadapannya.

"Saya CEO di sini, walau saya masih kecil tapi saya mampu merebut rekan-rekan bisnis anda Tuan Bara!" ujar Jupiter sedikit sombong.

"Apa? Lelucon macam apa ini, dasar gila!"

"Mau bersaing denganku?" tanya Jupiter kembali.

"Saya tidak sedang bermain dengan anak kecil seperti kamu, mengerti?"

"Baiklah, akan saya tunjukkan nanti bila saatnya tiba, kau lihat saja nanti Tuan Bara dan kau akan menyesali perbuatanmu itu!" kata Jupiter memperingatkan.

"Dasar gila, saya yakin orang-orang di perusahaan ini pasti berisi orang-orang aneh. Saya akan datang lagi kemari bertemu dengan CEO yang sesungguhnya," kata Bara menekan.

"Baiklah, tunggu saja nanti. Kau akan terkejut dengan permainan kami Tuan Bara. Aku menantangmu!!" sahut Jupiter dengan menantang Bara.

"Cih, ayo kita pulang, saya bisa gila lama-lama di sini dengan mereka," ledek Bara kemudian mengajak Kris keluar dari ruangan itu.

Bara pun berlalu begitu saja dari ruangan Jupiter bersama Intan. Bara begitu sangat kesal, dia merasa di permainkan oleh seorang anak kecil. Baru kali ini Bara berhadapan dengan anak kecil yang lincah berbicara seperti Jupiter.

"Kenapa wajah anak itu serasa tidak asing lagi bagiku? Apa aku pernah melihat dia sebelumnya?" batin Bara sembari melangkahkan kakinya menuju mobil.

Mobil bara sudah terparkir di depan gedung AWTV, kebetulan ada rapat penting yang harus Bara hadiri di sana. Bara melangkah dengan angkuh tanpa senyuman di wajahnya yang tampan. Dengan amarah yang masih bersarang di hatinya, Bara tak mampu untuk berpura-pura tersenyum.

Zeline dan Starla yang sudah berada di AWTV untuk menanda tangani kontrak rekaman single terbaru mereka. Sarta begitu senang untuk single terbarunya itu hingga dia berlari-lari kecil untuk melihat-lihat seisi kantor AWTV yang besar itu. Tanpa Starla sadari, saking senangnya dia sampai-sampai menabrak seseorang di sana.

Brukkk

"Awww...," teriakan kecil Starla.

Starla mendongak ke atas. Starla kaget dan menjadi takut melihat lelaki yang berada di depannya itu ternyata adalah Bara dengan sorot mata yang tajam.

"Ma-maaf!!" ucap Starla gugup dan ketakutan.

"Starla...!!" teriak Zeline dari kejauhan dan menghampiri Starla dengan cemas.

"Kamu nggak apa-apa kan, sayang?" tanya Zeline pada Starla.

Starla menggelengkan kepalanya lalu bersembunyi di belakang tubuh Zeline ketakutan melihat Bara.

"Maafkan anak saya, dia tidak sengaja menabrak kamu," ucap Zeline datar.

Bara menatap tajam Zeline dan Starla bergantian. Rasa ingin marah menyelimutinya tetapi saat melihat Starla yang ketakutan akhirnya Bara mengurungkan niatnya.

"Perhatikan anakmu baik-baik, ini kantor bukan tempat bermain!!" seru Bara memperingatkan Zeline dengan suara dinginnya.

Bara pun berlalu meninggalkan Zeline dan Starla. Dengan kejadian itu, Starla sangat kecewa dengan Bara memperlakukan Zeline dan dirinya acuh seperti itu.

"Ma, apa papa marah pada Starla?" tanya Starla dengan muka sedihnya.

"Nggak kok, sayang. Papa marah pasti lagi kesal karena habis menghadapi Kakak Piter kamu di kantor," ucap Zeline meyakinkan Starla.

"Begitu ya, Ma?"

"Iya sayang!"

"Hihihi, pasti kak Piter lagi senang sekarang, Ma!" ujar Starla mengubah wajah sedihnya menjadi tertawa bahagia.

"Pasti sayang, kakak Piter menang!" ujar Zeline bersemangat.

Terpopuler

Comments

Sa Rang

Sa Rang

kasihan kamu nak😢

2023-09-02

1

Kata Pujangga

Kata Pujangga

piter 😘😘

2022-01-27

0

pink lee

pink lee

keren peter

2021-12-03

0

lihat semua
Episodes
1 Jebakan Satu Malam
2 Penghinaan dan Bangkitnya Zeline
3 Si Kembar Menjalankan Misi
4 Persaingan Dimulai
5 Bukti Pelaku Sebenarnya
6 Pertemuan sang CEO
7 Kekalahan Bara
8 Tantangan Bermain
9 Hasil Tes DNA
10 Kebenaran Terungkap
11 Tentang si Kembar
12 Akhirnya Ketahuan
13 Kedatangan Jaya
14 Mengajukan Syarat
15 Syarat dari Papi
16 Paket Baju
17 Menggagalkan Pertunangan
18 Permintaan Papi
19 Menagih Janji
20 Pertengkaran Calon Pengantin
21 Pernikahan Terjadi
22 Perintah Bara
23 Menakut-nakuti
24 Pulang Malam
25 Menjadi Pelayanku
26 Merindukanmu
27 Mengawasi
28 Meminta Izin
29 Ikat Rambut
30 Kedatangan Sahabat
31 Seperti Pajangan
32 Kebohongan Bara
33 Pemandangan yang Mengganggu
34 Pergi dari Rumah
35 Rencana Bersaing Kembali
36 Apakah Cemburu?
37 Berikan Dia Padaku
38 Semua Terlihat Kesal
39 Hadiah Kekalahan
40 Masalah pada Jupiter
41 Tuduhan
42 Wangi Parfum
43 Sakit
44 Hacker Menyerang Kembali
45 Melawan sang Hacker
46 Bos Misterius
47 Kejutan Pertama
48 Dia Dalangnya
49 Tanda Merah?
50 Dinner
51 Kau Tidur?
52 Pengakuan Cinta
53 Tawaran Papa
54 Perkelahian Mars
55 Pria di Mall
56 Rasa Penasaran Bara
57 Pembawa Masalah
58 Keberuntungan Zeline
59 Kabar dari Kakek
60 Suatu Kehormatan
61 Kebanggaan Keluarga
62 Kita Semua
63 Pesan Kakek
64 Rahasia si Kembar
65 Menuju Puncak
66 Tropi Penghargaan
67 Pengumuman
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Jebakan Satu Malam
2
Penghinaan dan Bangkitnya Zeline
3
Si Kembar Menjalankan Misi
4
Persaingan Dimulai
5
Bukti Pelaku Sebenarnya
6
Pertemuan sang CEO
7
Kekalahan Bara
8
Tantangan Bermain
9
Hasil Tes DNA
10
Kebenaran Terungkap
11
Tentang si Kembar
12
Akhirnya Ketahuan
13
Kedatangan Jaya
14
Mengajukan Syarat
15
Syarat dari Papi
16
Paket Baju
17
Menggagalkan Pertunangan
18
Permintaan Papi
19
Menagih Janji
20
Pertengkaran Calon Pengantin
21
Pernikahan Terjadi
22
Perintah Bara
23
Menakut-nakuti
24
Pulang Malam
25
Menjadi Pelayanku
26
Merindukanmu
27
Mengawasi
28
Meminta Izin
29
Ikat Rambut
30
Kedatangan Sahabat
31
Seperti Pajangan
32
Kebohongan Bara
33
Pemandangan yang Mengganggu
34
Pergi dari Rumah
35
Rencana Bersaing Kembali
36
Apakah Cemburu?
37
Berikan Dia Padaku
38
Semua Terlihat Kesal
39
Hadiah Kekalahan
40
Masalah pada Jupiter
41
Tuduhan
42
Wangi Parfum
43
Sakit
44
Hacker Menyerang Kembali
45
Melawan sang Hacker
46
Bos Misterius
47
Kejutan Pertama
48
Dia Dalangnya
49
Tanda Merah?
50
Dinner
51
Kau Tidur?
52
Pengakuan Cinta
53
Tawaran Papa
54
Perkelahian Mars
55
Pria di Mall
56
Rasa Penasaran Bara
57
Pembawa Masalah
58
Keberuntungan Zeline
59
Kabar dari Kakek
60
Suatu Kehormatan
61
Kebanggaan Keluarga
62
Kita Semua
63
Pesan Kakek
64
Rahasia si Kembar
65
Menuju Puncak
66
Tropi Penghargaan
67
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!