Saat kedatangan Jaya ke Jakarta menemui Bara dan mengancam sesuatu padanya, pikiran Bara mulai tidak tenang takut jika Jaya akan melakukan hal yang buruk terhadap Zeline dan ketiga anaknya. Sejak sore tadi Bara tidak beranjak dari kantornya hingga malam tiba Bara masih saja duduk di kursi kebesarannya itu.
Pikirannya kacau dan sesaat dia mengingat anak kembarnya itu, Bara mulai bergegas bangkit pergi untuk menemui mereka. Bara tak peduli sekacau apa dia saat ini, yang pasti Bara ingin memastikan bahwa Zeline dan ketiga anaknya baik-baik saja.
Bara mengetuk pintu rumah Zeline begitu keras dan suara teriakan Bara yang terdengar hingga ke dalam rumah membuat Zeline yang belum tidur itu tidak nyaman. Akhirnya pelayan pun membukakan pintu dan disusul oleh Zeline yang langsung berjalan ke depan pintu rumahnya.
"Ada apa ini, kau...?" Zeline sangat kesal dan kaget saat melihat Bara yang berada di rumahnya.
"Zeline, apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan anak-anak? Mereka baik-baik saja, kan?" tanya Bara cemas dengan perkataannya yang tak berjeda.
"Hei, apa-apaan kau ini, malam-malam begini membuat keributan di rumahku. Apa pedulimu dengan anak-anakku. Pergilah, mereka sedang tidur," ucap Zeline menjelaskan dengan suara dingin.
"Aku hanya mencemaskan mereka, bukankah papiku datang kemari menemui kalian? Apa yang papiku katakan? Dia tidak mengancam atau melakukan hal buruk pada kalian, kan?" tanya Bara dengan cemas kembali.
"Jika kau ingin tahu, tanyakan sendiri pada papimu itu. Jangan pernah mengganggu kehidupanku apalagi anak-anakku, mengerti? Sekarang kau pergi lah, penampilanmu sangat kacau saat ini," ucap Zeline dan kemudian menutup pintu rumahnya tak membiarkan Bara masuk terlebih dulu.
Bara menatap pintu yang telah tertutup rapat itu dengan hancurnya harga diri yang selama ini ditahannya. Bara yang angkuh dan tak pernah menyerah kali ini dia berani mengambil resiko hanya untuk ketiga anaknya. Hatinya benar-benar sakit setelah apa yang terjadi di hadapannya.
Akhirnya Bara berjalan menuju mobilnya dengan langkah lemahnya. Bara berbalik dan masih memandang rumah Zeline saat hendak memasuki mobilnya. Perasaan hancur dan kecewa menyelimuti pikirannya, dan akhirnya Bara pun mengendarai mobilnya menjauhi kediaman Zeline.
Di dalam rumah, Zeline sedari tadi memperhatikan Bara dari jendela kaca hingga memastikan Bara pulang dari rumahnya. Perasaan menyesal muncul di hati Zeline karena dia tega mengusir Bara yang jelas-jelas sangat mempedulikan anak-anaknya.
"Aku harap kau sadar, Bara. Apa yang selama ini aku rasakan bertahun-tahun demi ketiga anak-anakku," batin Zeline sesaat dia mengingat penghinaan yang dilakukan Bara dulu.
Zeline mengusap air matanya yang tiba-tiba saja membasahi pipinya dan tak lama kemudian berbalik kembali berjalan menuju ke kamarnya saat melihat Bara telah pergi menjauh dari rumahnya.
Di New York, Jeny yang sangat merindukan Bara akhir-akhir ini, lelaki itu jarang sekali menghubunginya. Terkadang jika Jeny yang menelepon Bara, nomor ponselnya sering tak tersambung. Jeny menjadi gelisah dan kecewa akan hal itu. Biasanya Bara yang selalu menanyakan konsep baju yang akan mereka pakai di hari pertunangan mereka. Dan hari ini Jeny telah menemuka rancangan terbaik dari New York yang akan dia perlihatkan pada Bara tetapi Bara tidak bisa dihubungi berkali-kali.
"Ke mana sih Bara? Kenapa dia sekarang susah dihubungi? Apa ada sesuatu masalah yang terjadi di Jakarta, sehingga dia lupa padaku dan lupa hari pertunangan ini? Aghhh ... aku benci padamu, Bara!" gumam Jeny kesal sambil menangis dengan melemparkan bantal tidurnya kesembarang arah.
Siang hari, Jupiter dan Starla berada di rumah, dan saat itu pula ada seseorang lelaki yang mendatangi mereka dengan berbagai macam banyak mainan yang dibawa oleh lelaki itu dan asisten pribadinya, orang itu adalah Jaya Adiwangsa yang merupakan kakek dari si kembar.
Jaya sudah mengatakan kemarin bahwa dia akan datang ke rumah itu lagi, dan janjinya pun telah dia tepati. Jaya datang ke rumah Zeline dengan alasan untuk menemui cucunya.
Mungkin saja dengan begitu rasa kesepian yang melanda Jaya selama ini akan tergantikan dengan kehadiran cucu-cucunya. Jaya sangat tidak sabar untuk bertemu dengan si kembar dan akhirnya lagi-lagi Jaya masuk begitu saja tanpa izin dari pelayan.
Saat ini Jupiter dan Starla berada di ruang keluarga, mereka sedang asik menonton TV film kesukaan mereka dan tiba-tiba saja ada suara yang sedang memanggil mereka dan telah berada di hadapan mereka.
"Hai, cucu Kakek sedang santai ya kalian, ini Kakek bawa mainan untuk kalian semua," Jaya menyapa dengan senyum bahagia tetapi Jupiter dan Starla saling berpandangan.
"Kenapa ke sini, sudah aku bilang kalau aku tidak ingin bekerja sama dengan WANGSA GROUP!!" seru Jupiter yang tidak suka dengan kehadiran Jaya.
"Hei, jangan dingin gitu dong bicaranya. Lagian Kakek tidak mau membahas tentang bisnis. Kakek ke sini hanya ingin bersama kalian, Kakek bosan di rumah sendirian. Boleh ya Kakek ikut gabung di sini?" tanya Jaya pada Jupiter dan Starla.
Jupiter dan Starla masih saja berdiam, terurama Jupiter yang tak ada wajah senyum sedikit pun pada Jaya, ekspresi Jupiter menandakan bahwa dia masih kesal dan marah pada keluarga Adiwangsa. Wajahnya yang dingin serta jutek pada Jaya membuat Jaya menahan tawanya melihat Jupiter yang sifatnya hampir menyerupai Bara.
"Oh ya, mana Mars? Kenapa Kakek tidak melihatnya dari tadi?" tanya Jaya pada Jupiter dan Starla, tapi entahlah siapa diantara mereka yang akan menjawab pertanyaan Jaya.
"Mars tadi pagi pergi ke asrama untuk latihan catur," jawab Starla yang sangat ramah menuruni sifat ibunya.
"Latihan catur untuk apa?" tanya Jaya penasaran.
"Mars akan bertanding di olimpiade internasional, dia paling jago bermain catur dan bela diri, Kak Piter saja kalah dari Kak Mars," ucap Starla yang tak sadar Jupiter marah saat Starla mengejeknya di depan Jaya.
"Hei, Starla ... aku tidak pernah kalah hanya saja bela diri bukan keahlianku!" sangkal Jupiter kesal.
"Itu sama saja Kak Piter kalah dari Kak Mars."
"Itu berbeda, Starla!" bantah jupiter.
"Hei, sudah jangan berdebat lagi, pokoknya kalian itu anak-anak yang berbakat, dan bakat seseorang itu sudah berada dalam diri kalian masing-masing, jadi tidak semua orang memiliki bakat yang sama, mengerti," Jaya mencoba untuk memberi pengertian pada kedua cucunya.
Akhirnya Jaya pun duduk bersama dengan Jupiter dan Starla, Jaya membujuk Jupiter dengan sesuatu tetapi Jupiter masih saja dingin pada Jaya. Berbeda dengan Starla yang sangat bisa di rayu oleh Jaya dengan mainan boneka yang dibawa oleh Jaya. Starla juga anak yang gampang tersenyum dan baik sehingga mudah untuk bergaul dengan siapa saja.
"Jupiter masih marah sama Kakek, ya? Ayo dong kita baikan. Kakek janji tidak akan membahas soal bisnis lagi dan Kerja sama perusahaan kita batalkan. Kakek minta maaf sama kamu. Emm ... atau gini deh, apa yang bisa membuat Jupiter nggak marah lagi sama Kakek?" ucap Jaya mencoba membujuk Jupiter agar tidak berlaku dingin padanya.
"Baiklah, tapi ada syaratnya!" ujar Jupiter mengajukan syarat.
"Ok, apa syaratnya?" Jaya pun menantangnya.
Jupiter mendekat ke arah Jaya dan membisikkan sesuatu ke telinga Jaya yang sangat terdengar jelas oleh Jaya. Dengan tingkah laku serta syarat yang diajukan oleh Jupiter pada Jaya membuat Jaya tersenyum dan sangat bangga mempunyai cucu yang bisa bernegosiasi cukup baik diusianya yang masih kecil.
"Bagaimana, diterima atau tidak syarat dariku?" tanya Jupiter berharap Jaya menyetujuinya.
"Emm ... baiklah, Kakek terima syarat dari kamu. Dengan senang hati Kakek akan membantu cucu-cucu Kakek yang lucu dan mengemaskan ini," ucap Jaya bahagia dan meyetujui syarat dari Jupiter kemudian Jaya mengelus kepala Starla juga Jupiter bergantian dengan kasih sayang.
Ada rasa yang begitu hangat dan tenang saat bersama Jupiter dan Starla, tapi sayang kebahagiaan itu kurang lengkap tanpa adanya Mars.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Rina Style
syarat nya apa piter. coba bisikin di aku jg dong😆
2023-09-07
1
Ilan Irliana
atuh Pit...knp g ikut latihn bela diri...bekal buat nnt gede..pst bnyk musuh yg ngincer...klo kmoe g bs apa2...jd gmn??
2023-05-16
0
Jasmine Flow
hah...si Piter...mudah bgt dirayu.kenapa nggak kasihan mama yg di hina anaknya kakek itu.di suruh menggugurkan kandungannya.pria pecundang yg plinplan.suka menyakiti wanita.starla juga terlalu lemah mudah dirayu.biasanya anak jenius itu.lebih peka dg situasi apapun.
2023-01-28
0