Syarat dari Papi

Sebulan berlalu, menjelang acara pertunangan Bara dan Jeny yang diadakan satu bulan lagi. Jeny yang tak sabar ingin menemui Bara akhirnya pulang dari New York ke Jakarta hanya untuk menanyakan pada Bara tentang sikap Bara akhir-akhir ini yang begitu tak peduli padanya.

Jeny berjalan dengan cepat menuju ruang kerja Bara. Sebenarnya Jeny masih satu minggu lagi berada di New York, tapi karena rasa kecewanya pada Bara dan pikiran Jeny tak tenang sehingga Jeny tanpa memberi kabar terlebih dahulu pada Bara langsung mendatangi Bara ke kantornya dengan perasaan kesal.

Brak

Semua mata tertuju pada Jeny yang berada tepat di depan pintu. Jeny membuka paksa pintu Bara. Beruntungnya hanya ada Bara dan Kris di ruang kerjanya.

"Je-jeny ... kamu ... kapan kamu pulang?" tanya Bara seolah tak percaya di depannya adalah kekasihnya.

Jeny terlihat kesal dan marah, kemudian dia berjalan menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Bara tahu apa yang membuat kekasihnya itu kesal lalu Bara perlahan mendekati Jeny.

"Kris beri waktu kami berdua!" ujar Bara pada Kris, kemudian Kris pun berlalu meninggalkan Bara dan Jeny berdua.

Bara mencoba menenangkan Jeny dan memeluk Jeny tetapi Jeny malah menepis kedua tangan Bara keras.

"I am sorry, Jen!" ucap Bara.

"What? Maaf kamu bilang? Apa kamu nggak pikir seharian aku mikirin kamu, mikirin pertunangan kita yang akan berlangsung satu bulan lagi, tapi kamu susah banget dihubungi, hiks... hiks... kamu jahat Bara!" Jeny menangis karena kecewa pada Bara yang menurut Jeny tidak mempedulikannya lagi.

"Maafkan aku, Jeny. Sungguh aku benar-benar banyak pekerjaan, sahamku menurun dan semua rekan-rekan kerjaku beralih ke perusahaan lain apalagi sekarang papiku ada di Jakarta," ucap Bara menjelaskan dengan sedikit frustasi.

"Om Jaya sudah datang ke sini, bahkan kamu nggak bilang sama aku Bara. Keterlaluan kamu!" Jeny bertambah kesal dan marah.

"Bukan begitu, sayang. Aku mau kasih tahu kamu cuma aku ... terlalu sibuk dengan perusahaan aku sekarang. Tolong maafkan aku, sayang!"

"Kamu berubah, Bara. Jangan-jangan ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku," sangka Jeny menduga-duga.

Deg

Seketika Bara berpikir tentang dia dan Zeline serta anak-anaknya. Bara benar-benar frustasi dengan semua masalah yang akan menghancurkan hubungannya dengan Jeny.

"A-aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu, sayang. Jangan berpikir buruk seperti itu padaku. Sungguh aku mencintaimu, sayang!" ucap Bara gugup sembari mencoba meyakini Jeny kemudian memeluk Jeny menenangkannya.

"Jangan pernah mengabaikanku lagi, Bara. Aku takut kamu berpaling dari aku. Aku juga sangat mencintaimu dan aku nggak mau kehilangan kamu," ucap Jeny dan perlahan membalas pelukan Bara.

"Iya, aku nggak akan pernah ninggalin kamu, sayang!"

Bara menghela nafasnya dengan berat, cukup sulit untuk meyakini Jeny dengan perkataannya. Bara tak bisa berkata apa-apa lagi, setidaknya Bara masih cukup aman karena merahasiakan hubungannya dengan Zeline di masa lalu.

"Begini saja Jeny sudah sangat marah padaku, bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku mempunyai tiga anak diluar nikah, sungguh aku belum sanggup mengatakan kebenarannya," batin Bara gelisah.

Keesokan harinya, Zeline telah mendapat telepon dari kepolisian untuk bersaksi atas tuntutannya kepada Sarah pada malam kejadian di hotel bersama Bara. Mau tidak mau Zeline harus menyertakan Bara sebagai saksi apalagi Bara juga korban dari kejahatan Sarah.

Siang hari, Zeline bergegas pergi ke kantor Bara. Terpaksa dia pergi ke WANGSA GROUP untuk membahas masalah kesaksian Bara di pengadilan nanti. Bara juga harus ikut bersaksi dalam hal ini. Walaupun Zeline masih sangat malas berhadapan dengan Bara tapi setidaknya Zeline melakukannya agar masalah mereka dengan Sarah cepat selesai.

Zeline pun datang dengan langkahnya yang santai, dia berjalan menuju ruang kerja Bara. Sebelumnya Zeline ingin menginformasikan keberadaannya pada Kris, sekretaris Bara. Tapi nyatanya Kris tidak ada di sana. Karena tidak ingin menunggu lama-lama akhirnya Zeline mengetuk pintu ruang kerja Bara tapi tak ada jawaban dari dalam.

Akhirnya Zeline langsung masuk begitu saja dan nyatanya Bara juga tak ada di sana, dan Zeline pun berbalik hendak pergi dari ruangan itu, tapi saat Zeline ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang tertawa, akhirnya Zeline pun perlahan mendekati ruang pribadai Bara dan membuka perlahan pintu itu.

Sialnya Zeline melihat Bara yang sedang bermesraan bersama Jeny denga penuh canda tawa. Zeline pun berbalik menyudahi menatap pemandangan yang menyesakan itu. Tapi saat Zeline berbalik dan menutup pintu itu kembali ternyata Bara melihatnya tanpa sepengetahuan Jeny. Akhirnya Bara menghentikan aksi mesranya dengan Jeny.

"Sayang, maaf sepertinya Kris menungguku di luar, ada sesuatu hal penting," ucap Bara berbohong.

"Hemm ... baiklah, aku akan menunggu di sini," ujar Jeny kecewa.

Akhirnya Bara pun dengan cepat merapikan pakaiannya dan bergegas keluar dari ruangannya menyusul Zeline. Bara mengambil rute cepat dengan menggunakan lift pribadi menuju ke lobi, dan Bara langsung dengan cepat menarik tangan Zeline yang berada di depannya itu menuju ruang staff pribadi.

"Hei kenapa menarikku seperti ini? Lepaskan aku, Bara!" ucap Zeline sedikit teriak dan akhirnya Bara pun melepaskan tangannya pada Zeline saat mereka sudah berada di ruang pribadi itu.

"Kenapa kau masuk ke ruangan saya tadi?" tanya Bara penasaran.

"Aku hanya ingin memberitahukan tentang kesaksianmu di pengadilan pada tuntutanku ke Sarah. Kau harus datang ke pengadilan nanti. Untuk jadwalnya akan aku kabari lagi ke kamu, hanya itu kok! Kalau begitu aku permisi," jelas Zeline dan hendak melangkah keluar dari ruangan itu.

"Tunggu sebentar!" Bara menarik kembali tangan Zeline menahannya.

"Ada apa lagi?"

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu!" ujar Bara.

"Tentang apa?"

"Emm ... tolong kau rahasiakan tentang saya yang mempunyai anak darimu. Rahasiakan ini dari Jeny, please ... kau tahu kan bahwa saya akan bertunangan dengan Jeny?" pinta Bara berharapa Zeline tak akan membocorkan rahasia mereka.

Zeline tak menjawab perkataan Bara, malah Zeline melepas paksa tangannya dari Bara dan kemudian pergi meninggalkan Bara begitu saja.

"Ah, sial ... apa susahnya sih dijawab!" gumam Bara kesal saat Zeline pergi dan tak menjawab perkataannya.

Bara pun keluar dari ruangan itu kemudian berjalan hendak memasuki lift tetapi tiba-tiba Kris menahannya.

"Tuan, tunggu!" cegah Kris.

"Hei, kau dari mana saja? Zeline datang ke sini apa kau tidak tahu? Hampir saja ketahuan sama Jeny," kesal Bara.

"Hah, maaf saya tidak tahu jika ada nona Zeline. Tuan ada hal penting yang ingin saya bicarakan! Kita bicarakan di lift saja, Tuan!" seru Kris sedikit panik.

Mereka berdua pun masuk ke dalam lift dan Kris mulai membicarakan apa yang akan dia katakan pada Bara.

"Ada apa?" tanya Bara dingin.

"Emm ... mulai hari ini Tuan Bara tidak diperkenankan untuk mengurus WANGSA GROUP. Tuan Bara hanya akan mengurus AWTV saja. Ini perintah dari tuan Jaya sendiri," ucap Kris pelan dan sedikit menjeda kalimatnya.

"Apa? Kenapa bisa begitu? Di mana Papi sekarang?" tanya Bara yang wajahnya terlihat merah membara.

"A-ada di ruang rapat dan tuan Jaya menyuruh anda ke sana," jawab Kris gugup.

Setelah keluar dari lift, Bara pun pergi ke ruang rapat untuk menemui Jaya. Langkah Bara begitu menggebu, rasa marah dan kecewa menyelimuti dirinya.

"Papi, kenapa seenaknya saja menyuruh Bara untuk keluar dari WANGSA GROUP. Apa Papi tidak percaya pada Bara lagi? Susah payah Bara menjalankan perusahaan ini bertahun-tahun dan sekarang Papi akan mengeluarkan Bara dari sini? Bara nggak setuju, Pi. Bara nggak mau melepaskan WANGSA GROUP!" bantah Bara yang tak berhentinya bicara pada Jaya sedari tadi.

"WANGSA GROUP ini milik Papi, jadi terserah Papi akan Papi berikan pada siapa nanti, asalkan kamu menerima persyaratan dari Papi," ucap Jaya seakan memberikan kelonggaran untuk bernegosiasi.

"Persyaratan apalagi sih, Pi?" tanya Bara kesal.

"Kamu harus batalkan pertunanganmu dengan Jeny, maka kau bisa menjalankan WANGSA GROUP kembali," ujar Jaya memberi syarat.

"Whattt?" Bara begitu kaget.

Terpopuler

Comments

Evy

Evy

Biarin aja Bara sama Jenni...

2025-02-10

0

Diana Budhiarti

Diana Budhiarti

puyeng ..puyeng deh loh..mo tunangan pake ada syaratnya...

2023-06-19

0

Marsha Andini Sasmita

Marsha Andini Sasmita

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

2022-11-26

0

lihat semua
Episodes
1 Jebakan Satu Malam
2 Penghinaan dan Bangkitnya Zeline
3 Si Kembar Menjalankan Misi
4 Persaingan Dimulai
5 Bukti Pelaku Sebenarnya
6 Pertemuan sang CEO
7 Kekalahan Bara
8 Tantangan Bermain
9 Hasil Tes DNA
10 Kebenaran Terungkap
11 Tentang si Kembar
12 Akhirnya Ketahuan
13 Kedatangan Jaya
14 Mengajukan Syarat
15 Syarat dari Papi
16 Paket Baju
17 Menggagalkan Pertunangan
18 Permintaan Papi
19 Menagih Janji
20 Pertengkaran Calon Pengantin
21 Pernikahan Terjadi
22 Perintah Bara
23 Menakut-nakuti
24 Pulang Malam
25 Menjadi Pelayanku
26 Merindukanmu
27 Mengawasi
28 Meminta Izin
29 Ikat Rambut
30 Kedatangan Sahabat
31 Seperti Pajangan
32 Kebohongan Bara
33 Pemandangan yang Mengganggu
34 Pergi dari Rumah
35 Rencana Bersaing Kembali
36 Apakah Cemburu?
37 Berikan Dia Padaku
38 Semua Terlihat Kesal
39 Hadiah Kekalahan
40 Masalah pada Jupiter
41 Tuduhan
42 Wangi Parfum
43 Sakit
44 Hacker Menyerang Kembali
45 Melawan sang Hacker
46 Bos Misterius
47 Kejutan Pertama
48 Dia Dalangnya
49 Tanda Merah?
50 Dinner
51 Kau Tidur?
52 Pengakuan Cinta
53 Tawaran Papa
54 Perkelahian Mars
55 Pria di Mall
56 Rasa Penasaran Bara
57 Pembawa Masalah
58 Keberuntungan Zeline
59 Kabar dari Kakek
60 Suatu Kehormatan
61 Kebanggaan Keluarga
62 Kita Semua
63 Pesan Kakek
64 Rahasia si Kembar
65 Menuju Puncak
66 Tropi Penghargaan
67 Pengumuman
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Jebakan Satu Malam
2
Penghinaan dan Bangkitnya Zeline
3
Si Kembar Menjalankan Misi
4
Persaingan Dimulai
5
Bukti Pelaku Sebenarnya
6
Pertemuan sang CEO
7
Kekalahan Bara
8
Tantangan Bermain
9
Hasil Tes DNA
10
Kebenaran Terungkap
11
Tentang si Kembar
12
Akhirnya Ketahuan
13
Kedatangan Jaya
14
Mengajukan Syarat
15
Syarat dari Papi
16
Paket Baju
17
Menggagalkan Pertunangan
18
Permintaan Papi
19
Menagih Janji
20
Pertengkaran Calon Pengantin
21
Pernikahan Terjadi
22
Perintah Bara
23
Menakut-nakuti
24
Pulang Malam
25
Menjadi Pelayanku
26
Merindukanmu
27
Mengawasi
28
Meminta Izin
29
Ikat Rambut
30
Kedatangan Sahabat
31
Seperti Pajangan
32
Kebohongan Bara
33
Pemandangan yang Mengganggu
34
Pergi dari Rumah
35
Rencana Bersaing Kembali
36
Apakah Cemburu?
37
Berikan Dia Padaku
38
Semua Terlihat Kesal
39
Hadiah Kekalahan
40
Masalah pada Jupiter
41
Tuduhan
42
Wangi Parfum
43
Sakit
44
Hacker Menyerang Kembali
45
Melawan sang Hacker
46
Bos Misterius
47
Kejutan Pertama
48
Dia Dalangnya
49
Tanda Merah?
50
Dinner
51
Kau Tidur?
52
Pengakuan Cinta
53
Tawaran Papa
54
Perkelahian Mars
55
Pria di Mall
56
Rasa Penasaran Bara
57
Pembawa Masalah
58
Keberuntungan Zeline
59
Kabar dari Kakek
60
Suatu Kehormatan
61
Kebanggaan Keluarga
62
Kita Semua
63
Pesan Kakek
64
Rahasia si Kembar
65
Menuju Puncak
66
Tropi Penghargaan
67
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!