Fino hanya mampu membeku, tiba-tiba saja jantung nya berdegup kencang. Ia merasakan perasaan aneh di peluk dari belakang, biasanya ia yang selalu memeluk wanita yang berstatus sebagai istrinya, kali ini istrinya lah yang memeluknya.
Milan memilih melepaskan pelukannya, ia tahu betul bagaimana sikap Fino yang tidak pernah memaafkan seseorang bila berbuat salah kepadanya. Entah mengapa Milan menjadi serba salah dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Fino lalu berjalan menuju pintu kamarnya sambil membanting pintu kamar itu cukup keras. Fino benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, ia sendiri merasakan perasaan aneh saat Milan memeluknya.
Perasaan bersalah kepada suaminya, membuat Milan memilih mengintip dibalik jendela untuk menyaksikan kepergian suaminya menuju sebuah pelabuhan.
"Dia sudah pergi, jika tidak ingin memaafkan ku tak masalah. Sudahlah, aku tidak ingin ambil pusing dengan masalah ini. Sebaiknya aku tidur saja" ucap Milan, lalu memilih naik ke tempat tidur untuk membaringkan tubuh lelahnya dan tak berapa lama kemudian, ia pun tertidur pulas.
Sepanjang perjalanan, Fino hanya diam di dalam mobilnya. Bayangan Milan selalu saja terlintas di pikirannya sampai saat ini. Sang supir pribadi lebih fokus mengemudikan mobil tuannya menuju pelabuhan Guni.
Chiko dan anggota The Tiger sudah berkumpul di pelabuhan Guni untuk menunggu kedatangan ketua mereka. Area lokasi pelabuhan Guni sudah dipadati oleh para pebisnis barang ilegal yang siap melakukan transaksi, beberapa diantara mereka adalah anggota The Tiger yang diberi kuasa oleh Fino untuk mengurus bisnis hitamnya. Dikarenakan malam ini, merupakan malam untuk transaksi besar-besaran barang ilegal berupa senjata api berbagai macam, obat-obatan terlarang, organ tubuh hewan dilindungi dan masih banyak lainnya.
Chiko sudah memegang nama-nama yang sudah melakukan penyelewengan. Ia hanya menunggu sang ketua The Tiger yang akan menghabisi nyawa mereka , karena sudah berani berbuat curang dibelakang ketua The Tiger.
Mobil yang membawa Fino tiba di pelabuhan Guni, lokasi di mana transaksi barang ilegal secara besar-besaran sedang berlangsung. Chiko langsung menghampiri mobil tuannya, dengan hormat ia membukakan pintu mobil untuk tuan Fino.
"Saya pikir tuan tidak datang" ucap Chiko sambil membungkuk hormat.
Fino turun dari mobil dengan memasang wajah datar dan sama sekali tidak menimpali ucapan Chiko. Semua orang yang sedang melakukan transaksi berbalik badan menatap ke arah tuan Fino, setelah itu, mereka kembali melanjutkan aktivitas transaksi. Dikarenakan banyak dari mereka yang sama sekali tidak mengetahui sosok lelaki yang baru saja tiba di pelabuhan Guni.
Salah satu dari anggota The Tiger, mulai menghampiri tuan Fino sebagai penyambutan mereka kepada ketua The Tiger. Namun beberapa dari teman mereka malah tidak suka perihal kedatangan tuan Fino.
Fino sudah berada di tengah-tengah para pebisnis yang melakukan transaksi barang ilegal dan melihat secara langsung serah terima barang ilegal. Orang yang diberi kepercayaan penuh atas bisnis ilegal tersebut menerima barang ilegal dan uang tunai dalam koper, lalu mereka pun memasukkan koper yang berisi uang ke dalam bagasi mobil dan barang ilegal sudah mereka amankan di dalam truk tangki mobil dan sisanya ia selundupkan di tumpukan sampah.
Pebisnis yang baru saja melakukan transaksi barang ilegal kepada orang kepercayaan tuan Fino, mulai meninggalkan lokasi. Terdapat tiga pebisnis yang masih setia mengobrol dengan orang kepercayaan tuan Fino.
Salah satu anggota The Tiger, kembali di beri tugas sebelumnya untuk memeriksa secara detail barang ilegal dari ketiga pebisnis itu. Setelah selesai, ia pun berbisik kepada tuan Fino perihal barang ilegal tersebut. Ketiga pebisnis itu saling pandang dan dengan cepat mengeluarkan pistolnya.
Baru saja Fino ingin mengeluarkan pistolnya, namun sudah terjadi saling todong pistol. Dengan terpaksa Fino mengeluarkan kedua pistolnya dan langsung menembak ke arah ketiga pebisnis tadi. Hingga terjadi saling baku tembak di tempat tersebut.
Dor
dor
Dor
Tembakan Fino terus tertuju di lawannya, satu persatu pebisnis tadi tewas di tangan ketua the Tiger. Sedangkan para anggota The Tiger mulai saling tembak dengan para anak buah pebisnis tadi.
Satu persatu lawan mereka berjatuhan. Fino lalu meminta anak buah mereka untuk membereskan tempat itu.
"Bereskan tempat ini dan kalau perlu bakar semua mayat itu" ucap Fino dingin. "Dan kau, kau, terakhir kau" ucap Fino dengan tatapan tajam sambil menunjuk satu persatu anak buahnya yang menjalankan bisnis ilegalnya.
Semua yang ditunjuk mulai di selimuti ketakutan.
"Ada apa dengan kami tuan Fino" ucap mereka kompak.
"Mati di tangan ku atau di tangan kalian sendiri" ucap Fino dingin.
Salah satu yang ditunjuk tampak ketakutan dan memilih berlari.
Dor
Fino berhasil menembak anak buahnya tepat di kepalanya hingga tewas seketika.
"Ada yang ingin seperti dia" ucap Fino sambil mengarahkan pistolnya ke arah dua anak buah yang ditunjuknya.
Mereka berdua hanya mampu menggeleng lalu bersimpuh di kaki tuan Fino.
"Ampuni kami tuan Fino" ucap mereka memohon pengampunan.
Fino sama sekali tidak akan mengampuni orang yang berbuat curang dibelakang nya.
"Bakar kedua orang ini hidup-hidup" ucap Fino dingin lalu menendang perut kedua lelaki yang bersimpuh di kaki nya.
Para anggota The Tiger langsung menyeret mereka dan tak lupa memandikan mereka bahan bakar.
"Membuang waktu ku saja dengan masalah ini" ucap Fino kesal lalu berjalan menuju mobilnya.
"Tidak.... tolong" teriak histeris kedua lelaki tadi, karena si jago merah sudah melalap nya.
Fino memilih meninggalkan tempat itu. Sedangkan Chiko bersama anggota The Tiger membereskan tempat itu sesuai perintah ketuanya.
Kini Fino sudah berada di kediamannya, ia baru selesai membersihkan tubuhnya. Fino masuk ke dalam ruang ganti untuk mengenakan piyama tidurnya, selanjutnya Ia pun melangkahkan kakinya menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Fino naik ke tempat tidur dengan hati-hati, takutnya membangunkan istrinya yang sudah terlelap. Fino menatap wajah cantik Milan yang sedang tertidur pulas, ia pun tersenyum tipis lalu menarik selimut yang sempat melorot di tubuh Milan, lalu menyelimutinya hingga batas leher.
"Selamat malam" ucap Fino kemudian mencium kening istrinya.
Keesokan harinya
Nyonya Ratu sudah siap untuk berangkat ke bandara bersama Fino. Fino akan menemani ibunya ke negara A, karena ia tidak tega bila ibunya seorang diri ke negara A, walaupun menggunakan jet pribadi, tapi tetap saja Fino tidak akan membiarkan ibunya bepergian jauh hanya seorang diri. Selain itu, Fino juga ada urusan pekerjaan selama seminggu di negara A jadi mau tidak mau ia harus pergi bersama ibunya di negara A.
"Sayang jaga kesehatan mu ya, jangan lupa hubungi mama jika kamu butuh sesuatu. Nanti mama akan mengunjungi mu lagi" ucap nyonya Ratu sambil memeluk Milan.
"Iya ma" ucap Milan yang ikut memeluk tubuh ibu mertuanya.
"Sini pamit sama istri mu sayang" ucap nyonya Ratu sambil tersenyum.
Kini giliran Fino yang ingin mengatakan sesuatu kepada Milan. Nyonya Ratu bersama ketua pelayan memilih berjalan menuju pintu utama.
"Jaga dirimu baik-baik, beberapa hari aku berada di negara A untuk mengurus bisnis ku"ucap Fino.
"Iya Tu..mas" ucap Milan yang hampir saja keceplosan menyebutkan nama tuan. Kemudian mencium punggung tangan suaminya. Fino kembali tertegun dengan sikap manis Milan.
Tak ingin melewatkan kesempatan Fino lalu memeluk istrinya, karena ia begitu penasaran dengan pikirannya yang semalaman memikirkan Milan memeluknya dan sekarang gilirannya yang memeluk Milan.
Perasaan apa ini, mengapa aku merasa berdebar-debar memeluk si gadis tua. Batin Fino.
Ada apa denganku, mengapa pelukan lelaki aneh ini begitu hangat. Mirip dengan pelukan ayah ku. Batin Milan.
Mereka lalu melepaskan pelukannya dengan pemikiran masing-masing lalu berjalan beriringan menuju pintu utama.
Nyonya Ratu sudah berada di dalam mobil sambil terus tersenyum ke arah Milan. Lalu disusul Fino ikut masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah. Nyonya Ratu terus melambaikan tangannya ke arah Milan sebagai tanda perpisahan mereka. Sedangkan Fino hanya duduk termenung dengan wajah datarnya, entah apa yang sedang ia pikirkan.
Perasaan apa ini, mengapa wajah gadis tua selalu saja terlintas di pikiran ku. Apakah aku sedang jatuh cinta kepada nya?....hah pemikiran macam apa itu, tidak mungkin aku mencintai gadis tua itu, dia sama sekali bukan tipeku, ada-ada saja. Batin Fino sambil tersenyum sinis.
Bersambung......
Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Luna alister
capl dri mna nya ..wanitanya lemah..
2022-01-08
0
Dena Regar
tinggal aja sifino milan,biar dia kelimpungan mencarimu.😡😡😡😡geram
2021-10-14
0
Tiara Azziya
ayoo kak semangat buat kak thor
2021-09-24
0