Milan terbangun di jam 5 pagi, ia lalu berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum memulai aktivitas nya. Milan keluar dari toilet hanya menggunakan handuk dengan rambut basah yang tergerai indah.
Milan lalu berjalan menuju lemari pakaian untuk mencari baju yang layak ia pakai. Karena sepertinya baju-baju dalam lemari pakaian itu merupakan baju yang cukup terbuka dan terkesan seksi menurutnya yang membuatnya susah untuk bergerak. Dan harganya jangan ditanya lagi, pastinya mahal dan susah dijangkau olehnya.
Bagi Milan, penampilan seseorang tidak perlu diukur dengan baju yang harga fantastis. Karena buat apa harga fantastis, namun kita tidak merasa nyaman mengenakan nya, intinya kenyamanan tidak perlu diukur dengan nilai mata uang.
Walaupun baju terbilang cukup murah, yang jelas kita tetap nyaman mengenakan nya. Membuat kita lebih percaya diri, di bandingkan baju yang super branded, namun kepercayaan diri kita berkurang, sama saja bohong.
Begitu halnya dengan hubungan rumah tangga yang tidak selamanya berjalan dengan mulus pasti berbagai cobaan dan ujian berat akan menerpanya. Satu tahun dan seterusnya akan selalu di datangkan sebuah cobaan.
"Hufff, semua baju ini tidak layak pakai. Sepertinya aku tidak perlu keluar rumah dengan mengenakan baju seperti ini" ucap Milan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat koleksi baju di lemari itu.
"Tapi...aku ingin ke toko swalayan untuk berbelanja bahan pokok. Emm nanti aku pikir-pikir kembali" ucap Milan lalu menarik salah satu baju dengan motif bunga-bunga.
Milan terlihat manis dengan mengenakan baju bermotif bunga-bunga berlengan seperempat diatas lutut yang sangat pas di badannya. Milan lalu mengeringkan rambutnya menggunakan hair dryer. Setelah itu ia pun menguncir nya, ia memang lebih suka menguncir rambutnya jika berada di dalam rumah. Milan lalu berjalan menuju ruang makan untuk sarapan.
Tak sengaja Milan berpapasan dengan Fino yang baru saja melakukan joging di taman belakang. Milan terlihat santai melewati Fino yang sempat menatapnya. Fino pun memilih menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Para pelayan terlihat ramah menyapa Milan. Mereka senang Milan menjadi nyonya di rumah tersebut.
"Nona semakin cantik saja" ucap Pipit yang sedang menata makanan di meja makan.
"Terima kasih" ucap Milan tersenyum memperlihatkan deretan gigi ratanya.
Milan melihat semua aneka makanan tertata di atas meja. Namun semua makanan itu tidak membuatnya tertantang untuk mencicipi nya. Ia pun tersenyum saat salah satu pelayan membawa nampan berisi potongan buah pepaya yang begitu segar.
Milan lalu mengambil beberapa potongan buah pepaya lalu memakannya dan tak lupa meminum segelas susu hangat. Milan ingin bangkit dari duduknya, namun dia jadi bimbang melihat Fino baru saja duduk berhadapan dengan nya. Fino terlihat rapi dengan setelan jasnya yang sepertinya akan ke kantor.
"Tuan...eeh saya izin keluar sebentar. Ada sesuatu yang harus saya beli" ucap Milan yang meminta izin kepada suaminya.
"Kamu tidak perlu meminta izin kepadaku, aku tidak peduli dengan mu. Dan kalau perlu mulai sekarang carilah lelaki yang sepadan dengan mu, karena kemungkinan besar aku akan melempar mu keluar dari rumah ku secepatnya" ucap Fino dengan tegas disertai dengan seringai licik diwajahnya.
Milan yang mendengar penuturan suaminya ingin sekali menghajar wajah arogan suaminya. Namun apa daya hanya unek-unek di hatinya yang mampu ia lontarkan.
"Baiklah tuan, mulai sekarang saya tidak akan pernah meminta izin kepada anda dan satu lagi saya memang harus mencari lelaki yang bisa menerima saya apa adanya" ucap Milan dengan penekanan sambil mengepalkan tangannya.
"Percaya diri sekali kamu, apa kamu pikir masih bisa laku diusia mu seperti itu" ucap Fino sambil tersenyum sinis yang kembali merendahkan Milan.
"Astaga apa anda pikun, bahkan saya masih laku dinikahi oleh anda Tuan Fino Alexander yang terhormat...ha ha ha....jadi saya masih bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik bukan" ucap Milan yang tersenyum mengejek disertai dengan tawanya.
Brakk..
Fino menggebrak meja makan, ternyata omongannya malah memojokkan nya sendiri. Dia menatap Milan dengan tatapan membunuhnya. Wanita tua itu mampu melawannya dengan kata-kata.
"Saya permisi dulu tuan" ucap Milan lalu bangkit dari duduknya, ia tidak ingin berlama-lama bersama Fino apalagi melihat kemarahan Fino saat ini.
"Hey kau..."Fino begitu marah yang pandangannya terus tertuju kepada Milan. Sementara Milan tampak santai meninggal Fino m
Milan berhasil membuat Fino kesal dengan santai ia melepaskan kunciran rambutnya. Ia benar-benar tidak suka dengan ucapan Fino yang selalu saja menghinanya.
"Dasar lelaki aneh, sudah jelas-jelas dia menjadi suamiku malah meminta ku untuk mencari lelaki lain, apa dia akan menceraikan ku secepatnya. Terserahlah, aku akan membuktikan ucapan mu tuan Fino" gumam Milan yang sudah berada di halaman depan.
Milan sempat menghentikan langkahnya, ia kembali memperhatikan dirinya yang mengenakan baju diatas lutut yang hanya mengenakan sendal jepit. Tidak biasanya gadis itu mengenakan pakaian wanita, karena biasanya ia mengenakan setelan jas saat beraktivitas.
"Baju ini masih.....emm layak, aku harus pergi secepatnya" ucap Milan, lalu berjalan menuju pos penjagaan.
"Permisi pak" ucap Milan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu nona" ucap salah satu penjaga di kediaman Fino.
"Saya ingin meminta tolong untuk diantarkan ke gerbang depan pak" ucap Milan.
Ketiga penjaga itu saling pandang, bukankah di rumah itu terdapat 10 mobil yang terparkir rapi di parkiran. Kenapa istri majikannya malah meminta tolong kepada nya.
"Pak" ucap Milan yang melambaikan tangannya untuk membuyarkan lamunan mereka.
"Baik nona, tapi saya hanya mengenakan motor" ucap pak penjaga.
"Tidak masalah pak" ucap Milan cepat.
Dari pada Milan harus berjalan kaki yang lumayan jauh menuju gerbang depan.
Milan pun dibonceng motor oleh pak penjaga, mereka pun sempat mengobrol di atas motor hingga tiba di gerbang depan perumahan elit di pusat kota tersebut.
"Terima kasih pak" ucap Milan.
"Apa nona tidak masalah jika saya tinggal" ucap pak penjaga.
"Tidak kok pak, sekali lagi terima kasih karena sudah mengantar saya" ucap Milan sambil membungkukkan badannya.
"Kalau begitu saya permisi dulu nona" ucap pak penjaga itu.
Milan pun hanya mengangguk sambil tersenyum melihat kepergian pak penjaga. Sehingga ia hanya seorang diri untuk menunggu taksi yang melintas di daerah itu.
Milan lalu memilih duduk di sebuah bangku kayu. Ia merasa bodoh karena lupa memesan taksi online. Tak berselang lama kemudian, Mobil Fino melintas melewati gerbang depan.
"Bukankah itu nona Milan tuan" ucap Chiko yang memperlambat laju mobilnya yang mampu mengenali istri majikannya.
"Jalan" ucap Fino dengan wajah datar yang sama sekali tidak peduli dengan Milan, apalagi dia masih kesal kepada Milan yang sudah berani menyanggah ucapan nya.
Chiko hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia merasa kasihan kepada Milan yang sama sekali tidak dianggap oleh tuannya.
Tak berselang kemudian sebuah taksi melintas di daerah tersebut, dengan cepat Milan memberhentikan taksi itu.
"Ke toko swalayan pak" ucap Milan pada supir taksi itu.
"Baik mbak" ucap supir taksi. Lalu melajukan mobilnya menuju lokasi yang ingin dituju.
Milan hanya mampu menatap jalanan raya yang begitu padat oleh kendaraan. Tak sengaja matanya tertuju pada sebuah gerobak Mie ayam. Milan hanya mampu menelan ludahnya, ia menjadi ngiler untuk mencicipi mie ayam tersebut.
"Pak berhenti" ucap Milan yang sama sekali tidak ingin lepas dari mie ayam di depan matanya.
Supir taksi itu lalu menghentikan lajunya.
"Ini ongkos nya pak" ucap Milan lalu memberikan beberapa lembar uang tunai.
Padahal rencana awalnya ingin ke toko swalayan, tapi ia tergiur dengan mie ayam di gerobak dorong.
"Pak mie ayam nya satu porsi" ucap Milan yang sudah tidak sabar untuk mencicipi mie ayam tersebut.
"Siap mbak" ucap penjual mie ayam.
Tak berapa lama kemudian, pesannya pun datang. Dengan mata berbinar Milan lalu meracik kembali mie ayam tersebut sebelum mencicipinya.
Tak lupa ia membaca basmallah sebelum menikmati mie ayam tersebut.
Milan tampak lahap menikmati mie ayam itu. Diam-diam seorang lelaki duduk di samping nya sambil memperhatikan dirinya yang tengah menikmati makanan nya. Milan sama sekali tidak menyadari keberadaan lelaki di samping nya karena ia hanya fokus menikmati mie ayam.
"Enak ya" ucap lelaki tersebut sambil tersenyum melihat tingkah Milan.
"Ini mie ayam gerobak keliling yang paling enak, pokoknya dijamin anda tidak akan rugi menco....." Milan tidak mampu melanjutkan ucapannya, ia malah membulatkan matanya melihat sosok lelaki di samping nya.
"Kau .....".
"Senang bertemu dengan mu cantik" ucap lelaki itu sambil tersenyum menatap Milan.
Bersambung.....
Mohon saran dan masukan teman-teman, agar cerita ini lebih baik kedepannya 🙏
Terima kasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
listblack05
o..tidack semudah itu ferguzo
2022-02-28
0
Anis Anis
semoga milan cepat hamil
2022-01-03
0
Ukhty Nur Siahaan
Fino tak pantas utkmu Maya
karna dia bgt sombong (g ad akhlaknya
2021-11-09
0