Milan memilih berjalan menuju kamarnya, ia sudah terlihat baik-baik saja. Dia tampak enjoy berjalan melewati Fino yang sedang duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.
"Kenapa tuan Fino belum pergi ke kamarnya, aku seperti diawasi olehnya" gumam Milan, lalu menutup pintu kamarnya.
Milan lalu berjalan menuju toilet untuk menyikat gigi. Setelah itu, ia pun naik ke tempat tidur.
Milan terlebih dahulu menepuk-nepuk bantal yang ia gunakan untuk tidur.
"Bangunkan aku jam 5 pagi".
Pakk
Pakk
Pakkk
Milan terus memukuli bantalnya, yang merupakan kebiasaannya sebelum tidur, yakni mengajak bantalnya berbicara dan itu sebagai alarm praktis baginya yang tidak perlu menyetel di ponselnya. Dan sampai saat ini, apa yang ia lakukan mujarab.
Milan lalu membaringkan tubuhnya, sambil menghirup udara sejuk dari AC kamar itu. Ia pun tak lupa berdoa sambil memejamkan matanya, berharap bisa tidur nyenyak.
Tak berapa lama kemudian, Milan akhirnya tertidur pulas.
Fino yang masih berada di ruang tengah tampak senyum-senyum sendiri, entah apa yang sedang terjadi, yang jelas membuat lelaki dingin itu tersenyum dengan lepasnya. Malam semakin larut, tapi ia masih betah berlama-lama di ruang tengah yang asyik memainkan ponselnya.
"Untuk apa exel menghubungi ku"ucap Fino dengan raut wajah yang berubah. Saat melihat panggilan masuk Exel.
"Ada apa menghubungi ku malam-malam begini" ucap Fino kesal.
"Santai bro, pasti aku menganggu malam hangat pengantin baru yang satu ini" ucap Exel diujung telpon yang sengaja menggoda Fino.
"Cepat katakan, mengapa kau menelpon ku" ucap Fino dengan tegas.
"Aku hanya ingin mengajakmu camp minggu depan, untuk mempererat hubungan persahabatan kita dengan teman-teman sesama rekan bisnis kita, sekaligus ngenalin istri mu kepada teman-teman yang lain dan bisa juga rayain bulan madu mu di sana.... ha ha ha" ucap Exel sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aku malas ikut camp, buang-buang waktu ku saja" ucap Fino malas.
"Nanti kamu nyesel bro, soalnya teman yang lain akan mengikuti camp sambil membawa istri dan pasangan mereka masing-masing, termasuk aku yang akan membawa kesayangan ku. Dijamin seru, pasti kamu akan bersenang-senang sepuasnya. Jadi pikirkan baik-baik, lalu kabari aku ya"ucap Exel, lalu mengakhiri sambungan telepon nya.
"Buang-buang waktu dan tenaga, aku bahkan sudah mengetahui sifat asli yang lainnya, mereka pasti malah asik bermesraan dengan pasangannya" ucap Fino terdengar kesal yang masih mengingat pengalamannya ikut camp. Dimana teman-temannya membawa pasangan mereka masing-masing dan melakukan hubungan terlarang di tenda mereka masing-masing.
Sedangkan dirinya hanya mampu berdiam diri di dalam tenda yang ia tempati, karena dirinya yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan yang namanya seorang wanita. Ia pun hanya mampu gigit jari dan kedinginan di dalam tenda, tanpa adanya pasangan yang menemani.
Fino kembali tersenyum tipis saat sebuah pesan masuk di ponselnya. Ia sama sekali tidak tahu dengan siapa ia bertukar pesan. Yang jelas obrolan mereka begitu nyambung.
"Orang ini lucu juga" ucap Fino sambil tersenyum tipis.
Ia bahkan lupa waktu karena sibuk chatting dengan seseorang di dunia maya. Tidak biasanya lelaki dingin itu meladeni seseorang jika sama sekali tidak penting.
'Selamat malam, semoga kamu mimpi indah' sebuah pesan singkat kembali masuk di ponselnya.
Fino pun meletakkan ponselnya di atas meja. Ternyata ia lupa waktu, bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Fino memilih berjalan menuju ruang makan, sepertinya ia mulai kelaparan karena asyik chattingan dengan seseorang.
Fino membuka lemari pendingin untuk mencari cemilan yang bisa mengganjal perutnya. Karena tidak mungkin ia membangunkan pelayan untuk membuatkannya makanan. Berbagai cemilan berupa snack tertata dengan rapi di lemari pendingin. Fino mengambil salah satu snack berbahan dasar kentang dan mengambil buah apel sebagai makanan tambahan.
Kemudian ia pun duduk di kursi meja makan sambil menikmati cemilannya.
Milan pun terbangun, ia kembali merasakan lapar, entah mengapa ia merasa aneh dengan tubuhnya yang selalu saja cepat lapar. Milan lalu turun dari tempat tidur dan berjalan gontai menuju toilet, karena ia masih ngantuk namun perutnya tidak bisa diajak kompromi.
Setelah selesai cuci muka, Milan kembali melangkahkan kakinya menuju ruang makan untuk mencari makan pastinya.
Milan terlonjat kaget, saat mendapati seseorang tengah duduk di kursi dengan suara renyahan snack yang begitu berisik yang sedang membelakanginya.
"Siapa disana" ucap Milan yang sama sekali tidak mengenali orang itu. Ditambah lampu penerangan ruangan itu tidaklah terang, kesadaran Milan yang belum sepenuhnya on karena baru saja bangun tidur membuatnya berpikiran negatif thinking.
"Tidakkah kau lihat siapa aku hah!" Ucap Fino dengan suara yang menggema di ruangan itu.
"Maafkan saya tuan, saya pikir...."ucap Milan yang tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Kamu hobi sekali berkeliaran di jam seperti ini, apa kau ingin maling di rumahku hah?" potong Fino. Karena ia pun sempat mendapati Milan berada di ruang makan di jam seperti itu.
Milan pun mengepalkan tangannya dan tidak ingin berlama-lama berada di ruangan itu. Ia ingin kembali ke kamarnya, namun tidak tahu malunya perutnya tiba-tiba saja berbunyi.
Krukk
krukk
krukk
Milan pun menunduk sambil memegangi perutnya yang tidak bisa diajak kompromi itu.
"Sepertinya kamu menjadi rakus semenjak berada di rumahku" ejek Fino.
"Benar sekali dugaan tuan, saya bahkan sangat senang berada di rumah tuan, hingga selera makan saya bertambah. Ingin rasanya saya menghabiskan semua makanan enak di rumah anda"ucap Milan dengan tatapan tajam sambil mengepalkan tangannya.
"Tapi setidaknya kamu sadar diri sedang berada di rumah siapa" ucap Fino enteng.
Milan hanya mampu menunduk, ia tidak ingin lagi menimpali ucapan Fino, bisa-bisa ia naik pitam dan melewati batasnya sebagai seorang istri.
Milan lalu berjalan dengan acuh membuka lemari pendingin, Ia harus mencari makanan lalu kembali ke kamarnya. Namun ia hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat cemilan yang tidak berkhasiat untuk nya.
"Sepertinya aku harus memasak" gumam Milan, lalu mengeluarkan beberapa sayur segar yang akan ia buat menjadi makanan enak.
Milan pun menyambar appron yang tergantung di dinding tembok, ia lalu memakainya. Rambut panjangnya yang tergerai indah, ia gulung keatas dan mengucirnya. Milan pun mulai memotong-motong sayuran itu dengan lincah layaknya seorang chef profesional.
Fino sempat melirik ke arah Milan yang sedang asik memasak.
Bahkan aroma masakan Milan begitu menggugah selera makan. Milan pun mencicipi sedikit masakannya, untuk mengetahui rasanya apakah sudah pas atau tidak.
"emm sudah pas, ini sangat lezat sekali, sup ayam buatan ku memang yami" ucap Milan tersenyum yang memuji masakannya.
Milan lalu mengambil mangkuk dan menyajikan makanannya dengan begitu percaya diri untuk menghabiskan nya.
Sedangkan pandangan mata Fino tidak lepas dari Milan dengan masakannya. Sepertinya ia juga ingin mencicipi sup ayam buatan Milan. Namun harga dirinya yang begitu tinggi, yang tidak mungkin meminta kepada Milan untuk berbagai makanan dengannya, padahal Milan yang berstatus sebagai istrinya sudah sepatutnya memasakkan makanan untuknya.
Milan pun menyadari sedari tadi Fino menatapnya, ia pun kembali mengambil mangkuk untuk membagi masakannya kepada Fino. Walaupun ia begitu kesal dengan lelaki itu, tapi bagaimana pun ia tidak enak hati memakan masakannya seorang diri, sementara sosok lelaki menyebalkan masih duduk di kursi meja makan.
"Sup ayam lebih cocok buat mengganjal perut, cemilan seperti itu tidak berkhasiat bagi orang kelaparan" ucap Milan sinis, iapun membawa semangkuk sup ayam menuju kamarnya, tidak mungkin ia makan bersama dengan Fino, bisa-bisa laparnya hilang dengan kata-kata menyakitkan Fino.
Setelah Milan benar-benar sudah berada di dalam kamarnya. Fino sempat melirik ke kiri dan ke kanan. Setelah merasa aman, ia pun mendekati pantry lalu mengambil semangkuk sup ayam itu untuk ia nikmati.
Fino sempat ragu untuk memakan masakan Milan, namun perutnya masih lapar. Ia pun mencicipi sedikit demi sedikit sup ayam buatan Milan. Fino tersenyum, ternyata selera lidahnya tidak salah juga. Fino dengan lahap memakan sup ayam buatan Milan bahkan menghabiskan nya.
Namun ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Milan yang sedang menggambil air minum.
"Bagaimana masakan saya tuan" ucap Milan berbangga diri.
"Lumayan, tapi kamu tidak perlu lagi memasak makanan untukku karena tidak sesuai dengan seleraku"ucap Fino dengan penuh dusta, yang sama sekali tidak ingin memuji masakan istrinya.
"Oh baguslah jika seperti itu, kapan-kapan aku akan menghabiskan masakan ku sendiri" ucap Milan yang tidak mau ambil pusing, ia pun memilih berjalan menuju kamarnya.
Bersambung.......
Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
。.。:∞♡*♥
jangan-jangan milan hamil
2022-02-12
0
Anis Anis
sayang kisah ziva dan dereen ya sudah tamat sy kan mau tau nama anak kembar ya dan juga foto ya
2022-01-03
0
Zaenab Kadir
asyik
2021-11-22
0