Disepanjang perjalanan tak ada obrolan yang di lakukan Fino maupun Milan. Mereka melakukan kesibukan masing-masing dengan udara pagi yang begitu sejuk. Sesekali Chiko melirik ke kaca mobil untuk memastikan kondisi sepasang suami istri itu.
Fino memainkan ponselnya sambil bersandar di jok mobil, sedangkan Milan hanya menatap jalanan yang begitu asri dengan pohon rindang yang membuat mata menjadi fresh disertai sedikit lamunan tentang kesehariannya belasan tahun lalu.
Milan menghentikan lamunannya saat mendengar ponselnya berdering. Ia pun lalu meraba tas ransel nya bagian depan untuk mencari benda canggih itu.
Terdapat sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
'Tunggu aku di Pom bensin Lawrence Mil. By teman tersayang mu😘'
Milan mengerutkan keningnya, saat membaca pesan tersebut.
"Ini pasti si David cerewet, dari mana dia mengetahui nomor ku segala hufff" gumam Milan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Fino yang tengah sibuk memainkan ponselnya, menoleh ke arah Milan yang sedang bergumam sendiri sambil menyebut nama David.
Sementara David yang sedang berkendara tersenyum melihat pesannya di baca oleh Milan.
"Cepat atau lambat, kau akan menjadi milikku Milan" ucap David lalu mencium ponselnya yang menampilkan foto beranda Milan yang sempat ia ambil secara diam-diam.
Tak terasa mobil yang membawa mereka tiba di pusat kota yang sudah dipadati oleh kendaraan yang melintas di jalan raya. Milan mulai melirik ke seberang jalan dan mengamati setiap jalanan yang terdapat pom bensin.
Chiko yang mengemudikan mobil, memilih berhenti di pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Milan kembali mengamati pon bensin tersebut sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Untuk memastikan apakah pom bensin tersebut yang di maksud oleh David, dikarenakan terdapat papan yang bertuliskan Lawrence.
"Aku ingin ke toilet Chiko, jika tuan Fino buru-buru tak masalah saya di tinggal, lagian saya sudah terbiasa ditinggal bukan" ucap Milan dengan sedikit senyuman sambil melirik Fino yang tampak acuh.
"Baiklah nona Milan, kalau saya sih tidak masalah. Saya hanya mengikuti perintah tuan, tetapi jika tuan Fino....."ucap Chiko yang tidak mampu melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak suka menunggu" potong Fino dengan suara bariton.
Chiko sudah menduga dengan ucapan tuanya.
"Ya sudah, saya tidak masalah jika di tinggal lagi. Kalau begitu saya permisi dulu" ucap Milan lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju toilet di pom bensin tersebut.
Setelah selesai, mengisi bahan bakar, Chiko kembali melajukan mobilnya menuju kediaman tuan Fino.
Tak berselang lama kemudian, mobil David tiba di pom bensin Lawrence. David lalu mematikan mesin mobilnya, kemudian ia pun berbincang-bincang dengan petugas pom bensin untuk mengisi bahan bakar. David lalu turun dari mobilnya, kemudian membuka ponselnya untuk menghubungi Milan.
Beberapa kali David menghubungi Milan, namun nomor yang di tuju tidak aktif. Mungkin Milan mematikan ponselnya agar tidak bisa di hubungi oleh David.
"Mengapa nomor Milan tidak aktif segala, apa mungkin dia tidak ingin bertemu dengan ku" ucap David sambil melirik ke sana kemari, yang begitu percaya diri untuk bertemu dengan Milan.
Milan sendiri sudah berada di dalam taksi yang akan membawanya mencari kontrakan terdekat. Untuk sementara, ia memilih tinggal di sebuah kontrakan, walaupun ia memiliki tabungan yang lumayan banyak yang bisa saja membeli sebuah rumah atau apartemen, tapi ia tidak ingin membeli semua itu, kerena belum tentu ia akan menetap di negara B selamanya.
Di tambah tekadnya sudah bulat untuk tidak berhubungan lebih jauh dengan tuan Fino yang bisa saja menghempaskan nya seperti debu sewaktu-waktu dengan harta dan kekuasaan yang dimilikinya.
Dengan cara seperti ini, aku tidak ingin bergantung kepada tuan Fino dan kepada orang lain. Aku tidak bisa terus berada di kediaman lelaki aneh itu, yang selalu saja bersikap aneh-aneh kepadaku, layaknya seorang yang memiliki kepribadian ganda. Aku begitu takut jika aibku terbongkar olehnya. Jadi....sebelum lelaki aneh itu mengusirku, sebaiknya aku angkat kaki lebih dulu dari kediamannya. Pastinya ia sangat bahagia, tanpa perlu menyeret ku keluar dari kediamannya dan setelah itu, ia pasti akan segera menggugat cerai kepada ku. Pisah Rumah jalan terbaik untuk kami. Batin Milan sambil mengusap wajah nya.
Mobil yang membawa nya terus melaju dengan kencang membelah jalanan pusat kota. Sesekali Milan meminta supir taksi untuk berhenti di sebuah toko untuk membeli sesuatu. Kemudian mobil kembali melaju menuju tempat kontrakan yang akan ia tuju.
"Saya hanya tahu kontrakan di jalan kenangan mbak" ucap Supir taksi yang sudah berada di jalan kenangan.
"Ya sudah pak, kita meluncur ke sana pak" ucap Milan yang baru sadar dari lamunannya.
"Eeh...sebenarnya Kita sudah sampai mbak" ucap supir taksi itu sambil tersenyum.
"Oh ya, sepertinya saya kurang fokus pak" ucap Milan ramah.
"Itu kontrakannya mbak, semoga mbak suka" ucap supir taksi sambil menunjuk rumah yang berjejer rapi.
Makasih pak, dan ini ongkosnya" ucap Milan lalu menyerahkan beberapa lembar uang kepada supir taksi itu.
Kemudian, ia pun turun dari mobil dan berjalan menuju rumah yang berjajar rapi yang saling berdekatan dengan desain minimalis. Terdapat papan besar yang bertuliskan 'Kontrakan tiga putri'.
Milan lalu berjalan lebih dekat untuk menemui pemilik kontrakan tersebut. Tampak wanita paruh baya membawa nota sedang berbincang-bincang dengan salah satu wanita hamil di teras rumah kontrakan.
Saat melihat kedatangan Milan dengan cepat wanita paruh baya yang memegang nota menghampiri Milan.
"Ada perlu apa mbak" ucap wanita paruh baya yang menghampiri Milan.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik kontrakan disini Bu" ucap Milan.
"Ya saya sendiri, ada yang bisa saya bantu mbak" ucap wanita paruh baya itu.
Lalu Milan pun mengobrol bersama dengan wanita paruh baya tadi, setelah itu Milan diajak ke salah satu rumah kontrakan yang masih kosong. Milan bersama wanita pemilik kontrakan mulai menelusuri kondisi rumah kontrakan yang terdapat ruang tamu, satu kamar, dapur mini dan toilet. Selanjutnya mereka saling serah terima setelah melakukan transaksi.
Milan lalu diberikan kunci rumah kontrakan, lalu pemilik kontrakan tersebut undur diri dari hadapan Milan.
"Semoga aku betah di kontrakan ini, pisah rumah akan membuatku terbebas dari mulut pedas lelaki aneh itu" ucap Milan lalu mengunci pintu rumahnya dan berjalan menuju dapur mini untuk meletakkan barang belanjaan nya yang sempat ia beli di toko swalayan.
Sungguh Kontrakan itu begitu mini dengan setiap ruangan yang berukuran mini termasuk kamarnya saat ini. Mungkin satu kamar di kediaman tuan Fino sebanding dengan kontrakan tersebut.
Milan lalu berjalan menuju kamarnya untuk meletakkan tas ransel nya yang terdapat beberapa pakaian dan paper bag yang berisi dalaman, pakaian santai, dan handuk yang sempat ia beli di toko pakaian. Milan lalu meletakkan barang-barang nya diatas tempat tidur, kemudian ia pun membuka tas ranselnya untuk mengeluarkan peralatan tubuhnya, agar kulitnya tetap kinclong dan glowing dan tak lupa menyambar handuk lalu berjalan masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara Fino sudah berada di kantornya yang tetap saja rapi+tampan dengan setelan jasnya. Fino mulai di sibukkan dengan pekerjaan kantor yang tiada habisnya. Ia kembali menatap dua layar monitor dan sesekali memeriksa tumpukan berkas di mejanya yang sudah menggunung yang semua itu laporan pemasukan dan pengeluaran perusahaan dari berbagai divisi.
Terkadang makan siang nya terlewatkan akibat terlalu sibuk dalam bekerja.
Malam harinya......
Seluruh pelayan di kediaman Fino tampak gelisah menunggu kedatangan nyonya nya. Sampai saat ini, semua pelayan tidak mengetahui keberadaan Milan.
Bi Sri yang merupakan kepala pelayan ikut khawatir dengan ketidak pulangan Milan di kediaman tuan Fino.
"Sepertinya aku harus menghubungi tuan Fino, agar mencari nona Milan" ucap Bi Sri.
Namun niatnya ia urungkan saat melihat kedatangan Fino memasuki pintu utama diikuti oleh Chiko sang sekretaris terbaik nya. Fino hanya acuh melewati para pelayan yang sedang menyambut kedatangannya. Ia malah berjalan menuju tangga. Sedangkan Chiko yang membawa tas kerja tuannya berjalan menuju ruang kerja tuan Fino untuk meletakkannya.
Bi Sri dengan cepat menghampiri tuannya.
"Mohon maaf tuan, sampai saat ini nyonya belum pulang. Kami bahkan tidak mengetahui keberadaan nya" ucap Bi Sri dengan hati-hati sambil menunduk.
Fino menghentikan langkahnya di ujung tangga. Tanpa menjawab sepatah kata pun ia kembali berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Bi Sri hanya mampu bernafas dengan kasar dengan perasaan gelisah yang sama sekali di acuhkan oleh majikannya. Lalu iapun berjalan menuju ruang makan.
"Ada apa bi Sri" tanya Chiko yang melihat raut wajah bi Sri yang sangat gelisah.
"Nyonya belum pulang sampai saat ini, padahal ini sudah larut malam tuan Chiko" ucap Bi Sri sambil meremas ujung hijabnya.
"Hah, nona Milan belum pulang. Apa jangan-jangan nona Milan melarikan diri dari tuan Fino" ucap Chiko dengan pikirannya.
"Jangan berkata seperti itu tuan, bisa-bisa tuan Fino marah mendengar ucapan tuan Chiko" ucap Bi Sri.
"Toh jika semuanya benar adanya bagaimana bi. Lagian tuan Fino selalu saja berbuat semena-mena kepada nona Milan bahkan terus saja menghina nona Milan. Wajar saja jika nona Milan pergi" bisik Chiko.
Pergilah sejauh mungkin nona Milan, agar tuan Fino menyesali perbuatannya kepada nona. Batin Chiko.
Bi Sri hanya mampu diam, dan ia sedikit membenarkan ucapan Chiko.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu bi, sepertinya aku butuh istirahat malam ini" ucap Chiko sambil tersenyum. Lalu iapun melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Namun baru beberapa langkah, seseorang menghentikan langkahnya.
"Chiko, ikut denganku untuk mencari gadis tua" ucap Fino di ujung tangga, yang sudah mengenakan pakaian santai dengan wajah yang terlihat segar.
Dengan pasrah Chiko hanya mampu mengiyakan ucapan tuan Fino. Mereka lalu berjalan beriringan menuju garasi mobil. Setelah itu, mobil sport merah kembali melaju membelah jalanan untuk mencari keberadaan Milan.
Bersambung.......
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman 🤗 berupa like, love, comment dan vote kalian semuanya.... Terima kasih 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ade
bingung aja ceritanya, kok pemeran ceweknya tidak perawan lagi 🤔
2022-12-01
0
listblack05
kukira selama ini milan hamil thor
2022-03-01
0
Dena Regar
untuk apa kanu mencari milan,tuk kamu tindas lagi.
2021-10-14
0