Fino malah mempererat dekapannya di tubuh Milan. Sedangkan Milan terus saja memberontak untuk lepas dari Fino. David merasa tidak nyaman melihat kedekatan sepasang suami istri itu. Ia pun tidak terima Milan berada di dekapan Fino.
"Hei lepaskan Mil bro, aku ingin membawanya pergi mencari penginapan" ucap David yang tidak suka dengan kedekatan mereka.
"Dia orang ku, kau tidak memiliki hak untuk membawanya" ucap Fino dengan wajah datarnya.
"Aku ingin pergi bersamanya tuan, jadi tolong jangan halangi kami" ucap Milan ketus yang sama sekali tidak ingin menatap suaminya.
"Aduh tuan-tuan tolong jangan berantem, sebaiknya kita masuk ke dalam. Minuman hangat untuk tuan-tuan sudah siap" ucap Nonna yang ikut melerai pertikaian mereka.
"Benar nona Milan, di luar sana sedang hujan deras, ada baiknya jika nona tetap berada di sini" timpal Chiko. "Nona Milan merupakan teman baik saya tuan David, jadi jangan menghawatirkan nya" ucap Chiko sambil tersenyum.
Ternyata Milan memiliki banyak teman lelaki. Batin David.
Milan dan David tidak mampu berkata-kata. Sepertinya ucapan mereka tidak ada salahnya, namun Milan masih saja tidak ingin dekat-dekat dengan Fino.
Fino kembali memindahkan tangannya di pinggang istrinya, sementara Milan mencoba melepaskan tangan Fino yang semakin erat merangkul pinggang nya. Sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dan hentakkan kakinya, Milan dengan pasrah mengikuti langkah kaki Fino.
Sedangkan Chiko berjalan terlebih dahulu bersama ibu dan anak pemilik penginapan. Dan tak segan-segan Chiko berbisik-bisik kepada Nonna tentang hubungan tuannya dengan Milan yang merupakan sepasang suami istri yang lagi marahan.
"Benarkah wanita itu istri tuan Fino"ucap Nonna sambil berbisik dan sesekali melirik ke arah belakang untuk melihat langsung Milan.
Chiko hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Terus ngapain lelaki di belakang mereka terus mendekati istri tuan Fino" ucap Nonna kembali yang begitu kepo.
"Ceritanya panjang, aku tidak bisa menjelaskan nya" elak Chiko, padahal ia sama sekali tidak mengetahui kedekatan nona Milan dengan tuan David.
"Oh seperti itu, biar Nonna yang urus semuanya tuan Chiko" ucap Nonna sambil tersenyum.
"Apaan sih imas (ibu manis) ikut campur urusan orang" ucap putrinya.
"Kamu tidak usah urusin imas sayang. Ini urusan orang dewasa, cepat masuk ke kamar mu ini sudah larut malam, biar pekerjaan lainnya imas yang handel sayang" ucap Nonna sambil mencium pipi putrinya lalu mendorong nya untuk menjauh.
Saat melihat kedatangan Fino dengan Milan, Nonna dengan cepat menarik kursi meja makan untuk mereka berdua. Sedangkan David malah di kacangin oleh Nonna dengan Chiko.
Tiba-tiba saja Milan merasakan mual. Milan langsung menutup mulutnya, ia memberikan bahasa isyarat kepada Nonna bahwa ia ingin ke toilet. Nonna yang mengerti akan hal itu dengan cepat mengarahkan nya ke sebuah kamar kosong.
"Nona bisa gunakan toilet nya di dalam" ucap Nonna sambil membuka pintu kamar yang kosong.
Tanpa mendengar ucapan Nonna, Milan malah berlari masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan toilet di kamar itu.
Hoeakkk
Hoeakkk
Milan terus saja memuntahkan isi perutnya di wastafel. Ia menjadi lemas dengan wajah pucat nya. Seolah tenaganya berkurang akibat mual yang ia rasakan secara tiba-tiba.
Milan lalu membersihkan mulutnya, setelah itu ia pun membasuh wajahnya dengan air yang begitu dingin ibarat air dari gunung es.
"Sepertinya aku masuk angin" ucap Milan sambil menatap wajahnya di dalam cermin.
Dugaannya tentulah benar, apalagi Milan masih menggunakan pakaian basah, hanya jaket David yang tidak basah menutupi tubuhnya.
Kemudian ia pun keluar dari toilet, pandangan nya tertuju pada tempat tidur yang tidak berpenghuni.
"Aku sudah lemas, dan begitu malas untuk bertemu dengan lelaki aneh itu. Sebaiknya aku beristirahat di kamar ini" ucap Milan dengan tubuh sedikit menggigil. "Tunggu aku bahkan tidak tahu siapa penghuni kamar ini, tapi sudahlah tubuh ku butuh istirahat" ucap Milan lalu berjalan menuju tempat tidur.
Cklek
Pintu kamar itu kembali terbuka dan menampilkan sosok Fino dengan wajah datarnya. Milan membelalakkan matanya melihat lelaki dibencinya, dan tak berselang kemudian, Nonna masuk ke dalam kamar itu sambil membawa nampan berisi bubur gandum dan minuman hangat.
"Silahkan di nikmati nona, maaf hanya makanan dan minuman seadanya" ucap Nonna sambil tersenyum.
"Eeh iya" ucap Milan.
Nonna lalu undur diri dari hadapan sepasang suami istri itu.
Fino lalu mengunci pintu kamarnya, setelah itu ia pun memasukkan kunci kamar itu disaku celananya.
Bodoh, aku bahkan tidak melihat di sekeliling kamar ini, lihatlah beberapa barang lelaki aneh ini sudah berada di dalam kamar dan tepatnya di samping tempat tidur. Batin Milan sambil menggigit bibir bawahnya.
Fino lalu menatap ke arah wanita yang masih saja berdiam diri di tempatnya. Fino lalu melangkahkan kakinya untuk mendekati Milan, sedangkan Milan menjadi panik melihat Fino terus berjalan mendekatinya.
Milan memilih mundur kebelakang, namun Fino terus saja berjalan mendekati nya dengan tatapan tajam yang siap menerkam nya. Milan pun semakin mundur kebelakang hingga membentur dinding tembok dengan wajah paniknya.
Fino membuka beberapa kancing kemejanya dan terus berjalan mendekati Milan. Jantung Milan sudah berdegup dengan kencang melihat sosok Fino yang terus saja mendekatinya dengan tatapan tajam. Milan kembali gugup saat Fino sudah menghimpit tubuhnya di dinding dan tak lupa mengunci pergerakannya.
"Kau mau apa" ucap Milan dengan suara meninggi dengan tubuh lemas nya.
Fino memajukan wajahnya semakin dekat dan semakin dekat hingga deru nafas keduanya menerpa wajah mereka masing-masing. Jantung Milan sudah tidak bisa lagi dikondisikan bahkan ingin melompat dari tempatnya. Bahkan hidung mereka mulai bersentuhan karena saking dekatnya.
"Aku ingin memberi pelajaran" ucap Fino dingin lalu mengangkat tubuh Milan.
"Hei turunkan aku" teriak Milan sambil memberontak di gendongan suaminya.
Fino lalu menghempaskan tubuh Milan di atas tempat tidur. Milan dengan cepat duduk di tempat tidur dengan perasaan gugup dan takut melihat sosok Fino yang tidak biasanya.
Fino kembali merangkak naik ke tempat tidur, ia lalu menarik dengan paksa jaket Milan eh tidak-tidak jaket David, dan membuangnya ke sembarang arah. Fino kembali mencekal kedua tangan Milan, sementara Milan sudah tidak memiliki tenaga ekstra untuk melawan Fino.
Dengan wajah datar Fino merobek pakaian Milan hingga menampilkan pakaian dalam Milan.
"Kau kurang ajar Fino" teriak Milan yang tidak terima perlakuan Fino kepadanya.
Fino hanya diam, ia kembali merobek pakaian dalam Milan, hingga tersisa hanyalah bra yang masih menutupi g**** k***** istrinya. Fino sempat menghentikan aksinya, iapun kembali mengeluarkan belati kecil dari saku celananya, dengan seksama Fino merobek bra milik istrinya menggunakan pisau belati nya, dikarenakan ia sama sekali tidak tahu cara membukanya apalagi merobeknya menggunakan tangan.
Milan hanya mampu menutup matanya, dengan perasaan marah diperlakukan seperti itu. Fino kembali membuka celana Milan, hingga tubuh istrinya benar-benar polos tanpa sehelai benangpun. Fino melepaskan cekalan nya dari tangan sang istri, ia pun turun dari tempat tidur.
Dengan mata memerah dengan penuh amarah, Milan dengan cepat menarik selimut di sampingnya untuk menutupi tubuh polosnya. Fino kembali naik ke atas tempat tidur, sambil menenteng kaos oblong dan boxer miliknya.
"Pakai ini" ucap Fino dingin sambil melemparkan pakaiannya ke wajah Milan.
Milan mengepalkan tangannya di bawah selimut, namun ia tetap menerima pakaian yang diberikan oleh Fino, dengan kesal iapun langsung memakai pakaian Fino tanpa masuk ke dalam toilet.
Fino menyandarkan tubuhnya di badboard tempat tidur sambil menatap Milan yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.
"Berbaringlah" ucap Fino yang masih saja menatap Milan.
Kau bahkan masih ingin melawan ku dengan tubuh menggigil mu. Bodoh!, bahkan kau masih saja mengenakan pakaian basah, lihatlah kau jadi masuk angin gadis tua. Sehingga dengan terpaksa aku melakukan hal gila kepadamu. Batin Fino sambil menatap Milan.
Milan berdengus kesal, iapun mengikuti perintah Fino, takutnya Fino kembali berbuat yang tidak-tidak kepadanya. Milan lalu membaringkan tubuhnya sambil memunggungi Fino. Sedangkan Fino kembali mendekati Milan. Lagi-lagi Milan terkejut dengan tindakan Fino yang tengah duduk di belakangnya sedang membuka bagian belakang pakaiannya.
"Mau apalagi kau" ucap Milan dengan suara meninggi, saat pakaiannya kembali di naikkan oleh Fino bahkan memegangi lengan Fino
"Eeh apa itu"ucap Milan kaget, karena sedikit geli saat tangan Fino memberikan minyak baby kepermukaan punggungnya, di tambah benda logam mengenai permukaan kulitnya.
"Diamlah" ucap Fino yang tengah asik melakukan kerokan di tubuh istrinya.
Dia mengerok ku kan, apa dia sudah gila melakukan hal konyol ini kepada ku. Batin Milan.
Terlihat permukaan kulit Milan sudah memerah habis di kerok oleh Fino.
Kemudian Fino, memilih membaringkan tubuhnya di samping istrinya, setelah selesai melakukan kerokan di tubuh Milan.
"Jangan lupa habiskan makanan di meja itu" ucap Fino yang sudah memejamkan matanya.
Fino lalu memejamkan matanya, namun pikirannya masih saja tertuju pada tubuh polos istrinya. Sementara Milan menjadi serba salah, haruskah ia berterima kasih kepada lelaki yang dibencinya atau lebih mengedepankan egonya.
Sial!, kejadian tadi masih terngiang-ngiang di pikiranku. Batin Fino.
Bersambung.....
Mohon maaf bila alurnya tidak sesuai 🙏
Maaf yang sebesar besarnya jika author jarang update episode terbaru cerita ini.
Sungguh aku bukanlah author rajin yang harus update setiap hari, jadi jika kalian suka cerita ini, di mohon bersabar ya teman-teman.
Terima kasih 🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Nabila
Ceritannya Keren
2023-03-23
1
Liana Aji
suami yg aneh..
2022-03-28
0
Dena Regar
pingin kasih kopi sianida buat fino
2021-10-13
0