Milan berhasil melayangkan tamparan di wajah arogan Fino, entah mengapa keberanian nya muncul seketika. Sementara Fino memegangi wajahnya dengan tatapan membunuhnya. Karena ia tidak terima di tampar oleh wanita di hadapannya.
Fino langsung mendorong tubuh Milan, kemudian ia pun menindih tubuh Milan dengan wajah bengisnya. Pandangan mata keduanya beradu dengan tatapan kebencian.
“Beraninya kau menamparku hah”teriak Fino yang diselimuti kemarahan, bahkan mencengkram dengan kuat dagu Milan.
Milan hanya menatap tajam Fino, cengkraman kuat tangan Fino di dagunya tak mempengaruhinya untuk tidak melawan lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya.
“Aku sudah tidak tahan mendengar ucapanmu tuan, yang selalu saja menghinaku!”ucap Milan dengan suara yang tak kalah jauh dengan suara Fino.
“Apa kamu bilang hah!”ucap Fino dengan suara meninggi yang siap melahap habis Milan, bahkan belati kecil kesayangannya sudah ia keluarkan dan siap mencincang-cincang tubuh Milan.
Milan pun merasa gugup dan ketakutan melihat wajah Fino memerah dengan kemarahan yang semakin membuncah. Sorot mata Fino dengan tatapan membunuhnya membuat nyali Milan semakin menciut, siapapun yang melihat kemarahan Fino pasti akan gemetaran hingga ketakutan.
Sedangkan penghuni atau tetangga tendanya terlonjat kaget mendengar pertengkaran dari balik tenda yang lumayan besar. Namun mereka tetap acuh dan tidak ingin mencampuri urusan di sekitarnya, mereka pun bersifat individualisme.
“Ingat baik-baik, aku adalah tuan mu...jadi jangan pernah menentang ku hah!. Jika tidak, kau akan tahu sendiri akibatnya”ucap Fino sambil mencengkram kuat dagu Milan. Ia pun melepaskan tangannya saat melihat sorot mata Milan yang menandakan bahwa ia meringis kesakitan. Karena pancaran mata seseorang mampu membuktikan apakah ia sedang berbohong atau tidak.
“Aku bisa saja memotong tanganmu dan merobek mulutmu ini, agar kau menjadi gadis cacat”ucap Fino dengan sekali ancaman mematikannya, yang kini beralih menjelajahi wajah Milan dengan belati kecilnya.
Milan pun memberontak untuk lepas dari Fino dengan rasa sesak di dadanya, namun Fino semakin mempersempit pergerakan Milan dengan teknik kuncian yang berhasil ia lakukan. Milan tidak terima dengan perlakuan Fino. Ia pun semakin memberontak dan memberikan sumpah serapah kepada Fino.
“Kau lelaki jah.....”
Fino berhasil membungkam mulut wanita yang ditindihnya, ia pun m***** habis bibir wanita yang berstatus sebagai istrinya. Sementara si wanita terus memberontak untuk lepas, sungguh pertahanannya pun roboh seketika, padahal ia sangat membenci lelaki yang selalu saja semena-mena terhadapnya. Cukup lama Fino menikmati bibir ranum istrinya, bahkan ia menuntut lebih dari ciuman mereka. Sedangkan Milan yang sudah kehabisan nafas dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Fino hingga ciuman mereka lepas.
“Huh huh huh” Milan pun ngos-ngosan seperti habis melakukan lari marathon.
“Bibir mu sepahit insang ikan”ucap Fino sinis sambil melap bibirnya dengan sapu tangannya, yang sudah duduk dengan gaya cool nya.
Sementara Milan memalingkan wajahnya sambil menghapus bekas ciuman mereka menggunakan pakaiannya dengan kesal. Ia pun tidak terima telah dicium oleh lelaki yang dibencinya.
Aku tidak terima, kau menciumku tuan Fino! Akkh..aku sangat membencimu. Batin Milan kesal dengan mata memerah dengan penuh kemarahan.
Fino memilih keluar dari tenda untuk menjernihkan pikirannya, sehabis melakukan pertengkaran dan berakhir mencium wanita yang selalu saja ia hina.
Chiko yang melihat batang hidung tuannya dengan cepat menghampirinya, karena ia pun mendegar pertengkaran di balik tenda tuannya.
“Apa nona Milan baik-baik saja tuan”ucap Chiko khawatir dan dengan cepat ingin masuk kedalam tenda tuannya untuk memastikan nona Milan.
“Apa yang ingin kau lakukan”ucap Fino sambil mencekal tangan Chiko.
“Saya hanya ingin memastikan keadaan nona Milan”ucap Chiko, sambil menatap tenda di hadapannya.
“Dia masih bernyawa”ucap Fino angkuh.
“Syukurlah kalau begitu tuan”ucap Chiko sambil menghembuskan nafasnya dengan lega.
Sore harinya....
Semua orang mulai membuka tendanya dan membersihkan lokasi camp bekas sampah dari plastik makanan dan minuman mereka. Mereka semua bergotong-royong membersihkan lokasi tersebut guna untuk menjaga kebersihan lokasi camp. Karena tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali melakukan camp di lokasi tersebut. Rupanya camp mereka berakhir 2 hari satu malam.
Setelah selesai, mereka lalu berjalan berbondong-bondong menuju kendaraan mereka masing-masing. Tampak Milan masih berjalan di belakang bersama kedua pelayan wanita di kediaman Fino. Sementara dibelakangnya lagi terlihat sosok si ABG Tua berjalan dengan napas ngos-ngosan, maklum tenaganya sudah kendur tapi tetap saja berjiwa muda. Milan lalu mempercepat langkahnya, agar tidak bertegur sapa dengan si ABG Tua mesum.
Fino sudah duduk tenang di dalam mobilnya, sambil memainkan ponselnya. Sudah lima menit lebih ia menunggu kedatangan Milan yang tak kunjung datang.
“Jika lewat dari 3 menit!, wanita itu belum datang, tinggalkan saja Chiko”ucap Fino tegas yang tidak beralih dari layar ponselnya.
“Ehh baik tuan”ucap Chiko terbata.
Mana mungkin ia tega meninggalkan nona Milan di tempat tersebut. Sungguh ia tidak habis pikir dengan tingkah laku tuannya yang semakin aneh dan mulai bertingkah di luar logika.
Akhirnya nona Milan datang juga. Batin Chiko sambil tersenyum.
Saat melihat kedatangan Milan bersama kedua pelayan wanita.
Milan membuka pintu mobil dengan cepat, kemudian menutupnya dengan keras. Sebenarnya ia ingin satu mobil dengan kedua pelayan wanita, namun mobil tersebut sudah penuh dengan tambahan beberapa anggota the Tiger yang ikut melakukan pengawalan kepada ketua mereka.
“Kau ingin merusak pintu mobilku hah!” ucap Fino kesal, karena ia pun terkejut dengan tindakan Milan yang menutup pintu mobilnya dengan sangat keras.
Sedangkan Milan yang duduk di belakang hanya diam dan tampak acuh, ia tidak ingin berdebat dengan Fino.
“Asal kau tahu, sampai kapan pun kau tidak akan mampu untuk membeli mobil seperti ini” ucap Fino sambil tersenyum merendahkan.
Chiko yang duduk di bagian kemudi, hanya mampu geleng-geleng kepala sambil menggarut kepalanya yang tidak gatal mendengar tutur kata tuannya.
Sultan mah bebas, bebas menghina siapapun termasuk istrinya. Batin Chiko.
Mobil mereka pun melaju dengan suasana hening tanpa adanya obrolan. Milan hanya mampu menatap pepohonan hijau yang berjejer di pinggir jalan dengan suasana hatinya begitu kacau. Ia berkali-kali menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.
Fino duduk dengan wajah ditekuk. Ia masih kesal saat kejadian di camp tadi, dimana David dengan terang-terangan nya mengakui Milan sebagai kekasihnya, padahal Milan mengelak sejadi-jadinya bahwa dia hanya baru beberapa hari bertemu, akan tetapi semua orang sama sekali tidak percaya kepadanya, bahkan beberapa dari mereka mengolok-olokan David dan Milan sebagai pasangan baru yang masih malu-malu kucing. Bahkan Fino mengepalkan tangannya yang sudah tersulut emosi untuk menghajar David. Untungnya Chiko menghentikannya, ditambah logikanya kembali bekerja dengan baik untuk tidak membuat citranya menjadi buruk dihadapan rekan bisnisnya hanya karena seorang wanita.
“Berhenti Chiko”ucap Fino dingin.
Seketika itu Chiko menghentikan laju mobil dan mendengarkan ucapan tuan Fino.
“Kau turun”ucap Fino kesal sambil menunjuk Milan dengan telunjuknya.
Sedangkan chiko terbelalak kaget dengan ucapan tuannya, sungguh tega tuannya menyuruh istrinya turun di jalanan sepi yang mulai gelap dengan awan mendung yang bertanda akan turunnya hujan.
Tanpa membantah Milan lalu turun dari mobil dan tak lupa membawa ranselnya.
“Jalan Chiko”.
“Tuan bagaimana mungkin kau setaga itu kepada nona...”
“Cepat jalan, aku bilang cepat jalan hah!”ucap Fino dengan suara meninggi yang benar-benar kesal.
Chiko lalu melajukan mobilnya sambil menatap ke arah kaca spion mobil untuk melihat nona Milan yang masih berdiri dengan pandangan lurus ke depan.
Aku bersumpah tuan, kau akan menyesal dengan apa yang kau lakukan terhadap nona Milan. Sungguh aku benar-benar kasihan kepada nya.
Milan hanya mampu menatap kepergian mobil Fino. Hatinya begitu sesak bahkan ia mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan yang begitu marah.
"Aku sangat membencimu tuan Fino" teriak Milan dengan suara keras, bahkan urat syaraf di wajahnya menonjol dengan jelas akibat kemarahannya.
Bersambung......
Mohon maaf jika penulisannya masih banyak typo yang bertebaran 🙏
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman 🤗
Biar aku semangat nulisnya 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Dewi Nurlela
ntar kau bucin fino
2022-01-30
0
Nuah Lira
buat Fino menyesal thor
2021-10-28
0
Dena Regar
fino kau manusia ygtak punya hati,kenapa kau harus menikahi milan kalau kau hanya menyiksa,menyakiti dan menghinanya dia tidak minta tuk kau nikahi.kau yg selalu memaksanya 😡😡😡😡😡😡😡sebellll
2021-10-13
0