Milan hanya mampu menatap kepergian mobil Fino. Hatinya begitu sesak bahkan ia mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan yang begitu marah.
"Aku sangat membencimu tuan Fino" teriak Milan dengan suara keras, bahkan urat syaraf di wajahnya menonjol dengan jelas akibat kemarahannya.
"Kau pikir aku wanita lemah yang bisa kau tindas!. Asal kau tahu tuan Fino! aku pun bisa membalas mu dengan caraku sendiri" ucap Milan dengan suara meninggi sambil terus memperhatikan mobil Fino yang mulai menjauh.
Milan memilih menepi di pinggir jalan, dikarenakan beberapa kendaraan melintas di daerah itu dengan kecepatan tinggi yang seolah ingin menabraknya dengan kondisi di sekitar mulai gelap. Ditambah cuaca yang semakin mendung, yang menandakan akan turunnya hujan.
Milan terus saja melangkahkan kakinya menyusuri jalanan aspal tanpa adanya cahaya penerangan dari lampu jalan. Ia pun tidak peduli dengan suasana di sekitarnya yang sudah gelap gulita di tambah hujan mulai turun dengan derasnya mengguyur muka bumi.
Milan memilih berlari melewati derasnya hujan dengan perasaan yang berkecamuk, bahkan tubuhnya sudah basah kuyup, sungguh malang nasib Milan, entah dimana ia akan berteduh. Namun ia masih berusaha keras berlari mencari tempat untuk berteduh.
Untungnya keberuntungan masih berpihak kepadanya, sebuah gubuk bambu di pinggir jalan yang sudah reok menantinya di depan mata. Milan dengan cepat memilih berteduh di gubuk bambu.
"Tuhan masih berbaik hati kepada ku, karena masih ada gubuk untukku berteduh" ucap Milan sambil menggosokkan tangganya untuk mengurangi hawa dingin di tubuhnya dengan tubuh yang mulai menggigil.
"Coba dari awal aku tahu akan seperti ini, mendingan aku berdiam diri di rumah lelaki aneh itu, huuu huuu" ucap Milan sambil menggigil kedinginan.
"Tapi saat ini, aku sudah bertekad untuk tidak kembali ke kediaman lelaki aneh itu. Biarkan dia bersenang-senang atas kepergian ku, dan pastinya dia akan sangat senang, bebas dan sesukanya memilih gadis muda untuk dia nikahi. Bahkan aku tidak masalah jika menceraikan ku secepatnya, pasti dia akan bahagia di atas penderitaan ku. Aku ingin sekali menghajarnya habis-habisan hingga wajah menyebalkan nya itu tidak songong lagi, hufff" umpat Milan sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aku bahkan ingin sekali memakan lelaki aneh itu" ucap Milan sambil menggepalkan tangannya disertai gertakan giginya untuk memakan orang tersebut, saking marahnya yang kini tengah terjebak hujan.
Ciiiiiiiiitttt
Sebuah mobil tua klasik berhenti tepat di depan gubuk bambu. Tampak seorang lelaki turun dari mobil, dan salah satu tangannya memegang sebuah payung hitam.
Milan sempat memicingkan matanya melihat sosok lelaki yang tidak terlalu jelas wajahnya yang mulai mendekat ke arahnya.
"Rupanya kau disini, dari tadi aku mencari mu di area camp, untuk mengajakmu pulang bareng dengan ku" ucap lelaki tersebut sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Kau lagi, aku tidak ingin bertemu denganmu"ucap Milan ketus sambil menatap jengah lelaki di samping nya dengan tubuh menggigil.
"Ok, aku minta maaf soal tadi, sampai membuat mu tidak nyaman dengan bully-an teman-teman ku" ucap David sambil mengatupkan kedua tangannya untuk meminta maaf dengan wajah memelas.
"Pergilah aku ingin sendiri" ucap Milan ketus dengan suara sedikit menggigil.
“Eeh” Milan tercengang melihat reaksi David yang langsung membuka jaketnya. Kemudian memasangkan di punggungnya.
“Aku tidak tega melihatmu kedinginan, bukankah kita berteman baik? Jadi sepatutnya aku membantu teman baikku ini”ucap David sambil tersenyum.
“Aku tidak membutuhkan bantuanmu tuan”ucap Milan yang ingin melepas jaket David.
“Stop! Kau bisa saja mati kedinginan di tempat ini. Lihatlah tubuhmu sudah menggigil, jadi turunkan egomu teman dan ikutlah bersamaku pulang”ucap David sambil menghentikan Milan.
Milan hanya mampu menatap jengah David, kemudian ia pun berjalan menuju mobil David.
“Sebaiknya kita pergi dari tempat ini”ucap David yang mengekor dibelakang Milan sambil menggunakan payung.
Milan lalu masuk ke dalam mobil David dan duduk tenang. Sedangkan David sempat geleng-geleng kepala, namun tersenyum setelahnya saat melihat Milan yang tampak patuh memasuki mobilnya. David kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Disepanjang perjalanan tak ada obrolan diantara keduanya, hanya derasnya air hujan yang bersenandung riang di indera pendengaran. Sedangkan Milan masih saja dipenuhi rasa kesal dan marah kepada tuan Fino.
Huachimm..
Berkali-kali Milan bersin-bersin di dalam mobil yang melaju kencang.
“Sepertinya kau masuk angin Mil”ucap David yang angkat bicara dan begitu khawatir dengan Milan.
Milan hanya melirik David dengan sorot mata yang begitu tajam.
“Berhentilah memperhatikanku tuan, karena aku bukanlah wanita yang haus akan perhatian seorang lelaki dan jangan bersikap baik kepada ku tuan, karena aku tidak membutuhkan semua itu”ucap Milan ketus, lalu mengalihkan pandangannya.
“Baiklah aku mengerti yang jelas aku membantumu dengan tulus”ucap David, lalu memilih fokus mengemudikan mobilnya. Hingga melewati permukiman penduduk.
Sementara Mobil yang membawa Fino terdampak kemacetan akibat derasnya hujan yang mengguyur daerah itu hingga mengakibatkan lonsor bahkan banyaknya pohon besar yang tumbang di pinggir jalan hingga menghalangi jalan para pengemudi, sehingga akses jalan tersebut di tutup sementara waktu.
“Sial!, aku tidak suka di situasi seperti ini”ucap Fino sambil berdengus kesal.
Dikarenakan hampir satu jam lamanya terjebak kemacetan, bahkan 2 truk di depannya menjadi korban dari pohon tumbang.
“Sabar tuan Fino” ucap Chiko, mau bagaimana lagi mereka berada di tengah-tengah kemacetan.
“Maju susah mundur pun susah, sebaiknya kita cari saja penginapan tuan”ucap Chiko yang sudah bosan terjebak kemacetan.
“Hemm”
Fino sama sekali tidak punya pilihan lain dan benar juga yang diucapkan Chiko untuk mencari penginapan di daerah tersebut.
“Di depan sana ada penginapan tuan”ucap Chiko yang mampu membaca papan di halaman depan rumah dua lantai.
Chiko lalu menepikan mobil tuannya, setelah itu ia pun turun dari mobil menggunakan payung, lalu berlari kecil untuk membukakan pintu mobil untuk tuannya. Fino lalu turun dari mobil sedangkan Chiko dengan sigap memayunkan tuannya dan tak lupa mengunci mobil. Hanya barang penting yang mereka bawa.
Sementara David memilih menghentikan mobilnya sejenak saat melihat di depan sana terjadi kemacetan yang lumayan panjang. David kemudian membuka kaca mobilnya untuk menanyakan perihal kemacetan yang terjadi, kepada salah satu pengemudi motor di samping mobilnya yang memilih putar arah.
“Permisi pak, mengapa terjadi kemacetan di depan sana”tanya David kepada salah satu pengendara motor.
“Di depan sana terjadi longsor mas dan beberapa pohon tumbang menghalangi jalan bahkan 2 truk pengangkut barang menjadi korban akibat pohon tumbang dan besar kemungkinan akses jalan akan di tutup. Sebaiknya mas putar arah saja”ucap pengendara motor tersebut.
“Oh iya, makasih mas”ucap David lalu memukul stir mobilnya.
Milan hanya diam dengan wajah yang terlihat pucat.
“Sebaiknya kita cari penginapan, tidak mungkin kita menginap di dalam mobil ini”ucap David.
“Terserah kamu saja”ucap Milan dengan wajah pucat nya.
David kembali memanggil pengendara motor tadi.
“Apakah ada penginapan di sekitar sini pak”tanya David pada pengendara tadi.
“Ada mas, tepatnya di depan sana kalau masih kosong. Soalnya banyak pengendara yang mencari-cari penginapan di daerah ini mas akibat kemacetan ini”ucap pengendara motor tersebut.
“Ya sudah pak, kalau begitu saya ingin meminta tolong kepada bapak untuk membawa teman saya ke penginapan yang bapak maksud. Tidak mungkin kami berjalan jauh ke tempat itu apalagi masih hujan begini. Tenang pak,saya akan membayar bapak berapapun”ucap David.
“Baiklah mas, saya siap mengantar mas dan temannya”ucap pengendara motor tersebut.
David turun dari mobil terlebih dahulu sambil menggunakan payung lalu membukakan pintu mobil untuk Milan. Milan pun turun dari mobil dengan wajah pucat dan tubuh menggigil. David kemudian menuntun Milan ke pengendara motor tadi menggunakan payungnya.
“Naiklah, nanti aku menyusul mu”ucap David lalu menyerahkan payungnya.
Milan lalu naik di motor tua si pengendara dan menerima payung David. Motor si pengedara melaju melewati kemacetan dengan menyelip kendaraan lainnya.
Milan dan David kini tiba di sebuah penginapan yang pengendara motor tadi maksud, mereka terlebih dahulu memesan 2 kamar kosong. Namun penjaga penginapan tersebut sempat adu mulut dengan David bahwa kamar yang kosong hanya tersisa 1. Tak berselang lama kemudian Fino dan Chiko pun tiba di penginapan tersebut yang hanya berjalan kaki. Chiko terlebih dahulu memesan kamar untuk tuannya. Sementara Fino memilih duduk di kursi tunggu, Fino sempat memicingkan matanya melihat sosok wanita yang sangat ia kenal tengah menyandarkan punggungnya yang sedang duduk di sampingnya.
Penjaga hotel tersebut sempat membungkukkan badannya melihat kedatangan Chiko.
“Selamat datang tuan Chiko”ucap penjaga wanita tersebut.
“Hei, kau bahkan kembali melayaninya, pesanan kamar ku belum selesai hei nona”ucap David marah.
“Kau bekerja di sini”tanya david kepada wanita tersebut.
“Tidak tuan, ini penginapan ibuku”ucap wanita muda tersebut dengan ramah.
Kemudian muncullah wanita paruh baya dengan pakaian tidurnya dengan banyaknya rol rambut di kepalanya sambil menghisap sebatang rokok. Wanita paruh baya itu membulatkan matanya saat melihat sosok lelaki yang sangat ia kenal, dengan cepat iapun membuang sebatang rokoknya lalu menginjaknya. Terus menghampiri lelaki yang sangat-sangat ia kenal.
“Selamat datang tuan Fino di gubuk sederhana kami, ini merupakan sebuah kehormatan kami hingga tuan menghampiri gubuk kami”ucap wanita paruh baya tadi sambil membungkukkan badannya bersama putrinya dengan penuh hormat.
Fino hanya menatap wanita paruh baya di hadapannya yang sama sekali ia tidak mengenalnya.
“Saya tidak mengenal kamu”ucap Fino dengan suara barithon.
Sedangkan Milan yang berada di sampingnya dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Fino sambil mengepalkan tangannya.
“Saya Nonna, mantan pelayan tuan Fino dan ini putri saya yang masih kecil dulu yang sukanya nangis di kediaman tuan ”ucap Nonna dengan sedikit senyuman dan tak lupa memperkenalkan putrinya.
“Oh, memang saya tidak mampu mengingat semua para pelayan di kediaman saya”ucap Fino datar.
“Bu Nonna, kami butuh dua kamar kosong”ucap Chiko dan tak sengaja pandangannya tertuju ke pada Milan.
Nona Milan, kau juga di sini. Batin Chiko.
“Siap tuan-tuan”ucap Nonna, lalu mendorong putrinya untuk menyiapkan kamar kosong.
“Hei tunggu, kami lebih dulu memesan kamar di penginapan ini. Kau tidak boleh curang seperti ini bu”ucap David yang tidak terima dengan pelayanan penginapan tersebut.
“Ya kami lebih dulu berada di tempat ini dibandingkan mereka”ucap Milan yang mulai bangkit dari duduknya tanpa menatap ke arah lelaki di sampingnya.
“Mohon maaf kamarnya sudah penuh tuan dan kekasihnya”ucap Nonna.
“Ini semua karena kalian berdua”ucap David geram.
“Sebaiknya kita cari saja penginapan yang lain. Ayo mil”ucap David yang mulai kesal.
“Hemm, baiklah akupun tidak ingin berlama-lama di tempat ini”ucap Milan yang terlihat kuat di depan lelaki yang sangat ia benci dengan tubuh menggigilnya.
Fino hanya duduk di kursi sambil menatap tajam Milan dan David yang mulai berjalan beriringan.
“Tunggu nona Milan, hujannya semakin deras sebaiknya nona gunakan saja kamarku. Sepertinya anda masuk angin. Akupun bisa tidur di kursi ini”ucap Chiko yang merasa kasihan kepada Milan.
Milan lalu menghentikan langkahnya,
“Untuk apa kau berikan kamarmu kepada wanita itu bodoh”ucap Fino ketus.
“Saya bisa tidur dimanapun tuan”ucap Chiko.
“Maaf saya tidak bisa, karena saya pun datang bersama teman saya yang sangat tulus membantu saya. Apakah saya harus meninggalkannya hanya karena sebuah kamar”ucap Milan yang berhasil menyindir halus lelaki yang sangat ia benci.
Fino pun menggepalkan tangannya mendengar ucapan Milan yang jelas sekali menyindirnya.
Milan kembali berjalan beriringan bersama David, namun langkahnya kembali terhenti saat dihadang lima orang perampok menggunakan penutup kepala menggunakan senjata tajam di area pintu masuk penginapan tersebut.
Salah satu dari mereka sudah menghunus pisau belati ke arah Milan. Tapi sebelum ia dapat menghunuskan, dari arah belakang Fino dengan cepat memukul tangannya, hingga pisau belati terlepas dari pegangang si perampok.
"Kalian masih menggunakan pisau seperti ini" ucap Fino lalu berjongkok mengambil pisau belati yang terjatuh dan memainkan di hadapan para perampok.
Salah satu dari mereka, kembali menghunuskan kapak ke arah Milan. Namun Fino dengan cepat melayangkan tendangan kepada perampok tersebut hingga senjatanya terjatuh. Fino lalu menarik tangan Milan hingga menubruknya, iapun seolah mendekap Milan. Milan pun mendongak menatap tajam Fino, sementara Fino menundukkan pandangannya sambil tersenyum sinis. Para perampok kembali menyerang Fino. Namun Fino tidak tinggal diam. Salah satu tangannya mendekap tubuh Milan sementara tangan satunya mengeluarkan pistolnya lalu menembaknya ke arah para perampok.
Dor..
Satu persatu para perampok mendapatkan timah panas di bagian lutut dan pahanya. Fino berhasil melumpuhkan para perampok, sambil mendekap tubuh istrinya yang menggigil. Sementara David hanya mampu menjadi penonton dengan tatapan tercengang.
Nonna beserta putrinya lalu menghampiri mereka sambil bertepuk tangan, kemudian ia pun menghubungi pihak keamanan di daerah tersebut. Dan tak berapa lama kemudian pihak keamanan bersama Masyarakat sekitar membawa para perampok tersebut ke pihak yang berwajib.
"Terima kasih tuan Fino, karena sudah mengamankan para perampok yang selalu beroperasi di daerah ini" ucap Nonna dengan perasaan lega, karena terbebas dari para perampok.
Milan begitu marah dengan Fino yang berhasil mendekapnya, dengan sekuat tenaga ia pun menginjak kaki Fino. Namun Fino masih setia mendekapnya.
"Lepaskan tanganmu tuan" ucap Milan dengan suara bergetar, disertai kemarahan dengan tatapan tajamnya.
Fino sama sekali tidak mendengar ucapan Milan.
"Sebaiknya kalian ngopi dulu" ucap Nonna kepada mereka.
Sementara Chiko dan putri Nonna sempat bisik-bisik untuk melakukan rencana kepada tuan Fino. Sedangkan David tampak tidak suka melihat kedekatan Fino dengan Milan.
Bersambung......
Mohon maaf baru update, soalnya banyak kesibukan author akhir-akhir ini. Jadi harap di maklumi ya teman-teman 🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Murni Sakina Ritonga
ciee fino cemburu sama David
2021-11-03
0
Dena Regar
milan pergilah bersama orang yg menganggapmu manusis.
2021-10-13
0
Meylin
g seruuu ah klo g jd minggat c milan tar di hina2 lgi lo
2021-10-07
1