Milan memasuki kamar suaminya dengan perasaan campur aduk. Untuk kedua kalinya ia memasuki kamar itu. Milan hanya mampu menunduk saat tatapan Fino terus-menerus mengarah kepada nya yang sedang duduk di pinggir tempat tidur.
"Hei kau, lakukan tugasmu sebagai seorang istri. Cepat layani aku dengan baik" ucap Fino tegas dengan tatapan tajam.
"Apa yang harus saya lakukan tuan Fino" ucap Milan sambil mendongak menatap tajam suaminya.
"Sediakan aku air hangat di dalam wadah. Karena ini sudah larut malam, aku tidak mungkin mandi di jam seperti ini. Cepat kerjakan dan tidak pakai lama" ucap Fino tegas yang memerintah Milan.
Dasar lelaki aneh, selalu saja memerintah. Awas saja kamu, masalah kita belum selesai. Batin Milan sambil memalingkan wajahnya.
"Baik".
Milan lalu mengerjakan yang diperintahkan oleh suaminya. Ia pun membawa wadah yang berisi air hangat yang sempat ia siapkan di dapur. Fino kembali menatap nya dengan tajam saat memasuki kamarnya. Milan lalu berjongkok meletakkan wadah yang berisi air hangat di samping kaki Fino.
"Simpan wadah itu di sini" ucap Fino sambil menunjuk di bawah kakinya.
Milan kembali mengikuti instruksi fino tanpa membantah, meletakkan wadah itu di bawah kaki suaminya. Fino dengan cepat memasukkan kedua kakinya di dalam wadah tersebut dengan wajah songong nya.
"Ambil satu wadah lagi" ucap Fino angkuh.
Milan pun mengerutkan keningnya mendengar ucapan Fino yang sedang menguji kesabarannya.
"Mau membantah hah!" ucap Fino dengan suara meninggi.
Milan mengepalkan tangannya, lalu berbalik badan dan kembali berjalan menuju dapur. Emosi nya ia tahan, ia tidak ingin bertengkar lagi dengan Fino. Apalagi ibu mertuanya sedang berada di kediaman suaminya.
Sementara Fino tersenyum sinis, lalu ia pun membuka jaketnya dan melemparnya ke sembarang arah, kemudian membuka kancing kemejanya satu persatu dan kembali melemparnya ke sembarang arah.
Milan kembali masuk ke dalam kamar, iapun membelalakkan matanya melihat penampilan Fino yang bertelanjang dada, yang sedang memamerkan tubuh atletisnya. Dengan cepat ia pun kembali menundukkan pandangannya.
Milan berjalan sangat hati-hati membawa wadah menghampiri Fino. Tanpa ingin melihat apalagi memandang tubuh atletis suaminya yang super arrogan dan nyebelin. Milan terus saja menunduk dan tiba-tiba saja ia tersandung membuat wadah berisi air hangat melayang di udara hingga....
Syuurrrr.
"Akkkh, apa kau ingin membuat aset berharga ku melepuh hah!" teriak Fino kesetanan yang langsung berdiri dengan wajah memerah yang sudah diselimuti amarah, dengan celana basah.
"Maafkan saya tuan Fino, saya tidak sengaja" ucap Milan panik dengan wajah pucat dan bergidik ngeri melihat kemarahan suaminya.
Bahkan wadah dibawah kaki Fino pecah akibat ulahnya. Fino kemudian berjalan tergesa-gesa menuju toilet untuk memastikan aset berharga baik-baik saja atau tidak. Saat di ambang pintu toilet, Fino kembali menghentikan langkahnya.
"Persiapan diri mu, karena aku ingin memastikan apakah aset berharga masih berfungsi atau tidak" ucap Fino dingin lalu masuk ke dalam toilet.
Sementara wajah Milan semakin pucat, dan kakinya sedikit gemetaran mendengar ucapan Fino. Ia pun takut anu suaminya terjadi kenapa-kenapa akibat ulahnya yang bisa saja merusak masa depan suaminya.
Ya Tuhan ampunilah aku, aku sungguh tidak sengaja menumpahkan air panas itu.
Bagaimana ini, bisa saja tuan Fino membunuhku malam ini, karena tahu bahwa aku tidak suci lagi.... aduhhh.....aku sungguh takut. Batin Milan dengan tubuh lemas.
Milan lalu memungut jaket dan kemeja suaminya, kemudian meletakkannya di keranjang kotor. Ia pun kembali mengambil pel untuk membersihkan lantai basah dan membereskan wadah yang membuatnya mendapatkan mala petaka.
Setelah selesai, Milan hanya mampu bersandar di lemari pakaian dengan pikiran yang mulai kemana-mana.
Sementara Fino terpaksa melakukan ritual mandi dengan air hangat, ia pun tersenyum tipis karena aset berharga nya baik-baik saja. Memang air dalam wadah yang Milan bawa tidak terlalu panas, bisa dikatakan air hangat yang pas untuk mandi. Hanya saja ia terlalu lebay dihadapan Milan dan berhasil membuat Milan menjadi panik dengan wajah pucat nya.
Fino lalu menyambar handuk yang tersedia di dalam toilet, lalu melilitkan di pinggang nya.
Cklek
Pintu toilet terbuka yang menampilkan sosok Fino terlihat segar di ambang pintu.
Jantung Milan kembali memompa dengan cepat yang diselimuti ketakutan, saat Fino berjalan memasuki ruang ganti dan terus berjalan ke arahnya untuk membuka lemari pakaian.
Fino hanya memasang wajah datar, lalu membuka lemari pakaian untuk mengambil piyama tidur. Milan yang berada di samping nya yang sedang bersandar di lemari pakaian hanya mampu menunduk. Fino mulai memakai piyama tidurnya.
"Apa yang kau lakukan di situ hah, cepat ganti pakaian mu dan ingat...aku tidak suka menunggu lama" ucap Fino dengan tegas yang tidak ingin di bantah.
"Ba-baik tuan" ucap Milan dengan suara berat nya.
Milan dengan cepat membuka satu persatu lemari pakaian untuk mencari pakaiannya siapa tahu sudah tersedia di lemari itu. Dan benar saja dugaannya sebagian pakaiannya sudah terisi di lemari itu. Milan langsung menyambar piyama tidur yang sedikit seksi dan dengan cepat memakainya.
Ia pun berjalan cepat menyusul suaminya.
Fino sudah berada di atas tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur sambil memeluk guling. Auranya semakin bersinar dengan penampilan yang selalu saja rapi dan wajah tampan sehingga membuatnya semakin sempurna di mata para wanita. Namun terkecuali dengan Milan yang sama sekali tidak pernah memuji ketampanannya.
Milan hanya berdiri di samping tempat tidur, ia kembali ingin bertanya kepada Fino apakah mereka akan tidur bersama. Akan tetapi, Fino mampu membaca pikiran nya, ia langsung mengangkat telunjuknya untuk menyuruh Milan naik ke atas tempat tidur.
Milan lalu merebahkan tubuhnya di pinggir tempat tidur yang memberikan jarak dari suaminya.
Fino mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Milan.
"Kau tahu, aku akan memberi mu pelajaran dan memastikan kondisi aset berharga ku masih berfungsi atau tidak" ucap Fino dengan seringai licik diwajahnya.
"Iya" hanya itu yang mampu Milan ucapkan dengan perasaan campur aduk, gugup, takut, berdebar dan masih banyak lainnya yang tidak mampu diucapkan dengan kata-kata.
Fino menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Milan. Jantung Milan semakin berdegup kencang saat tangan Fino sudah melingkar di pinggang nya bahkan seolah menariknya menghadap ke arah nya.
Milan kembali terlonjat kaget saat Fino merubah posisinya dan kini sedang menindihnya. Mata kelam keduanya kembali bertemu, namun Milan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Fino terus memperhatikan wajah Milan dibawah Kungkungan nya. Tak sengaja matanya tertuju pada bibir ranum Milan yang tampak menggoda iman. Fino hanya mampu menelan saliva nya berulang kali, ia pun tidak ingin membuang waktu lama.
Kedua tangan Milan sudah ia pegang dengan erat bahkan tubuh Milan sudah di kunci dengan baik, yang tidak mungkin lagi melawannya. Fino langsung mencium bibir ranum Milan dan ****** dengan rakus. Milan pun kembali memberontak namun teknik kuncian suaminya benar-benar luar biasa, sehingga ia hanya mampu memejamkan matanya dan pasrah menerima semua itu.
Fino terus memperdalam ciumannya yang sudah berlanjut beberapa menit, membuat Milan kehabisan nafas, sehingga ia pun kembali menghentikan aksinya. Wajah pucat Milan kembali memerah akibat ciuman g***s sang suami.
Bibir ranumnya kembali di bungkam oleh suaminya. Bahkan cekalan di kedua tangan Milan sudah lepas. Setelah puas menikmati bibir istrinya, Fino beralih mencium leher jenjang Milan, bahkan tangannya sudah liar masuk kedalam pakaian Milan.
Milan kembali tersadar dengan aksi suaminya yang semakin liar.
"Tolong hentikan tuan Fino. Bukankah kita akan bercerai"ucap Milan dengan tegas sambil meraih tangan Fino.
Fino tidak menghiraukan ucapan Milan, ia kembali melanjutkan perjalanannya di leher jenjang Milan.
"Berhenti tuan, aku bukanlah wanita yang pantas untuk tuan" teriak Milan, padahal ia merasa gugup dan ketakutan.
Sehingga Fino menghentikan perjalanannya sambil menatap manik mata istrinya.
"Aku tidak pantas untuk anda tuan, aku hanya wanita tua yang sering anda ejek" ucap Milan yang langsung memalingkan wajahnya.
"Mengapa kau berkata seperti ini, pantas atau tidak pantas aku yang tentukan hah!" ucap Fino tegas. "Kau itu milikku, jadi apapun yang akan kulakukan kepadamu terserah aku dan ingat... kau berada dalam genggamanku" ucap Fino kesal sambil menunjuk wajah Milan, karena sudah dihentikan aksinya.
Fino merasa tidak terima dengan ucapan Milan yang sama sekali tidak ingin di tiduri olehnya. Ia pun memilih menggeser tubuhnya dan kembali menyandarkan punggungnya menggunakan bantal di samping istrinya. Padahal hasratnya sudah diatas ubun-ubun, bahkan aset berharganya sudah meronta-ronta di bawa sana.
Milan langsung duduk dengan jantung yang terus saja memompa dengan cepat.
"Apa alasan mu berkata seperti itu" ucap Fino dingin dengan wajah kesalnya yang sedang menatap dengan tatapan membunuhnya.
"A-Aku....." tiba-tiba tenggorokan Milan seperti tercekik untuk menyatakan kebenaran tentang dirinya.
"Ayo cepat katakan hah!"teriak Fino sambil mencengkram kuat tangan Milan.
Membuat Milan meringis kesakitan menatapnya.
"Aku sudah tidak suci lagi" ucap Milan dengan sekali tarikan, bahkan matanya memerah mengucapkan rahasia tersembunyinya. Dan seolah ia merasa lega mengungkapkan rahasianya.
Fino hanya tersenyum sinis menatap Milan.
"Bagus, berarti kau sudah berpengalaman" ucap Fino dan langsung menarik tangan Milan hingga menubruk dada bidang nya. Pandangan mata mereka kembali bertemu.
Mengapa tuan Fino tidak murka dan langsung menceraikan ku..ada apa ini. Mungkin dia punya rencana lain. Batin Milan.
Aku akan meminta mu untuk melayaniku. Batin Fino.
"Kau ingin mati atau melayani ku" bisik Fino tepat di telinga Milan.
Deg
Bagaikan tersambar petir mendengar ucapan suaminya yang kedua-duanya tidak akan pernah ia pilih.
Fino sudah memegang pistol di salah satu tangannya sambil memainkannya.
Aku jadi bimbang harus memilih yang mana, tidak mungkin aku mati di tangan tuan Fino yang merupakan suamiku sendiri. Dan sudah sepatutnya aku untuk melayaninya karena dia sudah berstatus sebagai suamiku. Batin Milan.
Pada akhirnya Milan memilih untuk melayani suaminya. Milan pun mendekatkan wajahnya dengan kesal untuk mencium Fino lelaki yang sangat ia benci, sedangkan Fino tersenyum tipis melihat tingkah laku Milan. Ia pun kembali menyelipkan pistolnya di bawah bantal menggunakan salah satu tangannya.
Ternyata kau takut mati dan memilih untuk melayani ku.
Fino hanya diam di cium oleh Milan. Hasratnya sudah tidak terkendali, iapun langsung membalikkan tubuh Milan menjadi posisi dibawah dan kembali menuntun perjalanannya yang sempat terhenti menuju taman surgawi istrinya.
Malam yang begitu panjang untuk keduanya melakukan hubungan suami istri. Entah berapa ronde mereka melakukannya, atau bisa saja sampai tembus pagi, yang jelas hanya mereka yang tahu.
Bersambung......
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman 🤗 berupa like, love, comment dan vote kalian semuanya....
Biar aku semangat nulisnya ✍️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Anis Anis
akhir ya belah duren yg ke 2 heheh padahal milan sedang hamil
2022-01-04
0
Nuah Lira
aku pengen Milan tau kalo yg ngambil kesucian nya itu fini
2021-10-28
0
Miah Restiana
mlm pertama apa k dua bang vino.. pake ancaman lagi.. semangat lanjut thor
2021-10-27
0