"Kakak!!!"
Dari balik pagar, Victor memang sudah menunggu kedatangan Vanessa. Begitu melihat sebuah taksi berhenti di depan rumah, ia langsung memastikan bahwa memang kakaknya lah yang datang. Ia pun langsung menghambur memeluk Vanessa.
"Aku merindukan kakak," ucapnya.
"Vic, kamu sudah besar, bahkan tinggimu sudah sama denganku."
"Itu berarti kakak kurang gizi," ucap Victor sambil tertawa.
"Apa Papa ada di ...," Vanessa melanjutkan dengan lirikan matanya.
"Ya, Papa sudah tahu kakak akan kembali hari ini dan menunggu. Papa tidak pergi kemana mana."
Vanessa menghirup udara sebanyak banyaknya, seperti takut kalau saat ia berada di dalam, semua udara yang ia punya akan diambil secara paksa.
"Sini kak, aku bawakan," Victor meraih tas yang dibawa oleh Vanessa, kemudian menggandeng tangan kakaknya itu masuk ke dalam rumah.
Perasaan takut masih menyelimuti hati Vanessa, apalagi jika di sana juga menunggu ibu tirinya, mama Victor, sudah pasti ia akan kembali mendengar hinaan dan sumpah serapah yang keluar dengan mulus dari bibirnya.
Dengan menaiki beberapa anak tangga, akhirnya Vanessa sampai ke depan pintu masuk yang langsung berhubungan dengan ruang tamu.
"Duduklah dulu kak, aku akan memanggilkan Papa," Victor meletakkan tas milik Vanessa di atas sofa dan berjalan menuju kamar yang ditempati oleh kedua orang tuanya.
Victor pun kembali menghampiri Kakaknya setelah memanggil Papa Tio. Tak lama, dari dapur muncul pelayan yang membawakan minum untuk mereka.
"Minum dulu, kak," ucap Victor.
Karena rasa haus yang ia rasakan, Vanessa mengambil air yang disuguhkan dan mulai meminumnya.
"Ehemmm ...."
Vanessa yang mendengar suara tersebut, tiba tiba saja tersedak dan membuat dirinya terbatuk. Victor langsung mengambil alih gelas yang berada di tangan Vanessa dan meletakkannya di atas meja, kemudian mengusap punggung kakaknya itu.
Vanessa masih tertunduk, ia seperti ragu untuk mengangkat kepalanya.
"Masuk ke dalam kamarmu, Vic!" perintah Papa Tio.
"Ta ... tapi Pa."
"Papa bilang masuk!" suara Tio yang begitu tegas akhirnya membuat Victor tidak lagi membantah. Ia mengucapkan kata maaf dengan berbisik kepada Vanessa, kemudian berjalan ke kamarnya.
"Apa hidupmu baik?" tanya Tio saat hanya tinggal mereka berdua.
"Aku baik," jawab Vanessa.
"Baguslah. Aku juga melihatnya seperti itu. Dari penampilanmu, terlihat bahwa kamu tidak kekurangan uang."
Uang, uang, dan uang lagi. Apa sebenarnya yang Papa inginkan?
"Aku bekerja, tentu saja aku tidak kekurangan uang," ucap Vanessa.
"Apa pekerjaanmu hingga kamu bisa membayar tunggakan uang sekolah Victor?"
"Aku bekerja di sebuah salon."
"Salon?" Tio yang mendengar jawaban Vanessa sejenak berpikir, kemudian malah tertawa.
Mengapa Papa tertawa? Apa ia menganggap bahwa bekerja di sebuah salon adalah hal yang lucu?
"Jangan membuat kebohongan demi kebohongan. Katakan, dimana sebenarnya kamu bekerja hingga bisa mendapatkan uang?"
"Sudah kukatakan, aku bekerja di sebuah salon. Uang yang kuberikan pada Victor adalah uang tabunganku selama bekerja di sana."
"Bohong!! dia pasti sudah menjual tubuhnya itu pada banyak lelaki. Bukankah hanya itu yang bisa ia lakukan?"
Vanessa menatap nyalang ke arah asal suara itu, dan benar saja, di sana sudah berdiri ibu tirinya dan juga Tante Elsa.
Mereka pun turun dari lantai atas, menuruni tangga perlahan sambil menatap sinis ke arah Vanessa.
"Mereka pasti akan membayarmu mahal kan?" ucapnya lagi.
Tangan Vanessa sudah mengepal, ingin sekali ia menampar wajah ibu tirinya itu.
"Apa Papa menyuruhku pulang hanya untuk mendengar hinaan seperti ini? Sebaiknya aku pergi saja," ucap Vanessa sambil meraih tas miliknya dan berjalan ke arah pintu.
"Kamu keluar dari pintu itu, maka selamanya kamu tidak akan pernah mengetahui dimana Mama kandungmu!"
Deggghhh ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ita rahmawati
mungkin dia bkn papamu nes
2024-05-27
0
ℓ ι ƒ ι α 💕
jahat banget sih. masa papanya sendiri kayak gitu. tega bgt, apa salah mama Vanessa dan Vanessa sampai gitu, dasar jahat
2023-04-09
0