BUMERANG

"Ax, black alpha sudah mengetahui keberadaan gadis itu," ucap Blue sesaat setelah Axelle menyelesaikan meetingnya.

"Benarkah?" Axelle langsung menatap ke arah Blue yang juga menatapnya dengan tatapan serius.

"Ya, dia ada di Bandung."

"Bandung? Bukankah kamu sudah pernah memeriksa ke sana?" Tanya Axelle heran.

"Ya, mereka bahkan sudah memeriksa semua CCTV yang ada selama setahun belakangan ini, tapi benar benar tidak ada tanda tanda keberadaannya. Baru tadi sore, mereka mengidentifikasi seorang gadis dengan wajah seperti gadis yang kamu cari."

Black Alpha adalah sebuah team khusus yang dibentuk oleh Blue, sesuai perintah Axelle. Team tersebut baru bekerja setahun belakangan ini. Axelle sudah menyewa detektif sebelumnya, tapi hasilnya nihil. Oleh karena itu, ia memerintahkan Blue untuk membuat sebuah team khusus yang diisi oleh orang orang dengan tingkat kecerdasan tinggi dan juga cerdas dalam bertindak.

*****

Malam ini  Bandung mengalami hujan yang sangat lebat. Tante Ayu sedang pergi menemui salah satu koleganya yang ingin memakai jasa merias wajahnya untuk sebuah acara pernikahan.

Vanessa duduk sendiri di dalam kamar tidurnya yang berukuran 3 kali 3 meter. Sebuah ranjang single dan sebuah lemari pakaian, hanya itulah isi ruangan tersebut.

Kilat yang berpendar di langit beberapa kali seakan menyinari kamar tidur yang ia kondisikan dalam keadaan gelap. Sejak dulu, Vanessa memang terbiasa tidur dalam keadaan gelap. Ia justru tak bisa tertidur jika lampu dalam keadaan menyala.

Drrrttt .... drrrttt ....

Ponsel yang ia letakkan di atas tempat tidurnya bergetar, tertera nama Tante Ayu di sana.

"Iya, Tan."

"Ca, malam ini sepertinya Tante tidak pulang. Tante akan menginap di rumah Bu Susi. Apa tidak apa apa jika kamu sendirian?"

"Tidak apa apa, Tan. Eca baik baik saja," jawabnya.

"Baiklah. Besok siang Tante pulang. Kamu buka salon saja seperti biasa. Kalau ada yang mau gunting, bisa tunggu Tante setelah jam makan siang."

"Baik, Tan."

Sambungan telepon tersebut akhirnya diputus.

Duarrr ....

Suara petir kembali menggelegar di gelapnya langit malam setelah munculnya kilatan cahaya. Vanessa menutup telinganya setiap kali ia melihat kilatan cahaya, karena ia yakin beberapa saat setelahnya suara menggelegar akan muncul.

Tokkk ... tokk ... tokkk ....

Tokk ... tokkk ...tokkk ...

Suara pintu diketuk menyadarkan Vanessa dari lamunannya.

"Siapa yang bertamu jam segini?" Tiba tiba saja perasaan Vanessa menjadi tidak enak. Ia turun dari lantai atas dan berjalan perlahan sambil membawa sebuah sapu.

Pintu salon tersebut terbuat dari kayu, tapi di kanan kirinya terdapat jendela besar yang dipasang horizontal blind, semacam tirai jendela yang terbuat dari bahan plastik yang disusun secara horisontal.

Vanessa mengintip dari tirai tersebut, untuk memastikan siapa yang datang.

Deghhh ....

Vanessa langsung beringsut mundur. Ia tak akan membukakan pintu, itulah keputusannya. Ia segera lari ke lantai atas, masuk ke dalam kamar tidurnya dan mengunci pintunya. Ia duduk di atas tempat tidur sambil melipat kedua kaki dan memeluk dengan kedua tangannya.

Nafasnya memburu, seperti habis dikejar kejar. Ia berusaha untuk menenangkan diri. Menarik nafasnya panjang, kemudian dengan perlahan membuangnya.

Tokkk ... tokkk ... tokkk ....

Suara ketukan pintu kembali terdengar. Vanessa mengeratkan pelukan pada kedua kakinya. Meski di luar hujan dan hawa dingin memenuhi kamar tidurny, peluh tiba tiba saja membasahi dahinya.

Ia menyembunyikan wajah di antara kedua kakinya. Sampai akhirnya, ia tidak lagi mendengar suara ketukan pintu. Ia turun perlahan dari lantai 2, dan tetap memegang sapu sebagai bentuk pertahanan dirinya.

Vanessa kembali mengintip dari sela sela tirai.

Tidak ada siapapun.

Matanya terus menelisik, sampai akhirnya ia menemukan seseorang duduk bersandar di bagian bawah pintu. Melipat salah satu kakinya, dan menjadikannya tumpuan tangan dan wajahnya.

Kenapa dia belum pergi juga? Apa yang sebenarnya ia inginkan.

Vanessa masih melihatnya melalui jendela. Laki laki itu hanya menggunakan kemeja dan celana panjang. Udara dingin Kota Bandung yang sedang diguyur hujan, pasti sangat menusuk tulang. Vanessa tidak tega membiarkannya di luar, tapi ia takut kalau ini akan menjadi bumerang baginya.

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

apa ya alasan vanesa dulu nolak exelle

2024-05-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!