IA TIDAK SUKA

Saat ini Axelle sedang berada di perusahaan milik ayahnya. Perusahaan yang bergerak di bidang property, terutama perumahan dan perhotelan.

Ayahnya belum sepenuhnya melepas perusahaan itu kepadanya. Axelle masih banyak belajar karena ia baru saja lulus kuliah. Saat ini ia masih menempuh pendidikan S2, sambil mempelajari sistem kerja perusahaan ayahnya, Williams Group (WG).

"Blue, apa kamu sudah mendapatkan apa yang saya minta?"

Blue, yang baru saja akan keluar dari ruangan Axelle, akhirnya kembali menghadap ke arah Axelle.

"Belum. Tidak ada tanda tanda keberadaannya. Saya juga sudah meminta orang kita untuk mengecek semua CCTV sejak hari kepergiannya. Tapi jejaknya hilang karena ada beberapa CCTV yang tidak lagi berfungsi."

"Kemana dia pergi selama 2 tahun ini," gumam Axelle.

"Oiya Ax, meeting dengan Adams Group akan segera dimulai."

"Baiklah, aku akan segera ke sana."

Blue meninggalkan Axelle seorang diri di dalam ruangannya. Blue adalah saudara sepupu Axelle. Saat ini ia masih menyelesaikan skripsinya, usianya hanya terpaut 1 tahun dengan Axelle.

"Mengapa aku harus mencarinya? Seharusnya aku senang karena dia tidak terlihat lagi dalam hidupku. Ia yang sudah membuatku malu untuk pertama kalinya di depan banyak orang," batin Axelle.

Ia meremas kertas yang ada di atas mejanya, kemudian melemparkannya kasar ke lantai. Ia segera keluar dari ruangan dan menuju ruang meeting dengan perasaan aneh.

*****

Sore itu, suasana salon sangat ramai. Mungkin ini adalah dampak awal bulan, para karyawan sudah gajian dan mereka melakukan ritual khusus untuk melepaskan lelah dan penat mereka sebulan kemarin, untuk menghadapi bulan yang akan datang.

"Tan, aku mau rambutku dipotong sebahu ya, udah berat banget rasanya nih rambut," pinta Ciki, yang adalah langganan tetap di salon tersebut.

Di salon tersebut, Tante Ayu lah yang memegang kendali untuk memotong rambut. Ia tidak pernah mengijinkan orang lain ataupun mempekerjakan seseorang sebagai kapster. Karyawan yang ia pekerjakan, memiliki semua tugas, kecuali menggunting.

Seperti saat ini, Vanessa sedang menyapu lantai salon karena rambut yang bertebaran di sana karena begitu padatnya pengunjung hari ini.

"Mir, kamu keluar beliin aku cemilan donk, laper nih," pinta Sinta.

"Lha, kamu jalan aja sendiri sana. Nggak liat apa aku lagi nge-blow begini," jawab Mira.

"Aku juga lagi creambath," jawab Sinta.

"Ca, kamu mau nggak tolongin kita? Beliin siomay di pengkolan sana. Nggak jauh kok," pinta Mira.

"Iya ca, tolongin kita ya."

Vanessa merasa ragu akan permintaan rekan kerjanya itu, tapi ia juga bukan orang yang tidak tahu membalas budi. Sinta dan Mira juga sangat sering membantunya untuk membeli makanan ataupun keperluan sehari harinya ke minimarket.

"Sepertinya tidak akan ada masalah kalau aku keluar sekali sekali. Aku sudah tidak apa apa, aku pasti bisa," batin Vanessa.

"Kenapa tidak kalian beli nanti setelah kalian selesai?" tanya Ayu.

"Kalau terlalu sore, tukang siomaynya pindah Tan. Malah jadi tambah jauh. Jadi mumpung deket. Aku juga mau Tan keluar, sekalian hirup udara segar," jawab Sinta.

"Aku aja yang keluar, nggak apa apa," ucap Vanessa.

"Kamu yakin, ca?" Tanya Tante Ayu yang menampakkan wajah khawatirnya.

"Iya, Tan. Mau pesen apa aja siomaynya Mir, Sin?" tanya Vanessa pada kedua rekan kerjanya itu.

Sinta dan Mira menyebutkan jenis siomay yang mereka inginkan, kemudian meminta Vanessa untuk mengambil uang di dompet mereka yang ada di dalam tas di lemari belakang. Setelah itu, Vanessa pun segera pergi.

*****

"Siomaynya 3, tahu putih 1, pare 1. Yang satu lagi siomay 2, tahu goreng 2, kol 1. Dua duanya pedas ya mang," pesan Vanessa pada tukang siomay yang sedang mangkal di pengkolan jalan. Vanessa berdiri agak jauh dari gerobak siomay, dan baru mendekat setelah ia harus mengambil dan membayar pesanannya.

Vanessa berjalan kembali menuju salon, tempat ia tinggal dan juga bekerja. Saat berjalan kembali, ia melihat sebuah minimarket. Ada kebutuhan yang harus ia beli, dan ia mencoba meredam rasa takutnya. Ia tak ingin terus merepotkan rekan kerjanya ataupun Tante Ayu untuk membeli ini itu.

"Aku pasti bisa!" ucap Vanessa pada dirinya sendiri.

Vanessa masuk ke dalam mininarket tersebut. Sore itu, minimarket terasa agak ramai karena karyawan yang sudah gajian juga berbelanja untuk kebutuhan pribadinya.

Vanessa segera mengambil apa yang ia butuhkan, tanpa melihat ke kanan dan ke kiri.

Bughh....

"Ahh maaf maaf," ucap Vanessa sambil mengangkat barang barang yang ia ambil di rak tanpa keranjang belanja.

"Maaf, saya tidak sengaja."

Ntah mengapa, tubuh Vanessa tiba tiba saja merinding mendengar suara orang yang ia tabrak. Ia tak suka. Ia segera meletakkan kembali barang yang ingin ia beli ke sembarang rak, kemudian bergegas keluar, tanpa melihat ke dalam lagi.

Ia pulang sambil menenteng kantong plastik berisi siomay dengan terburu buru.

"Ini siomaynya," Vanessa meletakkan siomay tersebut di meja konter, kemudian bergegas ke belakang untuk mencuci wajahnya.

Tante Ayu yang melihat perubahan pada wajah Vanessa langsung mengikutinya.

"Ada apa denganmu, ca? Apa ada yang berbuat jahat padamu?" Tanya Tante Ayu khawatir.

"Tidak, Tan. Aku hanya belum terbiasa keluar saja. Maafkan aku, Tan."

"Tidak apa apa. Sebaiknya kamu naik dan istirahat. Salon akan segera tutup karena Tante harus pergi sebentar. Kamu tidak apa apa kan tante tinggal?"

"Tidak apa, Tan."

"Baiklah. Tante ke depan dulu ya."

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

brtemukah

2024-05-27

0

rusidah siti

rusidah siti

ketemu Axelle tuh

2022-12-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!