AKU MENCINTAINYA

Beberapa hari sudah tidak ada kiriman bunga dari Axelle untuk Vanessa, dan hal itu membuat hari hari Vanessa kembali tenang. Tak ada godaan dari Mira dan juga Ida.

Vanessa pun semakin semangat bekerja. Selain gaji yang ia terima, ia juga akan mendapatkan bonus dan juga tip. Ia harus mengumpulkan uang untuk adiknya.

Ia tak mungkin bekerja di luar salon, jadi ia memaksimalkan apapun yang bisa ia kerjakan di dalam salon.

Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk.

Terima kasih, Kak. Aku sudah membayar 2 bulan tunggakan uang sekolah. Saat ini aku sudah mulai bersekolah lagi. Aku bilang pada Papa dan Mama kalau aku mendapatkan beasiswa.

Vanessa bernapas lega saat membacanya. Victor saat ini baru duduk di kelas 1 SMP. Ia tak ingin adiknya itu putus sekolah, apalagi bisa dibilang sebenarnya Victor memiliki otak tang cerdas.

Selamat bersekolah kembali. Belajarlah dengan baik. Kakak mendukung dan selalu mendoakanmu dari sini.

Itulah balasan yang diberikan oleh Vanessa pada Victor. Setelah itu, ia pun kembali bekerja.

Namun, baru saja ia mau mulai menyapu ruangan salon, suara ponselnya kini berbunyi kembali. Tanda adanya sebuah pesan yang masuk. Vanessa membukanya, sebuah gambar dan sebuah pesan.

Apa kamu mau melihat orang tuamu menderita seperti ini? Dan lihatlah, adikmu baru saja dikeluarkan lagi dari sekolah. Tak ada gunanya kamu melunasi tunggakan uang sekolahnya, karena aku akan membuat keluargamu menderita.

Deghhh ....

Baru saja ia merasa lebih senang karena Victor sudah kembali ke sekolah, kini keadaan langsung berubah 180 derajat. Vanessa meletakkan sapu yang sedang dipegangnya dan beranjak pergi ke lantai atas, ke kamarnya.

"Mir, Kak Ida. Aku ke atas sebentar ya," ucap Vanessa.

"Iya," jawab mereka berdua.

Di dalam kamar, Vanessa masih memperhatikan foto yang tadi dikirimkan melalui pesan. Gambar dimana Papanya sedang berlutut memohon di kaki seseorang.

Apa maumu?

Balas Vanessa untuk pengirim pesan tersebut, yang tidak ia ketahui. Ia mengumpulkan kekuatan dan keberaniannya untuk mencoba melawan. Ia harus keluar dari segala trauma yang menghimpitnya selama ini, demi keluarganya, terutama adiknya.

Tak ada balasan dari pesan yang dikirimkan oleg Vanessa. Akhirnya ia pun turun kembali ke ruang salon dan kembali bekerja, meninggalkan ponsel di dalam kamar tidurnya.

*****

"Ax, apa sebenarnya yang kamu inginkan? Bukankah itu keterlaluan?" tanya Adam.

Axelle terus menegak minuman beralkohol di hadapannya. Adam sudah berusaha untuk menghentikannya, tapi melihat sifat Axelle yang sangat keras kepala.

"Aku akan menghancurkannya dan membuatnya malu, seperti apa yang telah ia lakukan padaku."

"Ax, hentikan!" Adam menarik botol yang akan Axelle tuang ke dalam gelas miliknya.

"Aku akan membuatnya menyesal tidak menerimaku. Aku akan membuatnya menderita, seluruh keluarganya juga!" teriak Axelle.

Adam tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Ia tak ingin Axelle melakukan hal yang buruk. Setahun belakangan ini, Adam melihat perubahan pada diri Axelle. Axelle yang sekarang menjadi lebih menyeramkan, meskipun kadang ia bisa bersikap ramah seperti dulu.

"Aku mencintainya, dam. Sangat mencintainya. Apa dia tidak menyadarinya?" ucap Axelle sambil menangis. Ia kembali menegak minuman yang tersisa di dalam gelas, kemudian tak sadarkan diri.

"Ax! Ax!" Adam berusaha mengguncang tubuh sahabatnya itu. Tapi Axelle sama sekali bergeming.

Setelah membayar, Adam segera membawa Axelle ke apartemennya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!