Malam hari, setelah Vanessa selesai membersihkan diri, ia pun mengambil ponselnya dan kembali duduk di atas tempat tidur dan bersandar pada kepala ranjang.
Ia mengutak atik ponselnya, kemudian kembali membaca pesan yang dikirimkan oleh Victor tadi siang. Ia melihat dan membaca pesan itu berkali kali, berharap bahwa pesan yang tadi siang ia baca hanya kesalahan atau hanya halusinasinya saja, tapi ternyata tidak.
Pada akhirnya, ia pun menghubungi adiknya itu,
"Halo," sapa Vanessa.
"Halo, Kak. Maaf," ucap Victor setelah membalas sapaan Vanessa.
"Kakak tidak marah padamu, Vic. Jangan terus meminta maaf pada kakak," Vanessa tidak bisa marah pada Victor. Selain karena Victor adalah adiknya, dikeluarkannya Victor dari sekolah adalah karena adanya campur tangan seseorang yang sampai saat ini belum ia ketahui.
"Tapi, Kak ...," suara Victor terdengar begitu sendu.
"Kakak tidak apa apa. Hanya saja, kakak ingin memastikan apakah yang kamu tulis itu benar?"
"Semua yang aku kirimkan benar kak. Aku juga sempat bingung mengenai ...., tapi aku yakin aku tidak salah dengar."
"Baiklah. Besok kakak akan menelepon Papa terlebih dulu."
"Kak ..., apa kakak akan kembali?" tanya Victor penuh harap.
"Kakak belum tahu, besok kakak akan bicara dulu dengan Papa. Jawaban dari Papa lah yang akan menentukan apakah kakak akan pulang atau tidak. Kamu istirahatlah dulu, sudah malam."
"Baik, Kak. Selamat malam," ucap Victor.
"Malam," balas Vanessa, kemudian mematikan sambungan ponselnya.
*****
Keesokan harinya saat jam makan siang, Vanessa pergi ke dalam kamar tidurnya setelah meminta izin pada Tante Ayu. ia minta izin untuk beristirahat sebentar, padahal sebenarnya ia ingin menelepon Papanya.
Semalam, Victor sudah memberitahu Vanessa nomor ponsel terbaru Papa Tio, karena sejak banyaknya hutang yang dimiki oleh Mama Helen dan menggunakan nomor ponsel Papa Tio sebagai penjamin, maka banyak sekali penagih hutang yang menghubunginya. Hal itu membuat Papa Tio gerah dan pada akhirnya mengganti nomor ponsel yang sudah sejak lama ia gunakan.
Setelah menekan tombol, Vanessa meletakkan ponsel itu di telinganya. Panggilan pertama tidak diangkat, hingga akhirnya baru diangkat pada panggilan ketiga.
"Halo!"
Vanessa begitu merindukan suara Papanya itu, sampai ia lupa membalas sapaan Papa Tio.
"Halo," ucap Vanessa.
"Siapa ini? Apa kamu mau menagih hutang juga, huh?!" tanya Tio dengan nada ketus.
Vanessa sebenarnya sedih karena ayahnya sendiri tidak mengenali suaranya.
"Pa ...."
Tio yang baru menyadari kalau yang meneleponnya adalah Vanessa, akhirnya mulai berkata kata.
"Pulang!! Ada yang harus kukatakan padamu," ucap Tio.
"Katakan saja via telepon, Pa. Aku sedang bekerja, dan tidak mungkin aku meninggalkannya," ucap Vanessa.
"Kalau begitu, berikan pada Papa uang!"
"Maksud Papa?"
"Papa memerlukan uang saat ini. Kamu sudah bekerja, uangmu pasti banyak kan, buktinya kamu bisa membayar uang sekolah Victor."
"Tapi, Pa ...," ucap Vanessa terputus karena Tio kembali berbicara.
"Kamu tidak mau pulang dan tidak mau memberikan Papa uang, huh?!"
"Bu ... bukan begitu, Pa. Tapi ..."
"Apa?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu terlebih dahulu," ucap Vanessa pelan.
"Apa yang ingin kamu tanyakan? tentang mamamu, huh?!"
"Jadi benar mama masih hidup?"
"Berikan Papa uang dan kamu pulang, baru papa akan mengatakan semuanya. Kamu juga harus melakukan sesuatu untuk papa."
"Katakan padaku, Pa. Dimana mama?"
"Sudah papa bilang, pulang!! baru papa akan mengatakannya," Tio pun langsung mematikan sambungan ponselnya.
Ia tahu, dengan ancaman seperti ini, Vanessa pasti akan penasaran dan segera pulang. Setelah itu, ia akan mendapatkan uang dengan menjual putrinya itu.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Istri kesayangannya yg ular itu yg bikin ulah dgn berhutang demi hidup hedon, skrg anak yg dia sia2kan dan dia usir diminta utk membayar hutang dasar ayah g ada otak
2024-07-20
1
Ita rahmawati
ya ampun papane edan
2024-05-27
0