Hari ini suasana sekolah begitu gaduh, tak biasanya seperti ini. Vanessa yang baru saja datang pun tiba tiba saja merasa dirinya diperhatikan begitu banyak orang.
Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini?
Vanessa pergi ke toilet setelah meletakkan tas nya di dalam kelas. Ia memperhatikan dirinya di cermin, melihat dari atas hingga ke bawah, berusaha mencari apa ada yang salah dengan dirinya.
Setelah memperhatikan dirinya dengan seksama dan tak merasa ada yang janggal, akhirnya ia hanya mencuci tangannya di wastafel. Baru saja ia selesai, 3 orang kakak kelasnya datang. Ia mengenali wajah mereka karena mereka cukup terkenal. Shelly si ketua geng, bersama dengan Yohana dan Meta.
Pintu kamar mandi tersebut ditutup dan dijaga oleh salah satu dari antara mereka. 2 orang siswi yang kini juga berada di dalam kamar mandi tersebut menatap ke arah Vanessa dengan tatapan sinis.
"Ada apa ini?" tanya Vanessa.
"Nggak usah pura pura nggak tahu. Ngapain lo di sini? lagi dandan? biar pas ditembak keliatan oks gitu? nggak usah sok kecantikan deh."
"Sorry, tapi aku nggak ngerti maksud kakak apaan," ucap Vanessa.
"Die pura pura bodoh atau emang bodoh beneran ya?" tanya Shelly pada Yohana.
"Bodoh beneran kali," jawab Yohana sambil tertawa.
Shelly maju mendekati Vanessa, kemudian mendorongnya hingga tubuh Vanessa menabrak dinding.
"Gue kasih tahu lo satu kali dan nggak akan gue ulangi. Hari ini, Axelle berencana buat nembak lo di lapangan bola, di belakang sekolah. Gue minta sama lo buat tolak si Axelle. Kalau sampai lo terima, maka jangan salahkan gue kalo ade lo yang namanya Victor, bakal jadi bahan bullyan di sekolahnya. Gue nggak akan main main. Ngerti lo!" Shelly menunjuk dahi Vanessa menggunakan jari telunjuknya.
Shelly kemudian membalikkan tubuhnya untuk beranjak pergi, tapi sesaat kemudian ia kembali menoleh, "Lo juga nggak usah sok kecantikan di sekolah ini. Jangan harap hidup lo bakalan enak kalau sampai lo terima si Axelle. Lo dan ade lo, bakal terima akibatnya."
Vanessa hanya mampu terdiam. Tak ada air mata karena ia tidak sedih. Pikirannya yang mulai berkelana memikirkan adiknya, Victor.
Benar saja, sebelum jam pulang sekolah, sebuah pengumuman diperdengarkan melalui radio sekolah. Seluruh siswa siswi diharapkan pergi menuju lapangan bola di belakang sekolah.
Hampir semua siswa siswi menuju ke sana, tapi ada juga yang langsung melenggang pulang. Awalnya Vanessa ingin langsung pulang saja, tapi tiba tiba tangannya ditarik oleh temannya, Ardi.
"Ayo, ca. Cepetan! lo bintangnya di sini?"
"Aku?"
"Iya, lo!"
Sesampainya di belakang sekolah, Vanessa bisa melihat hiasan yang memenuhi lapangan bola tersebut. Vanessa juga bisa mendengar bisik bisik para siswa siswi lain yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
'Niat banget gila acara tembak tembakannya!'
'Nggak cocok deh kayanya kalau sampe si eca yang mau ditembak.'
'Mungkin dia cuma mau manfaatin ketenarannya Axelle doank, sama hartanya.'
Vanessa benar benar tak habis pikir dengan jalan pikiran siswa siswi lain. Ia menggelengkan kepalanya untuk menghapusnya dari pikirannya.
Vanessa melamun, hingga ia tak sadar bahwa dirinya dipanggil oleh Axelle, menuju ke tengah lapangan. Vanessa hanya terdiam dan menoleh ke kiri dan ke kanan, sampai akhirnya Axelle sendiri yang menariknya keluar dari kerumunan.
Axelle menempatkan Vanessa di tengah tengah bentukan hati yang dibuat dari kelopak bunga mawar. Kemudian, Axelle mengambil gitarnya dan bernyanyi. Suaranya begitu merdu, membuat para gadis terpesona. Sementara Vanessa sendiri sedang diliputi rasa was was.
Ingat nasib adikmu ada di tanganmu.
Setelah selesai bernyanyi, Axelle meraih setangkai bunga mawar, kemudian memberikannya kepada Vanessa.
"Aku menyukaimu, maukah kamu menjadi pacarku?" tanya Axelle sambil menatap mata Vanessa.
Vanessa juga menatap ke dalam mata Axelle, kemudian memandang ke sekeliling di mana banyak sekali siswa siswi yang menyaksikan.
"Maaf, aku nggak bisa. Aku nggak suka sama kamu."
Vanessa kemudian berjalan meninggalkan Axelle.
Maafkan aku. Aku juga menyukaimu, tapi aku lebih menyayangi adikku. Aku tak ingin kebahagiaanku malah membuatnya menderita.
"Wuhhhh!!!!" teriakan demi teriakan bersahut sahutan di lapangan tersebut.
Axelle merasa dipermalukan. Ia mengepalkan tangannya hingga buku buku tangannya memutih, kemudian ia juga meninggalkan tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ita rahmawati
oh gtu
2024-05-27
0
rusidah siti
Vanessa diancam makanya gak terima perasaan Axelle
2022-12-24
0