2 tahun berlalu,
"Ca, kamu tolong layani pelanggan yang di sana ya. Tadi katanya minta di creambath," ucap Tante Ayu.
"Iya, Tan," Vanessa mendatangi pelanggan yang sudah dikeramas oleh Ida.
Sudah 2 tahun ini Vanessa bekerja di salon milik Tante dari Rika, Tante Ayu. Untung saja salon ini hanya diperuntukkan untuk wanita, jadi Vanessa masih bisa menekan traumanya terhadap laki laki.
* Flashback on *
Tante Ayu akhirnya mengijinkan Vanessa untuk bekerja dengannya, setelah menerima telepon dari Rika, keponakannya.
Keesokan harinya, sebelum Rika menuju cafe tempat mereka biasa bekerja, ia mengantarkan Vanessa ke stasiun kereta api. Rika melihat gelagat yang cukup aneh dari Vanessa.
Ia memeluk tas tangannya dan menarik koper sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Setiap kali ada laki laki yang lewat di dekatnya, Vanessa langsung menghindar dan raut wajah ketakutan muncul.
"Kamu nggak apa apa, ca?" tanya Rika.
"Aku nggak apa apa," Vanessa menghapus peluh yang membasahi dahinya dengan tissue.
Akhirnya Rika menemani Vanessa sampai kereta berangkat. Ia mencari tempat duduk yang agak jauh dari keramaian penumpang saat menunggu.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" batin Rika.
Di dalam kereta, Vanessa duduk bersebelahan dengan seorang wanita paruh baya. Ia bernafas lega, setidaknya ia tak perlu merasa khawatir selama perjalanan. Sesampainya di stasiun kota tujuan, ia juga dijemput oleh salah satu karyawan salon.
Malam hari, seperti biasa, Vanessa mengalami mimpi yang menyakitkan. Peluh membanjiri dahinya dan ia pun berteriak. Tante Ayu yang kaget, langsung terbangun dan memasuki kamar Vanessa.
Setelah seminggu terus menerus bermimpi, akhirnya Tante Ayu memberanikan diri bertanya. Vanessa akhirnya berani menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.
Tante Ayu turut sedih dengan apa yang dialami oleh Vanessa, karena itu salon yang awalnya melayani pengunjung laki laki dan wanita, kini diubah hanya wanita saja. Sedangkan laki laki akan pindah ke barbershop di sebelahnya.
* Flashback off *
Vanessa sangat berterima kasih pada Tante Ayu, karena itulah ia bekerja dengan sangat giat. Ia tak ingin mengecewakan Tante Ayu yang sudah sangat membantunya.
Vanessa sendiri tinggal di atas salon tersebut bersama dengan Tante Ayu. Ia jarang keluar, sehingga selama 2 tahun ini bisa dihitung berapa kali ia bertemu dengan laki laki.
Trauma dan depresinya juga semakin menghilang, tapi ia juga terus berusaha menghindari laki laki.
*****
"Lo mau sampai kapan sih tiap malem kesini? Apa lo udah bosen hidup?" tanya Adam.
"Tenang aja, gue bakalan hidup lama, bakalan panjang umur. Bukannya orang jahat itu biasanya hidupnya lama."
"Lo ngomong apa sih? Gue nggak ngerti."
Axelle kembali menegak minuman yang tersisa di dalam gelasnya, kemudian ia merebahkan kepalanya di atas meja.
Adam selalu ada bersamanya, ia tak ingin sahabatnya itu mengalami hal buruk atau menyesali perbuatannya saat ia terbangun.
Adam akhirnya membayar semua tagihan Axelle dan membawa sahabatnya itu ke apartemen miliknya. Axelle selalu meracau tidak jelas, tapi kali ini sepertinya ia harus mengambil tindakan.
"Lo mau tidur di sini apa pulang?" tanya Adam saat Axelle meracau.
"Gue mau di sini, tapi gue lebih mau lo sama gue nes."
"Nes?"
"Kenapa sih lo nolak gue? Salah gue apa?"
"Jangan jangan .... Vanessa?" batin Adam.
* Flashback on *
"Lo mau nembak tuh anak kelas 1?"
"Hmm ..."
"Dan lo mau nembak dia di tengah tengag lapangan bola dan ngundang satu sekolaan?"
"Hmm ..."
"Lo yakin emang bakalan diterima sama dia?"
"Iyalah. Lo nggak liat apa mukanya yang selalu memerah kalau gue deketin dia."
"Tapi itu kan bukan jaminan dia suka sama lo."
"Gue tanya sama lo, emang cewe mana yang nolak kalau jadi cewe gue selama ini?"
"Nggak ada sih. Malahan mereka selalu ngantri nungguin lo aama cewe lo putus biar mereka bisa dapet giliran."
"Itu lo tahu," ucap Axelle tersenyum.
Dan benar saja, sebelum pulang, sebuah pengumuman di radio sekolah menjawab desas desus yang beredar kalau Axelle akan menyatakan cintanya pada seorang gadis. Mereka semua diundang ke lapangan bola yang ada di bagian belakang sekolah mereka.
Axelle benar akan menyatakan cintanya, dan gadis itu adalah Vanessa. Namun, hal yang tidak disangka sangka terjadi,
"Maaf, aku nggak bisa. Aku nggak suka sama kamu."
Vanessa kemudian langsung meninggalkan Axelle yang diam mendengarkan jawaban dari Vanessa. Jujur, ia merasa malu. Selama ini tidak pernah ada 1 gadis pun yang menolaknya. Tapi, ia justru ditolak untuk pertama kalinya di depan umum.
* Flashback off *
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ita rahmawati
oh bgtu,,dendam ceritanya
2024-05-27
0
Uba Muhammad Al-varo
dasar Axelle laki2 jahat ngomong cinta tapi menyakitkan.
2024-01-14
1
rusidah siti
oooh gitu toh ceritanya
2022-12-24
0