LEPASKAN AKU!

"Cewe, boleh kenalan nggak?" Vanessa yang saat itu sedang menunggu bus di sebuah halte yang menuju cafe tempatnya bekerja, merasa terusik.

Pasalnya, sudah beberapa kali ia mengalami hal seperti ini. Ia sudah berusaha untuk bersikap biasa saja dengan menolak mereka secara baik baik. Namun, mereka seperti tak pernah berhenti mengganggu Vanessa.

"Sombong amat sih lo. Apa lo kira lo kecakepan ya?"

Vanessa juga sudah sering mendengar kalimat seperti itu. Ia bukan tak ingin berkenalan, tapi rasa rasanya bukan waktu yang tepat. Lagipula Vanessa sebagai seorang wanita tahu apa maksud dari perkenalan itu.

"Maaf, saya harus pergi dulu, bus saya sudah datang," ucap Vanessa sambil menaiki bus yang akan membawanya ke depan cafe tempatnya bekerja.

Karena masa sekolah tinggal 1 minggu lagi, maka minggu terakhir ini seluruh siswa kelas akhir diizinkan pulang lebih cepat dari jadwal. Vanessa pun bisa pergi ke cafe lebih awal, sehingga upah hariannya tidak akan dipotong lagi.

Siang itu terasa begitu panas, matahari memancar seperti tanpa penghalang. Peluh membasahi kening Vanessa. Di dalam bus juga begitu penuh hingga ia harus berdiri. Vanessa juga mencari tempat berdiri yang dekat dengan pintu keluar karena ia tidak ingin mengalami pelecehan seperti sebelum sebelumnya.

Dengan rambut dikuncir kuda, ia turun di halte yang tidak jauh dari cafe. Menghela nafasnya dalam sebelum kembali melangkahkan kakinya. Ia membuka pintu cafe, dan sebuah lonceng berbunyi. Rekan kerjanya melihat ke arahnya dan tersenyum.

"Tumben udah muncul, ca? Apa hari ini bakalan hujan gede kali ya," ucap Rika, salah satu rekan kerjanya.

"Hujan gede dari hongkong. Lo nggak liat tuh matahari mendelik seakan ini rumahnya sendiri."

Masih ada sedikit peluh di dahi Vanessa, ia meraih tissue dan langsung mengelap dahinya.

"Gue ganti baju dulu ya," ucap Vanessa.

"Cepetan ya, kayaknya gue dapet panggilan alam nih," ucap Rika.

"Tunggu bentar, baru juga 1 langkah."

"Cepetan ca, ntar keluar di sini."

"Iya, iya," Vanessa langsung pergi ke ruang pegawai dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang menjadi seragam cafe tersebut.

Setelah selesai, ia segera merapikan rambutnya dan mencepolnya. Ia langsung berjalan mendekati Rika yang sedang duduk tapi tubuh bagian bawahnya bergerak gerak tidak jelas.

"Sono cepetan!" ujar Vanessa.

Rika langsung bangkit dari kursinya dan berlari ke toilet. Vanessa berjaga di bagian kasir, tapi tidak menutup kemungkinan ia juga membantu rekan rekannya untuk melayani pembeli yang datang. Apalagi kalau sedang ramai, ia kadang sampai kewalahan.

*****

"Gimana ca? Lo jadi ikut nggak sih?"

"Hmm, gue sih mau aja. Tapi gue mesti cek sama jadwal shift kerja gue dulu."

"Kalo misalkan itu pas jadwal lo, lo tinggal minta gantiin aja sama rekan kerja lo. Nah nanti lo gantiin dia gitu pas giliran dia. Gampang kan?"

"Iya sih, tapi ..."

"Udah! Nggak ada tapi tapian. Lo harus ikut pokoknya. Kita nggak mau bersenang senang tanpa lo."

"Ya udah kalo gitu. Gue nyerah deh, kayanya nggak bakalan menang gue kalo berdebat sama lo berdua."

"Pasti donk, kita kan Double A," ujar Anna dan Ardi.

Mereka bertiga pun tertawa.

*****

Hari ini akhirnya tiba, hari pesta kelulusan mereka. Sekolah mereka mengadakan acara tersebut di sebuah ballroom hotel. Ruangannya sangat besar dan mampu menampung hingga 500 orang lebih. Acara dimulai jam 7 malan hingga selesai.

Guru guru juga hadir, namun pukul 9, mereka sudah meninggalkan ruangan tersebut. Ketika panitia sudah tidak melihat satupun guru, mereka pun mulai mengeluarkan minuman.

Vanessa duduk di pojok ruangan, ia lelah sekali. Itu dikarenakan ia mengganti shift kerjanya menjadi pagi hingga sore hari, padahal kemarin ia mendapatkan shift malam. Ia ingin sekali pulang, tapi Ardi dan Anna menahannya.

Dari kejauhan Vanessa bisa melihat teman temannya meminum minuman beralkohol. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bahkan Ardi dan Anna pun ikut serta. Vanessa tak ingin menyentuh minuman itu karena besok ia harus bekerja.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tanpa mempedulikan Ardi dan Anna, Vanessa akhirnya meninggalkan tempat itu. Ia melangkahkan kakinya menuju halte terdekat dari hotel tersebut.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Suasana masih sangat ramai karena ini memang malam minggu. Mobil masih lalu lalang, tapi tidak ada bus yang lewat. Apa dia harus naik taksi? Tidak, itu akan mahal. Sebaiknya ia berjalan sedikit untuk mencari pangkalan ojek.

Vanessa berjalan perlahan, sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Siapa tahu ada tukang ojek yang lewat. Ia tidak memesan ojek melalui aplikasi online karena ponselnya tidak mampu menampung terlalu banyak aplikasi. Jadi hanya aplikasi chat saja yang ia download.

Vanessa merasa ia sudah berjalan cukup jauh, tapi belum menemukan 1 ojek pun.

"Apa ojek sudah tidak ada lagi?" Vanessa melihat jam di ponsel miliknya, sudah hampir pukul 12. Ia menghela nafas lemah.

Baru saja ia ingin melanjutkan langkahnya, tubuhnya ditarik oleh beberapa orang.

"Hei, lepaskan aku!" Teriak Vanessa.

"Diam!!"

Vanessa bisa mencium bau alkohol dari orang orang itu. Vanessa dibawa ke sebuah tempat yang gelap dan sepi. Ia sungguh ketakutan saat ini.

Dengan kasar mereka mendorong Vanessa hingga terjatuh. Vanessa kemudian menoleh ke arah nereka untuk melihat siapa orang orang itu.

"Ka ... kamu?!" ucap Vanessa kaget.

"Terima kasih karena masih mengenaliku, gadis sombong!"

"Lepaskan aku! Aku mau pulang!" Teriak Vanessa.

"Kamu boleh pulang, tapi setelah kita bersenang senang."

"Tidak!!! Lepaskan aku!"

Plakkk!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Vanessa. Sakit ...

"Sakit, huh?! Aku akan membuatmu lebih menderita lagi."

"Apa maumu?"

"Kami semua akan bermain main denganmu. Kamu pasti akan menyukai semua servis yang kami berikan, jadi nikmatilah!" Laki laki itu memerintahkan teman temannya untuk meninggalkannya.

Ia mulai ******* bibir Vanessa dengan kasar. Tanpa mendengar teriakan dan tangisan Vanessa, ia merobek baju gadis itu dan mulai menikmatinya.

"Tolong lepaskan aku, jangan lakukan ini padaku," pinta Vanessa.

"Kamu memohon, huh?!"

Plakkk!!!

Sebuah tamparan lagi mendarat di pipi Vanessa, dan kini ia bisa merasakan sudut bibirnya berdarah.

Laki laki itu tanpa berkata kata langsung melakukan penyatuan tubuh. Vanessa yang baru pertama kali melakukannya, mengerang kesakitan, apalagi laki laki itu melakukannya dengan sangat kasar.

Bukan hanya 1 kali, tapi laki laki itu melakukannya lagi. Kemudian setelah laki laki itu selesai, Vanessa bisa mendengar ia memanggil temannya. Tak mampu menahan rasa sakit yang teramat sangat, Vanessa pun pingsan.

*****

Terpopuler

Comments

Alexandra Juliana

Alexandra Juliana

Sungguh kasihan sekali Vanessa, sdh diabaikan oleh ayahnya sendiri mendapatkan pelecehan yg akan menghancurkan masa depannya pula..

2024-07-19

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

ya ampun 🥺🥺

2024-05-27

0

Sesye Pattiasina

Sesye Pattiasina

sadis guys.....

2023-06-09

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!