HAMIL

Seorang pria berdiri di depan kediaman keluarga Barata. Ia berdiri di seberang jalan di balik mobil miliknya. Ia terus memandang ke arah rumah tersebut tanpa melepas kacamata hitam yang melekat di wajahnya.

"Maaf," hanya itu kata kata yang keluar dari bibirnya.

Baru saja ia akan masuk ke dalam mobil miliknya, pagar pintu rumah itu terbuka. Ia bisa melihat wajah panik dan gelisah dari orang orang di sana. Ia juga melihat seorang gadis, sedang dimasukkan ke dalam kursi belakang sebuah mobil.

"Nes?" gumamnya.

* Flashback on

Kepala Vanessa terasa sangat pusing. Ia berjalan dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Perasaan mual kembali mendera dan mengganggu aktivitasnya di pagi hari.

Setelah mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi, ia keluar dan meraih ponselnya yang sudah berbunyi sejak tadi.

"Ya Rik, kenapa?"

"Kamu sakit apa sih ca? Masa ampe sekarang belum sembuh juga," tanya Rika khawatir.

"Aku juga tidak tahu, Rik. Belakangan ini aku sering pusing, mual, dan bahkan muntah muntah. Aku juga tidak nafsu makan, seluruh tubuhku terasa begitu lelah," Vanessa bercerita pada Rika karena ia tahu bahwa rekan kerjanya ini tidak pernah menjadi tukang gosip di manapun.

"Gejalanya kok mirip dengan kakakku. Kamu nggak lagi hamil kan ca?" tanya Rika lagi.

"Hamil?" Batin Vanessa. Ia baru terpikir bahwa ia memang belum kedatangan tamu bulanannya. Ia melihat kalender meja miliknya dan menghitung jadwal tamu bulanannya. Ia sudah telat 1 minggu dari jadwal biasanya. Sejak pertama kali ia mendapatkan tamu bulanan, yakni sejak ia kelas 1 SMP, tak pernah sekalipun terlambat.

"Ahh, nggak kok. Sepertinya aku masuk angin karena beberapa hari ini memang aku kurang nafsu makan," jawab Vanessa.

"Kalau sudah sembuh, kamu harus kembali bekerja ya. Aku kangen banget ngobrol sama kamu."

"Iya Rik. Sampai jumpa," Vanessa kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Pikirannya kini berkelana, benarkah ia sedang hamil? Apa ini hasil dari hubungan malam itu? Siapa ayah anak ini? Karena seingat dirinya ia digilir bergantian karena laki laki yang ia lihat memanggil temannya yang lain. Saat pagi ia terbangun, daerah intimnya juga terasa amat sakit dan nyeri.

Vanessa kembali menangis, memegang perutnya.

"Apa aku hamil? Apa di dalam perutku ada benih hasil per ...," Vanessa tak mampu melanjukan kalimatnya. Matanya menelusuri ruangan kamar miliknya.

Matanya melihat ke arah kotak pensil yang ada di atas meja belajarnya. Ia meraihnya dan mengambil sebuah cutter.

"Jika Papa dan Tante tahu, mereka pasti akan semakin memojokkanku. Akan lebih baik kalau aku mati saja. Setidaknya aku juga bisa terbebas dari semua ini."

Vanessa menutup matanya dan sudah meletakkan cutter di atas pergelangan tangannya.

"Maafkan Vanessa, Pa. Semoga Papa selalu bahagia bersama keluarga Papa selalu. Ma, jemput Vanessa."

Srettt ....

Rasa sakit mendera, darah mulai berceceran. Semakin lama pandangan Vanessa semakin kabur dan akhirnya ia kehilangan kesadaran.

Bi Ina mengantarkan sarapan untuknya, "Non, ini sarapannya."

Tidak terdengar jawabab apapun dari dalam. Bi Ina akhirnya memberanikan diri untuk masuk karena ia harus mengambil keranjang pakaian bekas milik Vanessa. Ketika ia membuka pintu, matanya langsung membulat melihat anak majikannya itu terbaring dan bersimbah darah.

"Tuan! Nyonya!"

Tio kaget melihat kondisi Vanessa. Bahkan Helen pun sampai menutup mulutnya. Tio memerintahkan pelayannya untuk membantu membawa Vanessa ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit.

* Flashback off

*****

Tio dan Helen berada di depan ruang UGD. Vanessa sedang berada dalam penanganan dokter.

"Apa yang sebenarnya dipikirkan anak itu, sampai mencoba bunuh diri," ucap Tio kesal.

"Apa mungkin dia sedang mencari perhatian karena kita sedang menghukumnya?"

"Kalau dia mencari perhatian, bagaimana jika kita tidak menemukannya tepat waktu?"

Pintu ruang UGD terbuka, "Keluarga pasien Vanessa Barata."

Tio dan Helen langsung menghampiri dokter tersebut.

"Anda?"

"Kami orang tuanya," jawab Tio.

"Kami sudah mengobati luka di pergelangan tangannya, untung saja sayatannya tidak terlalu dalam. Pasien hanya pingsan karena kehilangan banyak darah. Lalu ...,"

"Ada apa, Dok?"

"Apakah di sini ada suaminya?"

"Suami? Anak saya belum menikah, Dok," ucap Tio.

Dokter memperhatikan laki laki dan wanita paruh baya tersebut, kemudian menghela nafasnya pelan, "Anak anda sekarang ini sedang hamil."

"Hamil?!

Terpopuler

Comments

Ita rahmawati

Ita rahmawati

tambah lah deritanya 🤦‍♀️🤦‍♀️

2024-05-27

0

💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ

💞🍀ᴮᵁᴺᴰᴬRiyura🌾🏘⃝Aⁿᵘ

ceritanya bagus tho

2022-03-17

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!