Vanessa terbangun di sebuah rumah sederhana. Ia merasakan tubuhnya sangat lemah, tulang tulangnya seakan sudah remuk. Ia bangkit dari tidurnya dan merasakan sakit yang luar biasa di daerah intimnya.
"Ahhh ...," Vanessa terjatuh karena memaksakan diri untuk berdiri.
Ia kembali mengingat apa yang terjadi dengannya semalam, ia kembali menangis. Air mata seperti tak berhenti luruh dari mata cantiknya.
"Ma, eca kangen mama," seketika itu juga Vanessa kembali pingsan.
*****
Dengan menggunakan ojek online yang dipesankan oleh pemilik rumah yang membantunya, akhirnya Vanessa kembali ke rumahnya.
Dengan langkah gontai ia berjalan masuk ke dalam rumah.
"Wah, wah, dari mana saja kamu baru pulang, huh?! Apa udah jadi liar di luaran sana seperti mamamu itu?"
"Diam Tante! Aku nggak suka tante jelek jelekin mama," ucap Vanessa.
"Loh, tante nggak jelek jelekin. Emang kenyataannya begitu kok. Apa kamu nggak tahu kalau mamamu itu sakit karena terkena penyakit HIV?"
"Tidak!! Hentikan tante!"
"Kamu anak yang nggak berguna. Kelakuan ibu dan anak sama saja. Sama sama wanita jalang!"
Plakkk!!!
Vanessa tidak mampu menahan amarahnya lagi. Secara otomatis tangannya melayang begitu saja dan menampar ibu tirinya.
"Vanes!!" Teriak Tio.
"Pa ... papa ...," ucap Vanessa pelan dan terbata.
"Berani sekali kamu menampar mamamu."
"Dia bukan mamaku!" Teriak Vanessa.
"Masuk ke kamarmu dan renungkan kesalahanmu. Aku tidak akan mengijinkanmu keluar sampai kamu bisa mengerti apa kesalahanmu. Cepat!!" Tio membentak Vanessa dan mengusir putrinya itu dari hadapannya.
Setelah kepergian Vanessa,
"Kamu tidak apa apa, sayang?" Tanya Tio pada Helen.
"Sakit, sayang," ucapnya manja.
Tio mengelusnya perlahan dan menciumi pipi istrinya itu.
"Bagaimana kalau kita pergi berbelanja?"
"Benarkah?" tanya Helen dengan wajah yang sumringah.
"Tentu saja. Kamu kan istriku yang paling kucinta."
"Tunggu sebentar, aku ambil tas ku dulu."
Mereka berdua pergi meninggalkan kediaman Barata. Sementara Vanessa hanya bisa menangis di dalam kamar sambil memeluk pigura foto yang berisi gambar ibunya yang sedang memeluk dirinya.
"Ma, eca kangen sekali sama mama. Apa mama tidak ingin bertemu dengan eca. Jemput eca ma, eca pasti akan dengan senang hati ikut dengan mama," ucapnya sambil menghapus buliran air mata yang jatuh di pipinya.
*****
Saat malam tiba, mimpi itu kembali datang. Wajah laki laki yang telah memperkosanya kembali menghiasi mimpinya. Ia berusaha untuk beeteriak, namun suaranya tidak dapat keluar dan kembali secara tidak langsung ia kembali merasakan sakit yang teramat sangat.
Peluh memenuhi dahinya. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Kedua tangannya mencengkeram sprei.
"Tidak! Tolong, jangan lakukan! Tidak!!!" Vanessa terbangun dengan bermandikan peluh. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan posisi ia berada saat ini.
Sejak kejadian itu, setiap malam merupakan hal terburuk bagi Vanessa. Ia tidak pernah sekalipun tidak bermimpi buruk.
Sudah hampir 1 minggu ia tidak pergi bekerja, karena ia tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Ia sudah mengirim pesan kepada rekan kerjanya, Rika, bahwa ia tidak bisa masuk kerja, dengan alasan sakit yang menular, sehingga ia perlu beristirahat dan menjauhi orang untuk sementara waktu.
Tokk ... tokkk ... tokk ...
"Non, ini saya bawakan makanannya."
""Letakkan di depan pintu saja, bi. Nanti saya ambil."
Setiap hari makanan untuknya akan dibawakan ke kamar. Tapi pernah sekali waktu, ia tidak mendapatkan makanan sama sekali seharian penuh. Ia yakin itu semua atas perintah ibu tirinya. Ia menahan rasa laparnya dengan hanya minum air saja.
Victor, adiknya, tak pernah lagi mengunjunginya di kamar. Namun terkadang ia mengirimkan pesan melalui ponselnya, untuk sekedar menyapa atau menanyakan keadaannya. Ternyata alasan yang digunakan oleh ibu tirinya juga sama dengan alasannya pada rejan kerjanya, yakni sedang mengidap penyakit menular, jadi tidak boleh ditemui oleh siapapun.
*****
1 bulan sudah ia dikurung di dalam kamar. Tubuhnya semakin kurus dan tercipta lingkaran hitam di bawah matanya. Hal itu karena hampir setiap malam setelah mengalami mimpi buruk, ia berusaha untuk tidak tertidur lagi karena rasa takutnya.
Hoekkk ... hoekk ....
Vanessa berlari ke kamar mandi. Ia memuntahkan isi perutnya. Namun karena memang ia tidak bernafsu untuk makan, maka tidak ada juga yang ia keluarkan, hanya cairan bening saja.
Setelah membersihkan diri, ia kembali duduk di atas tempat tidurnya. Jujur, ia sangat lelah dan merasa tubuhnya sangat lemah. Ia kembali berbaring di atas tempat tidur yang pada akhirnya membuatnya kembali terlelap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Ita rahmawati
hamil kah
2024-05-27
0
Uba Muhammad Al-varo
kisah hidupnya Vanessa yang menyedihkan banget 🤧
2024-01-14
1