Victor mengirimkan pesan kepada Vanessa. Meskipun pada awalnya ia ragu, tapi mendengar ancaman dari Papanya, kini ia harus melaksanakannya.
Kak, Maafkan aku. Aku tidak bisa mengikuti semua pesanmu. Aku tidak bisa melanjutkan sekolah seperti keinginanmu, maafkan aku.
Papa pun mengetahui semuanya. Aku terpaksa mengatakan semuanya, karena Papa akan mengecek sendiri aliran uang di rekeningku.
Selain itu, Papa meminta kakak pulang .... atau, Papa akan benar benar mencoret kakak dari kartu keluarga. Bahkan Papa mengatakan kalau ia akan membuat Mama kandung kakak menderita jika kakak tidak pulang. Aku tidak mengerti apa maksud Papa.
Victor langsung menyimpan ponselnya di atas nakas. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebenarnya ia takut akan balasan pesan yang akan ia dapat dari Vanessa. Takut kalau kakaknya itu akan marah dan kembali menghilang.
*****
Siang ini Vanessa sudah berani keluar ke halaman salon. Ia menyapu dengan perlahan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia harus mencoba untuk menghilangkan traumanya terhadap laki laki, karena mungkin tidak semua laki laki seperti itu.
Ida, yang biasa menyapu halaman depan pun pada akhirnya menegurnya,
"Ca, tumben kamu nyapu di sini, biasa cuma bagian dalam aja," ucap Ida.
"Iya Kak. Sehabis makan aku nggak ada kerjaan lagi karena udah selesai beresin bagian dalam. Jadi daripada aku bengong, aku jadi nyapu di sini aja," ucap Vanessa berbohong.
"Baiklah kalau begitu aku masuk dulu ya. Aku mesti ngecek stok barang. Rencananya minggu ini Tante Ayu mau belanja lagi," ucap Ida setelah ia keluar makan siang di warteg sebelah.
"Ok, Kak."
Vanessa meneruskan proses sapu menyapunya. Kemudian ia masuk ke dalam, mengecek ponselnya lagi.
"Victor," gumam Vanessa. Membaca pesan dari Victor, membuat jantung Vanessa berdegup kencang. Ia sudah tahu mengenai bahwa Victor tidak bisa bersekolah lagi, tapi apa maksud dari kata katanya tentang mama kandung.
Apa mamaku masih hidup?
Vanessa benar benar tidak bisa mengontrol degup jantungnya. Tiba tiba saja pikirannya menjadi kacau, sampai sampai ada pelanggan salon yang masuk dan bertanya tepat di hadapannya, ia tidak mendengar.
"Ca, kamu kenapa?" tiba tiba Vanessa tersadar dari lamunannya setelah Mira sedikit mengguncang bahunya.
"Ahh apa?" tanyanya kaget.
"Kamu kenapa? Ini ada Kak Lita kok kamu malah bengong aja."
"Maaf ... maafkan Eca ya kak. Tadi Eca lagi mikirin sesuatu, jadi nggak sadar Kakak ada di sini," ucap Vanessa meminta maaf.
"Nggak apa apa. Tapi wajah kamu kok jadi pucat gitu?" tanya Lita.
"Iya ca, bener kata Kak Lita. Kamu sakit?" Mira langsung memegang kening Vanessa untuk mengecek apakah gadis itu demam atau tidak.
"Aku nggak apa apa, Kak. Aku ke belakang dulu ambil minum ya. Mir, bantu aku ngelayanin Kak Lita dulu ya," pinta Vanessa.
"Baiklah," akhirnya Mira lah yang membantu memenuhi permintaan Lita, sementara Vanessa pergi ke dapur yang terletak persis di belakang ruang salon itu.
Vanessa mengambil gelas dan menuang penuh air putih ke dalamnya, kemudian ia menegak tanpa jeda sekalipun. Ia berusaha mengendalikan degup jantung dan juga nafasnya, ia merasa benar benar kacau saat ini.
Mama? Apa mama masih hidup? Mengapa Papa mengancamku? dan mengapa mereka memaksaku untuk pulang? Bukankah dulu mereka mengusir diriku?
Vanessa mengusap wajahnya kasar. Setelah menarik dan membuang nafas beberapa kali, ia berhasil menetralkan degup jantungnya. Ia membetulkan ikatan rambutnya, kemudian kembali ke ruang salon. Di sana, ia melihat Mira sedang melayani Lita yang minta perawatan kuku.
"Mir, apa kamu melihat Tante Ayu?" tanya Vanessa.
"Ooo Tante Ayu tadi bilang mau pergi sebentar ke jalan besar sana. Tapi aku nggak tahu mau ngapain."
"Ya udah nggak apa apa. Aku kira Tante Ayu kemana."
Vanessa kembali ke meja konter dan meletakkan ponselnya di sana. Ia tidak membalas pesan Victor karena ia belum tahu bagaimana harus menjawabnya. Jadi lebih baik ia bekerja dulu sambil memikirkan jawabannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Vyrne S W
kasian vanessa harus menanggung semua deritanya sendiri
2024-07-29
0