Seorang wanita paruh baya sedang menggeram kesal karena sudah hampir satu jam ia menunggu di sebuah kafe, namun yang ditunggunya tak kunjung datang. Wanita paruh baya itu adalah Helena. Hatinya sudah geram sejak kemarin dan kini harus menunggu calon menantunya yang selalu beralasan sibuk jika diminta bertemu.
Helena kembali menghubungi nomor ponsel Zara. Tersambung. Helena meminta Zara agar segera datang karena ada masalah tentang Roy yang ingin ia bicarakan. Zara mengiyakan dan akan datang dalam waktu 15 menit.
Ternyata Zara menepati janjinya. Secepat kilat ia datang menemui Helena yang sudah menahan amarahnya.
"Bibi, maaf ya. Apa Bibi sudah lama menunggu? Jika sudah lama menunggu bukankah lebih baik membatalkan saja janji temu kita? Kenapa Bibi malah meneleponku dengan alasan Roy?"
Helena berdecih. "Kau selalu bereaksi cepat jika berhubungan dengan Roy. Tentu saja aku meminta bertemu karena harus ada yang kita bicarakan."
"Tentang apa? Bukankah Bibi sudah mendapatkan apa yang Bibi inginkan?"
"Kau!!!" Helena menggebrak meja. "Kau jangan bermain-main denganku, Zara! Kau sudah menipuku!"
Zara mengernyitkan dahi. "Menipu?"
"Data anak yang kau berikan padaku, itu bukanlah anak yang dimaksud. Apa kau sengaja melakukan ini, huh?!"
"Maksud Bibi? Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Bibi bicarakan."
"Kau bukan memberiku data anak genius, tapi kau memberiku data anak berkebutuhan khusus. Aku sampai mendatangi rumahnya dan juga orang tuanya. Mereka bahkan tidak mengenalmu sama sekali."
Zara menahan tawanya. "Bukankah anak berkebutuhan khusus juga bisa menjadi anak genius jika dilatih sejak dini. Bibi jangan memandang rendah mereka."
"Tapi bukan anak ini yang aku cari! Kau sengaja mengganti datanya dengan yang palsu, huh!"
Zara menggeleng pelan. "Sebenarnya apa yang Bibi inginkan? Siapa anak yang Bibi maksud? Apa Bibi curiga jika Roy memiliki anak yang tidak Bibi ketahui? Kenapa Bibi tidak bertanya saja pada mertua Bibi. Bukankah Kakek Donald dan kakekku menyusun proyek bersama?"
"Kau! Jangan main-main denganku, Zara! Kau pikir aku tidak tahu jika selama ini kaulah yang sudah menyembunyikan keberadaan Profesor Gerald."
Zara menarik sudut bibirnya. "Bibi mengancamku? Bibi pikir aku juga tidak tahu apa yang Bibi lakukan di masa lalu? Bibi menyingkirkan saudara Bibi sendiri agar bisa mencapai posisi seperti sekarang. Apa jadinya jika Kakek Donald tahu yang sebenarnya ya?" Zara mengusap dagunya.
"Tutup mulutmu!" Helena nampak mengatur nafasnya yang memburu. Sungguh emosinya sudah diambang batas.
"Baiklah, Zara. Kita buat kesepakatan."
"Oh, apa itu? Jika itu bisa menguntungkan, maka aku bisa menerimanya. Lagipula ancaman Bibi tidak berarti apapun untukku. Kakek Gerald adalah kakekku sendiri. Jadi masih wajar jika aku merawatnya secara sembunyi-sembunyi. Bukan untuk menghilangkan jejaknya tapi hanya untuk membuatnya aman. Terutama dari orang-orang seperti... Bibi...!"
Helena mengepalkan tangannya. "Perempuan ini sangat lihai dan licik. Aku tidak bisa menganggap remeh dia." batin Helena.
"Apa yang sebenarnya diinginkan wanita tua ini dengan Boy? Apa dia tahu jika kemungkinan Boy adalah anak Roy?" Zara membatin dengan menatap tajam Helena.
"Aku akan merencanakan pernikahanmu dan Roy secepatnya." ucap Helena.
Zara tertawa. "Apa Bibi bilang? Pernikahan? Bahkan sudah bertahun-tahun Bibi tidak bisa melakukan apapun. Jangan membodohiku, Bibi."
"Tidak, Zara. Kali ini aku serius! Kau akan secepatnya menikah dengan Roy."
"Hmm, baiklah. Aku akan mempercayai Bibi kali ini. Jika tidak ada lagi yang ingin Bibi bicarakan, aku pergi. Ada banyak hal tertunda karena harus menemui Bibi."
Helena mengangguk dan mempersilahkan Zara pergi. Sepeninggal Zara, Helena menggertakkan giginya.
"Sial! Aku tidak bisa percaya lagi padanya. Mulai sekarang aku akan bekerja sendiri tanpa meminta bantuannya. Jika benar anak yang menjadi pasien Zara adalah anak Roy, maka aku harus segera menyingkirkan anak itu dan juga ibunya." gumam Helena dengan seringai menyeramkan.
......***......
Malam harinya di kediaman keluarga Avicenna. Helena menyiapkan makan malam spesial karena ia harus menjalankan misinya untuk merencanakan pernikahan Roy dan Zara. Helena menata sendiri makanan di meja makan tanpa bantuan asisten rumah tangga.
"Ada apa ini? Kenapa kau yang menyiapkan semuanya, Helena?" tanya Donald yang sedang berjalan ke meja makan.
"Ayah mertua! Silahkan duduk! Aku menyiapkan ini khusus untuk malam ini." jawab Helena.
"Memangnya ada acara apa malam ini?" sahut Dandy.
"Roy akan datang malam ini." balas Helena.
"Oh ya? Apa anak itu sedang tidak sibuk?" Tanya Donald.
"Sesibuk apapun, keluarga tetaplah nomor satu, Ayah. Roy harus membiasakan itu. Bagaimana jika nanti dia sudah berkeluarga? Bukankah dia harus memberi perhatian pada anak istrinya?"
"Roy belum menikah. Jadi tidak perlu berpikir terlalu jauh kesana."
Helena merengut mendengar jawaban ayah mertuanya. "Sial! Susah sekali bicara dengan orang tua ini!!!" kesal Helena dalam hati.
"Selamat malam semuanya!" suara Roy membuat Helena mengembangkan senyumnya.
"Roy! Akhirnya kau datang juga." Seru Helena gembira dan langsung menghampiri Roy.
"Hai, Mom. Maaf aku baru sempat datang."
"Tidak apa. Mommy tahu kau sangat sibuk, bukan? Ayo duduk! Kau pasti sudah lapar." Helena menarik kursi agar Roy bisa duduk.
"Sepertinya ada yang istimewa hari ini. Ada apa, Mom?"
"Karena kau datang tentu saja semua jadi istimewa." Helena tersenyum lebar.
Makan malampun berlangsung dalam diam. Helena melirik kearah Roy yang sibuk menikmati santap malamnya. Donald merasa ada yang tidak beres dengan sikap menantunya.
"Apa lagi yang dia rencanakan kali ini?" batin Donald.
Usai makan malam, Helena mengajak semua orang berkumpul di ruang keluarga. Helena menghidangkan makanan ringan untuk menemani obrolan hangat mereka.
"Roy, bagaimana pekerjaanmu? Mommy rasa kau terlalu sibuk dengan mengambil pekerjaan dari kepolisian."
"Tidak juga, Mom. Aku merasa senang bisa bekerja dengan mereka."
"Lalu kabar hubunganmu dengan Zara, bagaimana?" Helena mulai memancing Roy.
"Aku dan Helena baik-baik saja. Bukankah sejak dulu juga begitu?"
"Tidak, Nak. Maksud Mommy, apa kau tidak berencana melangkah ke jenjang yang lebih serius dengannya? Kalian sudah sama-sama matang. Dan Mommy yakin, Zara pasti sudah siap untuk menjadi seorang istri.
"Apa maksud Mommy?"
"Bagaimana kalau kita mulai menyusun rencana pernikahamu, Nak?"
"Heh?! Pernikahan?" Roy, Dandy dan Donald tercengang kaget.
"Iya. Kalian sudah lama bersama. Apa kau tidak ingin segera menikah, Roy?" bujuk Helena.
"Cukup, Helena! Aku tidak mau kau membahas soal pernikahan Roy!" sela Donald.
"Tapi, Ayah..."
"Masalah pernikahan, biarlah Roy sendiri yang memutuskan. Lagi pula, Gerald, kakek Zara juga belum di temukan. Kita tidak bisa membuat rencana sepihak seperti ini."
"Aku sudah bicara dengan Zara. Dia setuju dengan rencana ini, Ayah!"
"Tapi aku tidak setuju!" Donald bersikeras.
"Ayah! Roy adalah putraku! Aku berhak menentukan jalan hidupnya." teriak Helena.
"Tanyakan saja pada Roy. Apa dia bersedia menikah dengan Zara?" sahut Dandy.
"Suamiku! Tentu saja Roy setuju. Mereka sudah bersama sejak lama. Mau sampai kapan menunda pernikahan ini."
"Hentikan!!!" Roy mulai angkat bicara.
"Jika Mommy mengundangku kemari hanya untuk membicarakan masalah pernikahanku dengan Zara, sebaiknya aku pergi. Aku sendiri yang akan menentukan jalan hidupku. Tidak Mommy, Daddy ataupun kakek. Permisi!" Roy undur diri dari ruang keluarga dan menuju keluar dari rumah yang sudah tak ada kehangatan didalamnya.
#Bersambung...
*Mak, kenapa si Roy sama Belinda gak bersatu2 kek di nopel genius yg laen? 😅😅
#sabar yes, ini mamak bukan maksud di lama2in ya, emang harus begini sih alur yg mamak bikin. Gak terlalu cepat gak juga terlalu lambat. sedang2 aja 😬
semoga kalian masih setia menunggu cerita ini hingga tamat nanti. Terima kasih 🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
bibuk duo nan
typo, zara thor bukan Helena, Helena kan ibunya Roy
2024-06-23
1
Mommy Gyo
7 Like hadir thor
2021-09-30
1
Aisyah Ranni
sepertinya Helena bukan ibu kandung dri Roy.dan sangat ambisius dengan harta keluarga Avicenna.makanya dengen cepat ingin melenyapkan keturunan Avicenna yaitu anak Roy.
2021-09-20
2