Pagi harinya Patrick datang kembali ke apartemen Lian. Sebelum memulai misinya Patrick bicara empat mata dengan Riana.
Riana adalah dokter di rumah sakit Avicenna, jadi menurut Patrick akan lebih baik jika Boy didampingi oleh Riana. Patrick memang tidak menceritakan detailnya kepada Riana, tapi paling tidak ia memiliki seseorang yang dipercaya untuk mengawasi Boy meskipun sahabatnya Kenzo juga bekerja di Rumah Sakit itu.
Kenzo adalah rekan Riana sesama dokter. dan Kenzo adalah agen rahasia yang merangkap sebagai dokter di FBI.
Usai berbincang dengan Riana, Patrick menemui Boy di kamarnya. Anak genius itu ternyata masih betah mengutak-atik layar datarnya.
"Hai, Boy. Bagaimana kabarmu?"
"Good."
"Kau sudah siap? Hari ini kita akan menjadi NOC."
"NOC?"
"Non Official Cover. Biasa disingkat dengan NOC. Itu adalah istilah untuk agen yang menyamar menjadi warga sipil. Kau pasti sudah pernah mendengarnya, bukan?"
"Hmm, ya aku pernah mendengarnya dari Paman Conrad."
"Paman sudah bicara dengan Dokter Riana. Nanti kau juga akan didampingi Kenzo."
"Astaga, Paman! apa dokter Zara semenakutkan itu hingga aku harus diawasi oleh 2 orang dewasa? Paman tenang saja aku pasti berhasil menjadi NOC."
Usai berdiskusi dengan Patrick Boy keluar dari kamarnya dan menemui Lian. Lian menampakan wajah cemasnya. Sungguh ia takut jika terjadi sesuatu dengan putranya.
"Ma..." Boy memegang tangan Lian.
"Kau tenang saja. Aku jamin putramu akan baik-baik saja." ucap Patrick.
Meski ragu Lian tetap mengangguk. Ia tahu jika Patrick bisa menjaga Boy. Terlebih ada Riana dan juga Kenzo.
Patrick mengantarkan Boy dan Riana ke rumah sakit Avicenna. Di sana sudah ada beberapa anak yang mengantri. Ternyata anak-anak yang dikategorikan jenius cukup banyak.
"Bibi Riana, kemari!" Boy membisikan sesuatu ketelinga Riana.
"Ternyata anak-anak sepertiku cukup banyak. Tapi aku sangat yakin jika tidak ada yang sepintar diriku."
Riana mengernyitkan dahinya
"Astaga!! Anak ini sebenarnya dia ini mirip siapa sih? Sikapnya yang terkadang menyebalkan seperti mirip seseorang."
Riana tertawa kecil. "Terserah kau saja!" batin Riana
"Selamat datang, dokter Riana." seorang pria tampan memakai jas putih menghampiri Riana dan Boy.
"Ah Iya. Mohon maaf Anda siapa ya?" tanya Riana.
"Perkenalkan, saya dokter Kenzo. Dan kamu kamu pasti Boy." sapa Kenzo dengan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Boy.
"Jadi Paman adalah dokter Kenzo temannya Paman Patrick?"
"Benar sekali. Mari silakan! Saya adalah asisten dokter Zara."
Riana menggandeng tangan Boy dan mengikuti langkah Kenzo.
"Pria ini tampan juga. Tapi sejak kapan dia bekerja di sini? Kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya?" batin Riana
Kenzo menemui resepsionis kemudian mendaftarkan nama Boy di daftar pasien Zara.
Beberapa menit kemudian nama Boy pun dipanggil. Boy memasuki ruangan Zara ditemani Kenzo
"Halo, kamu pasti Boy. Perkenalkan, saya dokter Zara."
"Senang berkenalan dengan Anda, dokter."
Boy menyambut uluran tangan Zara. Sekilas Boy memperhatikan Zara dengan seksama. Zara menanyakan beberapa pertanyaan pada Boy. Dan Boy menjawab dengan antusias.
Usai berbincang sejenak, ternyata Zara sangat tertarik dengan kepribadian Boy. Di usianya yang masih sangat muda, dia memiliki pemikiran yang dewasa. Bahkan cara bicaranya pun mirip dengan seseorang yang dia kenal.
Zara makin ingin mengenal sosok Boy.
Boy dan Kenzo tersenyum puas penuh arti.
"Ternyata tidak susah untuk membuatnya masuk ke dalam perangkap." batin Boy
Pria kecil ini bertingkah layaknya anak kecil tapi cara bicaranya seperti orang dewasa. Zara mengantarkan Boy keluar dari ruangannya. Rasanya Zara tidak ingin berpisah dengan bocah jenius ini.
Secara tak terduga Roy yang baru saja bertemu dengan anggota Polisi melintas di lorong Bangsal anak-anak.
Roy memicingkan mata melihat kearah Zara yang sedang berbicara dengan seorang anak kecil. Roy merasa pernah melihat anak itu.
"Tuan, ada apa?" tanya Benjamin.
"Apa yang sedang terjadi di sini? Kenapa banyak sekali anak-anak kecil?"
"Bukankah dokter Zara adalah dokter anak. Tentu saja banyak anak-anak kecil, Tuan."
Jawaban Benjamin membuat Roy menatap kesal padanya. "Apa Kau pikir aku tidak tahu jika Zara adalah dokter anak?"
"Maafkan saya, Tuan." jawab Ben sambil menunduk.
"Jadi sebenarnya kau tahu atau tidak?"
"Apa dokter Zara tidak mengatakan apapun pada tuan?"
"Entahlah, aku terlalu sibuk. Aku Jarang bertemu dengannya."
"Dokter Zara mengadakan penelitian tentang anak-anak yang dinilai jenius. mungkin anak yang sekarang sedang bersamanya adalah salah satu pasiennya."
Roy memiringkan kepalanya sambil berpikir.
"Untuk apa Zara mengadakan penelitian tentang anak jenius?" tanya Roy dalam hati.
"Aku seperti pernah bertemu dengan anak itu." Roy menunjuk Boy dengan jarinya.
"Tapi dimana ya?"
"Setahu saya Tuan tidak terlalu menyukai anak-anak." jawab Ben.
"Ya sudah, lupakan! Mungkin aku salah lihat." Roy kembali melangkahkan kakinya.
Kenzo mengantar Boy menuju lobby rumah sakit untuk bertemu dengan Patrick. Ternyata Patrick sudah menunggu di dalam mobil karena tidak ingin dicurigai.
"Halo, Boy, bagaimana?" tanya Patrick begitu Boy memasuki mobil.
Tanpa ingin berlama-lama, Patrick langsung tancap gas meninggalkan area rumah sakit.
"Dia adalah wanita yang cantik, Paman." jawab Boy santai.
"Astaga! Kau ini kau masih kecil, Nak."
"Apa pria kecil tidak boleh melihat seorang wanita cantik?"
"Baiklah, baik. Paman tidak akan bertanya lagi. Kau tulis aja semua deduksi mu mengenai Zara lalu kirimkan pada paman."
"Kurasa dia adalah orang yang baik tapi ada sesuatu yang disembunyikan. Apa alasannya? Kenapa dia melakukan penelitian tentang anak jenius. Itu masih menjadi misteri, Paman."
"Benar. Aku sendiri juga belum bisa menemukan apa maksud Zara melakukan ini semua." batin Patrick
#bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Nurhayati Firganingsih
pasti ada udang di balik bakwan spesial,kecurigaanku dia ingin melenyapkan pewaris drrmh sakit tempatnya bekerja😎😀
2024-06-23
1
N⃟ʲᵃᵃ࿐DHE-DHE"OFF🎤🎧
pasti dokter zara mo nyari anak jenius Lian,,
2022-09-14
1
👑Arsy Al'Fazza 🌿
mantap 👍🏻
2021-11-13
3