Belinda mengatur nafasnya usai melihat kejadian yang cukup membuat dirinya syok. Rumahnya diledakkan dan terbakar habis. Belinda duduk termenung. Pria paruh baya yang ternyata adalah kepala desa memberi Belinda segelas air minum agar lebih tenang.
“Minumlah dulu, Nak Lian. Bapak mohon maaf untuk kondisi rumah Nak Lian,” ucap Hendra, si kepala desa.
Belinda menerima gelas dari tangan Hendra. “Terima kasih, Pak.”
Setelah Belinda agak tenang, ia mulai bertanya pada Hendra. Ia dan Patrick duduk bersebelahan berhadapan dengan Hendra di ruang tamu rumah pria paruh baya itu. Ia tinggal sendiri di rumah itu.
“Ceritakan yang sebenarnya padaku, Pak Kepala Desa. Apa yang terjadi dengan desa ini? kenapa penduduk desanya menghilang?” Tanya Belinda dengan harap-harap cemas. “Lalu dimana ayah dan ibuku? Kemana mereka pergi?”
“Bels, tenanglah! Kita dengarkan dulu penjelasan Pak Hendra.” Sahut Patrick.
“Sebelumnya saya minta maaf, Nak Lian. Penduduk desa disini semuanya pindah setelah beberapa orang sering datang kemari dan mengacau di desa ini.” jelas Hendra.
“Mengacau? Mengacau bagaimana, Pak?” Patrick sepertinya antusias.
“Mereka meneror penduduk desa dan mengancam mereka semua. Akhirnya penduduk desa mengalah dan memilih pindah dari desa ini.”
“Hah?” Patrick dan Belinda saling pandang.
“Lalu siapa yang melakukan semua ini, Pak? Apa mereka memiliki hubungan dengan Belinda?” Tanya Patrick.
“Tidak begitu jelas mereka itu dari mana dan siapa mereka. tapi, bapak pernah mendengar dari penduduk desa jika mereka menyebut tentang Avicenna Group.”
“Hah? Avicenna Group?” Belinda dan Patrick kembali saling pandang.
“Nak Lian, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kau pergi selama tujuh tahun dan baru kembali sekarang. Bapak khawatir jika kedatangan orang-orang itu ke desa ini berhubungan dengan Nak Lian.”
Belinda menundukkan wajahnya. Patrick memberi isyarat pada Hendra agar jangan bertanya soal masa lalu Belinda.
“Pak, lalu dimana ayah dan ibuku? Apa mereka ikut pindah juga? Mereka pindah kemana, Pak? Katakan padaku!” Belinda terlihat sangat putus asa.
“Tenang, Bels.” Patrick memegangi bahu Belinda.
“Maaf, Nak Lian. Bapak tidak tahu dimana kedua orang tua Nak Lian. Orang-orang itu membawa ayah dan ibu Nak Lian.”
“Apa?!” Tubuh Belinda lemas seakan tak memiliki nyawa. Matanya memanas dan mulai meneteskan buliran bening di sudutnya.
“Ayah… Ibu… Maafkan aku…” Belinda menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis.
“Bels…” Patrick mengulurkan tangannya memeluk bahu Belinda.
“Yang bapak dengar, jika ayah dan ibu Nak Lian sudah meninggal.”
Tangis Lian makin keras. “Tidak! Tidak mungkin! Jika ayah dan ibu sudah meninggal dimana makam mereka, Pak?” dengan sesenggukan Belinda masih ingin mencari titik terang dari masalah ini.
“Bapak tidak tahu. Maafkan bapak, Nak.”
“Pat, aku yakin jika ayah dan ibuku belum meninggal. Aku yakin mereka masih hidup.” Belinda menarik lengan Patrick seakan memintanya mencari keberadaan kedua orang tuanya.
Patrick membawa Belinda kedalam pelukannya. Ia menenangkan Belinda. Sungguh ia tak tega melihat kesedihan
Belinda.
Setelah berbincang lama dengan Hendra, Patrick memutuskan untuk membawa Belinda kembali. Beruntung Patrick memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah Belinda, sehingga mobil mewahnya masih aman dan tidak dihancurkan oleh orang-orang itu.
Patrick mengantarkan Belinda masuk kedalam mobil lebih dulu. Ia berpamitan dengan Hendra.
“Terima kasih karena bapak sudah menolong kami. Saya tidak tahu seperti apa nasib kami jika bapak tidak menolong kami. Omong-omong kenapa bapak masih berada disini dan tidak ikut pindah bersama penduduk desa
yang lain?”
“Karena saya tidak bisa meninggalkan desa ini, Nak Patrick. Saya seakan terikat dengan desa ini dan harus menjaganya.”
“Ah, begitu.” Patrick mengangguk paham. “Dan saya minta pada bapak untuk memberitahu saya jika orang-orang itu kembali lagi kemari, Pak.”
“Baiklah, Nak Patrick. Tolong jaga Nak Lian ya.”
“Pasti, Pak. Saya pasti akan menjaga Belinda dengan baik.”
“Belinda?”
“Ah, karena saya tahu hal seperti ini akan terjadi maka saya meminta Lian untuk mengganti namanya menjadi Belinda. Hanya untuk berjaga-jaga saja, Pak.”
“Nama yang bagus. Hati-hati di jalan ya, Nak.”
“Kalau begitu saya permisi, Pak.”
Patrick mulai melajukan mobilnya meninggalkan kampung halaman Belinda. Selama perjalanan, Belinda hanya terdiam dan memandang keluar kaca mobil.
“Bels… Kau baik-baik saja?” Tanya Patrick pada akhirnya.
“Hmm.” Belinda hanya menjawab dengan dehaman.
“Istirahatlah. Tiba di apartemen aku akan membangunkanmu.”
Belinda mengangguk kemudian memejamkan matanya.
...…***…...
Tiba di apartemen Belinda dan Patrick disambut oleh Boy dan Riana. Riana berjingkat senang karena Belinda telah
kembali.
“Bels! Kau sudah pulang? Kau pasti senang ya kembali ke kampung halamanmu.” Sapaan Riana tidak dijawab oleh Belinda dan malah berjalan melewatinya lalu masuk kedalam kamar.
Riana mengernyitkan dahinya kemudian menatap Patrick. “Ada apa ini, Pat? Apa terjadi sesuatu dengan Belinda?”
“Sebaiknya kau ke kamar dan temui dia. Minta Belinda untuk istirahat dan jangan memikirkan apapun.” Balas Patrick.
“Eh? Apa maksudmu?”
“Sudahlah, Riana. Aku akan jelaskan semuanya nanti. Tapi saat ini Belinda butuh seorang teman.”
Dengan sedikit kesal karena Patrick memaksanya, Riana menuju kamar dan melihat Belinda meringkuk ditempat tidur. Riana duduk di tepi ranjang.
“Bels…” panggil Riana sambil mengusap lengan Belinda yang berbaring membelakanginya. “Kau punya aku, Bels. Jadi jangan pernah merasa sendirian.”
Mendengar kalimat Riana, Belinda membalikkan badan menghadap Riana.
“Terima kasih, Ri.”
“Apa yang terjadi, Bels?”
“Ayah dan Ibuku, Ri…” Belinda tak sempat bercerita apapun dan hanya bisa menangis.
Riana tidak tega untuk bertanya lebih lanjut. Ia lebih menenangkan Belinda dan meminta untuk istirahat agar kondisi tubuhnya tidak menurun.
Riana keluar dari kamar dan menemui Patrick juga Boy.
“Bagaimana?” Tanya Patrick.
“Dia sudah tidur. Pat, sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan orang tua Belinda?”
Patrick melirik Boy sebelum menjawab pertanyaan Riana.
“Katakan saja, Paman. Aku siap untuk mendengarnya.” Sahut Boy. Bocah enam tahun itu memang bersikap dewasa.
“Orang tua Belinda dikabarkan meninggal.”
“Apa?”
“Dan ada kemungkinan jika ini ada hubungannya dengan Avicenna Group.” Patrick kembali melirik Boy.
“Astaga! Bagaimana bisa?” Riana tak percaya.
“Kau tenang saja. Aku dan Boy akan mengurusnya.”
“Jangan-jangan mereka memang mengincar Putri Berlian?” Riana menutup mulutnya. “Tapi untuk apa?”
Patrick lagi-lagi melirik Boy.
“Ini pasti ada hubungannya denganku ‘kan, Paman?” sahut Boy.
“Semua masih belum jelas, Nak. Tapi Belinda sangat yakin jika orang tuanya belum meninggal.”
“Paman, bisa ikut denganku?” Tanya Boy.
Patrick mengangguk. “Sebaiknya kau juga istirahat, Ri.”
“Baiklah, Pat.” Riana melangkah ke kamarnya.
...…***…...
“Ada apa, Boy?” Tanya Patrick begitu mereka berada didalam kamar Boy.
“Paman, aku akan melindungi Mamaku. Aku tidak akan membiarkan dia menderita lagi.”
Patrick tersenyum. “Paman percaya padamu, Nak.”
“Paman bisa membantuku, ‘kan?”
“Tentu saja. Aku ditugaskan untuk menjagamu dan juga ibumu.”
“Terima kasih, Paman. Mulai besok, aku akan coba masuk kedalam system pertahanan Avicenna Group. Aku akan mencuri data rahasia mereka.”
“Eh? Kau yakin bisa melakukannya?”
“Iya. Aku tidak akan membiarkan orang-orang menyakiti mamaku lagi.” Ucap Boy dengan seringai yang tidak pernah Patrick lihat sebelumnya.
#bersambung…
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Chiki
Lian knp km gk cerita ke anakmu??
anakmu itu jenius. dia bs mencari apa yg terjadi 7 thn lalu.
jgn dipendam woi...! 😤
2021-12-11
4
kak pii
lanjut thor., penasaran ama cerita nya gek nya seru nih
2021-09-16
2
🎤K_Fris🎧
up lagi mak lanjuuut wkwkwk
2021-09-16
1