Belinda sedang berlenggak lenggok di depan kamera dengan memakai baju rancangan Jimmy yang berharga fantastis. Belinda merasa harga dirinya bernilai tingga hanya karena memakai baju rancangan desainer terkenal. Sudah satu jam Belinda berganti beberapa baju dan pose. Tubuhnya memang lelah, namun ia mulai menikmati pekerjaannya ini.
Belinda merebahkan tubuh lelahnya di sofa panjang yang sudah disediakan Jimmy untuk para modelnya. Belinda meraih ponselnya dan membuka media sosialnya. Jimmy masuk ke ruang istirahat Belinda dan duduk berhadapan dengannya.
“Bagaimana, Bella? Kau mulai menyukai pekerjaanmu?”
“Hmm, begitulah. Terima kasih ya.”
“Jangan sungkan. Aku sudah cukup lama mengenal Tuan Hensen. Jadi, sebagai rasa terima kasihku, aku bersedia membantunya apapun.”
Tiba-tiba Belinda tertarik dengan cerita Jimmy tentang Patrick. Ia segera bangun dan menghadap Jimmy.
“Sejak kapan kau kenal dengan Patrick?” Tanya Belinda dengan menopang dagu.
“Hmm, sekitar lima tahun lalu. Saat aku berada di Amerika dan aku mengalami kesusahan disana.” Jawab Jimmy.
Belinda mengangguk.
“Sebagai seorang pengusaha, dia adalah pria yang sukses.”
“Pengusaha?” Belinda terkejut.
“Iya, dia bermain beberapa saham gitu. Aku tidak paham dengan semua itu.”
“Oh.” Belinda hanya ber ‘oh’ ria. Ia tahu jika identitas Patrick yang sebenarnya hanya diketahui oleh beberapa orang saja.
“Kau sendiri? Dimana kau mengenal Tuan Hensen?” kini giliran Jimmy yang bertanya.
“Heh? Ah… itu…” Belinda harus mengarang cerita yang bagus, bukan? Ia berpikir sejenak.
“Aku mengenalnya saat tinggal di Amerika. Aku dan putraku baru saja pindah kemari beberapa bulan lalu.” Jawab Belinda diiringi senyum.
“Hmm? Kau sudah punya anak?”
“Yeah. Memangnya Patrick belum menceritakannya padamu?”
“Tidak. Dia bukan tipe orang yang membicarakan orang lain.”
Belinda kembali mengangguk paham.
“Lho, Leora, kau mau kemana?” tiba-tiba netra Belinda tertuju pada seorang gadis yang baru saja memasuki ruang istirahat dan membereskan barang-barangnya.
“Hari ini ayahku berulang tahun. Aku dan ibuku akan mengadakan pesta kejutan untuknya.” Jawab Leora.
“Oh, begitu.” Belinda tertegun kala mendengar kata ayah dan ibu dari bibir Leora. Kini ia mulai mengingat tentang kedua orang tuanya yang sudah lama tidak ia temui.
“Bels, aku pergi dulu ya!” pamit Leora.
“Eh? Ah, iya. Hati-hati dijalan ya!” Belinda mengulas senyum. Namun sedetik kemudian senyum itu hilang.
...…***…...
Usai makan malam, Belinda menikmati kesendirian berdiri di balkon apartemen. Ia mulai merindukan kedua orangtuanya. Sungguh ia sudah menjadi anak yang tidak berbakti selama ini. Ia meninggalkan Negara ini tanpa memikirkan perasaan orang tuanya.
“Bels…” suara Patrick membuyarkan lamunan Belinda.
“Hai, Pat. Sudah selesai membahas misi dengan Boy?”
“Hu’um. Ada apa? Apa ada yang sedang kau pikirkan?”
“Entahlah. Tiba-tiba aku teringat dengan orang tuaku. Sudah hampir 8 tahun aku tak menemui mereka.”
“Apa kau ingin menemui mereka?”
“Ya, sepertinya begitu.”
“Kapan kau akan kesana? Aku bisa menemanimu.” Tawar Patrick.
“Eh? Tapi… apa tidak merepotkan?”
“Not at all. Kapan kau ingin kesana?”
Senyum di wajah Belinda terbit. “Bagaimana kalau besok?”
“Oke. Dulu kau tinggal dimana?”
“Aku tinggal di pesisir pantai… bla… bla… bla…”
Belinda dan Patrick saling bercerita tentang kampung halaman mereka dan juga kenangan masa kecil. Sesekali Belinda tertawa renyah dengan candaan Patrick.
Keesokan harinya, Belinda sudah siap untuk berangkat ke kampung halamannya. Belinda berpamitan pada Boy dan menitipkan Boy pada Riana dan Kenzo. Boy mengangguk mengerti kenapa dirinya tidak ikut bersama dengan Belinda dan Patrick. Sebelumnya Patrick sudah memberitahu Boy jika dirinya mengkhawatirkan sesuatu tentang kampung halaman Belinda. Ada sesuatu yang sepertinya membahayakan disana. Boy mengangguk paham. Patrick adalah agen yang hebat. Boy tahu Patrick bisa melindungi Belinda.
Sekitar 3 jam perjalanan menuju rumah lama Belinda. Angin laut yang sepoi-sepoi mulai bisa Belinda rasakan. Desa itu sudah tak seperti dulu lagi yang ramai dengan banyakny rumah penduduk.
“Aneh! Kemana semua orang? Bukankah biasanya orang-orang ramai berkeliaran di jalan?” Gumam Belinda.
“Sudah bertahun-tahun kau tidak pulang, Bels. Tentu saja semua orang berubah,” ucap Patrick.
“Hmm, benar juga ya.”
Mobil Patrick mulai memasuki area perkampungan milik Belinda. Ada satu rumah yang sangat ia hapal warna catnya meski sudah mulai memudar.
“Itu rumahku!” tunjuk Belinda ke satu rumah berwarna biru terang.
Patrick dan Belinda turun dari mobil. Mereka mengedarkan pandangan.
“Kenapa sepi sekali?” Belinda celingukan mencari tetangganya yang jam segini biasanya duduk di teras rumah.
“Sepertinya firasatku benar. Ada yang tidak beres disini.” Batin Patrick.
Belinda mengetuk pintu rumahnya. Beberapa kali tidak ada sahutan. Dan ternyata pintu rumah tidak terkunci. Belinda mulai memasuki rumah itu.
“Ayah! Ibu!”
Belinda mengernyit heran karena perabotan di rumah itu sudah berdebu dan tak terawat. Patrick juga ikut mengikuti langkah Belinda. Mereka menyusuri rumah tak berpenghuni itu.
DOORRR DOORRR DOOORR DORRRR DORRRR
Terdengar bunyi tembakan beruntun dan membuat Belinda berteriak.
“KYAAAA!!!”
“Menunduk, Bels!” perintah Patrick.
Belinda menundukkan badan dan menutup telinganya. Mereka diserang. Entah siapa yang melakukan semua ini.
Patrick segera mengeluarkan senjata api yang sedari tadi ia simpan dibalik bajunya. Patrick menembak balik para penembak itu. terjadilah baku tembak disana.
Belinda makin meringkukkan tubuhnya diantara lemari yang ada di rumah itu.
“Pat!! Siapa mereka?” teriak Belinda bertanya.
“Entahlah, Bels. Kau tetaplah bersembunyi. Aku akan cari jalan keluar untuk pergi dari rumah ini.”
Belinda mengangguk. Patrick berjalan maju untuk membalas tembakan orang-orang yang mengepung mereka. Ada enam orang berada di luar rumah Belinda.
“Sial! Siapa mereka? Kenapa mereka ingin mencelakai Belinda?” batin Patrick bertanya-tanya sambil focus mengalahkan musuh. Ia berharap bisa mengalahkan mereka dengan peluru yang tersisa. Satu orang berhasil ia tembak. Masih ada lima orang lagi disana.
Belinda memejamkan mata tak ingin melihat adegan baku tembak itu. ia hanya berharap Patrick bisa mengalahkan orang itu.
“Hei, cepat keluar! Kemari!” sebuah suara membuat Belinda membuka mata.
“Hah? Kepala desa!” Belinda berseru gembira.
Seorang pria paruh baya berusaha membantu Belinda dan Patrick keluar dari rumah itu. Belinda memanggil Patrick yang sedang sibuk mengarahkan senjatanya pada orang-orang itu.
“Ayo kemari!” ajak pria paruh baya itu.
Dengan berhati-hati Patrick dan Belinda keluar dari rumah itu melalui jalan rahasia bawah tanah. Belinda baru tahu jika rumahnya memiliki jalan rahasia. Mereka menunduk untuk melewati terowongan rahasia yang diduga dibangun oleh pria paruh baya tadi.
DUUAAAARRRR!!!!!
Suara menggelegar terdengar. Orang-orang itu meledakkan rumah Belinda. Kobaran api yang cukup besar tercipta dari ledakan rumah itu. Belinda yang sudah selamat hanya memandangi dari kejauhan rumahnya yang telah terbakar. Orang-orang itupun sudah pergi. Dia bahkan tidak tahu siapa orang-orang itu. Mungkinkah orang-orang yang sama dengan yang dulu pernah mengejarnya?
#bersambung…
*huft! Ikut deg-degan bikin part ini, heheheh. Siapa sebenarnya orang-orang yang ingin melenyapkan Belinda?
Jangan lupa dukungannya dengan memberi Like, Komen yg positif, Gift, Vote juga boleh mumpung ini hari Senin, hehehe
Terima kasih
*genks,
kalian suka dengan cerita yang memuat beberapa genre? Tak hanya romance tapi juga action dan sedikit misteri yg penuh teka teki? Yuk mampir ke RaKhania. Kisah si detektif cantik yang menguak misteri kematian saudara kembarnya. Ia menyamar menjadi saudara kembarnya dan berurusan dengan organisasi hitam bernama Black
Jack. Yuk kepoin ceritanya.
[
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
VYRDAWZAmut
nice
2022-06-10
1
Your name
Untungnya Patrick sigap ketika awal suara tembakan itu terdengar, dan menyuruh Bels menunduk. Tegang banget, ku kira Bels atau Patrick tertembak
2022-03-11
1
Si Bungsu
tinggal kan jejak dulu Thor,
udah di favorit kan, nanti mampir lagi
2021-12-01
1