Roy kembali ke ruang kerjanya setelah tadi bertemu dengan Boy dan Belinda. Baru sebentar mendaratkan tubuhnya di kursi kebesarannya,Roy kembali di interupsi dengan kedatangan kepala polisi yang memintanya menyelidiki kasus. Tanpa bisa menolak, Roy segera kembali ke ruang autopsy.
“Selamat sore, Dokter Roy. Maaf saya kembali menganggu,” ucap kepala polisi bernama Danial.
“Selamat sore, Pak Danial. Tidak apa. Bukankah sudah menjadi tugas saya untuk membantu pihak kepolisian,” balas Roy.
Sebenarnya Roy melakukan semua pekerjaan dari kepolisian adalah dengan sukarela. Ia sama sekali tak mendapat bayaran dari hasil investigasi yang sudah ia lakukan. Sebagai seorang pebisnis, Roy tahu jika kerja sukarelanya bisa membuat perusahaan bertambah kuat dan disegani. Dan itu sudah ia buktikan dengan makin majunya Avicenna Group setelah diambil alih oleh Roy yang mendapat dukungan dari banyak pihak termasuk
kepolisian.
Roy mulai memakai masker medisnya dan juga sarung tangan. Ia mengamati sekilas jasad yang sudah terbujur kaku itu. Ia memegangi beberapa bagian vital jasad itu. Kemudian tak lama setelahnya, Roy mulai mengambil pisau bedah dan membelah dada jasad itu. Perlahan memeriksa jantung yang sudah tak berdetak itu.
Dua jam berkutat dalam sebuah ruangan yang dingin, Roy akhirnya mulai kelelahan. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Tubuh Roy mulai oleng, lalu ia berpegangan pada benda yang ada di sekitarnya. Jam tangan yang melingkar di tangan Roy bebrbunyi nyaring pertanda jika jantungnya sudah bekerja terlalu keras.
Roy berjalan tertatih menuju ruangannya. Di perjalanan, berutung Roy bertemu dengan Ben yang langsung memegangi tubuhnya.
“Tuan! Tuan baik-baik saja? Saya akan panggilkan Dokter Maliq.” Benjamin merebahkan tubuh Roy pada sofa di ruangan Roy.
Roy tidak menjawab namun ekspresi kesakitan Roy sudah bisa membuat Benjamin tahu jika saat ini ia butuh dokter. Secepat kilat Benjamin berlalu dari ruangan Roy dan menuju ruangan Maliq, dokter sekaligus sahabat Roy.
Tak lama Benjamin kembali dengan membawa Maliq bersamanya. Maliq segera memeriksa kondisi Roy yang sedang memejamkan matanya menahan rasa sakit.
“Ben, tolong minta perawat untuk membawa brankar kemari.” Titah Maliq.
“Baik, dokter.”
Ben kembali berlarian dan memanggil beberapa perawat yang membawa brankar rumah sakit.
“Cepat bantu untuk baringkan Roy di brankar!” ucap Maliq.
Maliq segera membawa Roy ke ruang pemeriksaan miliknya dan memberikan obat untuk Roy.
Kondisi Roy perlahan membaik. Sudah bertahun-tahun Maliq mengadakan penelitian tentang penyakit yang diderita Roy. Dan memang belum ada obat yang pasti untuk itu. Maliq hanya berhasil membuat pereda rasa sakit kala penyakitnya kambuh.
“Sudah kubilang kau jangan mengambil terlalu banyak pekerjaan, Roy. Bukankah tadi kau sudah melakukan autopsy? Kenapa kau mengambil kasus lagi? Ini tidak baik untuk jantungmu. Kau harus ingat tentang kesehatanmu.” Maliq memberi nasehat panjang lebar.
Roy hanya mengangguk. “Terima kasih. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Maliq.”
“Tapi tentang kesehatanmu, itu semua tergantung padamu. Jika kau mengikuti saranku maka kau akan bisa hidup lebih panjang. Aku bukan Tuhan, Roy. Aku tidak tahu kapan jantung seseorang akan berhenti berdetak. Yang hanya bisa kulakukan adalah membantu untuk memperlambat perkembangan penyakitmu. Tapi aku tak bisa menyembuhkanmu.” Ada rasa sesal di wajah Maliq.
“Jangan khawatir. Aku tidak akan mati sebelum aku menemukan semua teka-teki ini.” Roy menepuk bahu Maliq.
“Hah? Teka-teki?” Maliq tak mengerti, namun tidak begitu dengan Ben. Ia tahu betul apa maksud kalimat Roy.
“Anak yang bernama Boy. Yang memiliki kemampuan investigasi dan forensic sepertiku. Aku penasaran dengan anak itu. Apa mungkin dia adalah anakku?”
“Heh?! Roy, jangan bercanda!” Maliq tertawa kecil.
“Aku tidak bercanda. Ada hal yang tidak pernah dunia ketahui tentangku.” Ucap Roy dengan menatap menerawang jauh.
Maliq melirik kearah Ben yang hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya.
...…***…...
Sementara itu ditempat berbeda, Patrick sedang memeriksa berkas-berkas mengenai Boy yang ia dapat dari rekannya di Amerika. Malam sudah mulai larut dan Patrick masih terjaga karena ingin menemukan apa yang ia cari selama ini.
“Pat, kau belum tidur?” Tanya Kenzo saat melintasi ruang tengah apartemen mereka.
“Belum, kenapa kau terbangun?” Tanya Patrick balik sambil tetap fokus pada dokumen di hadapannya.
“Aku merasa haus saja. Aku ingin mengambil minum.”
Usai mengambil segelas air, Kenzo duduk di sofa dan memperhatikan Patrick.
“Kau sedang memeriksa apa?” Tanya Kenzo.
“Berkas tentang Boy.”
“Ada apa dengan Boy? Apa kau masih mencari jawaban atas permintaan Profesor Gerald?”
“Ya, begitulah. Aku penasaran siapa ayah biologis Boy.”
Kenzo menutup mulutnya. “Astaga, Pat! Jika Belinda mengetahui hal ini dia pasti akan marah padamu.”
“Yeah. Itu karena dia tidak pernah jujur pada Boy juga dunia. Aku sangat yakin jika anak segenius Boy pasti
bertanya-tanya siapa ayah kandungnya.”
“Lalu, apa kau berhasil menemukan jawabannya?” Kenzo semakin penasaran dengan pencarian Patrick kali ini. Ia juga sangat penasaran dengan Boy. Dan Kenzo juga merasakan sesuatu yang aneh dengan itu.
“Pat, besarkah kemungkinan jika Boy adalah putramu?”
“Heh?! Jangan konyol! Mana mungkin Boy adalah anakku! Aku bahkan tidak pernah melakukan hal itu dengan…” Patrick merasa malu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Ah, sudahlah. Kau jangan berpikir aneh-aneh.” Patrick mengatur nafasnya yang mulai tak teratur karena mendengar penuturan Kenzo.
“Maaf, Pat. Aku hanya menebak saja. Lagipula, semua memang aneh karena secara tak terduga Profesor Gerald memintamu untuk menjaga Belinda dan putranya. Aku pernah mendengar rumor jika Profesor Gerald melakukan proyek illegal yang tidak diketahui oleh publik. Bisa saja ‘kan dia menciptakan kecerdasan buatan yang bisa melahirkan seorang anak genius.” Kenzo menaik turunkan alisnya.
Patrick hanya terdiam.
“Entah kenapa aku merasa jika Boy memiliki kemiripan denganmu. Kemampuan investigasinya juga handal sepertimu. Hanya saja kemampuan bidang forensiknya yang masih kupertanyakan.”
Patrick kembali berpikir. “Sudahlah, Ken. Kembalilah tidur! Kau terlalu banyak melantur hari ini.”
“Ish, kau ini. Ya sudah, aku kembali ke kamar. Kau juga sebaiknya istirahat.” Kenzopun meninggalkan Patrick yang masih berpikir keras.
#bersambung…
*mohon maaf untuk proses otopsi yg dilakukan Roy itu hanya imajinasi mamak aja ya genks. jangan disamakan dengan proses otopsi yg sebenarnya. mamak hanya mengira-ngira saja.
*Halo, Genks, gimana kabarnya? Yang menikmati kegabutan dikala masa2 PPKM yang terus diperpanjang, yuk mampir di karya mamak yg laennya,
Kali aja jatuh hati dan ikutan baper, hehehe.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
VYRDAWZAmut
lnjut mak
2022-06-10
1
🎤K_Fris🎧
apa sakit roy tu smpai belum menemukan hasil setelah di teliti
laniut mak
2021-09-11
2
black white_❄
semngttt
2021-09-11
2