Vincent Roy Avicenna, pria 27 tahun yang terkenal dengan sikap tegas dan arogan terhadap bawahannya. Pria berdarah campuran ini memiliki wajah tampan dengan tinggi badan 188cm. Di usianya yang masih tergolong muda, ia sudah memimpin Avicenna Group yang terkenal merajai berbagai bisnis.
Sebenarnya Roy, biasa pria itu dipanggil, adalah pria hangat dan ramah. Tapi karena tuntutan pekerjaan juga harus menghadapi persaingan bisnis, membuatnya tak bisa bersantai ria. Setiap hari ia disibukkan dengan pekerjaannya sebagai dokter dan juga pebisnis handal.
Hari sudah mulai larut namun Boy masih memandangi foto dan biodata Roy, yang ia yakini sebagai ayahnya. Boy menemukan foto-foto masa kecil Roy yang sangat mirip dengannya. Bahkan cara mereka mengungkap fakta di balik kasus pembunuhan juga sama.
"Sayang, kau belum tidur?" suara Belinda yang mengintip dari balik pintu kamar Boy membuatnya terkejut dan segera menyembunyikan berkas-berkas milik Roy.
"Ini aku akan pergi tidur, Ma. Selamat malam!" balas Boy kemudian turun dari meja belajarnya dan menuju tempat tidur.
Belinda tersenyum manis kemudian menutup pintu.
Keesokan harinya, Belinda menyiapkan segala keperluan Boy untuk memulai kegiatannya di sekolah. Sudah saatnya Boy masuk sekolah. Belinda mendaftarkan Boy di sekolah biasa dan bukan sekolah yang di rekomendasikan oleh Zara.
Boy bersama Belinda berangkat bersama Patrick, sedang Riana bersama dengan Kenzo. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di sekolah baru Boy. Belinda turun mengantar Boy hingga ke depan kelasnya.
"Sayang, belajarlah dengan giat ya!" pesan Belinda dengan mengusap kepala putranya.
"Iya, Ma. Mama tenang saja. Aku juga akan menjadi anak yang baik."
Belinda memberi salam pada guru Boy kemudian kembali ke mobil yang akan membawanya ke tempat Jimmy. Mulai hari ini Belinda akan resmi menjadi seorang model.
Sesampainya di butik milik Jimmy, Belinda masuk ditemani Patrick. Bagaimanapun juga, Belinda masih awam untuk kembali menjadi seorang model.
"Halo, Bella..." Sapa Jimmy dengan gaya kemayu dan memeluk Belinda.
"Aku tahu kau pasti gugup. Tapi kau beruntung memiliki Tuan Hensen yang menemanimu. Benar 'kan, Tuan Hensen?"
"Yeah, Jim. Aku percaya padamu."
Tak lama Belinda diminta untuk berganti baju dan berpose layaknya foto model profesional. Meski masih kaku, tapi Jimmy mengarahkannya dengan sangat baik. Dan di sela-sela pemotretan itu, Patrick tersenyum kagum pada sosok Belinda.
...***...
Patrick menghubungi Kenzo untuk menjemput Boy di sekolahnya. Ia masih menemani Belinda karena sesi pemotretannya cukup panjang. Sebenarnya ia hanya beralasan saja. Ia masih ingin memandangi Belinda yang sedari tadi gak berhenti berpose dan berganti kostum. Pakaian apapun nampak indah dipakai oleh Belinda.
Sementara itu, Kenzo mendengus kesal karena harus menjemput Boy. Waktu istirahatnya sebenarnya ingin ia gunakan untuk mendekati Riana. Entah kenapa jiwa playboy Kenzo menyeruak dan ingin mendapatkan hati si gadis judes itu.
Benar, Riana memang selalu berkata ketus padanya berbeda dengan Belinda yang selalu ramah padanya. Itu membuat Kenzo frustasi dan ingin mengenalnya lebih jauh.
Kembali pada Boy yang kini menatap Kenzo bingung.
"Paman, Paman kenapa?"
"Sudahlah. Kau anak kecil tidak perlu tahu."
Boy memutar bola matanya malas. "Paman, bisakah aku meminta tolong padamu?"
"Minta tolong apa?"
"Aku ingin ke rumah sakit Avicenna. Bisakah Paman antarkan aku kesana?"
"Heh?! Kau serius? Bagaimana jika Mamamu memarahiku karena tidak mengantarmu padanya?"
"Paman tenang saja. Tidak perlu khawatir."
Kenzo tersenyum seringai. "Baiklah. Kita temui dokter Riana dulu. Ya?"
"Terserah Paman saja."
...***...
-Rumah Sakit Avicenna-
"Baiklah, Boy. Sekarang katakan pada Paman kenapa kau ingin pergi ke rumah sakit? Jika ibumu tahu soal hal ini, maka kita semua bisa celaka. Patrick pasti akan menghukumku!"
"Paman tenang saja, aku hanya ada urusan sebentar disini. Aku pergi dulu, Paman." Boy melambaikan tangan kemudian berlari menyusuri koridor rumah sakit.
"Hei, Boy! Jangan lari!" Kenzo akan ikut berlari menyusul Boy, namun seseorang menarik kerah kemejanya dari belakang.
"Hei, kau! Mau pergi kemana, huh?! Ikut denganku!" Yang menariknya tadi adalah Riana. Ia membawa Kenzo ke ruangannya.
"Astaga, Nona! Lepaskan tanganmu! Kau mencekik leherku! Apa kau ingin membunuhku?" Kenzo terus meronta dan akhirnya Riana melepaskannya.
Kenzo memegangi lehernya yang kesakitan. "Beruntung aku tidak mati."
"Kau ini agen rahasia macam apa, huh? Baru segitu saja sudah mengeluh."
"Nona, untuk apa kau membawaku kemari?"
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawa Boy kemari?" Riana berkacak pinggang.
"Aku tidak tahu. Dia yang ingin datang kemari." jawab Kenzo jujur.
"Hmm, ini aneh. Beberapa hari ini aku mulai mencurigai sesuatu."
"Apa itu, Nona?" Kenzo mendekatkan dirinya pada Riana. Dan membuat Riana tidak nyaman.
"Tidak perlu dekat-dekat! Kau tidak tuli, bukan?" sungut Riana mendorong tubuh Kenzo.
"Nona, kau sangat kasar. Bisakah kau bersikap lebih lembut? Kau ini 'kan dokter, masa tidak ada lembut-lembutnya."
"Dengar ya! Aku memang dokter! Dan aku ramah hanya pada pasienku, bukan pada pria playboy sepertimu!" ucap Riana dengan mengacungkan jari telunjuknya kearah Kenzo.
...***...
Boy menuju sebuah ruangan dimana Roy sedang bekerja. Boy memperhatikan dengan seksama cara Roy saat sedang melakukan autopsi. Ia tersenyum penuh arti.
Benar. Dia memang Papaku! Papa yang selama ini kucari. Dia yang sudah meninggalkan Mama dan aku. Sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi, Pa.
Boy kembali tersenyum seringai dengan banyaknya rencana yang akan dia lakukan kedepannya.
"Boy?" suara seorang wanita memanggil nama Boy.
"Dokter Zara?"
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Tidak ada. Aku hanya mengamati Dokter Roy saat bekerja. Saat dewasa nanti, aku ingin seperti dia." ucap Boy dengan gaya lucu khas anak-anak.
Zara tertawa kecil. "Baiklah. Tapi kau tidak boleh berada disini tanpa pengawasan orang dewasa."
"Maaf, Dokter. Aku tidak sengaja. Kalau begitu aku permisi, Dokter." Boy segera pergi karena takut Zara bertanya lebih banyak.
Senyum manis dari bibir Zara seketika memudar dan berganti seringai mengerikan. "Kalian berdua...? Kurasa aku mulai menemukan titik terang untuk masalah ini."
Zara segera menuju ruangannya dan mengotak-atik keyboard layar datarnya. Ia merinci hal apa saja yang membuat Roy dan Boy sangatlah mirip.
"Sudah kuduga! Ada yang aneh dengan hal ini. Jadi, anak yang dilahirkan wanita itu adalah Boy! Tapi, kenapa aku tidak menemukan apapun tentang wanita itu? Siapa yang ada di balik semua ini? Apa mungkin kakek tua itu yang melindungi wanita itu selama ini?" gumam Zara.
#bersambung...
Rekomendasi novel hari ini, adalah Kenapa harus menikah denganmu? by othor Meylani Putri Putti.
bergenre romance, komedi juga dan ada sad nya juga.
yuks kepoin 😉kali aja bisa ngilangin suntuk dikala PPKM terus diperpanjang 😬😬
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
Nurhayati Firganingsih
mulai sedikit demi sedikit terkuat kelicikan dokter zara,semoga cpt terbongkar tapi itu juga tergantung dr penulis jg klu autor nggak punya kekuasaan utk itu hrs............😅😅☺️
2024-06-23
1
N⃟ʲᵃᵃ࿐DHE-DHE"OFF🎤🎧
Zara bermuka 2 yah
baik d depan
nenek lampir dibelakang 🤣🤣
2022-09-16
1
VYRDAWZAmut
njutttt
2022-06-10
1