Boy
kembali ke rumah dengan perasaan bahagia. Ia senang bisa bekerja dengan
ayahnya. Meski awalnya sempat berdebat karena ayahnya tak mau mengalah, tapi
akhirnya di deduksi terakhir mereka berdua mengemukakan pendapat yang sama. Dan
membuat pelaku pembunuhan jasad tadi terbongkar.
“Ada
apa, sayang? Kau terlihat sangat senang setelah kembali dari rumah sakit.” Tanya
Lian sambil menyiapkan makan siang.
“Iya,
Ma. Tadi aku kembali melakukan autopsi. Dan Mama tahu, aku bekerja bersama
siapa?”
“Siapa
memangnya?”
“Dokter
Roy.”
“Dokter
Roy?” Lian mengernyitkan kening.
“Vincent
Roy Avicenna, Ma. Dia dokter forensic yang sangat terkenal.”
Lian
tersedak ketika mendengar nama Roy.
“Ada
apa, Ma?”
“Ti-tidak
apa-apa.” Entah kenapa wajah Lian menjadi panic ketika mendengar nama Roy. Padahal
mereka saling mengenalpun tidak. Mereka hanya tak sengaja bertemu saat ponsel
Lian tertinggal di resto hotel.
“Kau
makanlah dulu, ya. Mama mau ke kamar mandi.” Lian segera bergegas menuju kamar
mandi.
Lian
memandangi wajahnya di cermin. “Ada apa denganku? Kenapa aku jadi gugup saat
mendengar nama pria itu?” Lian memegangi wajahnya. “Astaga!!!”
Lian
mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar. Dia berusaha menetralkan detak
jantungnya yang tak beraturan.
“Keluarga
Avicenna adalah keluarga yang sangat terpandang, Lian. Kau harus sadar siapa
dirimu. Bahkan memikirkannya saja kau tak pantas. Huft!!!”
,
,
,
“Aku
tidak tahu sebenarnya ini pantas untuk kukatakan atau tidak. Tapi, aku ingin
mempermudah pekerjaan putramu.” Jelas Patrick.
“Jadi,
apa maksudmu?” Tanya Lian tak paham.
“Akan
lebih mudah untukku mengawasi Boy jika kami tinggal berdekatan.”
“Maksudmu…”
“Ikutlah
pindah ke apartemenku!”
“Hah?!
Apa maksudmu?!” sungut Lian.
“Jangan
salah sangka dulu, Nona. Maksudku bukan tinggal satu unit apartemen denganku,
tapi berbeda unit.”
“Lalu?”
“Aku
sudah menyiapkan apartemen untuk Boy. Dia akan bekerja dengan lebih baik. Aku
menyiapkan satu kamar khusus untuknya.”
Lian
menghela nafasnya. “Kenapa kau melakukan ini?”
“Karena
ini adalah tugasku sebagai pembimbing Boy.”
Lian
terdiam dan tidak menjawab.
“Kau
pikirkan saja dulu, Nona. Kau bisa pindah bersama temanmu juga.”
,
,
,
“Pindah?”
Riana berjingkat antusias. “Kurasa itu ide yang bagus juga!” Ia meringis
memperlihatkan deretan giginya.
“Ish,
kau ini!”
“Rejeki
mana boleh ditolak sih, Li!”
“Tapi…
aku merasa tidak enak hati dengannya. Kami bahkan baru sebulan ada disini.”
“Mungkin
dia lelah harus bolak balik kemari. Apartemen apa yang dia tawarkan?”
“Prince
Town.”
“What?!
Prince Town! Kau serius, Li? Itu adalah apartemen mewah di kota ini. ayolah,
Li, kita pindah saja kesana!” rengek Riana pada Lian.
“Ish,
kau!” Lian ingin sekali memukul gadis manis yang merajuk pada dirinya itu.
“Lagipula
kurasa itu adalah imbalan untuk pekerjaan Boy. Benar, ‘kan?”
“Entahlah.”
Lian memutar bola matanya malas.
“Kau
beruntung memiliki Boy dalam hidupmu, Li.”
“Dia
adalah cahaya hidupku, Ri. Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tanpanya.”
Riana
memeluk sahabatnya itu. Riana tahu bagaimana perjuangan Lian di saat-saat
sendiri mengandung Boy tanpa seorang suami di usia yang masih amat muda. Ia mengusap
punggung Lian lembut.
“Kau
sudah menuai hasil yang manis sekarang. Jangan memikirkan apapun lagi. Oke?”
Lian
mengangguk. “Terima kasih, Ri. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa dirimu.”
.
.
.
Esok
harinya, Lian menghubungi Patrick dan mengatakan jika dirinya bersedia pindah
bersama Boy juga Riana. Dan hari ini mereka sedang mengemas barang-barang yang
akan dibawa. Patrick dan Kenzo pun ikut membantu membawa barang pindahan milik
Lian dan Boy.
“Kau
tidak perlu membawa banyak barang, Nona. Apartemen itu dilengkapi fasilitas
yang lengkap.” Terang Patrick. Lian mengangguk paham.
Sekitar
45 menit perjalanan menuju apartemen Prince Town di tengah kota. Lian terkesima
melihat unit apartemen yang cukup mewah itu. Dominasi warna krem membuat hati
menjadi tenang. Lian menyukai warna yang lembut.
Lian
menuju dapur. Tempat ini adalah tempat favoritnya setelah menjadi seorang ibu.
“Kau
suka memasak?” Tanya Patrick.
“Hmm,
begitulah.” Jawab Lian singkat.
“Kalau
begitu kau bisa masak untukku?”
“Eh?”
Sejenak tatapan mata mereka bertemu. Lian melihat ketenangan dalam tatapan
Patrick.
“Umm,
maksudku… masak untuk kami semua. Tidak hanya untukku.” Patrick menggaruk
tengkuknya yang tak gatal. Ia gugup setelah saling bertatapan dengan Lian.
Lian
tersenyum. Senyumnya sangat manis. “Tentu saja. Aku akan membuatkan makanan
untukmu setiap hari. Tapi ada syaratnya.”
“Heh?
Apa syaratnya?”
“Kau
tidak boleh membuang makanannya. Kau harus menghabiskannya.”
Patrick
tertawa. “Hanya itu saja syaratnya? Tentu saja aku akan melakukannya.”
“Terima
kasih.” Ucap Lian.
“Untuk
apa?”
“Semuanya.
Kau orang yang baik, Tuan Hensen.” Jawab Lian kemudian menghampiri Riana dan
Kenzo yang sedang berbenah.
.
.
.
Setelah
seharian memindahkan barang-barang, Patrick dan Kenzo memutuskan untuk
bersantai dan meminum kopi di café apartemen di lantai bawah. Meski barang
milik Lian dan Boy tidak terlalu banyak, tetap saja mereka merasa lelah.
Saat
sedang menyesap kopinya, netra Patrick tertuju pada seseorang yang tidak asing.
Kenzo yang melihat ekspresi sahabatnya berubah, segera mengikuti kemana arah
mata Patrick memandang.
“Astaga,
Pat! Kau memandanginya sampai matamu akan terlepas.” Ledek Kenzo.
“Jangan
asal bicara! Kau tahu kenapa bosmu ada disini?”
“Maksudmu
dokter Roy?”
Patrick
memutar bola matanya malas. “Siapa lagi?”
“Dia
memang tinggal disini.” Balas Kenzo santai.
“Dia?
Benarkah? Sejak kapan?” Patrick sangat terkejut.
“Sebelum
kau pindah kemari, dia sudah tinggal disini, Pat.”
Patrick
berusaha menetralkan deru nafasnya. Orang yang ia bicarakan kini telah
menghilang tertutup pintu lift yang membawanya naik.
“Ada
apa, Pat?”
“Tidak
ada.” Patrick memalingkan wajahnya.
Kenzo
mengedikkan bahunya. Ia tak mau ikut campur urusan sahabatnya itu. Masa lalu
yang berusaha Patrick kubur bersama kenangan pahitnya kini kembali menyeruak. Terkadang
ia sendiri bingung, apakah keputusannya untuk kembali ke Negara ini adalah
benar atau tidak.
.
.
.
Wanita
cantik itu menerobos masuk sebuah ruangan laboratorium yang sudah lama
terbengkalai. Dia adalah Zara, yang sedang mencari bukti tentang apa yang
dilakukan kakeknya 7 tahun lalu. Bertahun-tahun mencari bukti yang konkret
namun masih belum ia temukan hingga akhirnya ia bertemu dengan Boy.
Firasatnya
tidak mungkin salah. “Ada sesuatu dengan anak itu yang terhubung dengan
peristiwa 7 tahun lalu.”
Zara
menggeram kesal karena tak menemukan apapun.
“Arrrggghhh!!!
Dasar kakek tua! Dimana kau sembunyikan semua bukti-bukti itu!”
Wanita
cantik itu kini berubah menyeramkan hanya karena ingin menemukan bukti dari
masa lalu.
“Aku
tidak akan melepaskan perempuan itu dan juga anaknya jika sampai semua itu
benar. Kau lihat saja, kakek. Kau akan menyesal karena sudah melakukan ini
padaku!”
#bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
bibuk duo nan
jangan jangan yg membunuh tuan Gerald adalah zara
2024-06-22
1
N⃟ʲᵃᵃ࿐DHE-DHE"OFF🎤🎧
ternyata oh ternyata Zara jahat juga ya
pasti dia ngga suka karena Roy sudah menolak nya,
2022-09-14
1
Desak Putu
wah jd zara ini yg d ceritain roy ma kakek ny donald utk gk tw klo roy nanam benih ke rahim lian buat jd pewaris avicena ya... krn zara suka roy ..
2022-01-06
1