Lian kembali setelah mengambil ponselnya yang tertinggal. Boy dan Patrick sudah menunggu di dalam mobil. Lian segera masuk ke dalam mobil.
"Maaf ya, karena aku kau jadi menunggu." ucap Lian pada Patrick.
"Tidak masalah. Bisa kita berangkat? Boy, pakailah sabuk pengamanmu."
"Baik, Paman."
Boy duduk di kursi depan menemani Patrick. Sedang Lian duduk di belakang.
"Apa nama tempat tinggalmu?" tanya Patrick.
"Apartemen Riverside Town, Paman." jawab Boy lantang.
Lian hanya tersenyum tipis. Selama perjalanan, tidak ada permbicaraan yang berarti. Lian terus terdiam sambil memandangi kota di malam hari.
Patrick sesekali melirik pada Lian melalui kaca spion. Patrick sangat mengagumi kecantikan alami Lian dan juga perjuangannya membesarkan Boy sendiri tanpa seorang ayah.
Sebenarnya Patrick juga bertanya-tanya sebenarnya siapa ayah Boy. Tapi menurut Conrad Webster, Lian pergi ke luar negeri saat mengandung Boy. Entah apa yang membuatnya pergi. Yang kini ia rasakan adalah ia ingin melindungi Lian juga Boy.
"Terima kasih banyak," ucap Lian ketika sudah tiba di lobi apartemen.
"Terima kasih kembali. Jangan sungkan. Boy, besok Paman datang lagi kemari untuk membahas pekerjaan." Ucap Patrick sambil mengacak pelan rambut Boy.
"Baik, Paman. Hati-hati di jalan." Boy melambaikan tangan pada Patrick.
...***...
Di dalam kamar, lagi-lagi Lian termenung. Dan itu membuat Boy bertanya-tanya.
"Ada apa, Ma?"
"Tidak ada, sayang."
"Apa Mama mengenal pria tadi?"
"Eh? Pria tadi?" Lian mengernyitkan dahi.
"Pria bernama Vincent Roy Avicenna."
"Hah?! Vincent Roy Avicenna?"
"Ish, Mama! Mama sangat tidak fokus. Pria yang tadi ada di restoran itu bukankah bernama Vincent Roy Avicenna? Dia adalah dokter yang tadi memberikan seminar disana. Paman Patrick juga mengenalnya. Dia itu pewaris tunggal Avicenna Group. Apa Mama tahu?"
"Eh? Ah, itu... " Lian menggaruk tengkuknya.
"Sudahlah. Sebaiknya aku tidur. Mama juga tidur saja."
Boy merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dan Lian pun ikut terhanyut dalam mimpi bersama Boy.
...***...
Keesokan harinya, Patrick kembali datang ke apartemen Boy dan Lian. Lian menyuguhkan secangkir teh untuk Patrick.
"Silahkan diminum. Kalian bisa bicara di kamar. Aku akan keluar sebentar untuk berbelanja."
"Oke, Mama. Ayo, Paman! Kita bicara di kamar saja!" ajak Boy.
Lian tersenyum melihat Boy begitu nyaman bersama Patrick.
Di dalam kamar, Patrick membuka sebuah amplop yang berisikan misi milik mereka.
"Apa itu, Paman?" tanya Boy.
"Ini adalah berkas-berkas tentang misi kita." jawab Patrick.
"Siapa orang ini, Paman?"
"Dia adalah Profesor Gerald Rayyan."
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Boy antusias.
"Dia dinyatakan menghilang 1 tahun yang lalu."
"Kira-kira apa yang menyebabkan dia menghilang, Paman? Bukankah orang besar biasa bersembunyi. Mungkin saja dia hanya bersembunyi bukan hilang. atau dia memang sengaja menghilang?"
"Ada teori yang mengatakan seperti itu, tapi menurut FBI, kemungkinan besar ada seseorang atau sekelompok orang yang membuatnya menghilang."
"Bagaimana jika ternyata orang itu sudah meninggal, Paman?"
"Tidak. Kemungkinannya kecil kalau dia sudah meninggal."
"Lalu apa yang akan kita lakukan, Paman? Kita akan menyelidikinya dari mana?"
"Anak pintar. Kau selalu menanyakan hal yang tepat. Lihatlah ini!" Patrick memperlihatkan sebuah selembar kertas lagi kepada Boy.
"Siapa wanita Ini, Paman?"
"Dia adalah Zara Asterlita Rayyan. Dia adalah cucu Profesor Gerald. Ada kemungkinan dia adalah tersangka dari kasus ini."
"Wanita cantik seperti ini menjadi tersangka. Yang benar saja, Paman?"
Patrick tertawa. "Kau masih terlalu kecil untuk tahu mana wanita yang cantik dan mana yang tidak."
"Tentu saja aku tahu, Paman. Memangnya Paman tidak bisa melihat jika wanita di foto ini adalah wanita yang cantik."
"Baiklah. Apa yang harus kulakukan dengan wanita ini?" sambung Boy
"Kau akan datang ke rumah sakit dan menjadi pasiennya. Zara adalah seorang dokter anak. Dia sedang melakukan penelitian tentang anak jenius."
Boy mengerutkan keningnya. "Untuk apa dia melakukan penelitian itu?"
"Entahlah. Itulah yang harus kita cari tahu."
Boy mengangguk paham. Setelah membicarakan tentang misi rahasia yang akan mereka lakukan, Boy lalu menunjukkan penemuan terbarunya tentang Software yang sedang dibuat oleh Avicenna Group.
"Lihat kemari, Paman, aku ingin menunjukkan sesuatu." Boy membuka notebook miliknya.
Jari-jari kecilnya bermain di keyboard Notebook dengan lincah.
"Mereka ternyata sedang membuat aplikasi tentang kejujuran."
Patrick terkekeh geli. "Bukankah aplikasi semacam itu sudah ada sejak beberapa tahun yang lalu?"
"Iya, tapi yang ini berbeda. Mendeteksi kejujuran lewat denyut jantung itu sudah biasa. Tapi ini melalui sentuhan tangan."
"Jangan bercanda, Boy! Tidak ada hal semacam itu di dunia."
"Terserah saja kalau Paman tidak percaya. Atau Paman ingin mencobanya?" tantang Boy.
Patrick panik saat Boy meminta nya untuk mencoba aplikasi buatannya.
"Sudahlah. Kita tidak ada waktu untuk bermain-main. Lagi pula Kenapa kau tertarik dengan Avicenna Group? Mereka bahkan tidak berhubungan dengan misi kita."
"Maafkan aku, Paman. Aku tidak sengaja."
"Tidak apa-apa. Ya sudah, sebaiknya Paman pulang. Besok kau bersiaplah untuk menemui Zara di rumah sakit Avicenna. Dan jika ibumu bertanya sebaiknya kau katakan saja dengan jujur agar dia tidak merasa khawatir."
"Baik, Paman."
Ketika Patrick keluar dari kamar Boy, ia berpapasan dengan Lian yang baru kembali dari berbelanja.
"Kau sudah mau pulang, Pat?"
"Iya. urusanku dengan Boy Sudah selesai."
"Baiklah. hati-hati dijalan!"
...***...
Malam harinya Boy masih sibuk di depan notebooknya.
"Ini sudah malam, Nak. Sebaiknya kau beristirahat."
"Iya. Mama juga ya."
"Kalau boleh Mama tahu, apa Misi Rahasia mu kali ini? tapi jika Paman Patrick melarangmu untuk menceritakannya pada Mama tidak apa. Yang penting kau bisa menjaga dirimu."
"Apa Mama mengenal profesor Gerald Rayyan?"
"Kenapa kau menanyakan itu?"
"Bukankah Mama pernah berkuliah di Universitas Avicenna? Profesor itu cukup terkenal di kampus mama."
Seketika Lian mematung. Dia tidak tahu harus menjawab apa pada putranya. Wajahnya menunjukkan ketakutan. Ingatan tentang masa lalunya kembali menguar.
"Ma, apa Mama baik-baik saja?"
"Iya, sayang. Mama baik-baik saja. Sudah malam sebaiknya kau tidur."
"Baik, Ma."
Sementara itu di apartemennya, Patrick sedang memikirkan sesuatu. Ia menerima misi ini karena misi ini berhubungan dengan kejadian di masa lalu.
Tujuh tahun yang lalu, Patrick mendapatkan surat dari Gerald Rayyan. Di surat itu tertulis jika Gerald meminta Patrick untuk menjaga seorang wanita yang bernama Putri berlian. Di surat itu juga tertulis jika Patrick harus menjaga anak yang dilahirkan oleh Lian.
Awalnya Patrick tidak mengerti kenapa Gerald meminta untuk memintanya untuk menjaga seorang wanita dan anaknya. Tapi sekarang semua pertanyaan itu telah terjawab. Patrick bisa menyimpulkan jika menghilangnya Gerald ada hubungannya dengan Boy dan juga ibunya.
Patrick memijat pelipisnya pelan.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu 7 tahun yang lalu, Nona?" gumam Patrick sambil memandangi foto Lian yang dikirim oleh Gerald 7 tahun yang lalu.
#bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 194 Episodes
Comments
N⃟ʲᵃᵃ࿐DHE-DHE"OFF🎤🎧
oh ternyata patrick dpt amanah dari prof Gerald bwt jagain Lian sm Anaknya
2022-09-14
1
Amrih Ledjaringtyas
oooo
2022-01-05
1
Titik pujiningdyah
oalah ternyata si pat udah tau siapa lian dan boy
2021-12-21
6