Mobil yang dikemudikan Kevin sampai di depan rumah Leo. Dua anak buah Doni yang kini juga mulai bekerja menjadi penjaga pintu gerbang depan rumah Leo tampak sigap membuka dan menutup gerbang untuk mobil Leo yang baru saja datang.
"Kau pergilah ke cafe. Uruskan semuanya untukku, hari ini aku tak mau melakukan apa-apa."
Kata Leo pada Kevin yang mengangguk
Leo turun dari dari mobil sambil membuka jas nya, begitu masuk rumah ia melemparkan jas nya begitu saja ke atas sofa ruang depan.
Ia berjalan ke arah mini bar yang ada di rumahnya, meraih satu botol minuman keras lalu menenggaknya sambil kemudian duduk di atas kursi bar.
Bayangan wajah Ibu nya sepuluh tahun lalu kini seolah ada di depan mata. Leo begitu pedih menyadari ia menyimpan benci padanya selama ini.
Jika saja ia tak menuruti rasa bencinya dan tak menuruti pula perintah Ayahnya, ia mungkin akan lebih dulu menemukan keberadaan Ibunya dan bisa menyelamatkannya dari para pembunuh itu.
Leo menenggak minumannya lagi.
Dada dan darahnya kini terasa begitu terbakar. Ia ingin memburu pembunuh Ibunya. Ia bersumpah akan membuatnya membuat orang itu membayar mahal atas semua yang telah ia perbuat.
Leo kembali menenggak minumannya. Terus dan terus hingga satu botol itu pun nyaris habis.
Sementara itu Viera yang baru mendapat telfon dari Doni soal kebenaran bahwa Ibu Leo adalah Karlita tampak begitu syok.
Ia tak menyangka jika ternyata mereka Ibu dan anak yang telah terpisah sekian lama, lalu kini akhirnya tak lagi bisa bertemu di dunia.
Miris rasa hati melihat kenyataan yang terpampang di depannya.
Sebuah skenario hidup yang begitu kelam untuk anak manusia.
Viera kemudian tiba-tiba ingat foto milik Karlita. Foto yang terakhir kali Viera lihat dipeluknya erat sambil menangisinya.
Yah Foto itu, foto Leo saat masih SMA.
Viera lekas menuju kamarnya. Ia membongkar tas nya. Ia ingat foto itu sempat ia selamatkan setelah bingkainya pecah berserakan.
Dan...
Ah, Viera menemukannya.
Foto Leo, yang kini baru disadari Viera memang itu adalah foto Tuan Mudanya. Viera tak mengenali karena ia memang bukan seseorang yang senang menghafal wajah.
Viera membalik foto itu di mana di sana ada tulisan tangan Karlita yang menjelaskan waktu, entah itu tanggal di mana foto itu dibuat atau saat Leo pergi pertama kali ke tempat pengasingannya.
Aku Merindukan mu Anakku.
26-04-2008.
Viera membawanya keluar dari kamar.
Ia rasa, ia harus mengembalikan foto itu pada pemiliknya. Mendapati kabar jika Nyonya Karlita yang malang itu telah tiada membuat Viera merasa harus mewakilkan perempuan itu mengatakan sesuatu pada sang anak.
Yah... Mungkin inilah yang disebut takdir.
Di mana Tuhan sengaja mengirim Viera ke tempat Leo setelah dari tempat Ibunya.
Tuhan pasti ingin Viera mengatakan pada Leo jika Ibunya sangat merindukannya selama ini, dan ia masih begitu berharap bisa bertemu dengannya hingga hari terakhir ia akan diasingkan lagi.
Viera kemudian menuju ruangan utama rumah Leo dan mendapati Tuan Mudanya tampak duduk di mini bar.
Viera mendekatinya, tapi Leo seolah tak menyadari kehadiran Viera di sana.
Ia terlalu sibuk menenggak minuman, setelah kemudian minumannya habis, ia melempar botol itu ke arah deretan botol minuman yang ada di rak hingga semua hancur berantakan.
Viera begitu kaget dengan yang dilakukan Leo.
Ah mungkin ini bukan waktu yang tepat. Pikir Viera.
Gadis itu pun kemudian berbalik dan merasa akan kembali setelah situasinya lebih membaik saja, ketika kemudian tiba-tiba Leo menubruknya dari belakang.
"Aleena, kau kah itu."
Lirih Leo sambil kemudian memeluk Viera dari belakang.
Aroma alkohol yang begitu kuat membuat Viera ingin muntah.
Leo mengeratkan pelukannya.
"Jangan pergi, aku kesepian, jangan pergi lagi Aleena."
Kata Leo.
"Tuan, aku bukan Aleena."
Kata Viera.
Tapi Leo terlalu mabuk, ia tak memahami kalimat Viera dengan benar.
"Ibu meninggal Aleena, Ibu meninggal, Ibu yang membuang ku kini juga meninggalkan ku."
Raung Leo.
"Tuan sadarlah."
Kata Viera berusaha melepaskan diri dari pelukan erat Leo.
"Aleena, apa kamu juga akan pergi lagi? Meninggalkan ku lagi? Aku sudah bilang aku kesepian dan kau tega akan pergi lagi!"
Teriak Leo.
Ia menarik Viera dan membalikkan tubuhnya. Leo berusaha mencium Viera, namun Viera yang menguasai bela diri itu reflek memiting Leo dan kemudian membantingnya ke lantai.
"Tuan, sadarlah, aku bukan Aleena!"
Bentak Viera.
Tapi Leo di lantai terlihat sudah tak berdaya, Mabuk berat sampai tak bisa melawan.
**-------**
Viera memandangi Tuan mudanya yang terkapar, di tariknya tangannya dengan susah payah agar bisa berdiri.
Leo masih saja bergumam-gumam tak jelas lagi, setiap ia membuka mulutnya, aroma alkohol membuat Viera tak bisa bernafas dengan baik.
Ah dia benci aromanya, bahkan saat kakaknya mabuk Viera akan kesal setengah mati.
Viera kemudian menarik tubuh Leo lagi, mencoba menopangnya, menyeretnya dengan payah menuju kamar Leo.
Sungguh, jika ia hanya gadis biasa, pasti ia lebih memilih membiarkan Tuannya itu sadar dengan sendirinya di sana. Ini saja sudah sangat berat. Batin Viera kesal.
"Kau bukan Aleena, kau pasti bukan Aleena, kau kasar sekali."
Kata Leo lagi dengan suara yang masih tak jelas.
"Haish, aku memang bukan Aleena, aku sudah bilang."
Sahut Viera yang sebetulnya ia jadi merasa bodoh karena harus menanggapi orang mabuk.
Viera membaringkan tubuh Leo di atas kasur begitu sampai di kamar.
Nafasnya ngos-ngosan sampai paru-parunya rasanya hampir lepas.
Setelah itu Viera membuka tirai kamar Leo, membuka kaca jendela menuju balkon kamar Leo agar udara di sana tak begitu pengap.
Ia kemudian meletakkan foto Leo di atas meja kecil dekat tempat tidur Leo.
"Aku pasti akan membunuh mereka, aku akan mencincang mereka satu persatu dengan tanganku sendiri. Kau lihat saja."
Kata Leo masih dengan mata tertutup.
Viera menggelengkan kepalanya melihat Leo begitu menyedihkan.
"Yah baiklah, aku akan siapkan pisau untuk mencincang mereka."
Sahut Viera lagi.
Ia melepaskan sepatu Leo dan kaos kakinya, setelah itu baru ia tinggalkan Leo sendirian di kamar.
Sebetulnya ia ingin mengganti pakaian Leo pula, tapi kejadian di mana Leo menyangka ia adalah Aleena membuatnya harus berpikir dua kali untuk melakukannya.
Bagaimanapun, Tuan mudanya sedang tidak sadar, ia tak mau sesuatu terjadi lagi nantinya.
Viera akhirnya keluar dari kamar Leo. Ia menuju kambali ke lantai bawah, ia akan membuat minuman untuk nanti Leo minum setelah mabuknya reda.
Dulu, kakaknya sering memintanya membuatkan jika kakaknya itu baru saja mabuk.
Viera melangkah menuju dapur. Ia ingat lagi nama gadis yang disebutkan Leo tadi.
Aleena...
Siapa Aleena? Batin Viera.
Gadis Tuan Leo kah?
Ah yah, tentu saja, dia jelas terlalu tampan jika belum memiliki kekasih. Pikir Viera lagi.
Di kamar Leo pelahan membuka matanya, perutnya mulai mual, ia turun dari tempat tidur, sempoyongan ke sana kemari, merayap berpegang dinding hingga sampai di kamar mandi lalu ia muntah sampai puas di toilet.
Setelah lelah muntah ia kemudian tergeletak di lantai, berbaring terlentang menghadap langit-langit.
Semua berputar, kepalanya berat namun tubuhnya seperti melayang.
Leo menutup matanya sejenak, ia ingin menangis karena kesedihannya terlalu dalam, tapi tak bisa, dan itu membuatnya begitu frustasi.
**------------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Usmi Usmi
blm bisa di katakan kuat kl masih cengeng dan kalah taktik sama musuhnya
2025-03-14
0
Zuraida Zuraida
ntuh yang gak baek kok ada masalah larinya meminum ape gak malah semakin kacau
2023-07-24
1
Ida Lailamajenun
klu Viera gk bisa beladiri udh ditancap gas ma Leo tuh 😂😂
2022-03-16
1