Viera menyeruput kopi instannya yang masih mengepul, di depannya tersaji gorengan tahu dan tempe yang juga masih hangat.
Warung kopi berukuran kecil itu sudah menjadi langganan Viera dan sang Kakak sejak setahun lalu pindah kontrakan di kawasan Senen atas rekomendasi sepupu Viera yang kebetulan mendapat suami di sana.
Yah, sejak orangtua Viera meninggal, ia dan sang kakak memang bisa dibilang tak memiliki tempat tinggal tetap, mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menyesuaikan isi kantong mereka.
Sama sebagaimana yang dialami Karlita yang kapan saja bisa pindah tempat tinggal, Viera juga sebetulnya seperti itu. Bedanya Karlita dipaksa seseorang karena menyangkut keselamatannya, sementara Viera dipaksa keadaan karena keuangannya.
"Oh iya Vier, aku lupa."
Tiba-tiba seorang pemuda yang rambutnya agak gondrong melongok ke dalam warung kopi. Ia salah satu dari mereka yang tadi sibuk nonton video aksi seorang pemuda di depan mall sekitar Bogor.
"Apaan?"
Tanya Viera.
Pemuda berambut gondrong itu masuk ke dalam warung kopi tatkala melihat sepiring gorengan yang menggiurkan.
Ia menghampiri Viera, duduk di sebelahnya lalu ikut mencomot satu gorengan tempe yang masih hangat.
"Kemarin ada yang nyari kamu."
Katanya lalu menggigit gorengannya.
Viera mengerutkan kening.
"Siapa?"
Tanya Viera heran.
Tumben ada yang nyari. Batin Viera.
"Cowok, penampilannya rapih, pakai mobil warna abu-abu silver, dia nanyain kamu di kiosnya Ko Acil yang jual pakan burung depan gang tuh."
Kata si pemuda yang kemudian menggigit gorengannya lagi hingga habis.
"Cowok penampilan rapih."
Viera garuk-garuk kepala.
"Mau apa katanya?"
Tanya Viera lagi penasaran.
"Kata Ko Acil sih dia nanyain adik Roy tinggal di sini apa enggak."
"Adik Roy?"
Viera antusias.
Jangan-jangan dia teman kakaknya, dan ia punya pesan penting dari sang kakak, batin Viera.
"Dia ngga titip pesan apa-apa?"
Tanya Viera.
Pemuda itu mengedikkan bahu.
"Mending nanya sendiri saja sama Ko Acil, soalnya kemarin Ko Acil cuma nanyain kamu di rumah apa enggak, ada yang nyari, gitu katanya."
Viera pun langsung berdiri dan bergegas akan keluar.
"Eh Vier, bayar dulu napa."
Pemuda rambut gondrong itu mengingatkan.
"Halah udah ntar lagi aja, sana urusin dulu urusannya, kayak sama siapa."
Kata pemilik warung kopi yang memang berhubungan baik dengan Viera dan sang Kakak.
Viera pun mengacungkan ibu jarinya, lalu dengan sedikit berlari ia menuju ke kios Ko Acil.
Laki-laki paruh baya keturunan Tionghoa itu tampak sedang melayani pembeli begitu Viera sampai di kiosnya.
Setelah selesai melayani, barulah Ko Acil bertanya pada Viera.
"Ada apa Non lari-lari?"
"Ko, katanya kemarin ada yang nanyain aku?"
Viera balik bertanya.
Ko Acil mantuk-mantuk.
"Iya kemarin ada laki-laki cari kamu Vier, dia tanya apa adik Roy tinggal di sini."
"Trus Ko Acil bilang apa?"
Tanya Viera lagi.
"Ya saya bilang sama dia kalau iya benar Roy dan adiknya tinggal di sini, tapi Roy sudah lama tidak pulang, sementara adik Roy kerja di perumahan sekitar Jakarta Selatan."
Jawab Ko Acil jujur.
Apa mungkin dia polisi, detektif, teman Kak Roy? Batin Viera berharap akan ada kabar baik setelah ini.
"Ah tunggu sebentar, dia kemarin sempat kasih kartu nama, saya taruh di mana ya kemarin, nanti saya cari dulu."
Kata Ko Acil lagi sambil kemudian masuk ke dalam rumahnya yang terhubung dengan kios pakan burung.
Viera menunggu sambil mengetuk-ngetukkan jari di atas etalase.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Ko Acil muncul dengan satu kartu nama.
"Ah ini untung ketemu ya Vier."
Ujar Ko Acil lega.
Viera bahkan jauh lebih lega begitu menerima kartu nama itu dari tangan Ko Acil.
"Coba kamu hubungi saja dia, sepertinya dia orang baik, mungkin ada kabar soal Roy."
Kata Ko Acil pula.
Viera mengangguk.
**-------**
Viera pulang ke rumah kontrakannya, sebelum ke rumah ia mampir ke warung kopi lagi sebentar untuk membayar, setelah itu baru ia masuk ke dalam rumah kontrakannya yang sempit.
Viera duduk bersila di atas kasur lantai, lalu meraih hp di saku tas ranselnya, baru kemudian ia menghubungi nomor yang tertera di kartu nama.
RICKY JERVANOS
begitu nama yang tertera di sana. Kartu nama dengan gambar malaikat hitam.
Tuuuuut...
Panggilan terhubung.
Viera menarik nafas dalam-dalam, lalu menghempaskannya pelahan saat kemudian dari seberang sana akhirnya terdengar suara seorang laki-laki.
"Yah halo."
Viera kemudian menjawab.
"Halo Bang, benar ini nomor Bang Ricky?"
"Ah yah benar."
Laki-laki itu membenarkan.
"Ini saya, Viera, adik Kak Roy."
Kata Viera memperkenalkan diri tanpa banyak basa basi.
"Wah benarkah, di mana kamu?"
Suara di seberang sana terdengar begitu semangat, Viera jadi merasa optimis jika ini pasti soal Kakaknya.
"Saya teman Roy."
Kata laki-laki itu lagi.
Viera pun langsung memberitahu di mana posisinya sekarang.
Di cafe Leo, pemuda itu tampak duduk di kursi dengan kaki selonjor ke atas meja.
Cafe yang berukuran tak begitu besar namun cukup menarik bila nanti di renovasi sana sini itu cukup membuat Leo merasa bersemangat untuk memulai bisnis kecilnya.
"Vin."
Panggil Leo.
"Yah Tuan."
Kevin berdiri di dekat Leo.
"Kamu sudah catat semua yang aku minta tadi untuk cafe ini?"
Tanya Leo.
Kevin mengangguk.
"Ya Tuan, sudah semua."
Kata Kevin.
"Apa sudah termasuk dengan pengumuman untuk lowongan karyawan?"
Tanya Leo lagi.
"Yah Tuan sudah."
"Baiklah, berarti semua kita anggap beres, sekarang tugas utamamu."
Kata Leo dengan tatapan mata elangnya yang tajam.
"Oh tapi Tuan, untuk pekerjaan yang bantu-bantu urus rumah apa boleh saya tawarkan pada seorang kawan? Beberapa bulan lalu ia sempat menghubungi saya minta dicarikan pekerjaan untuk saudara isterinya."
Kata Kevin.
Leo mengangguk saja.
"Tak masalah, apa katamu saja."
Jawab Leo.
Kevin tampak tersenyum senang.
Setelah itu ia menunggu perintah selanjutnya dari sang Tuan Muda.
"Jadi apa kira-kira tugas utama saya Tuan?"
Tanya Kevin akhirnya karena Leo tak juga meneruskan kalimatnya.
Leo menghela nafas, baru kemudian menjawab.
"Carikan aku seseorang."
Kata Leo.
"Siapa Tuan?"
Tanya Kevin.
"Sahabatku. Ia sudah bagai saudara untukku saat dulu aku masih sekolah. Dia anak yatim piatu dan hanya hidup dengan adik perempuannya yang masih kecil, tapi mungkin sekarang dia sudah remaja."
Kevin mengangguk.
"Sekian lama dia jadi kaki tanganku di Laba-laba hitam, kau tahu kan laba-laba hitam?"
Tanya Leo pada Kevin yang tentu saja langsung mengangguk.
Yah siapa yang tak kenal dengan kelompok raja jalanan itu jaman dulu?
"Cari dia, namanya Roy."
Kata Leo.
**--------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Kustri
roy yg dihajar tadi yaa, kan ada tato laba"
2024-03-27
1
Alexandra Juliana
Pasti Roy, kakaknya Viera
2023-05-08
0
Alexandra Juliana
Yg dimaksud pasti Viera
2023-05-08
0