9. Wajah Itu

Luna turun dari mobil Rose dengan malas, seharian mengikuti sang kakak nyatanya sangat membosankan.

Kakaknya itu hanya mengurus pekerjaan saja, sama sekali tidak ada hasrat untuk mencari hiburan barang sebentar.

Tapi, dari ketiga kakak perempuan yang Luna miliki, nyatanya ia hanya bisa dekat dengan Rose meskipun ia sangat kaku dan jarang becanda.

Dengan Hana dan Cindy, yang sebetulnya hidup nya lebih santai, justru Luna tak bisa dekat. Mungkin karena Luna tahu kedua kakaknya itu diam-diam memakai narkoba.

Ah tidak!

Bagaimanapun bandelnya Luna, ia tak mau ikut-ikutan mengonsumsi barang itu.

Luna berjalan menuju ke dalam rumah, saat kemudian ia berpapasan dengan seorang laki-laki muda berpenampilan rapih.

Laki-laki muda itu melemparkan senyuman ke arah Luna, tapi Luna malas membalas.

Dia pasti mainan Mamih yang baru. Batin Luna jijik.

Rose yang berjalan di belakang Luna juga sama saja, ia bahkan memalingkan muka dan tak mau bersitatap dengan laki-laki muda yang kini keluar dan masuk ke salah satu mobil yang parkir di halaman rumah mereka.

"Mainan Mamih yang baru."

Kata Luna pada Rose yang langsung mendelik ke arahnya.

Mereka kemudian masuk beriringan dan akan menuju tangga untuk naik ke lantai atas, ketika Mamih mereka tiba-tiba memanggil keduanya.

Wanita itu berjalan mendekat dengan segelas anggur yang masih tersisa sedikit.

"Kapan Mamih pulang dari Bali?"

Tanya Rose.

Mamih tampak tersenyum.

"Siang tadi."

Sahutnya.

"Kalian tahu Daddy di mana?"

Tanya Mamih.

"Mamih kan bisa telfon sendiri, kenapa harus selalu nanya kita."

Sungut Luna, meskipun ia sendiri tidak tahu Daddy nya di mana.

Mamih mendengus.

Dari dulu Luna memang tak pernah mau dekat dengannya, terutama sejak ia tanpa sengaja memasuki kamar yang lupa dikunci dan Mamihnya sedang bersama laki-laki.

Sejak itu Luna selalu memandang Mamihnya dengan kesal.

Rose yang tak ada keinginan menjawab pertanyaan Mamihnya meneruskan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Luna segera menyusul.

Mamih mereka menatap kedua anaknya itu dengan sebal.

"Mereka selalu saja mengabaikan ku, dasar anak tak tahu diri, apa mereka lupa bahwa surga di bawah telapak kaki ibu."

Mamih mengomel sambil membawa gelas anggurnya ke ruangan besar yang ada di tengah rumahnya.

Melempar tubuhnya di sofa yang ada di sana, wajahnya ditekuk, matanya menatap dinding di mana foto keluarga mereka yang berukuran hampir satu dinding penuh digantung.

"Keluarga, keluarga macam apa yang bahkan tidak tahu di mana masing-masing anggota keluarganya."

Kesal Mamih ke arah foto Daddy yang duduk sambil mengembangkan senyuman.

Luna melempar tas nya begitu sampai di kamar, lalu ia merebahkan tubuhnya pula di sana.

"Mamih, mau sampai kapan dia bermain dengan laki-laki yang lebih muda, dan kenapa harus membawanya ke rumah ini, benar-benar menjijikan."

Kata Luna seolah bicara dengan angin.

Sementara itu Rose di kamarnya sendiri tampak duduk di depan meja rias.

Ia menatap pantulan wajahnya yang cantik meskipun usianya kini mulai menginjak angka 32 tahun.

Rose menghela nafas.

Mengingat usianya yang tak lagi muda saat ini, rasanya ia ingin mengasihani diri sendiri karena belum juga menikah.

Tapi, apa yang bisa dilakukan Rose, saat hampir semua urusan perusahaan orangtua menjadi tanggungjawabnya.

Mamih dan Daddy-nya juga tak pernah ingat menanyakan apa keinginan Rose tentang pernikahan.

Mereka seolah tak peduli, atau bahkan mungkin menganggap bahwa hidup anak-anaknya sesungguhnya tidak penting bagi mereka.

Rose mengusap kedua pipinya, yang mungkin kelak akan segera keriput.

Rose tertunduk sedih.

Ia merasa benar-benar malang.

**--------**

Doni mengajak Viera turun dari motor saat akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah calon majikan Viera yang baru.

"Untuk sementara kau akan aman tinggal di sini, jangan sampai keluar sebelum kita menemukan Roy."

Kata Doni pada Viera yang mengangguk mengerti dan tampak menyapukan pandangan ke seluruh bangunan rumah calon majikannya.

Kevin keluar dari rumah dan menyambut mereka. Mempersilahkan mereka masuk dan menunggu sebentar Tuannya yang sedang mandi.

Doni dan Viera duduk di salah satu ruangan yang cukup besar.

Kevin mengajak mereka berbincang sejenak agar tak terlalu jenuh menunggu si Tuan Muda.

"Sebelumnya pernah bekerja kan?"

Tanya Kevin basa basi pada Viera yang tampak langsung mengangguk.

Kevin tersenyum lega.

"Bisa masak?"

Tanya Kevin lagi.

"Yaj sedikit,"

Sahut Viera.

"Yah baguslah, Tuan muda kami ingin tak banyak orang masuk ke dalam rumah, jadi usahakan semua yang harus dikerjakan di rumah ini kamu bisa kerjakan."

Kata Kevin.

"Baik."

Viera mengangguk.

Tak lama berselang, Leo tampak turun dari lantai dua, ia berjalan dengan tenang menuju ruangan di mana kedua tamunya berada.

Kevin segera berdiri menyambut.

Begitu juga Doni dan Viera.

Leo tampak mengangguk kecil pada Kevin dan Doni, namun begitu ia bersitatap dengan Viera tiba-tiba ia tampak seperti terkejut.

Viera yang melihat Leo juga sama terkejutnya.

Ah, bukankah dia pemuda yang ada di video viral di media sosial? Batin Viera.

Sedangkan Leo yang kini duduk tanpa mengalihkan pandangan dari Viera jatungnya tiba-tiba seperti bergedup kencang.

Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia begitu mirip dengan Aleena? Batin Leo menatap wajah Viera yang jadi salah tingkah karena Leo terus menatapnya nyaris tanpa berkedip.

"Perkenalkan Tuan, saya Doni, dan ini saudara sepupu saya dari pihak isteri yang akan membantu Tuan di rumah, namanya Saviera, panggil saja dia Viera."

Kata Doni mencairkan suasana yang sekian detik jadi membeku.

Viera memberi salam pada Leo.

Leo yang tersadar cepat membuang wajahnya ke arah lain, lalu meminta Kevin mengambilkan air.

Malam itu, tak banyak yang Leo bisa tanyakan pada Viera selain menyuruhnya mencoba membuatkan satu piring omelet saja.

Leo mencicipinya dan entah kenapa rasanya mirip dengan buatan Ibunya dulu saat ia masih tinggal bersamanya.

"Viera, itu kan namamu?"

Tanya Leo di sela makannya.

Viera mengangguk saja.

Ia berdiri di samping Leo yang sedang makan dengan tegang.

"Istirahatlah setelah ini, besok pagi aku mau sarapan jam tujuh pagi."

Kata Leo.

Viera mengangguk.

Doni dan Kevin yang memperhatikan dari kejauhan ikut lega saat Viera memberikan mereka isyarat dengan ibu jari begitu omelet buatannya habis tanpa sisa.

Sepertinya Leo orang yang sangat dingin, sekali saja melakukan kesalahan Viera pasti akan langsung ditendang, maka Viera merasa harus melakukan semuanya semaksimal yang ia bisa agar bertahan tinggal di sana.

Yah, selain ia butuh tempat sembunyi hingga kakaknya ditemukan, ia juga jelas butuh makan dan mendapatkan uang.

**---------**

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

males nih klu leo suka ama viera krn wajah'a mirip aleena,

2024-03-27

1

Jari Gatal Wie

Jari Gatal Wie

ceritanya bagus...

2023-08-16

0

Alexandra Juliana

Alexandra Juliana

Krn kurang perhatian dr suami dan jablay makanya istri pertama mencari kepuasan dgn menyewa brondong..

2023-05-08

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 1. Musim Panas Terakhir
3 2. Gadis Karate
4 3. Saviera Dan Luna
5 4. Anakku, Di Mana Kau?
6 5. Pantang Melanggar Sumpah
7 6. Nasib Perempuan Kedua
8 7. Siapa Mencari Siapa
9 8. Sekelompok Pemburu
10 9. Wajah Itu
11 11. Gelisah Semalaman
12 12. Senyuman Pertama
13 13. Target Pemburu
14 14. Harimau Itu Kembali
15 15. Terendus
16 16. Gagal Menguping
17 17. Malam Naas
18 18. Kabar Kematian Karlita
19 19. Mengamuk
20 20. Aku Bukan Aleena
21 21. Luluh
22 22. Perguruan Mawar Hitam
23 23. Sosok
24 24. Terasa Aneh
25 25. Tanda Tanya
26 26. Apa Kau Gila
27 27. Takdir
28 28. Reuni Bad Boy
29 29. I'm Back
30 30. Gelisah
31 31. Terbakar
32 32. Kembali Ke Jalan Hitam
33 33. Tentang Rasa
34 34. Apa Maunya?
35 35. Bayang Masa Lalu
36 36. Menghilang Lagi
37 37. Keberadaan Roy
38 38. Semaunya Sendiri
39 39. Bos Besar
40 40. Sebuah Kejutan Tentang Viera
41 41. Kasih Ayah
42 42. Tak Ada Yang Bisa Menghalangi
43 43. Berusaha Mengerti
44 44. Serangan Tak Terduga
45 45. Amarah
46 46. Harimau VS Musang
47 47. Jangan Seperti Roy
48 48. Kacau
49 49. Terasa Berbeda
50 50. Kakak Laki-Laki
51 51. Tragis
52 52. Dendam Dari Masa Lalu
53 53. Terror Kematian
54 54. Tahan Boss
55 55. Sebuah Tanda
56 56. Masih Gelap
57 57. Goresan Tangan Aleena
58 58. Mega Mendung
59 59. Sialan, sial!
60 60. Jangan Bilang Kamu Hantu
61 61. Teka Teki Tentang Ped
62 62. Kebenaran Pahit
63 63. Siapa Kau Ped?
64 64. Terbukanya Kunci Pertama
65 65. Satu Demi Satu
66 66. Sekelam Malam
67 67. Terhempas
68 68. Rasa Yang Berbeda
69 69. Pertemuan Saudara Tiri
70 70. Terlalu Rumit
71 71. Abelard Belindo
72 72. Kunci Kedua
73 73. Bad Boy's
74 74. Buku Harian Aleena
75 75. Tanda Tanya Besar
76 76. Kesal Salah Paham
77 77. Titik Temu
78 78. Badai Kecil
79 79. Hilangnya Tuan William
80 80. Leo
81 81. Mendekati Target
82 82. Rosario Dawson
83 83. Gerak Cepat
84 84. Saatnya Menjadi Pemburu
85 85. Pemburu Yang Diburu
86 86. Fight Fight Fight...
87 87. Saatnya Berhenti
88 88. Akhirnya
89 89. Sebuah kebenaran
90 90. Berkumpul Lagi
91 91. Menatap Senja
92 92. Akhir Sebuah Kisah
93 93. Othor Menyapa
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Prolog
2
1. Musim Panas Terakhir
3
2. Gadis Karate
4
3. Saviera Dan Luna
5
4. Anakku, Di Mana Kau?
6
5. Pantang Melanggar Sumpah
7
6. Nasib Perempuan Kedua
8
7. Siapa Mencari Siapa
9
8. Sekelompok Pemburu
10
9. Wajah Itu
11
11. Gelisah Semalaman
12
12. Senyuman Pertama
13
13. Target Pemburu
14
14. Harimau Itu Kembali
15
15. Terendus
16
16. Gagal Menguping
17
17. Malam Naas
18
18. Kabar Kematian Karlita
19
19. Mengamuk
20
20. Aku Bukan Aleena
21
21. Luluh
22
22. Perguruan Mawar Hitam
23
23. Sosok
24
24. Terasa Aneh
25
25. Tanda Tanya
26
26. Apa Kau Gila
27
27. Takdir
28
28. Reuni Bad Boy
29
29. I'm Back
30
30. Gelisah
31
31. Terbakar
32
32. Kembali Ke Jalan Hitam
33
33. Tentang Rasa
34
34. Apa Maunya?
35
35. Bayang Masa Lalu
36
36. Menghilang Lagi
37
37. Keberadaan Roy
38
38. Semaunya Sendiri
39
39. Bos Besar
40
40. Sebuah Kejutan Tentang Viera
41
41. Kasih Ayah
42
42. Tak Ada Yang Bisa Menghalangi
43
43. Berusaha Mengerti
44
44. Serangan Tak Terduga
45
45. Amarah
46
46. Harimau VS Musang
47
47. Jangan Seperti Roy
48
48. Kacau
49
49. Terasa Berbeda
50
50. Kakak Laki-Laki
51
51. Tragis
52
52. Dendam Dari Masa Lalu
53
53. Terror Kematian
54
54. Tahan Boss
55
55. Sebuah Tanda
56
56. Masih Gelap
57
57. Goresan Tangan Aleena
58
58. Mega Mendung
59
59. Sialan, sial!
60
60. Jangan Bilang Kamu Hantu
61
61. Teka Teki Tentang Ped
62
62. Kebenaran Pahit
63
63. Siapa Kau Ped?
64
64. Terbukanya Kunci Pertama
65
65. Satu Demi Satu
66
66. Sekelam Malam
67
67. Terhempas
68
68. Rasa Yang Berbeda
69
69. Pertemuan Saudara Tiri
70
70. Terlalu Rumit
71
71. Abelard Belindo
72
72. Kunci Kedua
73
73. Bad Boy's
74
74. Buku Harian Aleena
75
75. Tanda Tanya Besar
76
76. Kesal Salah Paham
77
77. Titik Temu
78
78. Badai Kecil
79
79. Hilangnya Tuan William
80
80. Leo
81
81. Mendekati Target
82
82. Rosario Dawson
83
83. Gerak Cepat
84
84. Saatnya Menjadi Pemburu
85
85. Pemburu Yang Diburu
86
86. Fight Fight Fight...
87
87. Saatnya Berhenti
88
88. Akhirnya
89
89. Sebuah kebenaran
90
90. Berkumpul Lagi
91
91. Menatap Senja
92
92. Akhir Sebuah Kisah
93
93. Othor Menyapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!