Leo memilih kemeja berwarna abu-abu gelap yang dipadu dengan celana jeans hitam. Ia turun ke lantai satu dan langsung menuju keluar rumah.
Kevin sudah siap di dekat mobil, berdiri di samping pintu mobil yang sudah ia bukakan untuk sang tuan muda.
Leo bergegas berjalan ke sana, namun begitu tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba ia ingat Viera.
Sejenak langkah Leo terhenti.
Laki-laki tampan itu menoleh ke belakang, ke bangunan rumahnya yang sepi.
"Kevin."
Panggil Leo pada asistennya.
"Yah Tuan."
"Kemana gadis itu?"
Tanya Leo beralih menatap tajam ke arah Kevin.
"Gadis? Viera?"
Kevin memastikan.
Leo mengangguk cepat.
"Tadi sepertinya sedang mencuci Tuan."
Kata Kevin.
"Kamu bilang dia adik Roy?"
Tanya Leo.
Kevin mengangguk.
"Dia diburu malaikat hitam?"
Tanya Leo lagi, yang kembali dijawab anggukan Kevin.
Leo tiba-tiba berbalik.
Melangkah lebar menuju bangunan rumahnya lagi.
Kevin yang bingung akhirnya mengikuti Tuan mudanya masuk ke dalam rumah.
Leo mencari Viera.
"Vier... Viera!"
Panggil Leo.
Viera yang sedang sibuk mencuci tak mendengar Leo memanggil-manggil dirinya.
Begitu Leo menemukan Viera di tempat cuci, laki-laki itu lekas mencabut kabel mesin cuci dari colokan, lalu menarik Viera keluar.
"Ada apa Tuan."
Viera bingung, ia menatap Kevin yang juga kebingungan.
"Tutup semua pintu dan jendela, ikut saja ke cafe."
Kata Leo pada Kevin, lalu menarik Viera sampai ke mobil dan mendorongnya ke dalam mobil.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Viera begitu Leo juga masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya.
Malaikat hitam, apakah ada kaitannya dengan menghilangnya Roy?
Jika mereka sampai memburu Viera juga, berarti Roy jelas berurusan dengan mereka. Ini terlalu berbahaya untuk Viera jika tiba-tiba harus menghadapi mereka seorang diri.
Bahkan Leo saat ini tidak tahu kekuatan mereka seperti apa. Sudah lewat sepuluh tahun, dan bisa saja mereka jauh lebih kuat dari yang Leo bayangkan.
"Ada apa sebenarnya, aku harus mencu..."
Leo membekap mulut Viera dengan tangannya.
"Jangan berisik, aku tidak suka suara berisik."
Kata Leo dengan tatapan tajamnya yang seperti menembus ke dalam dada.
Viera seketika terdiam.
Kevin telah selesai menutup dan mengunci semua pintu dan jendela, lalu sedikit berlari menuju mobil.
Ia masuk dan duduk di balik kemudi.
"Pastikan kau selalu di dekatku, mengerti!"
Kata Leo pada Viera.
Viera mengerutkan kening.
Maksudnya apa? Kenap tiba-tiba jadi begini? Ah jangan bilang kalau Tuan Leo jatuh cinta padaku? Viera menutup mulutnya sendiri yang malah kaget dengan pikirannya.
Ya Tuhan Viera, apa kamu mabuk? Batin Viera.
Kevin melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Leo.
Sepanjang jalan menuju cafe, Leo tak bicara apa-apa seperti biasanya.
Ia hanya menatap nanar jalanan dalam kebekuan. Ia memang begitu dingin, seperti batu es yang sangat keras.
Viera duduk di sebelahnya dengan kaku, bingung harus apa dan bagaimana. Bahkan rasanya untuk menggeser duduknya saja tak berani takut nanti akan membuat Leo kesal dengan gerakan-gerakan kecilnya.
Leo kemudian meraih hp miliknya.
Ia menoleh pada Viera yang diam membisu.
"Nomor hp mu, biar aku simpan."
Kata Leo memecah keheningan.
"Hah, kenap Tuan."
Viera yang sibuk melamun jadi tidak konek.
Leo mendengus.
"Hp, nomor hp mu."
Kesal Leo.
Viera menggeleng.
"Hp saya rusak, kemarin saat ada penagih hutang ke rumah mencari kakak, hp saya jadi sasaran amukan mereka karena saya lebih dulu kabur dan..."
"Vin, kita mampir gerai hp dekat sini."
Leo tak mendengarkan kalimat panjang Viera lagi.
Kevin mengangguk.
**---------**
Baron dan anak buahnya masuk ke dalam ruang bawah tanah di mana Roy disekap.
Roy yang mendengar saat Baron membuka pintu langsung pura-pura berbaring di lantai lagi seolah tak berdaya.
"Hmm... Dia benar-benar sekarat kali ini, hahaha..."
Baron terbahak.
Anak buah Baron juga mengikuti ketuanya, terbahak.
Baron duduk di kursi yang tak jauh dari sel di mana Roy kini tergeletak.
Anak buah Baron mengambil sebotol minuman lalu memberikannya pada Baron untuk kemudian ia meminumnya langsung dari botol.
"Ricky, bajingan itu, aku ingin sekali kapan waktunya untuk menghabisinya."
Geram Baron.
Si anak buah Baron yang setia sepakat.
"Yah Bang, benar, dia semakin hari semakin banyak tingkah, seperti dia menghabisi Aji, kita habisi dia juga dengan cara yang sama."
Kata Anak buah Baron.
"Yah kau benar, bajingan tengik yang hanya banyak gaya itu, memang harus diberi pelajaran."
Kata Baron lalu meneguk minumannya lagi.
"Oh yah, ku dengar Ricky sedang mencari keberadaan Leo anak Karlita, dia sudah kembali ke Indonesia beberapa hari lalu."
Kata anak buah Baron.
"Leo?"
Baron menatap anak buahnya.
Anak buah Baron mengangguk.
"Yah, Leo, yang dulu membuat kelompok Laba-laba hitam."
Kata anak buah Baron lagi.
Baron seketika menyeringai mendengar nama Leo.
Sudah lama sekali ia tak mendengar nama itu.
Yah Leo, anak haram itu, yang sudah membuat kakaknya hampir buta karena dipukuli hingga sekarat dan bola matanya nyaris pecah karena kasus melecehkan salah satu siswi di sekolah Leo.
"Di mana kabarnya dia sekarang?"
Tanya Baron.
"Entahlah Bang, aku rasa Ricky juga belum menemukannya."
"Kenapa pencarian Leo tak dia serahkan pada kita juga?"
Gumam Baron heran.
"Aku rasa ini karena permintaan khusus dari pimpinan."
Ujar anak buah Baron.
"Bajingan tengik, dia memang selicik ular."
Geram Baron lagi.
Dan tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka tentang kembalinya Leo terdengar oleh Roy di dalam sel yang pura-pura masih tak sadarkan diri.
Leo...
Benarkah dia telah kembali?
Akhirnya, setelah sekian tahun, akhirnya ia kembali.
Roy begitu senang mendengar kabar itu, meskipun belum ada yang tahu keberadaan pasti Leo saat ini, tapi bagi Roy mendapati bahwa Leo kini berada di Indonesia saja sudah membuatnya semakin optimis bisa lepas dari tahanan ini.
Ah Leo, dia pasti mencariku. Aku yakin. Batin Roy.
Baron memberikan botol minumannya lagi pada anak buahnya.
"Aku harus menemukan Karlita lagi, setelah menghabisinya, aku akan menghabisi Ricky."
Kata Baron sambil berdiri lalu bersiap keluar dari ruangan bawah tanah lagi.
"Bagaimana dengan dia Bang?"
Tanya anak buah Baron.
"Jika besok dia belum sadar, buang saja di dipinggiran tol jagorawi, sama seperti Sapta."
Kata Baron.
"Sapta?"
Anak buah Baron bertanya.
"Yah, apa kau lupa, Sapta juga dulu dibuang di sana atas permintaan pimpinan karena tahu persembunyian Karlita tapi tak mau memberitahukannya. Pada dasarnya, dia ikut kelompok kita, tapi masih setia dengan Leo."
Kata Baron.
Anak buah Baron mengangguk.
Ia menatap Roy di dalam sel yang tak bergerak sama sekali.
Ada rasa heran dalam hatinya, bagaimana bisa orang-orang yang berhubungan dengan Leo sepertinya begitu setia meskipun ia tidak ada.
**---------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Yunida Julianti
kalo gitu roy pura pura mati aja sampe besok
2022-04-18
2
Dadoeng Dadi
visualnya donk thor
2022-03-24
1
Sasa Brina
Apakah cuma novel LLH karya k cila kga somplak🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😘😘😘😘😘😘😘😘😘
2022-02-25
1