Viera baru selesai mandi dan akan membuat jus saat tanpa sengaja ia melihat Karlita majikannya duduk di sofa ruang TV.
Viera menghampiri untuk menanyakan apakah sang Nyonya ingin dibuatkan jus juga.
Karlita, perempuan lima puluh tahunan yang masih cantik itu menggeleng, matanya yang sembab menatap Viera dengan resah.
Viera melihat kedua tangan sang Nyonya yang mendekap sebuah bingkai foto.
Ia pasti menangisi putranya lagi. Batin Viera.
Viera kemudian duduk di karpet yang ada di ruangan itu.
"Nyonya pasti ingin bertemu Tuan Leo, apa kita harus melarikan diri saja Nyonya? Lalu kita cari keberadaannya?"
Viera memberikan ide gila yang membuat Karlita tampak tersenyum getir.
"Aku bahkan tak tahu dia dibawa ke mana."
Kata Karlita.
Viera tertunduk.
Luar Negeri, dibawa ke luar negeri yang bahkan negaranya saja tidak tahu di mana. Rasanya membayangkan saja sudah sulit.
"Ayah Leo tak pernah mengijinkan aku menghubunginya sejak ia dibawa pergi. Aku sangat menyesal memintanya membawa Leo pergi dari Jakarta."
Karlita menangisi kebodohannya.
Viera beringsut mendekati Karlita, mencoba menenangkan sang Nyonya dengan menepuk-nepuk lengan tangan Nyonya nya.
Merindukan seseorang yang paling berharga dalam hidup kita, dan parahnya kita tidak tahu di mana keberadaannya adalah hal yang paling menyiksa.
Sama sebagaimana yang Viera rasakan.
Ia kehilangan Kakaknya hampir tiga bulan ini. Tak ada yang tahu dia di mana, tak ada yang tahu apa yang ia lakukan sebelum menghilang.
Kakak Viera yang selama ini menjadi satu-satunya yang mendampingi tumbuh setelah kedua orangtua mereka meninggal.
Satu-satunya orang yang begitu peduli akan kehidupan Viera.
Ah, sungguh, Viera bahkan sudah mencarinya dengan segenap kemampuannya.
Tapi nyatanya nihil.
Polisi juga bahkan tak ada kabar sama sekali hingga detik ini sejak Viera melaporkan Kakaknya menghilang.
Viera sama seperti Nyonya Karlita.
Nyaris putus asa, namun tetap berusaha bertahan karena ingin suatu hari bisa bertemu dengan orang yang paling ingin mereka temukan.
Meskipun entah di mana mereka saat ini, meskipun entah mungkin mereka sudah tak hidup lagi.
Ah tidak! Mereka harus hidup. Mereka harus masih hidup. Batin Viera.
Nyonya Karlita kemudian meletakkan bingkai foto sang putra lagi di atas meja kecil samping sofa yang ia duduki.
Viera menatapnya sejenak.
Foto yang diambil lebih dari sepuluh tahun lalu, foto seorang cowok berseragam SMA dengan wajah yang tampan.
"Sejujurnya, aku mengerti ia pasti muak dengan hidupnya. Ia berandal karena kesalahan kedua orangtuanya yang tidak bisa memberikan hidup yang baik untuknya."
Lirih Karlita.
Viera menelan ludahnya.
Dulu ia pikir, hidupnya yang tanpa orangtua sejak kecil dan hanya hidup dengan sang Kakak adalah hidup yang paling menyedihkan.
Kekurangan uang, kadang harus rela tidak makan demi bisa bayar sekolah, rasanya untuk Viera itu begitu berat selama bertahun-tahun.
Tapi kini, melihat Karlita dengan semua kisah hidupnya, Viera mulai sadar bahwa memiliki harta juga ternyata tak selalu membuat manusia pasti hidup bahagia.
Pada dasarnya semua manusia akan memiliki cerita pahitnya sendiri. Tak ada hidup yang sempurna, yang berjalan sesuai keinginan manusia itu sendiri.
Viera menghela nafas.
"Sudahlah Nyonya, saya yakin Tuan Leo suatu hari juga akan mencari Nyonya."
Kata Viera.
"Entahlah Viera... Entahlah."
Karlita menangis tersedu.
Di mana kamu nak? Di mana? Tangisnya pilu.
**----------**
Kevin mengajak Leo mengitari seluruh bagian rumah yang akan Leo tempati.
Rumah dengan fasilitas lengkap dari kolam renang, gym, mini bar, sampai bioskop mini. Di belakang rumah yang bisa di lihat dari balkon kamar Leo juga ada hutan kecil buatan, di mana di sana terdapat dua pasang ekor Rusa.
Leo berdiri mematung begitu tour di dalam rumah barunya berakhir di balkon kamarnya.
Ia menatap nanar hutan kecil buatan yang kini tampak hanya seperti sapuan warna hitam pekat di atas kanvas.
"Kevin, sudah berapa lama kau ikut Ayah?"
Tanya Leo pada Kevin yang berdiri di belakangnya.
"Sekitar satu tahun Tuan."
Jawab Kevin.
"Baru sebentar, tapi sepertinya Ayah sangat mempercayaimu."
Senyum Leo sinis tanpa memalingkan pandangan dari bayangan-bayangan hitam pepohonan hutan buatan di belakang rumahnya itu.
"Yah itu satu keberuntungan untuk saya Tuan."
Kata Kevin.
Leo menggeleng.
"Ayah orang yang sangat teliti, dia bahkan bisa memenjara aku dalam jarak begitu jauh, itu jelas tak bisa dilakukan semua orang. Saat ia bisa mempercayai seseorang, maka pasti ia sudah menilai semuanya dengan matang."
Kata Leo.
Kevin di belakangnya hanya terdiam.
Entahlah, mungkin benar begitu.
Kevin hanya tahu jika ia mengabdi pada Tuannya dengan segenap hati, itu saja yang ia tahu.
"Selama kurun waktu setahun, pernahkah kamu mendengar soal Karlita?"
Tanya Leo.
Mendengar nama Karlita, sejenak Kevin mengerutkan kening.
Ia mencoba berfikir, jawaban apa yang harusnya ia sampaikan pada Tuan Mudanya.
Kevin ingat bagaimana pesan Tuan Besarnya, bahwa tak ada yang boleh tahu keberadaan Karlita, sekalipun itu Leo.
Yah, paling tidak hingga nanti Tuan Besarnya menemukan waktu yang tepat untuk membuka sendiri.
Ada yang harus diurus. Ada yang mengancam semuanya.
"Kau pasti juga sudah dibungkam oleh Ayah."
Sinis Leo.
Kevin tertunduk.
Leo kemudian tampak berbalik, menatap tajam asistennya yang kini tak berani menantang mata elang Leo.
"Pergilah, aku mau istirahat. Besok aku akan melihat cafe yang disiapkan untukku."
Kata Leo.
Kevin mengangguk.
Yah, Ayah Leo dua tahun lalu membeli sebuah cafe yang akhirnya tak terurus.
Ayah Leo kini memberikan cafe itu untuk Leo, agar putranya itu bisa membuktikan seberapa bisa ia berbisnis.
Kebetulan Leo cukup mahir membuat racikan kopi. Selama di Hamburg dan bersama Aleena, ia belajar meracik kopi dengan baik, bahkan melukis krim di atas kopi sudah menjadi salah satu keahlian yang cukup bisa dibanggakan.
Setidaknya, begitulah yang dilaporkan Edi pada Ayah Leo.
Kevin kemudian pamit undur diri.
Pemuda itu keluar dari kamar Leo dan menuju kamarnya sendiri di lantai bawah.
Ia menyapukan pandangan ke sepenjuru ruangan.
Benar saja ia lupa jika butuh satu orang lagi untuk mengurus rumah.
Kevin duduk di anak tangga.
Leo, tuan mudanya itu sungguh terlihat sekali berbeda dengan sang Ayah yang banyak bicara dan kadang bahkan masih mau bercanda.
Leo bukan hanya membatu namun tatapan matanya bahkan begitu tajam dan menusuk.
Kevin sebetulnya antara senang dipercaya Tuan Besarnya mengawal Leo, namun juga ada tak nyamannya karena perangai Leo yang terlalu dingin.
Leo sendiri di kamar sudah merebahkan diri di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dalam gelap.
Masih sama. Semua masih sama. Tak ada yang berubah. Leo pikir, berada di Indonesia akan sedikit melupakan Aleena, namun kenyataannya, berada di rumah ini, ia semakin ingin ada gadis itu di sisinya.
**-------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
mochamad ribut
up
2024-05-18
0
mochamad ribut
lanjut
2024-05-18
0
Dewi Nurlela
apa Aleena kakaknya saviera
2023-01-17
1