4. Anakku, Di Mana Kau?

Viera baru selesai mandi dan akan membuat jus saat tanpa sengaja ia melihat Karlita majikannya duduk di sofa ruang TV.

Viera menghampiri untuk menanyakan apakah sang Nyonya ingin dibuatkan jus juga.

Karlita, perempuan lima puluh tahunan yang masih cantik itu menggeleng, matanya yang sembab menatap Viera dengan resah.

Viera melihat kedua tangan sang Nyonya yang mendekap sebuah bingkai foto.

Ia pasti menangisi putranya lagi. Batin Viera.

Viera kemudian duduk di karpet yang ada di ruangan itu.

"Nyonya pasti ingin bertemu Tuan Leo, apa kita harus melarikan diri saja Nyonya? Lalu kita cari keberadaannya?"

Viera memberikan ide gila yang membuat Karlita tampak tersenyum getir.

"Aku bahkan tak tahu dia dibawa ke mana."

Kata Karlita.

Viera tertunduk.

Luar Negeri, dibawa ke luar negeri yang bahkan negaranya saja tidak tahu di mana. Rasanya membayangkan saja sudah sulit.

"Ayah Leo tak pernah mengijinkan aku menghubunginya sejak ia dibawa pergi. Aku sangat menyesal memintanya membawa Leo pergi dari Jakarta."

Karlita menangisi kebodohannya.

Viera beringsut mendekati Karlita, mencoba menenangkan sang Nyonya dengan menepuk-nepuk lengan tangan Nyonya nya.

Merindukan seseorang yang paling berharga dalam hidup kita, dan parahnya kita tidak tahu di mana keberadaannya adalah hal yang paling menyiksa.

Sama sebagaimana yang Viera rasakan.

Ia kehilangan Kakaknya hampir tiga bulan ini. Tak ada yang tahu dia di mana, tak ada yang tahu apa yang ia lakukan sebelum menghilang.

Kakak Viera yang selama ini menjadi satu-satunya yang mendampingi tumbuh setelah kedua orangtua mereka meninggal.

Satu-satunya orang yang begitu peduli akan kehidupan Viera.

Ah, sungguh, Viera bahkan sudah mencarinya dengan segenap kemampuannya.

Tapi nyatanya nihil.

Polisi juga bahkan tak ada kabar sama sekali hingga detik ini sejak Viera melaporkan Kakaknya menghilang.

Viera sama seperti Nyonya Karlita.

Nyaris putus asa, namun tetap berusaha bertahan karena ingin suatu hari bisa bertemu dengan orang yang paling ingin mereka temukan.

Meskipun entah di mana mereka saat ini, meskipun entah mungkin mereka sudah tak hidup lagi.

Ah tidak! Mereka harus hidup. Mereka harus masih hidup. Batin Viera.

Nyonya Karlita kemudian meletakkan bingkai foto sang putra lagi di atas meja kecil samping sofa yang ia duduki.

Viera menatapnya sejenak.

Foto yang diambil lebih dari sepuluh tahun lalu, foto seorang cowok berseragam SMA dengan wajah yang tampan.

"Sejujurnya, aku mengerti ia pasti muak dengan hidupnya. Ia berandal karena kesalahan kedua orangtuanya yang tidak bisa memberikan hidup yang baik untuknya."

Lirih Karlita.

Viera menelan ludahnya.

Dulu ia pikir, hidupnya yang tanpa orangtua sejak kecil dan hanya hidup dengan sang Kakak adalah hidup yang paling menyedihkan.

Kekurangan uang, kadang harus rela tidak makan demi bisa bayar sekolah, rasanya untuk Viera itu begitu berat selama bertahun-tahun.

Tapi kini, melihat Karlita dengan semua kisah hidupnya, Viera mulai sadar bahwa memiliki harta juga ternyata tak selalu membuat manusia pasti hidup bahagia.

Pada dasarnya semua manusia akan memiliki cerita pahitnya sendiri. Tak ada hidup yang sempurna, yang berjalan sesuai keinginan manusia itu sendiri.

Viera menghela nafas.

"Sudahlah Nyonya, saya yakin Tuan Leo suatu hari juga akan mencari Nyonya."

Kata Viera.

"Entahlah Viera... Entahlah."

Karlita menangis tersedu.

Di mana kamu nak? Di mana? Tangisnya pilu.

**----------**

Kevin mengajak Leo mengitari seluruh bagian rumah yang akan Leo tempati.

Rumah dengan fasilitas lengkap dari kolam renang, gym, mini bar, sampai bioskop mini. Di belakang rumah yang bisa di lihat dari balkon kamar Leo juga ada hutan kecil buatan, di mana di sana terdapat dua pasang ekor Rusa.

Leo berdiri mematung begitu tour di dalam rumah barunya berakhir di balkon kamarnya.

Ia menatap nanar hutan kecil buatan yang kini tampak hanya seperti sapuan warna hitam pekat di atas kanvas.

"Kevin, sudah berapa lama kau ikut Ayah?"

Tanya Leo pada Kevin yang berdiri di belakangnya.

"Sekitar satu tahun Tuan."

Jawab Kevin.

"Baru sebentar, tapi sepertinya Ayah sangat mempercayaimu."

Senyum Leo sinis tanpa memalingkan pandangan dari bayangan-bayangan hitam pepohonan hutan buatan di belakang rumahnya itu.

"Yah itu satu keberuntungan untuk saya Tuan."

Kata Kevin.

Leo menggeleng.

"Ayah orang yang sangat teliti, dia bahkan bisa memenjara aku dalam jarak begitu jauh, itu jelas tak bisa dilakukan semua orang. Saat ia bisa mempercayai seseorang, maka pasti ia sudah menilai semuanya dengan matang."

Kata Leo.

Kevin di belakangnya hanya terdiam.

Entahlah, mungkin benar begitu.

Kevin hanya tahu jika ia mengabdi pada Tuannya dengan segenap hati, itu saja yang ia tahu.

"Selama kurun waktu setahun, pernahkah kamu mendengar soal Karlita?"

Tanya Leo.

Mendengar nama Karlita, sejenak Kevin mengerutkan kening.

Ia mencoba berfikir, jawaban apa yang harusnya ia sampaikan pada Tuan Mudanya.

Kevin ingat bagaimana pesan Tuan Besarnya, bahwa tak ada yang boleh tahu keberadaan Karlita, sekalipun itu Leo.

Yah, paling tidak hingga nanti Tuan Besarnya menemukan waktu yang tepat untuk membuka sendiri.

Ada yang harus diurus. Ada yang mengancam semuanya.

"Kau pasti juga sudah dibungkam oleh Ayah."

Sinis Leo.

Kevin tertunduk.

Leo kemudian tampak berbalik, menatap tajam asistennya yang kini tak berani menantang mata elang Leo.

"Pergilah, aku mau istirahat. Besok aku akan melihat cafe yang disiapkan untukku."

Kata Leo.

Kevin mengangguk.

Yah, Ayah Leo dua tahun lalu membeli sebuah cafe yang akhirnya tak terurus.

Ayah Leo kini memberikan cafe itu untuk Leo, agar putranya itu bisa membuktikan seberapa bisa ia berbisnis.

Kebetulan Leo cukup mahir membuat racikan kopi. Selama di Hamburg dan bersama Aleena, ia belajar meracik kopi dengan baik, bahkan melukis krim di atas kopi sudah menjadi salah satu keahlian yang cukup bisa dibanggakan.

Setidaknya, begitulah yang dilaporkan Edi pada Ayah Leo.

Kevin kemudian pamit undur diri.

Pemuda itu keluar dari kamar Leo dan menuju kamarnya sendiri di lantai bawah.

Ia menyapukan pandangan ke sepenjuru ruangan.

Benar saja ia lupa jika butuh satu orang lagi untuk mengurus rumah.

Kevin duduk di anak tangga.

Leo, tuan mudanya itu sungguh terlihat sekali berbeda dengan sang Ayah yang banyak bicara dan kadang bahkan masih mau bercanda.

Leo bukan hanya membatu namun tatapan matanya bahkan begitu tajam dan menusuk.

Kevin sebetulnya antara senang dipercaya Tuan Besarnya mengawal Leo, namun juga ada tak nyamannya karena perangai Leo yang terlalu dingin.

Leo sendiri di kamar sudah merebahkan diri di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dalam gelap.

Masih sama. Semua masih sama. Tak ada yang berubah. Leo pikir, berada di Indonesia akan sedikit melupakan Aleena, namun kenyataannya, berada di rumah ini, ia semakin ingin ada gadis itu di sisinya.

**-------**

Terpopuler

Comments

mochamad ribut

mochamad ribut

up

2024-05-18

0

mochamad ribut

mochamad ribut

lanjut

2024-05-18

0

Dewi Nurlela

Dewi Nurlela

apa Aleena kakaknya saviera

2023-01-17

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 1. Musim Panas Terakhir
3 2. Gadis Karate
4 3. Saviera Dan Luna
5 4. Anakku, Di Mana Kau?
6 5. Pantang Melanggar Sumpah
7 6. Nasib Perempuan Kedua
8 7. Siapa Mencari Siapa
9 8. Sekelompok Pemburu
10 9. Wajah Itu
11 11. Gelisah Semalaman
12 12. Senyuman Pertama
13 13. Target Pemburu
14 14. Harimau Itu Kembali
15 15. Terendus
16 16. Gagal Menguping
17 17. Malam Naas
18 18. Kabar Kematian Karlita
19 19. Mengamuk
20 20. Aku Bukan Aleena
21 21. Luluh
22 22. Perguruan Mawar Hitam
23 23. Sosok
24 24. Terasa Aneh
25 25. Tanda Tanya
26 26. Apa Kau Gila
27 27. Takdir
28 28. Reuni Bad Boy
29 29. I'm Back
30 30. Gelisah
31 31. Terbakar
32 32. Kembali Ke Jalan Hitam
33 33. Tentang Rasa
34 34. Apa Maunya?
35 35. Bayang Masa Lalu
36 36. Menghilang Lagi
37 37. Keberadaan Roy
38 38. Semaunya Sendiri
39 39. Bos Besar
40 40. Sebuah Kejutan Tentang Viera
41 41. Kasih Ayah
42 42. Tak Ada Yang Bisa Menghalangi
43 43. Berusaha Mengerti
44 44. Serangan Tak Terduga
45 45. Amarah
46 46. Harimau VS Musang
47 47. Jangan Seperti Roy
48 48. Kacau
49 49. Terasa Berbeda
50 50. Kakak Laki-Laki
51 51. Tragis
52 52. Dendam Dari Masa Lalu
53 53. Terror Kematian
54 54. Tahan Boss
55 55. Sebuah Tanda
56 56. Masih Gelap
57 57. Goresan Tangan Aleena
58 58. Mega Mendung
59 59. Sialan, sial!
60 60. Jangan Bilang Kamu Hantu
61 61. Teka Teki Tentang Ped
62 62. Kebenaran Pahit
63 63. Siapa Kau Ped?
64 64. Terbukanya Kunci Pertama
65 65. Satu Demi Satu
66 66. Sekelam Malam
67 67. Terhempas
68 68. Rasa Yang Berbeda
69 69. Pertemuan Saudara Tiri
70 70. Terlalu Rumit
71 71. Abelard Belindo
72 72. Kunci Kedua
73 73. Bad Boy's
74 74. Buku Harian Aleena
75 75. Tanda Tanya Besar
76 76. Kesal Salah Paham
77 77. Titik Temu
78 78. Badai Kecil
79 79. Hilangnya Tuan William
80 80. Leo
81 81. Mendekati Target
82 82. Rosario Dawson
83 83. Gerak Cepat
84 84. Saatnya Menjadi Pemburu
85 85. Pemburu Yang Diburu
86 86. Fight Fight Fight...
87 87. Saatnya Berhenti
88 88. Akhirnya
89 89. Sebuah kebenaran
90 90. Berkumpul Lagi
91 91. Menatap Senja
92 92. Akhir Sebuah Kisah
93 93. Othor Menyapa
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Prolog
2
1. Musim Panas Terakhir
3
2. Gadis Karate
4
3. Saviera Dan Luna
5
4. Anakku, Di Mana Kau?
6
5. Pantang Melanggar Sumpah
7
6. Nasib Perempuan Kedua
8
7. Siapa Mencari Siapa
9
8. Sekelompok Pemburu
10
9. Wajah Itu
11
11. Gelisah Semalaman
12
12. Senyuman Pertama
13
13. Target Pemburu
14
14. Harimau Itu Kembali
15
15. Terendus
16
16. Gagal Menguping
17
17. Malam Naas
18
18. Kabar Kematian Karlita
19
19. Mengamuk
20
20. Aku Bukan Aleena
21
21. Luluh
22
22. Perguruan Mawar Hitam
23
23. Sosok
24
24. Terasa Aneh
25
25. Tanda Tanya
26
26. Apa Kau Gila
27
27. Takdir
28
28. Reuni Bad Boy
29
29. I'm Back
30
30. Gelisah
31
31. Terbakar
32
32. Kembali Ke Jalan Hitam
33
33. Tentang Rasa
34
34. Apa Maunya?
35
35. Bayang Masa Lalu
36
36. Menghilang Lagi
37
37. Keberadaan Roy
38
38. Semaunya Sendiri
39
39. Bos Besar
40
40. Sebuah Kejutan Tentang Viera
41
41. Kasih Ayah
42
42. Tak Ada Yang Bisa Menghalangi
43
43. Berusaha Mengerti
44
44. Serangan Tak Terduga
45
45. Amarah
46
46. Harimau VS Musang
47
47. Jangan Seperti Roy
48
48. Kacau
49
49. Terasa Berbeda
50
50. Kakak Laki-Laki
51
51. Tragis
52
52. Dendam Dari Masa Lalu
53
53. Terror Kematian
54
54. Tahan Boss
55
55. Sebuah Tanda
56
56. Masih Gelap
57
57. Goresan Tangan Aleena
58
58. Mega Mendung
59
59. Sialan, sial!
60
60. Jangan Bilang Kamu Hantu
61
61. Teka Teki Tentang Ped
62
62. Kebenaran Pahit
63
63. Siapa Kau Ped?
64
64. Terbukanya Kunci Pertama
65
65. Satu Demi Satu
66
66. Sekelam Malam
67
67. Terhempas
68
68. Rasa Yang Berbeda
69
69. Pertemuan Saudara Tiri
70
70. Terlalu Rumit
71
71. Abelard Belindo
72
72. Kunci Kedua
73
73. Bad Boy's
74
74. Buku Harian Aleena
75
75. Tanda Tanya Besar
76
76. Kesal Salah Paham
77
77. Titik Temu
78
78. Badai Kecil
79
79. Hilangnya Tuan William
80
80. Leo
81
81. Mendekati Target
82
82. Rosario Dawson
83
83. Gerak Cepat
84
84. Saatnya Menjadi Pemburu
85
85. Pemburu Yang Diburu
86
86. Fight Fight Fight...
87
87. Saatnya Berhenti
88
88. Akhirnya
89
89. Sebuah kebenaran
90
90. Berkumpul Lagi
91
91. Menatap Senja
92
92. Akhir Sebuah Kisah
93
93. Othor Menyapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!