Leo baru bangun dari tidur ketika suara ketukan di pintu kamarnya terdengar begitu berisik.
"Tuan... Tuan..."
Samar terdengar pula suara Kevin memanggil Leo.
Leo menyingkap selimutnya dengan malas, ia lalu turun dari tempat tidurnya dan berjalan dengan langkahnya yang panjang ke arah pintu.
"Ada apa?"
Tanya Leo.
Kevin menatap Leo dengan gemetar.
"Ada apa!"
Leo tak sabar.
"Ibu... Ibu Tuan meninggal."
Kata Kevin akhirnya.
Leo sejenak tercekat, ia berusaha mencerna kalimat Kevin dengan otaknya.
Ditatapnya tajam asistennya itu, dan dalam sekejap tangannya meraih kerah kemeja Kevin.
"Ulangi lagi apa barusan kau bilang!"
Bentak Leo.
"Ibu... Anda... Meninggal Tuan."
Leo menghempaskan Kevin hingga tubuh Kevin nyaris terpental ke belakang.
"Bohong!"
Raung Leo.
Kevin menunjukkan video pemakaman Karlita yang tengah dilakukan. Tampak Ayah Leo berada di sana pula.
Leo seketika berteriak, menghantam pintu kamarnya sekuat tenaga hingga tangannya berlumuran darah.
Tak butuh waktu lama untuk kemudian Leo akhirnya melarikan mobilnya menuju area pemakaman yang dikabarkan Ayahnya melalui Kevin.
Laki-laki itu, apa kerjanya selama ini hingga membiarkan Ibunya meninggal? Geram Leo marah.
Ia tak mengijinkan Kevin mengemudi, ini adalah harinya. Kevin duduk di kursi sebelah Leo dengan tangan gemetaran sambil berpegangan sekuat tenaga karena begitu takut Leo membawa mobilnya seperti setan.
Sampai di area pemakaman elite yang di kabarkan sang Ayah, Leo langsung memarkirkan mobilnya asal dan sembarangan saja, ia melompat turun.
Beberapa pengawal sang Ayah yang berjaga sejak pintu masuk makam dihajar Leo habis-habisan.
Harimau itu mengamuk, seolah tak lagi ingat apapun selain ingin menerkam siapapun yang ada di hadapannya.
"Nyonya Karlita ditemukan meninggal dengan tiga tembakan senjata api jarak dekat di rumah pengasingan terakhirnya."
Kata-kata Kevin itu membuat darah Leo kini benar-benar mendidih.
Begitu sudah dekat dengan area pemakaman, beberapa orang berpakaian serba hitam yang juga pengawal Ayah Leo berusaha menghadang lagi, dan jelas saja Leo menghajarnya lagi.
Tuan William, Ayah Leo akhirnya menyuruh para pengawal membiarkan putranya itu masuk ke upacara pemakaman Ibunya.
Peti itu sudah dimasukkan ke dalam lubang, dan kini sudah mulai ditimbun dengan tanah.
Leo terduduk lemas menatap peti itu kini terkubur.
Ia bahkan belum sempat melihat wajah sang Ibu.
Sungguh tragis.
Pendeta mengakhiri doanya dan kemudian bersiap pergi. Ayah Leo mengucapkan terimakasih.
Sepeninggal pendeta dan orang-orang dari gereja, Leo tampak berdiri, ia menatap marah Ayahnya yang gagal melindungi Ibunya.
Leo menghambur ke arah sang Ayah, menarik kedua sisi jas Ayahnya.
"Ke mana saja kau hingga membiarkan Ibu terbunuh!"
Raung Leo.
"Leo!"
Suara yang falimiar itu memanggil Leo.
Pemuda tampan itu seketika menoleh ke arah asal suara di belakangnya.
Anton, sahabat lamanya yang dulu berada di Laba-laba hitam bersamanya tampak berdiri.
"Kau."
Leo menatap nanar Anton yang mengangguk seolah mengiyakan bahwa ya ini dia, Anton, sahabatnya.
"Bukan salah Ayahmu Leo, semua salah kami yang lengah menjaga Nyonya Karlita."
Leo menghempaskan Ayahnya dengan kasar, dan kini menerjang Anton seolah harimau lapar yang memang ingin mengamuk hingga puas.
Anton tak melawan, meski Leo memukul wajahnya bertubi-tubi, membuat seluruh wajahnya penuh luka dan darah.
Leo berteriak sekeras-kerasnya. Meluapkan seluruh emosinya.
Tuan Will di tempatnya menunduk, menangis melihat putranya harus kehilangan Ibunya sebelum sempat bertemu selama sepuluh tahun karena dirinya.
**--------**
Leo yang akhirnya sudah lelah berguling ke tanah, ia terbaring terlentang menatap langit yang jauh diatasnya.
Anton mengusap wajahnya yang penuh darah dengan saputangan yang di berikan seorang pengawal lain.
Nafas keduanya terengah-engah.
Bulir bening tampak menetes disudut mata Leo.
Apa salahnya hingga skenario hidupnya seburuk ini. Batin Leo menggugat.
Tuan Will berjalan menghampiri Leo, ia mengulurkan tangan untuk membantu sang putra berdiri, namun Leo menepisnya dengan kasar.
"Enyahlah, kau tak pernah menepati janji!"
Kata Leo marah.
Tuan Will yang memahami kondisi Leo saat ini hanya terdiam, lalu akhirnya memilih pergi diikuti seluruh pengawalnya.
"Kau, kenapa sama sekali tak mengatakan padaku bahwa kau bekerja untuk Ayah."
Gumam Leo saat Anton juga hendak berdiri.
Anton menatap sahabatnya dengan miris.
"Aku tak ingin kau kenapa-kenapa, apapun perintah yang sekiranya itu membuatmu aman, akan aku lakukan."
Kata Anton.
"Roy, di mana dia?"
Tanya Leo lagi, sambil kemudian bangkit dan duduk di atas tanah pemakaman elite yang kini sepi dan hening.
"Kami sedang mencarinya, jangan khawatir, kami pasti akan menemukannya."
Kata Anton.
"Termasuk pembunuh Ibuku, kau juga akan mencarinya?"
Tanya Leo yang kali ini menatap tajam Anton yang telah berdiri.
"Tentu saja, aku pasti akan membunuhnya sekalipun kau tak menyuruhku."
Kata Anton.
Leo terhuyung berdiri.
"Tidak! Jika kau menemukannya, maka kau harus serahkan dia padaku, agar aku bisa menyembelihnya."
Ujar Leo.
Anton mengangguk.
"Pergilah, jaga orangtua bodoh itu, dia mungkin akan menjadi korban berikutnya."
Kata Leo lagi pada Anton.
"Jaga dirimu Le."
Anton menepuk bahu Leo.
Leo tak bergeming, kini matanya lebih tertarik menatap pusara Ibunya.
Ia terhuyung berjalan ke pusara sang Ibu, bersimpuh di sana, dan kemudian memeluk gundukan tanah tanah yang masih merah.
Kevin yang melihat pemandangan itupun jadi merasa begitu tersayat, ia sama sekali tak bisa membayangkan betapa hancur Leo saat ini.
Kevin memilih pergi kembali ke mobil, menunggu Leo selesai di dalam sana.
Hingga kemudian Doni menelfon untuk menanyakan kenapa Leo dan Kevin belum datang ke cafe.
"Ibu Tuan Leo meninggal, ia terbunuh semalam."
Kata Kevin.
"Apa?"
Doni begitu terkejut.
"Siapa pelakunya?"
Tanya Doni.
"Entahlah, belum ada yang bisa memastikan, tapi kemungkinannya mengarah pada malaikat hitam."
Kata Kevin.
"Hah lagi-lagi gerombolan itu. Apa semua orang menjadi targetnya?"
Gumam Doni.
"Memangnya siapa lagi yang menjadi target malaikat hitam yang kau kenal?"
Tanya Kevin.
"Roy, Viera, dan majikan isteriku, Nyonya Karlita."
Kata Doni.
"Apa?"
Kevin menganga tak percaya.
"Maksudmu, isteri mu bekerja di rumah Nyonya Karlita?"
Tanya Kevin.
"Yah, memangnya ada apa dengan majikan isteriku?"
Doni malah bingung.
"Kau sungguh tak tahu?"
"Tahu apa?"
"Karlita adalah Ibu Tuan Leo."
Kata Kevin.
"Sungguh? Kau tidak becanda kan?"
Doni benar-benar tak menyangka, dulu seingatnya Roy lah yang membawa isterinya bekerja di tempat Karlita.
Roy selalu bilang jika mereka tak boleh menceritakan pada siapapun tentang siapa majikannya.
Jika saat majikannya tiba-tiba pergi atau pindah juga tak usah banyak tanya.
"Viera juga bekerja menggantikan isteriku di tempat Nyonya Karlita, hari di mana ia diburu malaikat hitam, adalah hari di mana ia baru pulang karena Nyonya Karlita diungsikan."
Terang Doni.
Kevin baru akan mengatakan sesuatu lagi, saat kemudian ia melihat Leo berjalan sempoyongan menuju ke arah nya.
"Tuan... Tuan, anda tidak apa-apa?"
Kevin menghambur menolong Tuan mudanya berjalan hingga masuk ke dalam mobil.
"Aku mau pulang, kau uruslah cafe bersama Doni."
Kata Leo.
**--------**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Mardelis
hancur hati leo, kasihn
2025-03-09
0
Alexandra Juliana
Kenapa Nyonya Karlita dibikin meninggal Thor, knp dia g dipertemukan dgn Leo dan hidup bahagia menikmati masa tuanya dgn Leo dan istrinya kelak...
2023-05-08
1
Alexandra Juliana
Bukan harimau Thor..Leo kan singa..😁😁
2023-05-08
0