Aji tertidur pulas setelah diberikan obat oleh dokter. Sebelumnya, dia tidak bisa tidur dan terus mengeluh karena matanya terasa kering dan perih. Cilla menunggunya dengan sabar, meskipun banyak kekhawatiran yang ada di dalam hatinya. Dia takut jika mata anaknya itu tidak bisa diobati dan berakibat pada kebutaan permanen. Cilla tidak bisa membayangkan jika Aji mengalami semua ini.
Tadi Cilla bertanya pada dokter tentang penyakit anaknya itu, "Mata anak saya kenapa Dok? Apa karena terlalu sering menatap layar laptop dan juga handphone?"
"Bukan masalah itu yang utama. Ini akibat dari bakteri atau virus. Mungkin karena, mata kering. Sering menatap ke layar handphone ataupun laptop bisa mengurangi frekuensi berkedip. Itu menjadikan mata perih karena kering. Akibatnya menjadi terasa nyeri. Kemudian, mata memerah dan terasa gatal. Itu bisa menyebabkan mudahnya bakteri maupun virus yang menyerang. Semoga saja tidak berakibat fatal."
Keterangan dari dokter tersebut membuat Cilla terus merasa was-was. Akhirnya Cilla mencoba mencari tahu tentang penyakit anaknya itu melalui Internet.
Dari informasi yang Cilla peroleh di internet, dia bisa menyimpulkan jika, bagian mata yang berpotensi dirusak oleh bahaya radiasi handphone pada mata adalah retina. Paparan langsung radiasi sinar biru dari layar HP dapat menyebabkan kerusakan pada retina mata. Hal ini menyebabkan hilangnya penglihatan sentral yaitu kemampuan untuk melihat benda yang ada di depan kita. Cilla bergidik ngeri membayangkan jika itu sampai terjadi semua anak di dunia ini.
Cilla kembali membuka informasi lainnya. Ternyata ada gangguan lain yang bisa diakibatkan dari radiasi handphone. Yaitu katarak dini. Gejala dari katarak radiasi bisa di awali dari penglihatan yang buram atau kabur, tidak mengenali warna dengan jelas, penglihatan yang buruk pada malam hari, melihat sesuatu seperti membayang atau doble, dan juga silau jika lampu-lampu di sekitarnya terlalu terang.
Kini Cilla menjadi lebih paham. Tapi dia sudah tahu dari dokter jika yang menyerang mata Aji yang utama bukan dari akibat radiasi handphone dan juga layar laptopnya. Tapi ada bakteri yang menyerangnya. Meskipun penyebab dari salah satunya adalah hal yang di atas tadi.
Dokter yang menangani masih mempelajari bakteri apa yang menyebabkan mata Aji seperti sekarang ini.
Saat Cilla baru saja mau keluar dari kamar tempat Aji dirawat, pintu tiba-tiba terbuka dan tampak Gilang yang datang dengan wajah cemas.
"Bagaimana keadaan Aji?" tanya Gilang tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Dia sedang tidur." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Cilla.
"Aku tanya keadaannya bukan sedang apa?" Gilang menerangkan tentang pertanyaan yang dijawab berbeda oleh Cilla dengan suara yang terdengar kesal.
"Apa pedulimu?" tanya Cilla sewot karena merasa di tekan oleh nada suara dari Gilang.
"Hai, aku bertanya baik-baik!" Gilang merasa tertantang.
Cilla diam dan tidak mau menjawab pertanyaan dari Gilang. Dia tidak mau berdebat, nanti bisa-bisa membangunkan Aji yang sedang tertidur pulas.
"Cilla," panggil Aji meminta penjelasan tentang Pertanyaannya yang tadi.
Cilla menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari Gilang.
"Semuanya sudah dikembalikan lagi seperti semula oleh Aji semalaman. Setelah selesai, Aji merasa jika matanya sakit dan perih. Sekarang dokter sedang meneliti virus apa yang menyerang mata Aji."
Keterangan dari Cilla membuat Gilang merasa bersalah. Dia juga yang meminta Aji untuk mengembalikan data dan kas perusahaan yang sudah diambil oleh Aji kemarin. Akibatnya Aji harus memaksa matanya untuk kerja lebih banyak dari biasanya.
Gilang meremas rambutnya yang rapi, kini dia tampak sedikit berantakan tapi kenapa malah terlihat semakin...
Cilla mengelengkan kepalanya melihat Gilang dalam keadaan seperti sekarang ini. Ada sesuatu yang tidak ingin Cilla rasakan. Akhirnya Cilla membuang muka ke arah yang lainnya.
Gilang melangkah menuju ke tempat tidur Aji. Dia mengelus rambut dan wajah anaknya itu, kemudian mencium kedua pipi Aji sambil berbisik, "Maafkan Papa Nak. Papa janji akan menebus semua kesalahan Papa yang dulu. Cepat sembuh ya!"
Kini Gilang beralih menatap ke arah Cilla. Dia memejamkan matanya sambil menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Menunggu agar Cilla bisa diajak berbicara dengan baik-baik.
Cilla yang sedang melihat ke arah Gilang secara tidak sengaja, merasa ada yang aneh dengan sikap Gilang. 'Kenapa dia memejamkan matanya?' tanya Cilla dalam hati.
Secara kebetulan, saat Gilang membuka matanya, dia melihat juga ke arah mata Cilla yang masih melihatnya sedari tadi. Keduanya sama-sama terdiam beberapa saat setelah itu Cilla yang terlebih dahulu memutuskan kontak matanya dan mengalihkan pandangan kearah yang lain.
Gilang tersenyum melihat tingkah Cilla yang ketahuan sedang memperhatikan dirinya. Dia beranjak dari tempat duduknya didekat ranjang Aji, kemudian Gilang melangkah mendekat ke arah Cilla.
"Ada yang aneh denganku? Atau kamu mulai terpesona dengan wajahku?" tanya Gilang dengan suaranya yang berat.
Cilla gugup mendengar perkataan Gilang yang begitu dekat dengan tempatnya berdiri sekarang ini. Cilla tidak berani menatap ke arah Gilang. Dia masih merasa takut akan kejadian malam itu. Meskipun kini, ada sesuatu yang mengusik hati Cilla dengan keberadaan Gilang yang datang dan mengakui Aji sebagai anaknya.
"Katakan Cilla, apakah kamu mau menjadi istriku? Ini demi Aji, demi masa depannya."
Gilang tiba-tiba mengatakan keinginannya untuk menjadikan Cilla sebagai istrinya. Tentu saja Cilla tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Apalagi semua ini hanya untuk Aji.
Cilla mengelengkan kepalanya, menolak permintaan dari Gilang. Dia tidak mau menerimanya , karena tidak ingin memiliki harapan lebih dari apa yang di tawarkan oleh Gilang saat ini. 'Menjadi istrinya karena hanya untuk Aji.'
"Kenapa?" tanya Gilang ingin tahu alasan Cilla menolaknya. "Apa karena aku bersalah, sudah membelimu malam itu?" tanya Gilang lagi. "Aku minta maaf untuk itu!" lanjut Gilang.
Cilla memejamkan matanya, mengusir semua kenangan pahit kehidupannya yang dulu. Kesedihan dan kesusahan yang dia alami selama bertahun-tahun tidak bisa dengan mudah untuk dilupakan begitu saja. Ada banyak sekali alasan kenapa dia menolak tawaran Gilang untuk menjadi istrinya.
"Aku yang akan memintamu pada Aji nanti, jika dia sudah terbangun." Gilang kembali berkata tanpa peduli dengan perasaan Cilla saat ini.
"Tidak perlu!" jawab Cilla cepat. Dia tidak mau jika Aji akan terpengaruh oleh kata-kata Gilang nantinya.
"Kenapa?" tanya Gilang ingin tahu.
"Aji tidak akan mau menerimamu sebagai papanya." Cilla memberikan jawaban yang pastinya akan dikatakan juga oleh Aji nanti.
"Aku belum bertanya pada Aji, dan Aji belum mendengar pertanyaanku, bagaimana bisa kamu tahu jawabannya?" Gilang merasa jika itu semua hanya alasan Cilla yang menolaknya.
"Kamu sudah mendengarnya malam kemarin. Aji tidak mau mengakuimu sebagai papanya," jawab Cilla mengingatkan.
"Itu karena dia memang belum tahu. Dan kamu juga tidak memberitahu." Gilang masih tetap pada pendiriannya meskipun dia tahu jika dia mendengar perkataan Aji dan itu tidak salah.
"Maaf, permisi. Ada orang tua dari Aji Putra? Diminta ke bagian administrasi ya!" Seorang perawat datang memberitahu, dan membuat keduanya sama-sama terdiam dan tidak melanjutkan perdebatan yang tidak ada habisnya.
"Maaf, aku tinggal," kata Cilla berpamitan.
"Diam di sini. Aku yang akan mengurus administrasinya!" Gilang berkata dengan tegas dan tidak ingin dibantah lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
📘Reo🔥
dulu kesal lihat gilang.
2022-01-08
1
triana 13
like
2021-12-26
0
Embun Kesiangan
boleh jitak Gilang, thor?😅✌🙏gemesh wkwkwk
lanjut semangat thor
2021-11-06
1