"Sekarang Aku sudah menemukan dia, apalagi ternyata pikiranku yang dulu benar. Ada bebih yang dia bawa dan menjadi anak yang sekarang ini ada di depanku. Jika diijinkan, aku berniat untuk menikahinya. Demi anaknya, yang juga tentu dia adalah anakku." Gilang mengakhiri ceritanya dengan mengatakan ingin menikahi Cilla. Gadis kecil yang dulu pernah dia beli keperawanannya karena di jual oleh ibu tirinya sendiri.
Cilla terdiam, begitu juga dengan Aji. Mereka berdua tidak tahu harus berkata apa menanggapi semua cerita Gilang dengan masa lalunya. Aji hanya bisa mendengar tanpa bisa melihat secara langsung ke wajah Gilang, tapi dia bisa merasakan kepedihan hati yang dulu dirasakan olehnya. Dari suaranya yang terdengar bergetar, kesal dan juga kadang gugup saat bercerita bisa menggambarkan bagaimana keadaan Gilang yang sebenarnya.
Berbeda dengan Cilla, ternyata dia menahan air matanya yang mengambang di kelopak matanya. Dia segera menghapusnya agar tidak terlihat oleh Gilang yang ada di depannya. Tapi Aji bisa merasakan hal itu. Dia tahu jika mamanya terbaru dan juga merasa sedih mendengar cerita Gilang tentang kisah cintanya dan kehidupannya yang dulu.
"Ma. Aku mau makan. Lapar!" Aji tiba-tiba meminta makan. Ini memang sudah siang dan waktu makan siang sudah hampir lewat.
"Oh iya, mama sampai lupa," kata Cilla menepuk dahinya sendiri.
Gilang tersenyum di kulum melihat tingkah Cilla, sedangkan Aji tertawa kecil mendengar mamanya yang panik dan pasti gugup karena ada Gilang di antara mereka berdua. Tidak seperti biasanya ketika ada di rumah dan hanya ada mereka berdua saja sedari dulu.
"Bubur ya Sayang. Ini sudah disediakan sama suster tadi." Cilla menyendok bubur yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
"Gak mau. Gak enak!" Aji mengeleng dan menolak untuk makan bubur yang tersedia.
"Terus mau makan apa? Aji kan lagi sakit Sayang..." kata Cilla menjelaskan pada anaknya.
"Pokoknya gak mau!" kata Aji tetap tidak mau membuka mulutnya.
"Aji," panggil mamanya, meminta Aji untuk membuka mulutnya dan makan.
"Yang sakit itu matanya Aji Ma, bukan mulut ataupun perut Aji. Jadi tidak akan berpengaruh jika Aji makan yang lain, selain bubur."
Kata-kata Aji yang memberikan penjelasan dan juga alasan membuat Gilang mengelengkan kepalanya kagum. Dia tidak menyangka jika Aji bisa memberikan penjelasan dengan lengkap beserta alasannya juga.
Tapi Cilla yang sedang malas dan tidak nyaman dengan dengan keberadaan Gilang, tidak menanggapi perkataan anaknya, Aji.
"Aji mau makan apa?" tanya Gilang pada akhirnya.
"Gilang mau Burger," jawab Aji cepat. Dia memang ingin makan makanan dari Jerman itu.
"Kok Burger lagi? kemarin baru makan burger lho!" tanya Cilla bingung. Dia tidak mau jika Aji terlalu sering mengkonsumsi Burger.
"Memangnya kenapa Ma?" tanya Aji ingin tahu. Dia memang terbiasa bertanya untuk penjelasan tentang apa yang dikatakan oleh mamanya. Anak kecil selalu ingin tahu lebih banyak dengan suka bertanya kan?
"Iya tidak bagus. Selain mahal, tidak banyak tempat yang menjualnya, jadi susah saat mencarinya. Apalagi jika terlalu sering mengkonsumsinya, bisa-bisa obesitas karena kebanyakan lemaknya juga." Cilla memberikan penjelasan pada Aji.
"Kan ada sayur-sayurnya juga Ma?" tanya Aji lagi.
"Tapi sayuran yang ada tidak sebanding dengan jumlah bahan lainnya." Gilang ikut-ikutan menimpali jawaban dari pertanyaan Aji untuk Cilla.
"Oh gitu ya..." Aji mulai mengerti.
"Tapi boleh minta yang lain?" tanya Aji ingin tahu apakah boleh meminta makanan yang lain selain bubur yang ada.
"Aji mau apa?" tanya Gilang terlebih dahulu, mendahului Cilla yang baru saja ingin bertanya. Akhirnya Cilla terdiam dan membiarkan Gilang yang mengurusnya.
Drettt... drettt... drettt
Tiba-tiba handphone di saku celana Gilang bergetar. Dai segera mengambilnya dan menerima panggilan telepon yang masuk, dan meminta Aji menunggunya sebentar. "Sebentar, Papa angkat telpon dulu."
Ternyata yang menghubunginya adalah bawahnya yang ada di kantor GAS, perusahaan miliknya sendiri.
..."Iya ada apa?" tanya Gilang pada lawan bicaranya....
..."Sistem keamanan sudah normal dan kas perusahaan sudah kembali. Tapi kami tidak bisa melacak jejak hacker tersebut Tuan," jawab lawan bicaranya di seberang sana....
..."Ya sudah, tidak apa-apa. Biarkan saja!" kata Gilang datar....
..."Baik Tuan. Terus apa harus ada sistem keamanan cadangan seperti rencana sebelumnya?" tanya anak buahnya lagi....
..."Tidak perlu. Itu sudah cukup." Gilang tetap lada mode datar....
..."Baik Tuan, terima kasih." ...
..."Oh ya, jika ada tamu yang datang, bilang saya sedang ada diluar. Besok saja, sebab saya tidak akan kembali ke kantor hari ini." Gilang memberi tahu anak buahnya yang ada di kantor....
..."Baik Tuan."...
Panggilan telepon terputus. Gilang kembali beralih ke arah Aji yang tetap diam tanpa berkata apa-apa. Begitu juga dengan Cilla yang masih memegang mangkuk bubur yang akan dia suapkan pada Aji.
"Oh ya. Tadi Aji mau minta apa?" tanya Gilang mengingat jika tadi dia menawarkan Aji untuk memilih makanan yang dia inginkan.
"Martabak telor saja kalau begitu. Bolehkan Ma?" Aji tetap menghormati mamanya dengan meminta persetujuan. Dia tidak ingin mamanya merasa terabaikan karena adanya Gilang saat ini.
Cilla diam dan tidak langsung menjawab pertanyaan dari anaknya itu. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk membuat Aji tidak banyak maunya. Apalagi dengan merepotkan Gilang yang tentu saja sangat sibuk di kantornya. Ini pasti ada penyebabnya, sehingga dia tidak kembali lagi ke kantor. Mungkin karena Aji, atau bisa jadi untuk mengambil perhatian dan juga hatinya Aji agar tidak lagi mengacaukan sistem perusahaan GAS miliknya.
"Kenapa anda tidak kembali saja ke kantor? Dia sana pasti lebih memerlukan anda. Aji terbiasa hanya dengan saya. Jangan coba-coba mempengaruhinya!" Cilla berkata dengan suaranya yang terdengar kesal dan juga ketus.
"Aku mau ikut menjaga Aji," jawab Gilang datar, namun terdengar tegas dan tidak mau di bantah.
"Dia tidak memerlukan siapapun. Dia hanya butuh mamanya." Cilla tetap ingin agar Gilang segera pergi dari tempatnya.
"Kenapa? Apa kamu takut aku akan mengambil Aji? Atau kamu cemburu karena Aji lama-lama bisa menerimaku atau kamu takut akan goyah karena terus melihatku dan bisa jadi terpesona?"
Cilla melotot tajam mendengar perkataan Gilang yang memiliki tingkat kepedean tinggi. Cilla tidak habis pikir dengan pemikiran Gilang tentangnya.
Aji yang terbaring tanpa bisa melihat keduanya tertawa geli membayangkan mama dan papanya yang berdebat memperebutkan posisi hatinya. "Aku akan berusaha mempersatukan mereka berdua, dan itu bukan karena aku yang menjadi alasannya." Aji berjanji dalam hati.
"Ma. Biarkan Papa membeli martabak telur untuk Aji. Mama disini menjaga Aji."
Cilla kaget mendengar perkataan anaknya yang sedang memangil Gilang dengan sebutan, papa. Sedangkan Gilang tersenyum senang mendengar perkataan Aji yang sudah mulai mau memanggilnya, Papa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
Kar Genjreng
bagi dikit boleh... he he🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
2022-07-30
1
📘Reo🔥
Haduh
2022-01-08
0
triana 13
semangat kak
2021-12-26
0