Kamar istirahat di toko tersebut, menjadi saksi bisu pertemuan antara ayah dan anak. Sekian lamanya waktu yang memisahkan keduanya, membuat mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Apalagi Gilang memang tidak pernah sadar jika bertahun-tahun yang lalu, ada satu benihnya yang tubuh dengan sangat baik di bagian rahim seorang gadis. Aji kecil juga tidak pernah tahu, jika laki-laki di depannya saat ini adalah ayahnya. Justru tadi dia memanggilnya dengan sebutan Om.
Keduanya kini sama-sama memegang kelereng merah milik Aji. Mereka berdua saling berbicara tentang keunikan kelereng merah.
"Kamu suka bermain kelereng?" tanya Gilang pada Aji.
"Iya," jawab Aji pendek tanpa menoleh kearah Gilang. Dia masih asyik menghitung ulang kelereng-kelerengnya.
"Kamu tahu jumlah kelereng-kelereng kamu ini?" tanya Gilang lagi.
Aji tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dengan pasti, karena dia memang sangat hafal berapa jumlah dari kelereng merah miliknya itu.
"Kenapa kamu hitung lagi?" tanya Gilang penasaran.
"Suka," jawab Aji, kemudian mengalihkan atensinya dari kelereng-kelereng miliknya ke arah Gilang dengan tatapan matanya yang tajam. Dia tidak suka ada orang yang baru dia temui sudah banyak bertanya-tanya.
Gilang menganguk mengerti. Dia sadar, ada sesuatu yang menarik dari anak kecil yang ada didepannya ini. Tatapan matanya yang tajam mengingatkan pada dirinya sendiri. 'Siapa sebenarnya dia?' pikir aji dalam hati.
"Gilang... Gilang!" Suara mami Rossa terdengar dari luar kamar istirahat.
"Siapa lagi yang datang?" tanya Aji seperti berguman.
"Itu mami aku," jawab Gilang yang mendengar suara Aji, meskipun tidak sedang bertanya padanya.
Aji terdiam. Dia pikir Gilang sama seperti dirinya yang ikut mamanya kerja di toko ini.
"Maminya Om kerja di sini juga?" tanya Aji polos.
Gilang melotot mendengar pertanyaan dari Aji. Dia ingin marah, tapi pada akhirnya Gilang kembali berpikir, jika anak seusia Aji pasti bertanya apa yang dia lihat dan selalu ingin tahu lebih banyak juga. Dan akhirnya Gilang terkekeh membayangkan maminya berkerja di toko miliknya itu.
"Kenapa tertawa?" tanya Aji heran.
"Gak apa-apa," jawab Gilang. Dia juga menghentikan tawanya yang tidak biasa dia lakukan. Apalagi dengan seorang anak kecil yang baru saja dia kenal.
Ceklek!
"Gilang!" panggil mami sambil membuka pintu kamar istirahat yang ada di toko miliknya.
"Loh. Siapa dia?" tanya mami kaget saat melihat Aji yang menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.
"Gak tahu Mi," jawab Gilang acuh. Dia kembali pada mode datar dan dingin.
"Oma maminya Om ini? Kerja di toko ini juga, kayak mamanya Aji?"
Aji bertanya kepada mami Rossa. Dia tentunya heran melihat mami Rossa yang sudah berumur harus bekerja juga di toko, sama seperti mamanya.
"Eh, bicara apa dia?" Mami Rossa bertanya pada anaknya, karena merasa bingung dengan perkataan Aji kecil.
Aji melihat ke arah Gilang. Tapi Gilang malah mengangkat kedua bahunya acuh.
"Itu kelereng merah punya siapa?" tanya mami Rossa yang melihat ada banyak kelereng merah di dalam toples.
"Punyaku." Aji menjawab cepat dan mengambil toples kelereng miliknya dengan segera dan memeluknya dengan erat. Dia takut jika kelereng merah itu akan di ambil oleh mami Rossa.
Mami Rossa tampak tertegun melihat tingkah laku Aji. Dia pun mengerutkan keningnya bingung dan bertanya-tanya dalam hati, "Siapa anak kecil ini?" Mami Rossa seperti melihat anaknya di masa lalu dalam dimensi waktu yang berbeda.
"Eh, Mami tidak mau ambil kelerengnya kok. Mami mau tanya, kamu siapa?" Mami Rossa akhirnya bertanya juga setelah diam beberapa saat.
"Namaku Aji."
"Sama persis!" seru Mami Rossa kaget. Dia heran dengan keberadaan anak kecil yang ada di kamar istirahat ini.
"Gilang, jelaskan pada Mami. Siapa dia dan anaknya siapa?" tanya mami Rossa menyelidik. Dia memang tidak tahu siapa anak kecil ini.
"Gilang juga tidak tahu Mi." Jawaban yang diberikan oleh Gilang masih tetap sama seperti yang tadi. Sebab, dia memang tidak tahu siapa Aji dan anaknya siapa.
"Oh, Mami tahu harus bertanya pada siapa." Mami Rossa tampak mengeluarkan handphone miliknya. Dia menelpon seseorang dengan cepat.
..."Diyah, ke kamar istirahat sebentar!"...
Tanpa menunggu jawaban orang yang dia hubungi, mami Rossa langsung menutup panggilan telponnya.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Mbak Diyah datang dengan wajah cemas. Dia takut jika kesalahan yang tadi, soal gaun yang ada di manekin, diketahui oleh mami Rossa.
"Ya Mi. Mami panggil saya?" tanya mbak Diyah bingung.
"Diyah, kamu tahu dia anak siapa?" tanya mami Rossa dengan menunjuk ke arah Aji.
Mbak Diyah tampak menepuk dahinya sendiri. Dia lupa jika hari ini Aji, anaknya Cilla ikut serta dengan mamanya yang bekerja. Dan Aji ada di kamar istirahat agar tidak menggangu pekerjaan mamanya.
"Diyah..." panggil mami Rossa lagi, sebab mbak Diyah tampak bingung mau menjelaskan tentang Aji.
"Itu... Itu Mi. Dia Aji, anaknya Cilla." Mbak Diyah terbata-bata menjelaskan tentang siapa Aji pada mami Rossa.
"Cilla... Cilla yang manis dan rajin itu? Yang biasa bantu Mami milih gaun itu kan?"
Mbak Diyah menganguk mengiyakan semua pertanyaan mami Rossa. Aji yang mendengar semuanya, tampak mengerutkan keningnya bingung.
"Coba kamu panggil Cilla!" kata mami menyuruh mbak Diyah agar segara memanggil Cilla.
Mbak Diyah segera keluar dari kamar untuk memangil Cilla. Dia tampak cemas dan juga takut. Cemas jika nantinya Cilla dan juga Aji di marahi oleh mami Rossa. Dia juga takut yang lebih parahnya, bisa jadi nantinya Cilla diberhentikan dari pekerjaan ini.
"Duh ,gimana ini? Padahal aku kan yang kasi ijin ke Cilla. Masa iya Cilla yang nanggung sendiri." Mbak Diyah bertanya-tanya dalam hati.
"Cilla. Sini!" panggil mbak Diyah begitu sampai di dekat Cilla. Dia baru saja selesai melayani pembeli.
"Iya mbak, ada apa?" tanya Cilla mendekat.
"Aji Cill. Aji... ah!" Mbak Diyah bingung mau menjelaskan tentang bagaimana keadaan Aji yang di tinggalkan sendiri di kamar istirahat toko.
"Aji kenapa?" tanya Cilla cemas.
Tanpa menunggu jawaban dari mbak Diyah, Cilla berlari ke arah kamar istirahat. Dia ingin melihat keadaan Aji, anaknya itu.
"Sayang... A... Aji." Cilla menghentikan panggilannya, dan menutup mulutnya sendiri.
Cilla tertegun melihat ke dalam kamar. Dia tidak pernah berpikir jika akan bertemu dengan laki-laki itu lagi.
"Mama!" panggil Aji yang melihat ke arah mamanya yang ada di depan pintu.
Cilla tersenyum dipaksakan. Dia tidak berani melihat ke arah yang lain. Dia hanya fokus pada anaknya, Aji.
"Itu mamanya Aji!" kata Aji memberitahu kedua orang yang baru dia kenal.
Mami Rossa menoleh kearah pintu, saat Aji memangil sebuah nama dan menunjuk kearah pintu.
"Cilla. Sini!" panggil mami Rossa pada Cilla yang masih berhenti dan tidak segera masuk ke dalam.
"Ini anak kamu Cilla? Berapa umurnya?" tanya mami Rossa ingin tahu.
Cilla belum menjawab pertanyaan dari mami Rossa, tapi Aji segera menyahut cepat, "Dua bulan lagi Aji genap lima tahun."
Gilang yang hanya diam saja sedari tadi menoleh ke arah Cilla. Dia tertegun melihat wajah Cilla. "Bau minyak wangi yang sama..." guman Aji pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
Kar Genjreng
teka-teki wis mulai pudar yo meh ketemu... benih sing semprot ke disik ra retio dadi Aji ganteng cerdas... wes arep 5 th to.. ☺☺☺☺☺
2022-07-30
1
A.0122
cuma ingat bau minyak doang
2022-01-22
0
triana 13
like
2021-11-30
1