Aji terdiam mendengar semua perkataan Gilang yang mirip dengan nasehat mamanya tadi, sewaktu di Mall sambil makan Burger.
"Sayang. Pencurian data dan juga dana yang bukan milik kita itu salah. Merugikan orang lain dan itu tidak baik. Mungkin kerugian itu tidak hanya berdampak pada perusahaan GAS. Tapi semua yang ada di bawah naungan perusahaan itu kena dampaknya juga. Jika perusahaan-perusahaan itu jatuh bangkrut, bagaimana nasib semua karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut? Mereka semua juga punya keluarga yang harus mereka penuhi kebutuhannya. Anak-anak mereka juga butuh makan dan sekolah. Apa Aji tega membuat semua orang menjadi korban dendam yang tidak pada tempatnya?"
Begitlah nasehat mamanya tadi, saat Aji mengatakan jika dia berhasil menyusup dan membuat kekacauan lagi di perusahaan GAS. Bahkan Aji juga mengatakan, jika dia berhasil membobol sistem keamanan kas perusahaan tersebut tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Selesai mendengar semua nasehat mamanya, Aji berjanji akan mengembalikan semuanya seperti semula lagi. Dia tidak mau menjadi manusia serakah dan dikuasai oleh dendam. Dia ingin jadi anak yang pintar tapi juga punya moral.
Kini mereka sudah berada di rumah, dan ada Gilang yang datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Bahkan nadanya saat menegur, seperti orang yang sedang mengintimidasi lawan. Aji tidak suka itu.
Waktu Aji mengatakan tentang kondisi perusahaan GAS saat ini, Gilang merasa tidak percaya jika itu semua adalah ulah dari Aji, anak kecil yang dia temukan secara tidak sengaja di kamar istirahat toko milik maminya. Yang lebih mengejutkan lagi, dia adalah anaknya sendiri yang tidak pernah dia ketahui selama ini. Mungkin Gilang sedang kacau pikirannya sehingga terbawa emosi dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Aji, tolong kembalikan sistem perusahaan GAS seperti biasanya. Jika bisa buat sistem itu tidak bisa di terobos oleh hacker manapun." Gilang meminta pada Aji. Sepertinya dia sudah mulai melunak karena berpikir bahwa dengan emisi dia akan kehilangan kesempatan untuk melakukan pendekatan dan mengembalikan kondisi perusahaan agar kembali normal. "Ya. Kembalikan lagi seperti semula."
Aji memicingkan matanya melihat ke arah Gilang. 'Ini orang percaya diri sekali, jika aku akan membantunya. Dasar!' Maki Aji di dalam hati.
"Aji," panggil Gilang memastikan.
"Aku tidak bisa. Aku hanya akan mengembalikan semuanya. Semua yang aku ambil akan aku kembalikan. Tapi maaf, aku tidak bisa membantu perusahaan GAS dalam hal lain."
Jawaban dari Aji membuat Gilang menjambak rambutnya sendiri dari arah belakang. Dia tidak tahu harus berkata apalagi saat ini, untuk membujuk anaknya itu.
"Ayolah Aji, kasih Papa kesempatan. Selama ini, Papa tahu, jika Papa salah. Tapi sungguh, Papa menyesal dengan semua yang telah Papa lakukan selama ini."
"Pulanglah. Sudah malam. Aku tidak ingin bicara lagi dengan Om!"
"Om? Ini Papa Aji, bukan Om!" Gilang menerangkan.
"Bukan." Aji menjawab cepat dan juga tegas.
Aji menarik tangan mamanya yang tetap diam sedari tadi. Cilla menurut saja dengan kemauan anaknya itu. Dia tidak ingin mempengaruhi Aji dalam menilai sikap dan perilaku papanya sendiri.
Gilang hampir saja ikut masuk ke dalam rumah, tapi dengan cepat, Aji menutup pintu sehingga Gilang berhenti tepat didepan pintu rumah yang sudah tertutup dengan sempurna.
"Ayolah Aji. Beri kesempatan pada Papa Nak," kata Gilang sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah, mencoba menggoyahkan Aji agar mau membuka pintu untuknya, sehingga dia bisa bicara lagi dengan Aji atau Cilla.
"Pergilah Om. Ini sudah malam. Nanti pak RT marah!" Aji mengusir Gilang dari dalam rumah.
Gilang berhenti mengetuk-ngetuk pintu. Dia tahu jika Aji tidak mungkin mau membuka pintu rumah untuk dirinya. Tapi dasarnya Gilang yang keras kepala, dia tetap mengetuk-ngetuk pintu hingga beberapa kali. Namun sayang, tidak ada tanda-tanda jika Aji akan membukakan pintu untuknya. Beberapa kali lagi Gilang mengetuk pintu, akhirnya Gilang pergi juga dari rumah Aji dengan langkah yang lesu. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuat anaknya itu menuruti kemauannya.
"Bagaimana caranya aku bisa mendekati Aji. Ah, ini semua memang salahku!" gerutu Gilang sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku pasti bisa. Aku akan berjuang untuk menebus kesalahanku yang lalu." Ucap Gilang pelan, seakan-akan untuk dirinya sendiri.
*****
"Sayang. Kamu yakin bisa mengembalikan semua yang tadi kamu kacaukan? Mama tidak mau jika itu akan membuatnnya semakin sulit nanti."
Cilla bertanya pada anaknya, memastikan bahwa Aji bisa melakukan apa yang dia katakan tadi. Aji mengangguk dengan pasti. Kini dia bersiap untuk menjalankan misinya. Semua ini Aji lakukan demi kelangsungan hidup perusahaan yang telah menampung banyaknya kehidupan orang-orang yang menjadi karyawan mereka selama ini. Bukan untuk Gilang yang mengaku sebagai papanya.
Lewat tengah malam, semuanya kembali normal. Aji menghembuskan nafas panjang. Dia merasa lega karena semuanya sudah dia kembalikan lagi.
Aji menoleh ke arah mamanya yang ada di sebelahnya, duduk menemani dirinya sedari tadi. Cilla juga tersenyum sambil mengangguk. Dia bangga pada anaknya yang masih mau menuruti kata-katanya. Dia harus bisa mengarahkan anaknya yang cerdas ini pada jalan yang baik, agar tidak salah langkah.
"Ma. Semua sudah selesai. Sekarang kita tidur yuk! Mata Aji capek, perih ini."
Aji mengucek matanya yang terasa perih. Cilla melihatnya dengan mata memicing untuk memastikan apakah ada kelainan pada mata anaknya itu. "Coba lihat sayang!"
Cilla masih melihat-lihat mata Aji yang terlihat merah. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah kotak obat yang ada di pojok ruangan itu.
"Sini, pakai obat tetes mata dulu. Mungkin ini iritasi." Cilla membantu Aji meneteskan obat mata agar tidak kering dan memerah.
"Perih Ma..." Aji mengeluh karena merasa sakit pada matanya.
"Berkedip-kedip ya!" Cilla memberikannya arahan pada Aji.
Aji menurut saja. Dia beberapa kali mengedipkan matanya, tapi dia merasa jika matanya tetap terasa tidak nyaman dan perih.
"Masih sakit Ma. Perih, perih!" Aji malah semakin berteriak kesaktian.
"Tunggu ya, Mama cari tukang ojek dulu ke depan. Kita ke rumah sakit sekarang!" Cilla panik dan juga bingung harus bagaimana lagi. Akhirnya dia mencari bantuan dengan keluar dari rumah. Dia berlari ke arah gang depan mencari tukang ojek yang biasanya masih ada pada tengah malam seperti ini.
"Pak, pak. OJek ya ke rumah sakit!" teriak Cilla panik.
"Lho, neng Cilla. Siapa yang sakit?" tanya pak RT. Ternyata pak RT ada di sana, di pangkalan ojek, ikut mengobrol dengan para Bapak-bapak yang lain.
"Aji pak. Aji sakit!" jawab Cilla cemas.
"Oh, ya sudah. Sana Cang, antar neng Cilla sama Aji ke rumah sakit, cepat!" Pak RT memerintahkan pada salah satu dari tukang ojek yang ada dengan menyebutnya, Cang.
Tak lama kemudian, Cilla dan Aji berangkat ke rumah sakit diantar oleh tukang ojek.
*****
Pagi hari sekitar pukul sembilan, Gilang datang ke rumah Cilla. Dia bermaksud untuk berterima kasih pada Aji yang sudah menepati janji untuk mengembalikan data yang kas yang dia ambil kemarin. Dia membawa kado berukuran besar untuk hadiahnya.
Tok... tok... tok
Gilang mengetuk pintu berkali-kali. Tapi sepertinya tidak ada orang. Terbukti pintu tetap tertutup dan tidak ada yang membukanya. Lampu teras juga masih menyala di jam sekian. Gilang merasa ada yang tidak beres dengan penghuni rumah ini.
"Siapa ya? Nyari siapa?" tanya seseorang yang sedang lewat. Ternyata dia adalah pak RT.
"Saya mau bertemu Cilla dan juga Aji pak." Gilang menjawab pertanyaan dari orang yang menegurnya. "Tapi sepertinya tidak ada orang di rumah. Pada kemana ya?" tanya Gilang penasaran.
"Oh, neng Cilla membawa Aji ke rumah sakit. Lewat tengah malam tadi perginya. Rumah sakit dekat sini saja kok." Pak RT memberitahu.
"Kenapa Aji Pak?" tanya Gilang panik.
"Tidak tahu. Neng Cilla cuma bilang, mata Aji sakit," jawab pak RT. " Oh ya, anda siapa ya? Saya baru lihat." Pak RT kembali bertanya.
"Oh, saya papanya Aji pak." Gilang memperkenalkan diri.
Pak RT mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia baru tahu jika papanya Aji adalah orang yang kaya dan sepertinya bukan orang sembarangan. Terlihat sekali dari penampilan dan mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang ini.
"Ya sudah pak. Saya mau menyusul ke rumah sakit kalau begitu," pamit Gilang pada pak RT.
Tanpa menunggu jawaban dari pak RT, Gilang segera pergi menuju ke rumah sakit. Dalam hati Gilang berjanji akan ikut merawat Aji dan juga membiayai perawatan anaknya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
Kar Genjreng
Aji kena radiasi yo he he he... opo virus.. mugo-mugo endang mari ngapurono Pak e kabeh mau dudu salah e Pak Mama e juga salah... di dol di tuku... ngapurani ae yo ra
2022-07-30
2
Lady Meilina (Ig:lady_meilina)
😍😍😍
2022-01-24
0
A.0122
kelamaan didepan layar nie jd matanya sakit
2022-01-22
1