"Bukannya tadi yang aku suruh masang gaun ini Cilla ya..." Mbak Diyah mengingat-ingat kembali waktu yang tadi. "Coba aku tanya dia saja," sambung mbak Diyah, kemudian bergegas mencari keberadaan Cilla.
Cilla yang sedang melayani pembeli di panggil oleh mbak Diyah. "Cilla, kemari sebentar!"
"Ya Mbak, ada yang bisa Cilla bantu?" tanya Cilla setelah dekat.
"Tadi yang pasang gaun di manekin depan siapa ya?" tanya mbak diyah ragu.
"Saya Mbak. Ada apa ya?" tanya Cilla bingung.
"Tadi ada sobek tidak dibagian dada?" tanya mbak Diyah dengan wajah cemas.
"Tidak ada Mbak. Tadi pas Cilla pasang baik-baik saja kok. Gak ada cacat, apalagi sobek," jawab Cilla yakin.
"Duh, gimana ya... Itu, emh..." mbak Diyah susah untuk menjelaskan apa yang terjadi pada gaun tersebut.
"Ada apa Mbak? Kenapa gaunnya?" tanya Cilla bingung.
"Gaunnya sobek Cilla, dan ada di bagian dada. Kan ini aneh! Masa iya kamu pasang gak lihat-lihat," keluh mbak Dyah dengan wajah penuh rasa takut.
"Aduh. Tadi Cilla beneran sudah lihat benar kok. Gak ada sobek juga." Cilla tetap pada keyakinannya.
"Terus kenapa bisa jadi sobek sekarang?" tanya mbak Diyah bingung.
"Cilla juga tidak tahu Mbak. Terus gimana ini?" Cilla jadi ikut-ikutan panik dan juga cemas.
"Sekarang gaunnya kamu lepas dulu ya. Nanti kita pikir lagi!"
Cilla menganguk. Dia menurut saja apa yang dikatakan oleh mbak Diyah.
"Ah, dasar anak mas. Gitu deh. Sudah tahu salah malah di bela-belain segitunya."
"Iya nih. Mbak Diyah pilih kasih."
"Coba kalau kita yang bikin salah. Diamuk pastinya!"
Ocehan demi ocehan terdengar dari beberapa mulut teman-teman kerja Cilla. Mereka semua merasa iri dengan perlakuan atasan mereka pada Cilla. Mereka menganggap Cilla sebagai karyawan yang bekerja karena belas kasihan saja.
*****
Sore berganti malam Toko tempat Cilla bekerja semakin ramai. Semua karyawan tampak sibuk dengan customer masing-masing. Begitu juga dengan Cilla.
Dari arah pintu masuk, datang seorang wanita yang sudah berumur. Di belakangnya tampak laki-laki gagah yang mengikutinya.
"Malam Mami Rossa!" sapa mbak Diyah dengan sopan.
"Malam Diyah. Bagaimana toko, ramai?" tanya wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda.
Wanita cantik yang di sapa dengan sebutan mami tersebut adalah pemilik toko. Dia memang jarang sekali datang berkunjung.
"Gilang, sini?" mami Rossa memanggil laki-laki yang tadi mengikutinya. Dia ternyata adalah anak mami Rossa.
Semau karyawan dan pengunjung toko tampak tertegun melihat wajah dan tubuh laki-laki tadi. Mereka kagum dengan apa yang baru saja mereka lihat. Sosok Gilang Aji Saka yang menjadi pergunjingan di kalangan para wanita dan gadis-gadis sosialita papan atas. Dia tidak pernah datang ke toko. Baru malam ini dia mau datang bersama maminya, mami Rossa.
"Apa Mi?" tanya Gilang pendek.
"Pilihin gaun buat Mami ya! Besok mau ada arisan di rumah. Ada teman Mami bawa anak gadisnya yang baru datang dari Amerika. Dia baru lulus dari sana."
Mereka berdua berjalan menuju ke ruang ganti, kemudian mami Rossa memilih-milih gaun yang dia mau. Gilang membuang nafas kasar. Dia sudah bosan dengan kebiasaan maminya yang arisan ini, arisan itu. Apalagi Gilang juga sering dipromosikan ke teman-teman arisannya dan berusaha menjodohkan dengan anak-anak mereka. Gilang kan bukan barang?
"Pilih saja yang Mami mau." Gilang terlalu malas jika diminta memilih. Pasti maminya akan memilih gaun-gaun itu lebih dari lima dari setiap modelnya.
"Ah, kamu ini selalu begitu," keluh mami Rossa perihal kebiasaan anaknya itu.
"Oh ya, besok kamu di rumah saja. Nanti Mami kenalkan sama anak teman Mami itu."
"Gilang ada urusan penting Mi." Gilang menolak permintaan maminya.
"Urusan apa sih? Ini lebih penting untuk masa depan kamu. Kapan lagi? Kamu itu sudah berumur. Lihat saja kawan-kawan seusia kamu sudah pada berumah tangga semua. Sudah punya anak yang lucu-lucu. Kapan kamu kasih Mami cucu?"
Gilang mengeleng mendengar kata-kata maminya yang sudah dia hafal dengan baik. Akhirnya Gilang melangkah menuju ke kamar tempat beristirahat. Dia ingin merebahkan tubuhnya yang lelah. Lelah karena selalu di minta untuk segera menikah.
Pada saat Gilang masuk ke kamar istirahat, dia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Di tempat duduk dekat dengan tempat tidur, tampak seorang anak laki-laki yang sedang asyik bermain dengan kelereng merah. Diatas meja, dekat anak kecil itu duduk dan bermain-main, ada sebuah handphone yang tergeletak begitu saja.
"Siapa kamu?" tanya Gilang penasaran.
"Namaku Aji," jawab Aji pendek sambil mendongakkan kepalanya, mengalihkan pandangannya dari kelereng ke arah Gilang yang bertanya padanya.
Gilang tampak terkejut. Dia seperti melihat ke masa lalunya, sewaktu kecil dan seusia anak yang ada didepannya ini. Dulu, Gilang juga sangat senang bermain dengan kelereng, tapi yang berwarna merah saja. Dan penyebutan nama saat di tanya orang yang tidak dikenal, juga sama dengan anak kecil ini.
"Wah, nama yang bagus!" kata Gilang memuji.
"Terima kasih." Aji kecil merespon datar pujian yang diberikan Gilang untuknya.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Gilang lagi. Entah kenapa dia ingin sekali bisa bicara lebih banyak dengan anak yang baru dia temui. Padahal biasanya, Gilang tidak pernah peduli pada lingkungan dan sekitarnya, termasuk anak-anak.
"Memang kenapa kalau aku ada disini?" Aji balik bertanya pada Gilang.
"Hahaha..." Gilang tertawa lepas. Hal yang sudah lama tidak dia lakukan dengan sadar. Biasanya, Gilang bisa tertawa lepas seperti tadi hanya pada saat mabuk dan tidak sadarkan diri.
"Kenapa?" tanya Aji pada laki-laki dewasa yang ada didepannya ini.
"Emhh, tidak. Tidak kenapa-kenapa." Gilang mengelengkan kepalanya.
"Aneh!" Aji berkata menilai orang yang ada di depannya saat ini.
Gilang da Aji sama-sama terdiam. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu. Mereka berdua masing-masing berpikir, dengan penilaiannya sendiri dalam hati.
Gilang berpikir jika ada sesuatu yang menarik dari anak kecil didepannya ini. Dia seperti bercermin pada dirinya sendiri, namun dalam dimensi waktu yang berbeda.
Aji kecil yang terbiasa mengamati seseorang dari awal pertemuan juga merasakan hal yang sama. Dia merasa ada sesuatu yang menarik dari laki-laki yang baru dia temui di tempat kerja mamanya.
Beberapa detik kemudian, tanpa ada aba-aba, keduanya sama-sama menoleh dan saling berpandangan. Keduanya jadi merasa serba salah dan pada akhirnya mereka berdua mencari alasan untuk menghilangkan rasa canggung.
"Om siapa, dan kenapa ada di kamar istirahat?"
"Kamu anaknya siapa kok ada di kamar istirahat?
Keduanya berbarengan mengajukan pertanyaan dalam waktu yang sama. Begitu juga dengan pertanyaannya. Pada akhirnya keduanya sama-sama tersenyum-senyum sambil melirik satu sama lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
AyahRum
kenapa ketemu ayah nya lebih baik sendiri mandiri penuh perjuangan begitu baru asik mantap
2023-09-20
1
Kar Genjreng
tidak terasa ternya Aji ketemu daddy nya... author m emang wis dadi gaweane yo ngono kui... Ak seneng yen ngono kui 😃😃😃😃
2022-07-30
0
wwevideos collector
kirain ketemu ma Cilla ternyata ma anak org 😁
2022-03-15
1