Keadaan sedikit demi sedikit menjadi lebih baik dan tenang. Berita tentang hacker GAS juga berangsur-angsur hilang dengan sendirinya. Mungkin pihak keamanan IT di perusahaan tersebut sudah bisa memperbaiki semua kekacauan yang terjadi kemarin itu.
Aji juga tidak membuka situs website yang dia tutup kemarin. Jadi dia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Dia hanya melakukan kegiatannya yang lain, seperti biasanya.
Jualan online yang Aji tekuni juga masih berjalan dengan baik dan lancar. Aji juga masih mengakses informasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang lainnya juga.
Aji patuh pada nasehat mamanya. Kemarin, saat Aji menceritakan tentang ketidak sengajaannya masuk dan mengacaukan sistem operasional perusahaan GAS, mamanya berpesan untuk berhati-hati.
"Teknologi memang penting dan bisa membantu banyak hal pada manusia. Tapi jangan lupa, berbuat sesuatu yang merepotkan serta merugikan orang lain termasuk hal yang tidak baik dan juga tidak benar. Apa yang kamu lakukan kemarin itu termasuk dalam kategori hal yg tidak baik juga. Karena membuat orang lain menjadi repot serta susah juga. Apalagi jika kamu ketahuan, bisa tambah repot kan?"
Begitulah kata mamanya kemarin sore. Aji hanya diam mendengarkan dan mengangguk mengerti setelah mamanya selesai bicara.
Aji sangat ingat semua nasehat mamanya itu. Dia memang dibebaskan mamanya mengakses internet untuk belajar, tapi tetap dipantau oleh mamanya juga. Dan selama ini Aji tidak pernah keluar dari jalur yang diberikan oleh mamanya. Yang kemarin itu, Aji benar-benar tidak sengaja.
Saat sore hari, Aji baru saja selesai mandi dan bermain kelereng merah miliknya. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.
Tok... tok... tok...
Aji tidak segera membuka pintu, tapi melihatnya terlebih dahulu. Dia mengintip dari balik tirai jendela. Ternyata yang datang tuan Adi, pemilik kontrakan rumah.
Tok... tok... tok...
Pintu terdengar diketuk lagi. Dengan sedikit malas, Aji melangkah menuju ke arah pintu dan membuka pintu rumahnya.
Klek, klek, ceklek!
Aji membuka kunci rumah, kemudian membuka pintunya. "Eh, tuan Adi..." sapa Aji sambil meringis khas anak-anak.
"Hai Aji! Wah... sudah rapi ternyata. Kok tahu sih kalau saya mau datang?" tanya tuan Adi narsis.
Aji tidak menjawabnya. Dia hanya melihat dengan wajah bingung ke arah tuan Adi. Entah apa lagi maksud kedatangan tuan Adi sekarang ini.
"Paman mau ajak Aji jalan-jalan dong, mau ya!" kata tuan Adi merayu.
Aji mengeleng mendengar kata-kata tuan Adi. Dia tidak terbiasa dengan orang lain, apalagi diajak keluar. Meskipun Aji kenal dengan tuan Adi, dia tetap saja tidak mau ikut.
"Kenapa?" tanya tuan Adi saat melihat Aji mengeleng, menolak ajakannya.
"Tidak mau." Aji menjawab pendek.
"Oh, paman tahu... Pasti karena mama belum pulang ya?" tebak tuan Adi dengan percaya diri yang tinggi.
Aji tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan dari tuan Adi. Ini membuat tuan Adi menjadi bingung sendiri.
"Ya sudah. Kita tunggu mama saja ya?" kata tuan Adi memutuskan. Padahal memang itu yang dia inginkan. Aji tetap diam dan tidak mengatakan apapun.
Akhirnya tuan Adi berinisiatif duduk di teras rumah depan, kemudian Aji berbalik arah untuk kembali masuk ke dalam rumah.
"Eh, kok paman di tinggal pergi!" teriak tuan Adi saat melihat Aji masuk ke dalam rumah. Tuan Adi berpikir jika anak Cilla Andini ini terlalu dingin dan misterius.
Aji menoleh ke arah tuan Adi yang melihatnya dengan wajah penuh tanda tanya. Setelahnya, Aji kembali mendekat dan bertanya pada tuan Adi. "Paman mau menunggu mama kan? Ya sudah tunggu saja. Aku mau masuk ke dalam rumah," kata Aji sambil berlalu dan masuk ke dalam rumah.
"Eh, dasar anak aneh! Padahal menurutku, aji itu pintar. Terlalu pintar malah. Tapi kok kayak aneh gitu. Tidak seperti anak-anak pada umumnya. Apa karena tidak punya papa, jadi aneh kayak gitu? Dia tidak ada panutan sosok papa di rumah. Apa karena itu?" pertanyaan demi pertanyaan tuan Adi keluar begitu saja. Tuan Adi juga mengelengkan kepalanya mengingat jika selama ini dia tidak pernah tahu siapa papa Aji yang sebenarnya.
"Padahal aku datang kan pengen juga mendekati mamanya, tapi dengan cara dekat dulu dengan anaknya. Malah kayak gitu tanggapannya. Haduhhh!" keluh tuan Adi seorang diri.
"Sebenarnya Cilla itu dulunya sudah menikah apa belum ya? kalau sudah berarti janda. Kalau misalnya belum berarti Aji itu anak..." Tuan Adi tidak meneruskan kata-katanya. Setelah beberapa detik terdiam, dia kembali mengerutu, "Huh... Kenapa lama juga ini belum pulang-pulang si Cilla!"
Di balik pintu Aji mendengar semua perkataan tuan Adi. Semuanya, dan tidak ada yang terlewat.
Sepuluh menit berlalu begitu saja tanpa terasa. Dari arah jalan masuk menuju ke rumah, Cilla terlihat baru saja datang.
"Itu dia mama muda yang masih terlihat seperti gadis. Ah, aku sudah tidak sabar ingin menikahinya. Pasti masih singset dia." Tuan Adi berkata sambil membayangkan yang tidak-tidak.
"Dulu di tanya suami, katanya ada. Mana? sampai anaknya umur segitu tidak pernah lihat suaminya datang!" Tuan Adi terus saja berguman seorang diri.
"Eh, tuan Adi. Sudah lama ya?" tanya Cilla begitu sampai di teras rumah, dan melihat tuan Adi duduk sendirian di depan rumahnya.
"Ah, tidak juga Cilla. Baru lima belas menit yang lalu kok!" jawab tuan Adi sok jadi orang yang sabar. Dia tersenyum-senyum sendiri sambil melirik ke arah Cilla.
"Ada perlu apa Tuan?" tanya Cilla bingung. Dia merasa tidak ada urusan apa-apa lagi hingga enam bulan ke depan, terkait dengan uang kontrakan rumah.
"Eh, itu Cilla. Emh... Saya mau ajak kamu jalan. Sekalian sama anak kamu juga!"
Tuan Adi mengatakan juga maksud dan keinginannya. Dia tampak tersenyum untuk memikat hati Cilla Andini, mamanya Aji.
"Tapi saya baru saja datang Tuan." Cilla menolak dengan halus.
"Halah... Sekali-kali Cilla. Aku kan ingin juga dekat dengan Kamu. Lagian kamu tidak punya suami kan? Dulu itu cuma alasan kan?"
Tuan Adi sepertinya sudah tidak sabar dan mendesak Cilla agar mengikuti keinginannya. Dia tidak mau di tolak wanita seperti Cilla. Wanita yang dia anggap mudah untuk di rayu dan ditaklukkan.
"Maaf tuan. Saya sedang capek dan ingin istirahat. Tuan lihat kan? Saya baru saja pulang dari kerja." Cilla tetap menolak ajakan tuan Adi.
"Halah! Sok jual mahal. Paling kamu itu wanita penggoda, iya kan?" kata tuan Adi kalap dan lepas kendali.
"Maksud tuan Adi apa ini?" tanya Cilla bingung.
"Kamu itu pelakor kan? Dan Aji lahir tanpa papa. Paling kamu di usir dari rumah karena ketahuan oleh istri yang sah dan orang tua kamu malu. Iya kan?"
Tuan Adi berteriak marah dan menuduh Cilla dengan karangan ceritanya sendiri. Para warga yang lewat dan mendengarkan semua perkataan tuan Adi kaget dan saling berbisik-bisik. Tetangga kontrakan yang berderet juga pastinya mendengar teriakan tuan Adi. Pemilik kontrakan rumah mereka.
"Apa yang tuan Adi tuduhan itu semuanya tidak benar!" Cilla mengeleng dan membantah tuduhan itu.
"Ibu-ibu, Cing-cing, hati-hati! Ada pelakor di sini. Bisa jadi nanti suami kalian yang akan dia embat!" kata tuan Adi mengkompori warga yang kebetulan mendekat karena ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Pak RT yang kebetulan lewat ikut mendekat. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa sampai ada keributan yang terjadi di wilayahnya ini.
"Maaf-maaf. Ini ada apa sebenarnya?" tanya pak RT pada semua orang.
"Itu pak RT, ternyata Cilla pelakor!" jawab salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
"Mamanya Aji pelakor ya? Pantes saja, Aji tidak punya ayah."
"Wah... parah ini!"
"Usir-usir!"
"Jangan sampai suami kita ikut dia tikung!"
Simpang siur perkataan orang-orang yang datang melihat membuat suasana menjadi semakin panas. Cilla yang tidak tahu apa-apa terlihat ketakutan dan cemas.
Cilla bukannya mencemaskan keadaan dirinya sendiri, tapi dia cemas dengan kondisi kejiwaan Aji. Cilla yakin jika Aji mendengarkan semua perdebatan yang ada di luar rumah. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Aji jika dia bertanya nanti soal papanya.
Pak RT melangkah lebih dekat dengan keberadaan Cilla dengan tuan Adi. Dia ingin mendengar dari mereka berdua dan menyelesaikan permasalahan yang membuat resah warga.
"Sebenarnya apa yang terjadi ini tuan Adi?" tanya pak RT pada tuan Adi.
"Begini pak RT," tuan Adi pun akhirnya menceritakan semua cerita hasil karangannya sendiri.
"Bukan, bukan begitu!" Cilla mengeleng mendengar cerita tuan Adi yang tidak ada benarnya itu.
"Halah... Pelakor mana ada yang ngaku!" tuan Adi berkata dengan tersenyum miring.
Cilla sudah hampir menangis karena semua tuduhan itu. Dia sudah terbiasa digunjing orang-orang yang ada di sekitarnya. Tapi kali ini dia merasa sangat sedih karena ada dirumahnya sendiri, sedangkan Aji ada di dalam. Aji pasti mendengar semuanya dan itu yang ditakutkan oleh Cilla. Aji bisa salah paham dan menyalahkan Cilla juga.
"Usir-usir!"
"Usir saja pak RT!"
Teriakan demi teriakan terdengar dari beberapa orang yang datang melihat. Mereka semua merasa terancam dengan keberadaan Cilla di daerah ini.
"Maaf Cilla, saya..."
"Pak RT!" Aji tiba-tiba keluar dari rumah dan memanggil pak RT yang sedang bicara. Mungkin bermaksud untuk menengahi perdebatan ini.
"Eh iya Aji, ada apa?" tanya pak RT pada Aji yang memanggil namanya.
Pak RT yakin jika anak kecil seperti Aji pasti tidak akan berbohong. Apalagi pak RT tahu, Aji juga tidak terbiasa bermain dan bicara dengan orang lain yang tidak dia kenal.
Aji menyerahkan handphone miliknya, hadiah dari tuan Adi untuknya. Di layar handphone itu terdapat aplikasi yang bergambar spiker. Itu adalah aplikasi rekam!
Pak RT akhirnya tahu apa maksud dari Aji. Dia menerima handphone tersebut dan menekan aplikasi rekam yang ditunjukkan oleh Aji. Volume speaker handphone yang full bisa membuat hasil rekaman itu terdengar oleh semua orang yang ada.
Banyak yang berbisik-bisik dan berguman tidak jelas setelah mendengarkan rekaman suara tersebut. Akhirnya mereka tahu apa yang menyebabkan perdebatan sore ini terjadi.
"Ohhhhh...!"
"Owalahhh..."
"Ahhh begitu ya!"
"Dasar tuan Adi, bikin gara-gara saja?"
Banyak sekali orang-orang yang pada akhirnya mengerti dimana letak permasalahan yang ada.
"Maaf ya Cilla."
"Ngapunten lho Cilla, Aji!"
"Sorry-sorry, aku tidak tahu tadi!"
Begitulah akhirnya. Warga di suruh bubar sama pak RT dan suasana kembali sepi.
"Maaf Cilla, pak RT. Saya khilaf karena merasa diremehkan sama Cilla." kata tuan Adi meminta maaf.
"Maaf juga ya Aji!" kata tuan Adi lagi yang ditujukan untuk Aji.
Akhirnya, tuan Adi pulang setelah meminta maaf dan Cilla hanya menganguk tanpa menjawab dan melihat kearah tuan Adi. Cilla terus memeluk Aji sedari kak RT mendengarkan rekaman suara dari handphone milik Aji.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
etna winartha
mulut ibu2
2023-06-02
1
Kar Genjreng
juragan kontrakam... dadi rada rada.. edan wah kudu pindah ae ga ngenak ke manggon kono... sewektu wektu mesti moro neh🤗🤗🤗🤗🤗🤗 gar ulah
2022-07-30
0
triana 13
lanjut
2021-11-17
0