Malam menjelang tidur, Aji seperti biasanya akan bertanya banyak hal pada mamanya, Cilla. Tentu saja, Cilla yang dulunya juga seorang siswi sekolah yang cerdas secara akademis, akan dengan telaten menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari anaknya itu.
Cilla sadar jika anaknya, Aji, tumbuh tidak seperti anak-anak pada umumnya. Aji lebih banyak bertanya tentang dunia luar yang bukan pada tempatnya, seperti bermain dan sejenisnya, khas anak-anak seusianya. Semua itu tidak dilakukan Aji.
Aji juga tidak terlalu suka permainan yang biasa anak-anak kecil mainkan, seperti robot-robotan atau mobil-mobilan. Dia lebih suka berdiam diri di depan laptop, hanya untuk menjelajahi dunia luar. Mengakses informasi dan teknologi dunia. Bahkan, Cilla sendiri kadang tidak tahu ada di mana itu.
"Ma. Negara Jerman itu canggih ya Ma. Aji pengen ke sana suatu hari nanti. Aji ingin belajar teknologi dan ilmu pengetahuan yang ada di sana. Pasti Aji bisa jadi ilmuwan nantinya."
Tiba-tiba, Aji mengatakan keinginannya untuk belajar ke Jerman. Negara maju yang menjadi pusat teknologi dan ilmu pengetahuan dunia. Negara dengan sejarah peraih Nobel terbanyak dan pusat riset para ilmuwan juga.
Cilla tersenyum mendengar keinginan anaknya yang masih kecil itu. Cilla ingat sewaktu masih sekoalah dulu, dia juga punya keinginan untuk bisa belajar di Jerman.
"Iya sayang. Aji pasti bisa kok belajar ke sana. Yang penting, sekarang kita harus banyak menabung dan Aji juga harus belajar dengan baik ya!"
Cilla dengan senang hati memberikan semangat untuk anaknya itu. Dia tidak mau mematahkan semangat dan keinginan anaknya, dengan mengatakan jika itu adalah hal yang mustahil.
"Ayo, sekarang kita tidur. Ini sudah malam dan besok mama harus berangkat kerja juga. Aji sudah selesai memesan kain batik solo, untuk pesanan yang di Malaysia kan?" tanya Cilla mengingatkan.
"Iya Ma sudah. Kata pengrajinnya akan di kirim besok. Dia juga bilang akan segera transfer uang jasa begitu menerima pesanan lagi nanti."
"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih ya sayang, sudah bantu Mama. Terima kasih juga karena kamu sudah membebaskan Mama, dari uang kontrakan rumah selama enam bulan kedepan nanti."
Cilla mencium pipi anaknya dengan penuh kasih sayang. Dia bersyukur karena dengan keterbatasan yang dimiliki sedari mengandung Aji, kini dia mulai bisa menabung untuk masa depan anaknya nanti. Semua itu berkat ketekunan dan kecerdasan Aji, yang membantu dalam memasarkan barang online miliknya. Meskipun hasil tidak seberapa besar, tapi cukup untuk menambah tabungan yang ada.
*****
Malam sudah berganti dengan pagi. Cilla bangun tidur dan melakukan aktivitas seperti biasa. Aji, anaknya masih ada di tempat tidur, terlihat masih mengantuk dan belum ingin turut bangun.
"Sayang tidur saja lagi. Mama mau mencuci baju dulu. Nanti kalau sudah waktunya berangkat kerja, pasti Mama bangunkan kok!"
Aji pun menurut apa kata namanya. Dia kembali memejamkan matanya dan berselancar dengan mimpinya.
Satu jam berlalu. Cilla sudah selesai dengan semua kegiatannya di pagi hari. Dia juga sudah selesai mandi dan bersiap untuk berangkat menuju tempat kerjanya.
Seperti biasanya, dia membangunkan dan berpamitan pada anaknya. "Sayang bangun. Mama berangkat dulu!"
"Iya Ma." Aji menjawab pendek dan masih dalam keadaan setengah tidur.
Beberapa menit kemudian, Aji bangun dengan cepat. Dia segera membuka laptopnya karena ingat dengan pesanan customer dari Jepang.
"Wah, aku bisa terlambat pesan barang ini kalau harus mandi dulu," guman Aji dalam hati.
Akhirnya dia melanjutkan aktivitasnya di depan laptop dan menunda untuk mandi atau sarapan terlebih dahulu.
Satu jam kemudian, Aji tersenyum senang. Dia berhasil melakukan transaksi dengan customer Jepang, yang memesan kain tenun songket Palembang. Dia juga sudah menghubungi pengrajinnya dan barang siap di kirim dua hari lagi.
Aji segera mandi, sarapan dan kembali di depan laptop. Sekarang dia ingin melihat-lihat teknologi negara Jerman. Sama seperti yang dia katakan pada mamanya semalam.
Tok... tok... tok!
Terdengar suara pintu diketuk seseorang dari luar. Aji menoleh tapi tidak segera membuka pintu untuk tamunya itu.
"Aji... Aji... Ini Paman Adi!"
Ternyata yang datang adalah pemilik kontrakan rumah kemarin. "Bukankah dia bilang uang kontrakan bebas selama enam bulan?" tanya Aji pada dirinya sendiri.
"Aji... Paman mau kasih handphone untuk hadiah, seperti yang paman bilang kemarin. Ayo buka pintunya!"
Aji tersenyum senang mendengar kata-kata tuan Adi. Tentu saja Aji senang. Bisa dipastikan jika handphone itu pasti jauh lebih canggih dari pada milik mamanya. Dengan semangat, Aji membuka pintu rumah untuk tuan Adi.
"Nah, gitu dong! Dari tadi kenapa tidak dibuka?" tanya tuan Adi ingin tahu.
"Maaf, Aji sedang nanggung. Tadi sedang baca-baca." Aji menjawab pertanyaan dari tuan Adi. Entah tuan Adi mengerti apa yang dimaksud oleh Aji atau tidak. Dia hanya mengangguk saja.
"Oh iya. Ini handphone yang Paman janjikan!"
Tuan Adi menyerahkan bungkusan tas kain dengan, logo merek salah satu handphone mahal. Aji dengan senang hati menerima pemberian tersebut.
"Ini beneran buat Aji Paman?" tanya Aji tidak percaya. Matanya berbinar-binar karena senang.
"Tentu saja benar. Masa Paman bohong?"
"Hehehe... Terima kasih Paman!" Aji tertawa kecil mendengar perkataan tuan Adi yang merasa tidak dipercaya oleh anak kecil seperti dirinya.
"Oh ya. Mama kamu sudah berangkat kerja ya? Salam buat mama kamu ya!" kata tuan Adi sambil berbisik-bisik.
"Harusnya aku kesini sore ya, jadi bisa ketemu mama kamu," sambung tuan Adi dengan wajah bersemu.
"Kenapa?" tanya Aji cepat. Dia seperti mendengar perkataan tuan Adi yang tidak biasa. Ada maksud lain yang tersembunyi.
"Tidak apa-apa. Paman hanya ingin ngobrol saja. Siapa tahu mama kamu punya keinginan untuk mencari papa buat kamu nanti."
Aji mengeryit heran mendengar perkataan tuan Adi. Meskipun dia tidak tahu apa maksud dari perkataan itu, tapi Aji menangkap maksud tuan Adi.
"Ya sudah. Paman balik dulu. Ini masih ada urusan di kampung sebelah. Jangan lupa, sampaikan salam Paman tadi sama mama kamu."
"Iya Paman." Aji menjawab pendek.
Aji segera menutup kembali pintu rumahnya begitu tuan Adi pergi. Dia segera membuka bungkus handphone hadiah tadi, mengaktifkan dan mengakses jaringan untuk bisa mengoperasikannya.
"Ye... Akhirnya punya handphone canggih ini. Mama tidak perlu meninggalkan handphonenya sendiri di rumah. Jadi kami bisa tetap berkomunikasi meskipun mama sedang tidak ada di rumah juga."
Aji berteriak senang setelah berhasil mengoperasikan handphone tersebut. Kini dia menghubungkan handphonenya itu dengan laptop. Aji kembali pada aktifitasnya yang tadi. Mengakses informasi teknologi yang ada di negara Jerman. Negara impiannya untuk belajar dan menjadi ilmuwan suatu hari nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
Kar Genjreng
wah😮😮😮😮 jenius banget.. semoga impianMu tersalurkan yo Le... mugo ga enek sing jahati yo.. mbh putri Mu tiri.. 🤣🤣🤣🤣🤣
2022-07-30
1
Wirda Lubis
aji anak pintar
2022-07-29
0
Beci Luna
anak jenius..semoga bisa bertemu dg ayah kandungmu ya nak..
2022-01-11
3