Cilla yang sedang melihat-lihat rumah kaget saat ada seseorang yang datang menyapa mereka dengan nada yang sok akrab.
"Pagi Sis... Selamat datang. Semoga ada kesan yang baik ya, jadi bisa langsung deal kesepakatan kita."
Seorang laki-laki datang dengan dandanan ala eksekutif muda dan suara yang dibuat-buat, sok berwibawa. Aji mendelik melihatnya. Apalagi tatapan mata laki-laki itu sama seperti orang-orang yang dia temui di jalanan menuju ke rumah ini. Aji tidak suka!
Cilla yang terbiasa dengan hal semacam ini hanya tersenyum saja. Dia juga harus menjaga hubungan antara pembeli dan penjual, dan kebetulan pihak penjual rumah ini di wakilkan pada pihak pengelola perumahan. Pemilik resmi, sudah tidak lagi mengurusnya. Jadi yang datang ini adalah agen properti perumahan.
"Pagi juga tuan. Kami datang untuk melihat-lihat sesuai pesan yang kami kirimkan tadi."
Cilla menyahut sapaan sang agen dengan menganggukkan kepalanya sopan. Aji masih tetap melihat ke arah laki-laki tadi dengan atensi yang penuh. Seperti menyelidik.
"Wah, ini anaknya ya Sis? Ganteng banget... Ahh jadi pengen punya anak," kata agen tersebut dengan gaya yang di buat-buat.
"Memangnya bisa Paman, masa laki-laki punya anak?" tanya Aji dengan nada sok polos gaya anak-anak.
"Hahaha... Ya gak bisa ganteng. Tapi kalau sama mamanya ini bisa kok!" jawab laki-laki tadi dengan mengerling nakal.
Aji langsung menghadang laki-laki tadi yang ingin mendekat ke arah mamanya. Kedua tangan Aji merentang sempurna, over protektif.
"Wah... Kayak punya bodyguard kecil ya Sis. Siap jadi pelindung!" Laki-laki tadi berkomentar dengan apa yang dilakukan oleh Aji.
"Ya tuan. Anak saya ini memang keberuntungan, sekaligus pelindung bagi saya." Cilla memeluk anaknya dari belakang dan tersenyum senang.
"Wow... Bagus sekali itu," sahut agen properti kagum. Dia semakin tertarik pada dua kliennya itu.
"Kalau boleh kenal lebih jauh, saya pasti sangat senang. Boleh tahu siapa namanya Sis?" tanya agen tadi sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Hampir saja Cilla menyambut uluran tangan dari agen properti tersebut, tapi Aji langsung memegang tangan mamanya agar tidak jadi bersalaman.
"Ma, pulang yuk!" ajak Aji tiba-tiba.
"Lho, kok pulang?" tanya Cilla heran.
"Aji tidak suka dengan rumah ini."
Jawaban dari Aji, anaknya itu membuat Cilla berpikir. Cilla yakin semua ini ada hubungannya dengan kelakuan agen tadi.
"Ayo Ma! Mama kan harus segera berangkat kerja." Aji mengingatkan, kemudian menarik tangan mamanya agar segera pergi dari rumah itu.
Agen properti tadi bingung dengan sikap anak kliennya. Dia tidak pernah menemui seorang anak kecil yang over protektif terhadap mamanya seperti itu. Biasanya yang over protektif itu orang tua pada anaknya, terutama sang mama. Tapi ini terbalik, dan tidak biasanya.
"Iya, iya sayang. Kita pergi ya!" Cilla mencoba membujuk Aji agar tidak menarik-narik tangannya lagi.
"Maaf tuan. Sepertinya anak saya tidak cocok dengan rumah ini. Semoga nanti akan ada rumah yang cocok selain di sini."
Akhirnya Cilla pamit dan mengatakan jika tidak jadi membeli rumah itu.
"Oh, begitu ya Sis. Sayang sekali, kita jadi gak bisa lebih dekat lagi ya!" Agen tersebut berkata seolah sedang bersedih hati.
"Tapi jika butuh bantuan bisa hubungi nomor telepon yang kemarin. Pasti saya siap bantu nyari rumah yang cocok dengan harga terjangkau," sambung agen properti berpromosi.
Cilla yang sudah ditarik tangannya oleh Aji hanya menoleh sambil tersenyum tipis, kemudian menganggukkan kepalanya. Sedangkan Aji tidak menoleh sama sekali.
"Sayang, kenapa tidak suka rumah yang tadi? Bagus dan murah lho!" tanya Cilla ingin tahu alasan anaknya itu.
"Pokoknya Aji tidak suka!" jawab Aji cepat dan tegas.
"Baiklah. Mama ikut Aji saja!" kata Cilla sambil mengayunkan tangannya yang digandeng anaknya.
Keduanya kembali berjalan menuju ke arah jalan raya untuk mendapatkan transportasi ke tempat kerja Cilla.
"Jadi Aji ikut mama kerja ini?" tanya Aji setelah mereka berada didalam bus.
"Iya. Aji gak boleh nakal dan juga rewel ya! Nanti Aji diam di kamar belakang saja." Cila menerangkan pada Aji.
"Iya Ma," jawab Aji pendek.
*****
"Kita cari makan dulu ya, sudah siang. Mama juga belum jam masuk kerja." Cilla menawarkan pada Aji untuk makam siang terlebih dahulu.
"Aji mau makan apa?" tanya Cillal, meminta Aji untuk memilih makanan yang dia inginkan.
"Aji mau itu!" Aji menunjuk pada warung makan Padang yang ada di seberang jalan raya.
"Oh itu. Ayok!" Cilla segera mengandeng tangan Aji. Mereka berdua menyeberang jalan untuk bisa sampai ke warung makan yang ditunjukkan oleh Aji.
Setelah selesai, keduanya kembali menyeberang jalan untuk ke dalam mall. Tempat kerja Cilla memang ada di dalam sana. Sebuah toko baju branded terkenal dengan harga paling murah, satu bulan gaji Cilla.
"Lho, Cilla! Jadi lihat rumahnya?" tanya mbak Diyah. Supervisor Cilla di toko tersebut.
"Sudah Mbak. Tapi sepertinya Aji tidak suka dengan lingkungan yang ada di perumahan itu." Cilla menceritakan tentang kejadian tadi sewaktu melihat-lihat rumah.
"Wah... Andai Aji itu sudah besar, dan menyukai seorang gadis, dia pasti akan mencintai gadis itu dengan caranya."
"Mbak ini ngomong apa sih!" Cilla mengeleng mendengar kata-kata mbak Diyah.
"Iya lho Cilla. Gaya anak kamu itu mirip ceo-ceo gitu. Ceo yang ada di drama Korea atau novel-novel bucin kesukaan emak-emak. Hahaha..."
Cilla ikut terkekeh mendengar perkataan mbak Diyah yang memang suka bercanda. Dia adalah teman Cilla sedari dulu. Kini dia sudah di angkat menjadi supervisor di tempat kerjanya ini. Mbak Diyah juga yang dulu membela dan membantu Cilla saat hamil dan banyak di cemooh oleh banyak orang dan juga teman-teman kerjanya.
"Mbak Diyah bisa saja. Hehehe.."
Aji yang ikut mendengarkan semua percakapan mamanya dan juga atasannya hanya diam tanpa ikut menyahut.
"Ya sudah, Aji ke kamar belakang saja dulu ya! Mama mau kerja. Sudah waktunya ini." Cilla meminta pada Aji untuk masuk ke kamar tempat para karyawan beristirahat jika ada yang sedang tidak enak badan atau pusing.
"Iya Ma." Aji menjawab pendek, kemudian melangkah menuju ke kamar yang ada di belakang toko. Aji memang sudah tahu tempatnya, sebab dia juga sering diajak mamanya saat kerja karena memang dia yang tidak mau ditinggal dulu. Itupun saat dia belum ada kesibukan dengan jualan onlinenya.
"Itu Cilla enak banget. Masa kerja bawa anak segala, memangnya ini penitipan anak apa!"
"Kebiasaan tuh dia. Mentang-mentang dekat sama mbak Diyah!"
"Ah, cari muka saja dia. Sok polos, padahal anaknya gak ketahuan tuh papanya siapa!"
Aji yang belum sempat masuk ke dalam kamar, mendengar semua pembicaraan teman-teman kerja mamanya. Aji akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk.
*****
"Cilla, tolong bantu gantiin gaun manekin yang ada di depan ya!" Mbak Diyah memberi tugas pada Cilla.
"Iya Mbak." Cilla segera mengerjakan tugas yang diberikan oleh atasannya itu.
Beberapa saat kemudian, perkerjaan yang Cilla kerjakan selesai. Dia pun tersenyum senang melihat hasilnya.
"Mbak Cilla, sini!" panggil salah satu customer yang sudah menjadi langganan dan biasa Cilla layani.
Cilla berdiri dan melangkah ke tempat customer yang meminta untuk di layani.
Mereka, Cilla dan customer tersebut, akhirnya sibuk memilih gaun-gaun yang akan di coba.
"Wah... Ini tadi yang masang siapa ya?"
Tiba-tiba, ada salah satu teman kerja Cilla yang berteriak panik.
"Ada apa?" tanya mbak Diyah mendekat.
"Gaunnya sobek Mbak. Lihat!"
Mbak Diyah pun melihat ke arah manekin yang sudah di dandani dengan gaun yang tadi dia pilih. Mbak Diyah sangat yakin jika tadi gaunnya baik-baik saja, tidak ada cacatnya. Dia selalu meneliti semua gaun yang akan di pasang di manekin sebagai ajang promosi toko agar menarik perhatian pelanggan.
"Bagaimana bisa gaun ini jadi sobek?" tanya mbak Diyah pelan. Seperti sedang bertanya pada dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 292 Episodes
Comments
Kar Genjreng
ep piro yo Aji ketemu Pak.. sing tajir melit.. es salah melintir... ojo ojo wis duwe bojo...
2022-07-30
1
Kar Genjreng
bisa jadi sabo tase Mba Dyah.. ono sing sirik... yo wis Aji reti sopo wonge.. 🙂🙂🙂🙂🙂
2022-07-30
0
Pa'tam
selalu saja ada yang iri. gak di dunia novel gak di dunia nyata pasti ada
2022-04-10
0